LOGIN"Papa ... Mama ... Dara takut, Dara mau pulang." Suara Dara masih menggema di kepalaku bahkan setelah rekaman itu berhenti. Tiga kata sederhana yang berhasil menghancurkan seluruh pertahananku. Tanganku langsung lemas. Ponsel nyaris terjatuh dari genggaman. Lututku kehilangan tenaga hingga aku terduduk di lantai ruang kerja Kang Epen. Air mata mengalir tanpa suara. Dara ketakutan. Dara menangis. Namun, selama ini kami bahkan tidak tahu dia berada di mana. "Dina." Kang Epen berjongkok di hadapanku. Tangannya meraih pundakku pelan. Namun aku hanya bisa menggeleng. "Kang ...." Suaraku pecah. "Dia pasti takut banget." Dadaku terasa diremas. Aku masih ingat bagaimana Dara selalu mencari Kang Epen saat mimpi buruk. Gadis kecil itu tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak kalau belum dipeluk Papanya. Bahkan ketika hujan deras turun, dia akan berlari ke kamar kami sambil membawa boneka kelinci lusuhnya. Sekarang ... entah siapa yang memeluknya. Entah siapa yang menghapus air ma
Foto itu membuat seluruh darah di tubuhku seperti membeku.Tanganku gemetar saat memperbesar gambar yang baru saja masuk. Wajah Dara terlihat jelas. Rambutnya sudah lebih panjang dari terakhir kali kami bertemu. Pipi gadis kecil itu sedikit lebih tirus. Namun gelang kelinci merah muda yang melingkar di pergelangan tangannya membuatku langsung mengenalinya.Itu Dara. Benar-benar Dara. Masih hidup.Air mataku langsung jatuh."Kang ...." Suaraku bergetar hebat. "Itu Dara."Kang Epen tidak menjawab. Rahangnya mengeras begitu kuat sampai otot di pelipisnya terlihat menonjol. Tatapannya terpaku pada layar ponsel seolah sedang berusaha mengendalikan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.Aku terus memperbesar foto itu. Lalu sesuatu membuat napasku tercekat."Kang.""Ya?" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan."Itu siapa?" Jari telunjukku menunjuk ke bagian belakang foto.Beberapa anak terlihat duduk berdekatan. Ada yang mungkin berusia delapan tahun. Ada yang lebih kecil. Wajah mereka muram.
Setelah akhirnya mengetahui sebagian kebenaran, pikiranku bukannya tenang, malah terasa semakin penuh dengan kemungkinan -kemungkinan yang menakutkan. Saat ini aku sedang duduk di balkon kamar sambil memeluk lutut. Angin malam berembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Lampu taman menyala temaram di bawah sana. Sesekali terdengar suara jangkrik dari balik pagar belakang rumah. Sudah dia hari sejak percakapan kami di rumah sakit dan kudengar kondisi Ceu Epon atau Vony berangsur-angsur membaik, kami memutuskan pulang. Namun, setelah itu kepalaku sama sekali tak bisa tenang. Justru makin banyak hal yang kupikirkan. Tentang ancaman yang selama ini ternyata berjalan diam-diam di sekeliling kami. Dan yang paling membuatku sesak adalah menyadari bahwa selama berbulan-bulan Kang Epen menanggung semuanya sendirian. Pintu balkon terbuka pelan. Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu sudah terlalu kukenal. Kang Epen berjalan mendekat lal
"Aku minta maaf, Kang." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku. Matanya bergerak menatapku. "Aku sempet nuduh akang macem-macem." Aku menunduk. Suaraku mengecil "Aku marah. Aku bahkan sempat percaya sama omongan orang lain dibanding percaya sama suami sendiri." Keheningan sesaat mengisi ruang di antara kami. Lalu kurasakan jemarinya mengusap punggung tanganku perlahan. "Aku juga salah," katanya. Aku mengangkat kepala. Kang Epen mengembuskan napas panjang. "Aku terlalu terbiasa nyelesaiin semuanya sendiri." Tatapannya beralih ke pintu IGD yang masih tertutup. "Aku pikir kalau kamu nggak tahu, kamu bakal aman. "Tapi kenyataannya malah bikin aku tambah curiga," gumamku lirih. "Iya." Dia mengangguk pelan. "Aku baru sadar." Dadaku kembali menghangat. Karena lelaki seperti Kang Epen bukan tipe yang mudah mengakui kesalahan. Ego dan keras kepalanya bahkan sering membuatku ingin menjambak rambut sendiri. Tapi malam ini dia mengakuinya. "Aku takut, Kang." Suara itu keluar nyari
Keheningan kembali mengambil alih sekeliling kami. Aku menatap langit-langit rumah sakit yang putih dan dingin, sementara suara langkah perawat berlalu-lalang di koridor terdengar samar dari balik pintu. Tanganku masih berada dalam genggaman Kang Epen. Entah sejak kapan. Entah kenapa aku juga tidak menariknya. Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin karena terlalu banyak hal yang baru saja runtuh di kepalaku. Atau mungkin karena setelah berminggu-minggu dilanda curiga, marah, kecewa, dan cemburu, aku akhirnya mulai melihat bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perasaanku sendiri. Di balik kaca ruang perawatan, Ceu Epon masih ditangani dokter. Perempuan yang selama ini kuanggap ancaman itu ternyata sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Sementara aku sibuk memusuhinya. Aku mengembuskan napas panjang. "Kang." "Hm?" sahutnya pelan tanpa melepaskan genggamanku. "Jujur aja." Aku menoleh menatap wajahnya. "Sebenarnya awalnya gimana? Aku nggak bisa nahan lebih lama lagi
Brak! Pintu ruang kerja itu akhirnya kubuka tanpa mengetuk atau lebih tepatnya kubanting.Sudah cukup! Sudah terlalu banyak hal yang disembunyikan dariku. Sudah terlalu banyak jawaban yang selalu berakhir dengan kalimat "nanti aku jelaskan" atau "ini bukan saat yang tepat."Kalau memang semua ini tentang Dara, aku berhak tahu. Aku berhak dilibatkan. Aku berhak mendapat penjelasan. Bukan terus-menerus diperlakukan seperti orang asing dalam rumah tanggaku sendiri.Kang Epen dan Ceu Epon menoleh bersamaan saat aku masuk. Tumpukan dokumen masih berserakan di atas meja. Beberapa peta.Foto-foto. Juga berkas yang belum sempat kutelaah.Namun saat ini aku tidak peduli. Emosi yang selama berminggu-minggu kutahan akhirnya meluap begitu saja."Sebenarnya kalian lagi nyembunyiin apa dariku?!" Suaraku bergetar. Aku nyaris menangis karena rasa kecewa yang tak lagi bisa dibendung. Kang Epen langsung berdiri."Dina, dengar dulu ....""Nggak!" Aku menggeleng keras.Air mata yang sejak tadi kutahan
Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta
"Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata
"Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih







