مشاركة

4. Buy one, get one

مؤلف: Dwrite
last update تاريخ النشر: 2026-04-24 12:22:32

"Yakin mau yang itu?"

Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya.

"Iya, udah itu aja."

Melihat tatapannya yang masih dalam dan tajam, sepertinya lelaki ini masih belum benar-benar percaya.

"Tadi katanya mau Vespa GTS?"

"Ih, kan becanda atuh, Kang. Yang itu aja udah lebih dari cukup, kok. Saya emang suka memanfaatkan kesempatan, tapi nggak sampe aji mumpung juga."

Dia mangut-mangut, lalu mulai mengeluarkan dompet dari saku belakang celana jins-nya.

"Ya udah. Mau mobilnya sekalian?"

Aku ternganga, lalu mengerjapkan mata. Kebetulan di samping dealer motor lengkap ini, ada showroom mobil juga.

"Emang boleh?"

"Nggak!"

"Yeh, kirain beneran." Refleks aku memukul lengannya yang membuat Bapak Dara memandang dengan kerutan di dahinya. "Makasih, ya, Kang Epen yang kasep." Kemudian aku memasang senyuman maut yang sepertinya tak mempan, karena tanpa menjawab dia langsung melengos begitu saja untuk membayar.

"Yeaay ... kita punya motor baru buat anter jempur Dara ke sekolah."

"Yeaay ... Dara bisa angin-anginan."

Aku dan Dara berpelukan, lalu kami jingkrak-jingkrak kegirangan. Tak peduli banyak orang memerhatikan yang penting sekarang aku benar-benar senang.

"Ngapain kalian?" Entah datang dari mana Kang Epen langsung menarik Dara dari hadapanku. "Malu-maluin!" cetusnya.

"Ya nggak apa-apa atuh. Kebahagiaan orang kan beda-beda. Iya, kan, Dar?"

"Iya, Uti." Dara melepas genggaman tangan Papanya, lalu kembali padaku.

Kang Epen menghela napas gusar. Seolah tak ingin ambil pusing, dia langsung mengiring aku dan Dara untuk segera meninggalkan dealer.

"Lunas, ya!" Di depan mobil kami yang terparkir, Kang Epen menyodorkan kwitansi pembelian.

"Walaupun kredit saya nggak keberatan. Toh Akang yang bayar." Aku nyengir sembari menyambar kwitansi yang disodorkan. "Lah, kok Vespa GTS-nya dibeli juga?"

Aku menatapnya dan kwitansi di tangan bergantian. Seolah tak yakin, kupelototi selembar kertas itu siapa tahu salah baca. Kadang mataku awasnya cuma pas liat duit atau cogan.

"Nggak apa-apa. Yang satu, kan bisa dipake sama yang lain. Saya emang udah ada rencana beli buat dipake Marni, Mirna, atau kamu buat anter-jemput Dara biar lebih cepet."

Mendengar penjelasan itu, baru aku yakin bahkan tulisan di kwitansi ini benar menunjukkan dua unit sepeda motor.

"Uh, Akang." Aku sangat terharu sampai tak terasa meneteskan ingus.

"Mau ngapain?" Dia menahan dahiku dengan telunjuk saat aku merentangkan tangan.

"Meluk."

"Nggak usah. Minggir!"

Kang Epan menyingkirkan tubuhku yang menghalangi pintu depan, lalu dia buru-buru masuk ke dalam mobil.

"Dih, padahal yang itu gratis." Aku mendumel sendiri."

***

"Mau makan apa?"

Di tengah perjalanan Kang Epen tiba-tiba bertanya. Entah padaku atau anaknya.

"Di mana, Dar?" Aku balik bertanya pada Dara yang duduk di sebelahnya.

"Dara mau Burger, Uti."

"Ya udah berarti kita ke Mekdi aja, Kang."

"Oke."

Setelah memutuskan mau makan apa dan di mana. Dari pertigaan Kang Epen membelokan mobilnya ke kanan. Hanya butuh waktu delapan menitan kami sudah sampai.

"Dine in, kan?" Dia memastikan saat ada tulisan drive true di depan.

Aku mengangguk.

"Tanggung, bentar lagi Maghrib. Kita aja makan di jalan, udah deket ke rumah juga, kan?"

Kang Epen tak menjawab, tapi dia menurut.

