LOGINPembacaan wasiat oleh lawyer Zahra akhirnya selesai disaksikan notaris hari ini. Sejak awal aku berusaha terlihat tenang. Duduk manis dan mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan, lalu ngangguk seolah semuanya masuk akal. Padahal tidak. Sama sekali tidak. Tanganku sampai dingin saat satu per satu aset disebutkan. Rumah makan, saham, dana pendidikan, uang tunai! Semua itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang dulu pernah menangis hanya karena tidak mampu membeli telur satu kilogram. Aku bahkan beberapa kali menyeka mata diam-diam. Memalukan memang. Tapi aku benar-benar tidak sanggup menahannya. Di luar sana, berapa banyak saudara kandung yang saling bermusuhan hanya karena warisan? Berapa banyak keluarga yang hancur karena rebutan tanah, rumah, atau tabungan orang tua? Sedangkan Zahra ... perempuan itu bahkan masih memikirkanku setelah kematiannya. Seseorang yang bukan keluarga, bukan saudara, bahkan awalnya hanya orang asing yang kebetulan dipertemukan takdir. Dad
Malam itu rumah terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Tak terlihat satu pun orang yang lalu-lalang. Hanya tersisa suara televisi yang menyala pelan di ruang keluarga. Aku baru pulang ketika melihat Kang Epen masuk dari pintu depan hampir bersamaan. Kemeja putih yang dipakainya tampak sedikit kusut. Dasi hitamnya sudah longgar. Di tangannya ada tas kerja dan beberapa map tebal. Lelah. Itu kesan pertama yang langsung kutangkap dari wajahnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku mulai bisa membaca suasana hatinya meski hanya dari cara dia berjalan. Sepertinya kami sama-sama melewati hari yang berat. "Baru pulang, Kang?" tanyaku sambil melepas sepatu. "Iya." Jawabannya singkat seperti biasa. Aku mengikuti langkahnya ke ruang tengah. "Belum makan?" "Belum." "Kenapa?" "Sibuk. Banyak kerjaan." "Oh." Aku mengangguk pelan. Pertanyaan bodoh. Kalau bukan kerja ya masa mancing. Namun langkahku terhenti ketika melihat dia membuka tutup saji di meja makan. Kosong. Hari itu memang ti
Beberapa hari berlalu sejak kepulanganku dari Kalimantan. Hidup perlahan kembali ke ritmenya semula. Aku kembali bekerja di gerai Xue Xue. Kembali mengenakan seragam yang sudah menemaniku hampir tiga tahun terakhir. Kembali menyapa pelanggan. Kembali membuat minuman dengan gerakan yang sudah kuhafal di luar kepala. Tapi kali ini rasanya berbeda. Karena ini adalah hari terakhir aku berada di sini. Setelah percakapan serius dengan Kang Epen tentang melanjutkan pendidikan dan permintaannya agar aku bisa upgrade skill. Akhirnya aku harus mengambil satu keputusan besar. Resign. Sebuah kata sederhana yang ternyata berat sekali diucapkan. Siang itu aku berdiri di depan ruangan Bang Japra. Tanganku sampai berkeringat. Padahal yang mau kutemui bukan orang asing. Justru sebaliknya. Kalau bukan karena Jeffry atau Bang Japra, mungkin aku tidak akan pernah bekerja di sini. Aku masih ingat bagaimana dulu Zahra meminta teman yang juga mantannya itu untuk membantuku mendapatkan pekerjaan. Da
"Ini apa-apaan ada cobek di atas meja makan?!" Suara Kang Epen terdengar menggelegar saat aku baru saja selesai mengangkat tahu goreng. Berjalan tergopoh-gopoh aku segera berjalan menghampirinya. Terlihat Simbok dan Mirna tampak gelagapan menjelaskan. Untung saja Dara dan Marni sudah lebih dulu pergi tanpa perlu menyaksikan ke-lebay-an Papanya perkara cobek di atas meja makan. "Yeh, si akang mah. Ini teh namanya sambel belekok! Dibikin dadakan pake terasi dengan sedikit goyangan." Aku sengaja memperaktekan kembali gaya saat ngulek sambel tadi. "Saya nggak peduli kamu mau ngulek sambil goyang, kek, salto, kek, atau kayang sekalian--yang pasti saya nggak suka ada benda lain di tempat biasa saya makan!" Aku memutar bola mata. Epen, Epen ... perkara nyimpen cobek mungil hebohnya udah kayak aku nyimpen kotoran ayam. "Ya udah saya pindahin ke mangkok kecil deh." Malas memperpanjang perdebatan, buru-buru kuambil cobek di atas meja dan menukarnya dengan tahu panas kesukaannya.
[ Cek rekening kamu. ] Aku langsung bangkit dari posisi terbaring saat membaca pesan dari Kang Epen. Kukerjapkan mata berkali-kali menatap saldo rekening yang semula sisa 10 juta langsung bertambah berlipat-lipat menjadi 200 juta! Nikmat mana lagi yang harus kudustakan mengingat si mulut mercon tak pernah main-main kalau berhubungan dengan uang? Duh, jadi makin sayang--sama duitnya, kalau sama orangnya, sih belum. Nggak tahu kalau besok, atau kapan-kapan? Hati orang siapa yang tahu, kan? Apalagi terus dicekokkin uang dan perhatian. Mau bagaimana lagi aku juga perempuan yang haus kasih sayang. Kang Epen Kasjam (Kasep-kejam) [ Udah masuk? ] Hatiku langsung berflower-flower membaca pesan lain yang datang bersama dengan bukti transferan. [ Udah, Sayang. Tengkyu somay, alapyu sekebon terong 🥰😘😍🥰] balasku bersama dengan emot yang bejibun. [ Oke. ] Seperti biasa balasannya selalu singkat, padat, dan nyelekit. [ Jadi, saya beneran nggak akan ditoel, nih, Kang? ] taw
Aku menatap saldo di mbangking yang tertera 10jt. Itupun sisa dari transfer ke Emak dan gajiku bulan ini yang baru masuk kemarin digabung dengan hasil memeras Kang Epen. Tapi tetap saja tak ada setengahnya dari yang WA Eti minta. Kalau saja dia bukan kakak kandung Bapak yang pernah berjasa dalam hidup kami, mungkin aku tak perlu repot-repot memikirkannya. Lagipula bisa-bisanya Wa Eti minta duit dengan dalih minjam buat biaya hajatan, dipikir duit sebanyak itu bisa datang cuma dengan modal gosok pantat panci?! Kalau gosok pantat Kang Epen, nggak tahu, sih. "Kenapa? Gara-gara nggak ada es teh manis, kopinya cuma kamu puter-puter dari tadi." Aku menoleh pada Kang Epen setelah sekian lama hanyut dalam lamunan sendiri. Kuletakkan es kopi yang belum sempat diminum itu ke dalam cup holter, lalu menggeser posisi lebih dekat ke sisinya. "Kang, bisakah peluk saya sebentar?" pintaku memelas sambil menyandarkan kepala di bahunya yang lebar. "Berani bayar berapa?" cetusnya datar,







