Share

Tetaplah Disini...

Author: CitraAurora
last update publish date: 2025-11-17 19:54:30

Malam itu, Natasya terus saja memikirkan ciumannya bersama Aron, sampai-sampai dia tidak bisa tidur karenanya.

Keesokan harinya, Natasya sangat gugup ketika Aron memanggilnya.

“Masalah semalam jangan kamu pikirkan, semua karena ketidaksengajaan,” kata Aron sambil menatap Natasya lekat.

“Baik, Pak,” sahut Natasya. Entah kenapa jantungnya masih berdebar-debar.

Karena Aron ada urusan, dia meminjamkan buku-bukunya pada Natasya.

Hal ini membuat Natasya senang tak karuan. Itu artinya, dia tidak perlu menghabiskan waktu bersama dosennya!

“Pak Aron benar meminjamkan buku-buku ini?” tanyanya antusias.

“Iya, kamu belajar sendiri di rumah,” jawab Aron singkat, berusaha mengalihkan perhatian dari wajah Natasya yang berseri-seri.

Sementara itu, Natasya mematung. Sekilas, ia melihat Aron tersenyum. Dan itu membuat darahnya berdesir. Natasya tahu Aron memang tampan, tapi ia baru sadar Aron memang setampan itu….

‘Andaikan dia masih lajang,’ gumamnya dalam hati.

Sekian detik kemudian, Natasya sadar dari lamunannya, dia segera menggeleng mencoba mengeluarkan pikiran aneh dari benaknya.

Di sisi lain, Aron melajukan mobil ke bandara. Hari ini dia akan menjemput istrinya yang baru datang dari luar negeri.

Satu jam menunggu, sang istri tak kunjung muncul. Bahkan hingga malam istrinya tidak nampak. Aron menjadi cemas, apa ada masalah dengan penerbangannya atau kenapa?

Ketika hendak menghubungi sang istri, ternyata istrinya menghubunginya terlebih dahulu.

“Mas, aku nggak bisa pulang. Tiba-tiba ada kerjaan di negara lainnya lagi.”

Seketika Aron terdiam, rasa senangnya perlahan menghilang.

“Baiklah, Sayang.”

Hanya kata itu yang keluar dari mulut Aron. Mendebat pun percuma. Ia tahu itu hanya akan berujung pada pertengkaran.

Dirinya harus menelan pil pahit lagi. Ada kesempatan pulang, namun istrinya lebih memilih untuk menerima tawaran kerja lagi di negeri satunya.

“Enam bulan tidak bertemu apa tidak rindu padaku, Dara….” Aron duduk di bangku sambil menyugar rambutnya kasar.

Saat itu, Natasya menghubunginya. Mahasiswanya itu bilang kalau belum paham dengan materi yang diajarkan dan meminta keringanan.

[Apa boleh tugasnya saya kirim besok, Pak?]

Begitu isi pesan singkat Natasya.

[Selesaikan malam ini juga atau nilai kamu E!] Balas Aron.

Sepulang dari bandara, Aron pergi beli minuman. Dia ingin menenangkan diri dengan sedikit minum.

Ketika sampai di rumah, pria itu justru mendapati Natasya duduk di depan rumahnya.

“Mau apa dia kemari?” Sambil bertanya-tanya, Aron keluar dari mobil.

“Pak Aron maaf, saya benar-benar bingung!” ujar Natasya saat Aron berjalan hendak masuk ke dalam rumah.

“Bodoh, soal begitu saja tidak bisa!” umpat Aron kesal.

Natasya hanya menunduk. Nyalinya menciut menyadari Aron yang sepertinya marah karena ucapannya.

Aron tidak mempersilahkan dia masuk sehingga Natasya hanya berdiri di teras.

Melihat Natasya yang masih d iluar, pria itu kembali lagi, “Masuk, ngapain di luar?!” Suara bariton dosennya itu membuat Natasya buru-buru mengikutinya masuk.

Aron meminta Natasya mengeluarkan buku-bukunya, lalu dia akan menjelaskan sedikit.

Dirasa paham, Natasya mulai mengerjakan tugasnya sementara Aron pergi ke balkon sambil minum minumannya.

Frustasi dan kecewa membuat pria itu tak berhenti minum, hingga kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

“Pak Aron, tugas saya sudah selesai, dan sudah saya kirim ke email bapak.” Lapor Natasya sambil pamit pulang.

Ketika berbalik, Aron justru memegang tangan Natasya, dan menarik tangan mahasiswanya itu.

“Kenapa, Dara? Kenapa kamu tidak pernah merindukan aku?!” teriak Aron sambil menatap Natasya dengan sepasang mata yang memerah.

Aroma alkohol yang pekat dan sikap Aron yang seperti orang mabuk membuat Natasya ketakutan. Dia berusaha melepas cengkeraman tangan pria itu.

“Pak, saya harus pulang,” pintanya dengan suara bergetar.