Begitu sampai di depan kotak pemesanan, aku langsung mendikte menu kesukaan Dara yang sudah kuhapal di luar kepala.

"Paket family time happy meal-nya 1, ya, Kak. Tambah McNuggets, sama Big Mac."

Selesai memesan bisa kulihat Kang Epen menatapku lekat dari balik spion dalam.

Apaan coba? Bikin orang salting aja.

Setelah menunggu sebentar dan pesanan siap dibuatkan, Kang Epen langsung memberikan semuanya padaku yang ada di jok belakang, begitu dia selesai membayar.

"Punya Dara." Kusodorkan Cheeseburger yang sudah sedikit dipenyetkan agar muat di mulut mungilnya.

"Mau di situ," pinta bocah itu tiba-tiba.

"Ya udah sini!" Aku menggeser tubuh dan menepuk kursi sebelah. Setelah itu kembali membongkar paket family yang biasa Dara makan duluan.

"Oh, iya. Ini yang Big Mac-nya punya Akang."

Kang Epen terdiam saat kusodorkan Burger kesukaannya yang pernah Zahra beri tahu.

"Kenapa? Saya salah pesen, ya?"

"Nggak!"

Kang Epen langsung melahapnya dalam satu suapan besar. Mengunyah, lalu menelan, setelah itu melempar sisanya ke dasbor.

Namun, setelah itu dia tiba-tiba terdiam, rahangnya mengatup rapat dengan tatapan lurus ke depan.

Sulit dimengerti, apakah dia kabuhulan? (Keselek)

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lebih Buruk

    "Istrimu tadi sempat nanya. Katanya apa masih ada kemungkinan hamil setelah vasektomi?" "Terus kamu jawab apa?" "Ya, kujawab apa adanya. Kalau nggak ada teknologi dan kemampuan dokter manapun yang bisa menandingin kuasa Tuhan." "Katamu prosedur ini paling efektif untuk mencegah kehamilan?!" "Efektif bukan berarti bisa mencegah 100% Evandi Sebastian Gunawan. Kadang otak pintarmu tak bekerja kalau berkaitan dengan hal-hal yang kau hindari. Sama halnya dengan IUD, Spiral, k*ndom, bahkan steril. Risiko untuk kebobolan akan selalu ada. Karena fungsi KB, kontrasepsi, dll itu hanya untuk mencegah, bukan menyalahi kodrat manusia untuk berekproduksi, kecuali kalau memang ada gangguan di dalam organ. Understand?" Percakapan dengan dokter Fransiska di ruang pemeriksaan kala itu terus berputar-putar di kepala Evan. Sejak setengah jam yang lalu dia masih berdiri di tempatnya memerhatikan Syafira dan Tami yang membawa barang-barang Dina keluar dari kediamannya. Evan cukup mengerti b

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Arti Sebuah Keluarga

    Rahangnya kembali mengeras. "Keputusan apalagi yang kuambil tanpa melibatkanmu, Din? Sejak kembalinya Dara aku berusaha keras tak menutupi apa pun lagi." Aku menggeleng. "Enggak!" Aku tertawa kecil, tetapi suara itu terasa pahit. "Akang udah banyak berubah sejauh ini. Akulah yang salah di sini, akulah yang sejak awal memang nggak tahu diri. Karena dalam pernikahan ini akang yang punya kendali, kita punya kesempatan dan aku setuju." Aku mengusap sudut mata yang mulai basah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia mendekat. "Sudah cukup bertele-telenya," tegasnya. "Sekarang katakan apa alasanmu berakhir di rumah sakit ini?" Aku diam. "Kamu nggak mengidap penyakit serius yang menyebabkanmu mati dalam waktu dekat ini, kan?" Entah kenapa kalimat itu justru membuat sesuatu di dalam dadaku terasa lucu sekaligus menyakitkan. Aku tertawa. "Hahaha ...." Tawaku terdengar menggema di ruangan. "Kenapa?" tanyaku sambil menatapnya. "Akang takut jadi duda yang ditinggal mati dua kali?"

