Home / Romansa / Jerat Candu Tuan Muda Kejam / 61. Menyusun Rencana

Share

61. Menyusun Rencana

Author: Dwrite
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-19 09:28:28

"Mau ke mana?"

Aku beranjak pembaringan saat Kang Epen baru saja merebahkan diri.

"Masak emih." Kuraih sandal rumah di kolong ranjang dan mulai berjalan keluar.

"Tengah malam begini?" Pertanyaannya menghentikan langkahku.

"Emang perut bisa diajak kompromi?" Aku menoleh dan balik bertanya dengan nada yang sama lempengnya.

Kayaknya aku mulai tertular sindrom human frozennya Kang Epen.

"Ya, tapi--"

"Setop!" Kurentangkan sebelah tangan agar dia berhenti protes. "Cewek PMS itu selain gampang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   82. Privat Party

    Acara privat party akhirnya tiba. Aku menggandeng tangan Kang Epen ketika pintu ballroom raksasa itu terbuka.Sejenak aku sampai lupa berkedip.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit. Musik orkestra mengalun lembut dari sudut ruangan. Deretan meja bundar tertata rapi dengan bunga segar dan lilin-lilin kecil yang berkilauan.Aku yang terbiasa makan di warteg, kantin, atau restoran keluarga sederhana mendadak merasa seperti nyasar ke dunia lain.Dunia yang selama ini cuma kulihat di televisi."Jangan tegang."Suara Kang Epen terdengar pelan di sampingku."Aku nggak tegang.""Terus kenapa dari tadi nyubitin tanganku"Refleks aku langsung melepaskan tangannya.Kang Epen mendengus pelan."Kalau ada yang nggak nyaman bilang."Aku mengangguk.Meski sebenarnya rasa tidak nyaman itu sudah muncul sejak turun dari mobil.Orang-orang di sini terlalu rapi. Terlalu elegan.Terlalu mahal.Bahkan parfum mereka mungkin lebih mahal daripada gajiku selama beberapa bulan saat masih bekerja di

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   81. Tentang Zahra

    Rumah sudah sepi ketika kami sampai. Hujan masih turun tipis di luar. Menyisakan suara gemerisik air yang sesekali menghantam kaca jendela kamar. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami sama-sama naik ke ranjang tanpa banyak bicara. Entah karena kelelahan atau karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Untuk beberapa saat kami hanya berbaring berdampingan. Tidak ada televisi. Tidak ada ponsel. Hanya aku dan Kang Epen. Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung. Justru hangat. Seperti dua orang yang akhirnya berhenti saling menjaga jarak. Aku memiringkan tubuh menghadapnya. Sementara Kang Epen masih telentang menatap langit-langit kamar. Cahaya lampu tidur memantulkan bayangan lembut di wajahnya. Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa lelahnya lelaki ini. Tentu saja bukan lelah karena bekerja. Tapi lelah karena terlalu lama menanggung banyak hal sendirian. "Kang." "Hm?" sahutnya pelan tanpa menoleh. Aku memainkan ujung selimut di antara jari-

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   80. Melepas dengan Ikhlas

    Malam sudah cukup larut ketika aku sampai di sana. Pemakaman itu nyaris kosong. Hanya ada deretan nisan yang berdiri bisu di bawah langit gelap tanpa bintang. Lampu-lampu taman yang redup memantulkan cahaya kekuningan di jalan setapak yang masih basah oleh hujan sore tadi. Angin malam berembus pelan. Dingin. Sepi. Dan entah kenapa terasa begitu menyedihkan. Langkahku melambat saat melihat sosok yang kucari. Dia ada di sana. Sendirian. Berlutut di depan pusara Zahra. Punggungnya tegak seperti biasa, tetapi entah kenapa malam itu terlihat jauh lebih rapuh. Bunga lili putih yang masih segar tergeletak rapi di atas makam. Mungkin baru saja diganti. Atau mungkin dia sudah duduk di sana sejak sore. Aku tidak tahu. Dan aku tidak berani bertanya. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Kang Epen terlihat seperti seseorang yang kehabisan tenaga untuk terus terlihat kuat. Aku tidak memanggilnya. Tidak menyapanya. Tidak bertanya sedang apa. Aku hanya berjalan mendekat lalu dudu