Sayangnya Aron tidak mengabulkan permohonannya. Pria itu justru mengunci tubuh Natasya di dinding.

“Aku merindukanmu, Sayang….”

“Pak Aron, s-saya bukan istri Anda!” sentak Natasya, berusaha mendorong pria itu. Namun, Aron adalah pria dewasa. Semabuk apapun dirinya, tenaganya jelas tidak sebanding.

Mendengar suara gadis itu, cengkeraman Aron perlahan melonggar, lalu terlepas. Ia menatap Natasya dengan lekat.

“Natasya….” ucapnya lirih. Sepasang matanya menilik wajah cantik mahasiswinya itu.

Lalu, tubuh Aron terhuyung ke depan. Ia memeluk Natasya dengan erat.

Selama ini, dia telah memendam kekecewaan sendiri, menahan rindu pada istrinya yang tak pernah mempedulikannya.

Dan hari ini adalah puncaknya.

“Kenapa dia seperti itu Natasya?” Aron bergumam lirih, tepat di ceruk leher Natasya, di mana ia membenamkan wajahnya.

Posisi ini sangat berbahaya. Natasya dapat merasakan hangat napas pria itu, membuat sekujur tubuhnya merinding.

Sebulan ini, Aron sudah membimbingnya dengan sabar, bahkan dosennya itu selalu meluangkan waktu untuk mengajarinya. Jadi malam ini, dia akan mendengarkan Aron bercerita. Biarlah pria dewasa itu meluapkan risalah hatinya.

Tanpa sadar, Aron menceritakan semua apa yang dialami selama ini. Dan Natasya menjadi pendengar yang baik. Melihat Aron yang terus mengoceh, Natasya tersenyum kecil. Biasanya pria itu selalu dingin dan datar, namun kali ini berbeda. Meski sedih tapi justru membuatnya terlihat manis.

“Dibicarakan baik-baik, Pak Aron,” kata Natasya setelah Aron selesai bercerita.

Dia bingung harus bagaimana, masalah rumah tangga dia tidak tahu sama sekali, yang dia tahu hanya tugas dan praktik. Itu saja.

Aron hanya bergeming hingga pria itu menyandarkan kepala di sofa, lalu terlelap.

Melihat posisi Aron yang tak nyaman, Natasya mengubah posisi tidur tubuh atletis dosennya.

“Pak Aron, saya harus pulang,” ujar gadis itu, nyaris berbisik.

Ketika hendak beranjak, Aron menarik tangannya.

“Tetaplah di sini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Aku Bahagia Mas

    Setahunan KemudianAuditorium kampus dipenuhi oleh mahasiswa yang mengenakan toga wisuda. Suasana penuh kebahagiaan dan haru. Hari ini adalah hari wisuda, hari dimana mereka semua akan resmi menjadi dokter.Di barisan paling depan, Natasya duduk dengan toga yang rapi. Wajahnya berseri-seri, mata berbinar penuh kebahagiaan. Tiga tahun yang penuh perjuangan akhirnya sampai di titik ini.Di kursi penonton, Aron duduk sambil menggendong Arjuna yang kini sudah berusia satu tahun. Bocah tampan itu dengan antusias menunjuk-nunjuk ke arah panggung."Ma ma!" seru Arjuna sambil menunjuk Natasya."Iya, Sayang. Itu Mama kamu. Hari ini Mama wisuda," jawab Aron sambil tersenyum lebar.Di samping Aron, duduk ibu Natasya yang wajahnya basah oleh air mata bahagia. Kakek Sanjaya dan Kakek Atmaja juga ada di sana, begitu juga dengan orangtua Aron. Semua keluarga berkumpul untuk menyaksikan momen penting ini."Aku sangat bangga dengan Natasya," gumam Kakek Sanjaya sambil menghapus air matanya."Dia meman

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Memutuskan Kuliah

    Siang itu, setelah ibu Natasya pulang, Natasya menghabiskan waktu dengan Arjuna. Dia memandikannya, bermain dengannya, dan mengobservasi setiap gerak-gerik bayinya. Di benaknya terus berkecamuk pertanyaan: bisakah dia meninggalkan Arjuna beberapa jam untuk kuliah?Malam harinya, ketika Arjuna sudah tidur dan Aron sedang bekerja di ruang kerja, Natasya duduk sendirian di kamar. Dia menatap sertifikat-sertifikat prestasi yang terpajang di dinding. Semua itu hasil kerja kerasnya.Dia teringat masa-masa sulit dulu. Bagaimana dia harus bekerja sambilan sambil kuliah. Bagaimana ibunya sering menangis diam-diam karena khawatir tidak bisa membiayai kuliah. Bagaimana dia hampir putus asa beberapa kali tapi tetap bertahan."Apa semua perjuangan itu akan sia-sia begitu saja?" gumam Natasya pada dirinya sendiri.Dia bangkit dan berjalan ke baby box dimana Arjuna tidur. Dia menatap bayinya yang tidur sangat pulas. Wajahnya begitu damai, begitu tenang."Sayang, Mama bingung," bisik Natasya sambil m