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Meluapkan Perasaan

    Dua hari berlalu. Kondisiku berangsur membaik meski dokter masih memintaku untuk banyak beristirahat. Emak dan adik-adikku bergantian menjagaku, sementara urusan rumah dan restoran mulai mereka bagi agar tidak semuanya bertumpu pada satu orang. Aku bahkan tidak lagi menyentuh ponsel terlalu sering karena setiap kali layar menyala, nama Kang Epen selalu muncul di sana. Panggilan demi panggilan. Pesan demi pesan. Semuanya kubiarkan tanpa jawaban. Bukan karena aku membencinya. Aku hanya belum tahu harus menjawab sebagai siapa. Sebagai istrinya? Sebagai perempuan yang sedang marah? Atau sebagai seorang ibu yang sedang berusaha melindungi anaknya dari ayah yang bahkan belum tahu keberadaannya? "Teh, si A Epan neleponan wae," kata Shafira dari ambang pintu sambil memperlihatkan ponselku yang sejak tadi tergeletak di meja. "Fira bingung jawabna." Aku menghela napas panjang. "Udah biarin aja." Syafira masuk dan duduk di kursi dekat ranjang. Dia menatapku beberapa saat sebelum ak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Rapuh

    Kesadaranku perlahan kembali ketika mataku terbuka di sebuah ruangan bernuansa putih dengan aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung. Kepala masih terasa berat, tubuhku lemas seperti baru saja melewati perjalanan panjang tanpa istirahat, sementara pandangan yang semula kabur perlahan mulai menemukan bentuk. Langit-langit putih di atas kepala menjadi benda pertama yang berhasil kukenali, disusul suara alat medis yang terdengar teratur dari sisi ranjang. Aku menarik napas pelan, mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini, sebelum ingatan tentang pertengkaranku dengan adik-adik kembali menghantam seperti gelombang yang tak memberi kesempatan untuk menghindar. Pintu terbuka perlahan, lalu seorang suster masuk sambil membawa beberapa lembar catatan pemeriksaan. Senyum hangat terukir di wajahnya ketika menyadari aku sudah sadar, tetapi ekspresi itu segera berubah menjadi lebih hati-hati setelah melihat mataku yang masih kosong menatapnya. Ia mendekat, memeriksa infus dan

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Nikmat Sesaat

    "Aku nggak bilang kamu nggak boleh bahagia. Aku cuma minta kamu jangan mengorbankan anak-anak demi kebahagiaan yang belum tentu." Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Tami yang tadi berada di luar ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tidak nyaman mendengar pembicaraan kami. Aku mengusap wajah. Entah kenapa semuanya terasa semakin berat. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi orang yang selalu mengerti. Terlalu lama menjadi orang yang harus kuat. Terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar. "Aku capek, tahu nggak?" Suaraku perlahan pecah. "Sejak dulu aku yang mikirin kalian." Aku menatap Syafira dan Tami bergantian. "Bahkan saat orangtua kita masih lengkap. Siapa yang mikirin uang sekolah? Siapa yang berhenti mengejar hidup sendiri supaya bisa bantu Emak? Siapa yang kerja sampai badan rasanya nggak punya tenaga lagi?" Air mataku mulai jatuh. "Kalian tahu kalau aku juga punya mimpi?" Tidak ada yang menjawab. "Tahu nggak aku per

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Lupa Diri

    Kuparkirkan motor di halaman rumah di sebuah gang kawasan Bekasi Timur. Rumah yang dulu nyaris tak layak disebut tempat tinggal itu sekarang sudah jauh berubah. Dindingnya telah dicat ulang, lantainya diganti, ruang tamunya memiliki perabot yang lebih layak, bahkan dapurnya sudah dilengkapi berbagai peralatan yang dulu hanya bisa kami lihat di televisi. Semua itu berasal dari sebagian uang warisan Zahra dan hasil investasi yang perlahan mulai memberiku kehidupan yang lebih baik. Namun, sore itu ada sesuatu yang membuatku berhenti beberapa detik sebelum masuk. Teras rumah tampak ramai. Beberapa anak muda duduk bergerombol sambil merokok dan menyeruput kopi kemasan. Musik dari salah satu ponsel terdengar samar, bercampur dengan tawa yang sesekali meledak tanpa peduli pada lingkungan sekitar. Aku mengenali beberapa wajah, tetapi sebagian besar sama sekali asing bagiku. Aku mengerutkan kening. Sejak kapan rumah ini berubah menjadi tempat tongkrongan? "Teteh!" Tami langsung ban

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   7. Tipe Ideal

    "Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   6. Kesepakatan Pernikahan

    "Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   5. Ide gila

    "Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   3. Ganti Rugi

    Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status