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   79. Menenangkan Diri

    Suasana rumah mulai berubah. Sejak kejadian Bara dan terungkapnya fakta tentang Dara, rumah besar itu seperti kehilangan kehangatannya. Pagi itu aku terbangun dengan kepala berat. Sepanjang malam aku hampir tidak tidur. Begitu banyak tanda tanya, begitu banyak hal yang tak terduga. Dan aku... seolah belum siap dengan semua kenyataan yang ada. Begitu keluar kamar, pemandangan pertama yang kulihat adalah Dara yang duduk diam di meja makan ditemani Marni yang menyuapinya makan. Biasanya bocah itu paling ribut saat sarapan. Hari ini tidak. Dia hanya memainkan sendok di atas piringnya dan menolak Marni suapi. "Susah dari tadi, Teh," keluh Marni. "Nggak apa-apa. Bawa aja ke dapur." Marni mengangguk dan beranjak pergi membawa alas makan Dara yang masih utuh. Kini tersisa aku dan Dara di ruang makan. "Kenapa Dara nggak makan?" tanyaku pelan sambil duduk di sampingnya. Bocah itu menggeleng. "Nggak lapar." Suaranya kecil. Matanya masih sembap. Aku tahu dia sedang bingung. Terl

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   78. Pelindung

    Aku terduduk lemas di tepi kasur. Pikiranku masih berusaha mencerna semua yang baru saja kudengar. Bara, Zahra, kehamilan, pernikahan, dan Dara. Rasanya seperti seseorang baru saja membuka pintu menuju masa lalu yang selama ini terkunci rapat. Perlahan, kenangan itu kembali. .... Dulu kami bertiga nyaris tidak pernah terpisah. Aku, Zahra, dan Bara. Kalau ada siswa baru yang masuk sekolah saat itu, kemungkinan besar mereka akan mengenal kami dalam minggu pertama. Bukan karena aku istimewa. Tapi karena dua sahabatku memang terlalu mencolok untuk diabaikan. Zahra adalah gadis cantik yang bahkan guru-guru pun menyayanginya. Pintar, ramah, percaya diri, dan berasal dari keluarga berada. Sementara Bara .... Yah, Bara adalah tipe laki-laki yang membuat banyak siswi rela datang lebih pagi hanya untuk melihatnya masuk gerbang sekolah. Tinggi, tampan, pintar, pandai berbicara, dan selalu tahu cara membuat orang menyukainya. Di antara mereka berdua, aku seperti tempelan bonus. Anak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   77. Ayah Kandung Dara

    Pintu kamar tertutup pelan di belakang kami. Ketegangan masih terasa bahkan setelah kami sampai di rumah. Dara sudah dibawa Marni untuk ditenangkan. Sepertinya bocah itu masih shock hingga tak berhenti menangis bahkan setelah tiba. Kini hanya tersisa aku dan Kang Epen. Tidak ada suara lain selain napas kami yang sama-sama berat. Aku berdiri di dekat lemari sambil memeluk diri. Sementara Kang Epen mondar-mandir di depan sofa seperti orang yang sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak meledak. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Tentang Bara, tentang kenapa dia sampai memukulnya, tentang kenapa reaksinya berlebihan hanya karena Dara pulang bersama seorang teman lama? Tapi melihat wajah Kang Epen sekarang, membuat semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokan. Tanpa diduga, dia tiba-tiba berbalik. Gerakannya begitu cepat saat mencengkeram kedua bahuku. "Kamu mengenalnya, kan?" tanyanya dengan suara rendah. Aku terkejut. "Ya ... ya kenal." Tatapannya semakin t

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   6. Kesepakatan Pernikahan

    "Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   5. Ide gila

    "Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   4. Buy one, get one

    "Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   3. Ganti Rugi

    Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status