เข้าสู่ระบบEthan meninggalkanku sendirian di kamar mandi.
Ia keluar begitu saja setelah menyampaikan tawaran gilanya, seolah-olah ia baru saja membicarakan cuaca, bukan nasib hidupku. Punggungnya yang lebar dan basah menghilang di balik pintu kaca buram, meninggalkanku yang masih gemetar di bawah guyuran air shower yang mulai terasa dingin. Enam bulan. Aku memeluk tubuhku sendiri. Kontrak macam apa itu? Mencintainya atau dipulangkan? Itu bukan pilihan. Itu ancaman yang dibungkus dengan pita emas. Aku mematikan keran air dengan kasar. Marah. Aku marah pada situasi ini, tapi lebih marah pada tubuhku sendiri yang sempat bereaksi saat ia menyentuhku tadi. Aku keluar dari bilik shower, meraih handuk tebal berwarna putih yang tergantung di rak pemanas. Handuk itu hangat dan beraroma sandalwood—aroma Ethan. Aku melilitkannya ke tubuhku, lalu melangkah keluar menuju kamar tidur. Kamar itu kosong. Ethan sudah tidak ada. Tapi di sisi lain ruangan, sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu mahogany terbuka sedikit. Penasaran, aku melangkah ke sana. Saat aku mendorong pintunya, napasku tercekat. Ini bukan lemari pakaian. Ini adalah butik pribadi. Ruangan walk-in closet ini lebih besar dari ruang tamu rumahku di Bali. Rak-rak kaca berjejer rapi, dipenuhi deretan gaun, blus sutra, celana bahan desainer, hingga mantel bulu. Di sisi lain, rak sepatu menampilkan puluhan pasang heels dari brand ternama: Louboutin, Jimmy Choo, Manolo Blahnik. Aku berjalan menyusuri lorong pakaian itu dengan jari gemetar. Aku mengambil satu gaun tidur berbahan satin hitam. Ukurannya... pas. Aku melihat sepatu. Ukuran 37, pas. Bahkan pakaian dalam yang tertata di laci kaca... semuanya adalah ukuranku. Rasa dingin merambat di tengkukku. Ini bukan persiapan semalam. Tidak mungkin dia menyiapkan semua ini dalam waktu penerbangan 15 jam. Dia sudah menyiapkan ini berbulan-bulan. Mungkin lebih lama. "Kau suka?" Aku terlonjak, berputar cepat. Ethan berdiri di ambang pintu. Ia sudah berpakaian lengkap sekarang. Kemeja putih yang pas badan, celana bahan hitam, dan jam tangan yang harganya mungkin bisa membeli satu desa. Rambutnya yang masih sedikit basah disisir rapi ke belakang. Tampilannya kembali menjadi Ethan sang CEO. Dingin, tampan dan maskulin. Nyaris sempurna tapi minus hati nurani. "Dari mana kamu tahu?" tanyaku, suaraku bergetar menahan ngeri. "Ukuran bajuku... sepatuku... semuanya. Dari mana kamu tahu?" Ethan berjalan masuk, langkahnya tenang di atas karpet tebal. Ia berhenti di depan rak perhiasan, mengambil sebuah kalung berlian tipis. "Aku seorang pengamat yang baik, Chintya," jawabnya santai. "Dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku melakukan riset mendalam. Aku tahu ukuran bajumu, aku tahu kamu alergi udang, aku tahu kamu suka warna hitam tapi sering memakai putih karena tuntutan pekerjaan." Ia berbalik menatapku. Tatapan itu lagi. Tatapan kolektor. "Kau..." Aku mundur selangkah. "Kau penguntit." "Aku pelindung," koreksinya. "Penguntit bersembunyi di bayangan. Aku berdiri di depanmu, memberimu dunia." Ia meletakkan kalung itu kembali, lalu berjalan ke arah deretan dress. Tangannya memilih sebuah dress selutut berwarna maroon dengan potongan leher rendah yang elegan. "Pakai ini," perintahnya, menyodorkan gaun itu padaku. "Kita sarapan sepuluh menit lagi." Aku menepis gaun itu. Kain mahalnya jatuh ke lantai. "Aku tidak mau memakai barang-barangmu. Kembalikan bajuku. Gaun yang kupakai semalam. Aku mau pakai itu saja." Ethan menatap gaun yang jatuh di lantai, lalu menatapku. Ekspresinya tidak berubah, tapi suhu ruangan terasa turun drastis. "Gaun murah yang penuh pasir dan keringat