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Bingung, Kuliah atau Jadi Ibu Rumah Tangga

    Bab 51: Jerat Cinta Dosen KillerDua bulan sudah berlalu sejak Arjuna pulang ke rumah. Bayi mungil yang dulu penuh dengan selang kini tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan. Pipinya mulai chubby, matanya bulat dan jernih seperti ibunya, sementara hidung dan rahangnya tegas seperti ayahnya. Setiap senyumnya mampu membuat hati Natasya dan Aron meleleh.Pagi itu, Natasya duduk di ruang keluarga sambil menggendong Arjuna yang baru selesai menyusu. Bayi itu tertidur pulas di pelukannya dengan wajah yang begitu damai. Natasya mengusap pipi chubby Arjuna dengan lembut, tersenyum penuh kasih sayang."Mama sayang banget sama kamu, Nak," bisik Natasya sambil mencium kening Arjuna.Aron yang sedang membaca buku di sofa sebelah sesekali melirik ke arah istri dan anaknya. Dia tersenyum melihat pemandangan itu, tapi di benaknya ada sesuatu yang mengganjal. Masa cuti Natasya sudah habis minggu depan, tapi istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali kuliah.Bel rumah berbunyi. Pembantu membuka

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Bisa Pulang

    Aron mengangguk sambil mengusap air matanya. "Dia tahu kamu Mamanya. Dia sudah menunggu kamu bangun, sayang."Natasya tidak bisa berhenti menatap bayinya. Meskipun mungil dan penuh dengan selang, baginya bayi itu adalah makhluk terindah di dunia."Mas, dia belum punya nama," ujar Natasya pelan sambil tetap menggenggam jari bayinya."Iya, aku tunggu kamu sadar dulu. Kita harus beri nama sama-sama," jawab Aron sambil ikut menyentuh bayi mereka lewat lubang inkubator yang lain."Aku sudah memikirkannya sejak hamil," Natasya tersenyum tipis meskipun air matanya masih mengalir. "Kalau laki-laki, aku ingin beri nama Arjuna. Arjuna Adyatama."Aron terdiam sejenak, meresapi nama yang indah itu. "Arjuna... pahlawan yang kuat dan pantang menyerah. Cocok untuk anak kita yang sudah berjuang keras sejak lahir.""Kamu setuju, Mas?" tanya Natasya."Sangat setuju, sayang. Arjuna Adyatama. Nama yang sempurna," Aron mencium kening Natasya dengan lembut.Mereka berdua menatap bayi mereka dengan penuh ka

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Sadar

    Aron mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Tangannya gemetar memegang setir, pikirannya kacau balau. Perkembangan apa yang dimaksud rumah sakit? Apakah Natasya sadar? Atau justru sebaliknya?"Kumohon, kumohon jangan berita buruk," gumam Aron terus-menerus sambil mengemudi.Dia tidak peduli dengan rambu lalu lintas, tidak peduli dengan klakson mobil lain yang memprotes kendaraannya. Yang ada di pikirannya hanya Natasya.Lima belas menit kemudian, Aron sampai di rumah sakit. Dia langsung berlari menuju ruang perawatan sang istri. Di depan pintu dia melihat Mamanya, Papanya, kedua kakeknya, dan ibu Natasya berkumpul dengan wajah cemas."Bu! Bagaimana Natasya?!" tanya Aron panik begitu sampai.Ibu Natasya tersenyum sambil menangis. "Aron, Natasya... dia...""Dia kenapa?!" Aron hampir berteriak."Dia menggerakkan jarinya tadi. Dokter bilang itu pertanda baik. Ada kemungkinan dia akan segera sadar," jelas Papanya.Aron merasakan kakinya lemas. Dia hampir terjatuh kalau tidak

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Lelah, Aku Lelah Sayang

    Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Aron. Natasya masih terbaring koma di ruang perawatan, memang setelah keadaan Natasya keluar dari masa kritis dia dipindahkan ke ruang perawatan.Tapi bayi mereka masih berjuang di NICU meskipun kondisinya mulai membaik sedikit demi sedikit.Aron mencoba kembali mengajar setelah dipaksa oleh kedua kakek dan orangtuanya yang sudah pulang dari luar negeri. Mereka khawatir Aron akan sakit kalau terus-terusan di rumah sakit tanpa istirahat yang cukup."Aron, kamu harus mengajar dan melakukan aktivitas lainnya. Natasya pasti tidak ingin melihatmu begini," ujar mamanya sambil mengelus kepala Aron yang tertidur di samping ranjang Natasya."Tapi Ma, aku tidak bisa meninggalkan mereka," jawab Aron dengan suara parau."Kamu tidak meninggalkan mereka. Kamu hanya pergi bekerja beberapa jam, lalu kembali lagi. Kami akan menjaga Natasya dan anak kamu," bujuk Papanya. Akhirnya Aron menyerah. Dia setuju untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status