itu?" tanyanya datar. "Sudah kubakar." Mataku membelalak. "Apa?" "Sudah kubuang. Sampah," ucapnya dingin. "Mulai sekarang, tidak ada lagi kain murah yang menyentuh kulitmu. Kau milik Mahendra, Chintya. Kau harus terlihat pantas bersanding denganku." Ia melangkah maju, memangkas jarak kami. Aura dominasinya membuatku merasa kerdil. Ia memungut gaun maroon itu, menepuk-nepuk debu imajiner darinya, lalu menyodorkannya lagi ke dadaku. Kali ini dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Pakai. Atau aku yang akan memakaikannya untukmu. Dan percayalah, kalau aku yang melakukannya... kita tidak akan sampai ke meja makan." Ancaman itu tersamar, tapi jelas. Aku merampas gaun itu dari tangannya dengan kasar. "Keluar." Ethan tersenyum tipis. Puas karena aku menurut, meskipun dengan perlawanan. "Sepuluh menit," katanya. Ia berbalik dan berjalan keluar, menutup pintu closet di belakangnya. Begitu ia pergi, aku merosot ke lantai. Memeluk gaun mahal itu di dadaku. Aku merasa bukan seperti wanita yang dimanjakan. Aku merasa seperti boneka. Boneka cantik yang baru saja dimasukkan ke dalam rumah kaca, dipaksa memakai baju yang dipilihkan tuannya, dan harus tersenyum saat dimainkan. Aku berdiri, menatap pantulanku di cermin besar. Mataku sembab, tapi ada api kemarahan di sana. Baik, Ethan, batinku. Kau ingin aku memainkan peran ini? Aku akan memainkannya.Makan siang itu seharusnya romantis.Ethan membawaku ke restoran rooftop privat lainnya, tempat di mana awan-awan Los Angeles terlihat begitu dekat seolah bisa disentuh. Pelayan menuangkan wine terbaik, dan hidangan laut segar tersaji di meja.Namun bagiku, makanan itu terasa seperti pasir."Kau diam saja dari tadi, Honey," suara Ethan memecah keheningan. Ia tidak sedang makan. Ia sedang mengawasiku, memutar gelas wine-nya dengan gerakan santai yang menipu.Aku tersentak, memaksakan seulas senyum kaku. "Aku hanya... lelah. Kejadian di kantor tadi cukup menguras tenaga."Ethan terkekeh pelan, suara rendah yang biasanya membuat perutku bergejolak, tapi kini membuatku waspada."Tenaga, ya?" godanya, matanya berkilat nakal. Tangan besarnya terulur di atas meja, menggenggam tanganku.Dulu—atau lebih tepatnya satu jam yang lalu—sentuhan ini akan membuatku merasa aman. Tapi sekarang, saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, bayangan foto di dalam map merah itu melintas di kepalaku.
Napas kami masih memburu, beradu di keheningan ruang kerja yang luas.Kemeja putih Ethan sudah tidak berbentuk, kancing-kancingnya terlepas beberapa. Gaun sutraku melorot di bahu, rambutku berantakan. Dokumen-dokumen penting yang tadi tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kegilaan yang baru saja terjadi.Ethan masih mengurungku di atas meja kerjanya. Kedua tangannya bertumpu di sisi pinggulku, keningnya menempel di keningku. Matanya terpejam, menikmati afterglow yang menenangkan saraf-saraf tegangnya.Tanganku bergerak pelan, menelusuri garis rahangnya yang keras, lalu turun ke lehernya yang basah oleh keringat."Ethan..." panggilku lembut.Ia membuka matanya. Hitam pekat, namun sekarang terlihat teduh. Seperti laut tenang setelah badai."Hmm?" gumamnya, mengecup ujung hidungku.Aku menatapnya lekat-lekat. Mengingat ancamannya di kamar mandi pagi itu, tentang kontrak enam bulan. Tentang ancaman akan memulangkanku jika aku tidak mencintainya. Rasa
Cahaya matahari pagi terasa berbeda hari ini. Lebih hangat. Lebih nyata.Aku menggeliat pelan di balik selimut sutra tebal, merasakan setiap otot tubuhku yang pegal dan nyeri—sisa-sisa pertempuran panas semalam yang menghancurkan semua batasan di antara kami.Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku, menahanku agar tidak beranjak.“Mau ke mana, Honey?”Suara itu serak, rendah, dan berat, berbisik tepat di telingaku. Napas hangatnya menggelitik tengkukku, mengirimkan getaran listrik ke tulang punggung.Aku menoleh. Ethan sedang menatapku. Rambut hitamnya berantakan, matanya masih sayu khas bangun tidur, tapi sorot posesif itu sudah menyala terang. Tidak ada lagi dinginnya es di sana. Yang ada hanya api.“Ke kamar mandi,” jawabku pelan, wajahku memanas mengingat apa yang kami lakukan di sana—dan di lantai, dan di meja rias—semalam.Ethan tersenyum miring. Ia menarikku kembali jatuh ke pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aromaku dalam-dalam.“Nanti sa
Restoran itu bernama L'Obscur. Gelap, eksklusif, dan hening. Hanya ada lima meja di ruangan VIP ini, dan malam ini, Ethan menyewa seluruh tempat.Aku duduk di hadapannya, mengenakan gaun sutra hitam backless yang memamerkan punggungku. Udara terasa dingin, tapi keringat dingin membasahi tengkukku.Di meja kami, makan malam sudah tersaji. Steak wagyu yang dimasak rare—masih merah di bagian tengah. Di samping piringku, tergeletak pistol Glock 19 yang sudah kusembunyikan di balik clutch pestaku."Makan," perintah Ethan. Ia memotong daging di piringnya dengan tenang. Pisau peraknya mengiris daging merah itu tanpa suara."Aku tidak bisa makan," bisikku. "Kau bilang kita akan berburu. Di mana targetnya?""Dia sudah di sini," jawab Ethan santai.Pintu ruangan VIP terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu masuk, dikawal oleh dua penjaga restoran. Wajahnya pucat pasi saat melihat Ethan duduk di ujung meja.Itu Mr. Tan. Salah satu investor terbesar Mahendra Corp."Eth
Satu minggu.Sudah satu minggu sejak aku mengambil Black Card itu dan menjual jiwaku pada Ethan.Dan dalam satu minggu itu, penthouse ini berubah. Bukan perabotannya, tapi penghuninya.Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet. Pantulan di sana bukan lagi Ayu Chintya si resepsionis hotel yang memakai seragam kaku.Aku bukan lagi tawanan yang menangis di pojokan. Aku adalah tunangan Ethan Mahendra. Setidaknya, itulah peran yang harus kumainkan.Aku mengambil napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.Menuju pintu ganda di ujung lorong barat yang selalu tertutup rapat.Ruang kerja Ethan.Dua penjaga berjas hitam yang berdiri di depan pintu tersentak kaget melihatku datang. Mereka saling pandang ragu."Nona," sapa salah satu dari mereka kaku. "Tuan Ethan sedang rapat online dengan direksi. Dia tidak bisa diganggu."Dulu, aku akan minta maaf dan mundur. Tapi hari ini berbeda."Minggir," kataku tenang.Penjaga itu ternganga. "Ta-tapi Nona, perintah Tuan...""Perint
"Bram... di sini?"Suaraku nyaris tak terdengar, tertelan oleh gemuruh AC sentral yang mendadak terasa terlalu bising.Tubuhku membeku. Rasa dingin yang familiar merambat dari ujung kaki ke kepala. Bukan karena dinginnya AC, tapi dinginnya ketakutan. Bayangan wajah Bram—tatapan mesumnya, bau alkohol dari mulutnya, dan cengkeraman tangannya yang kasar—kembali menghantuiku di tengah kemewahan penthouse ini."Bagaimana bisa?" bisikku. "Dia cuma preman lokal! Bagaimana dia bisa melacakmu sampai ke Amerika?"Ethan berjalan ke arah meja kerjanya, menyambar sebuah tablet, dan mengetik sesuatu dengan cepat menggunakan satu tangan."Jangan remehkan obsesi pria yang kehilangan barang miliknya, Chintya," kata Ethan dingin, matanya terpaku pada layar. "Dan jangan lupa, Bram bukan cuma preman. Dia punya koneksi dengan sindikat perdagangan manusia di Asia Tenggara. Seseorang memberinya info tentang jet pribadiku."Tiba-tiba, suara interkom di dinding berbunyi nyaring. Bip-bip-bip.Itu suara







