Beranda / Young Adult / Jerat Cinta Dosen Killer / Bibirku Sudah Tidak Perawan Lagi..

Share

Bibirku Sudah Tidak Perawan Lagi..

Penulis: CitraAurora
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-17 19:53:09

Melihat mata Aron yang sedikit basah, Natasya mengira Aron kesakitan.

“Pak, sakit memang nggak enak. Bapak sabar ya, habis ini minum obat pasti sembuh,” ujar Natasya berusaha menenangkan. Dia tersenyum menatap Aron, mencoba memberikan semangat.

Namun, Aron mendengus mendengar perkataan Natasya. “Aku tidak selemah itu,” sahutnya dingin.

Gantian Natasya yang memberengut. Tidak selemah itu, tapi matanya berkaca-kaca! Dasar dosen killer pembohong!

Usai menyuapi Aron, Natasya mengambil obat. Dia juga membantu pria itu meminum obatnya.

“Sekarang Pak Aron istirahat, saya harus pulang,” kata Natasya kemudian. “Tapi boleh nggak Pak saya pinjam bukunya?” pintanya sambil tersenyum manis. Sepasang matanya tampak berbinar memohon pada Aron.

“Kenapa tidak pinjam di perpus saja?” tanya Aron sambil mengernyit seolah tidak suka.

Wanita itu menghela nafas. Materi yang Aron berikan tidak ditemui di buku manapun, termasuk buku di perpus.

“Kalau ada saya pasti pinjam di perpus Pak, sayangnya tidak ada.” Dia melemas, berharap Aron mau meminjamkan bukunya.

“Alasan!” sahut pria itu malas. Tapi kemudian dia melunak. “Baiklah, tapi tidak boleh kamu bawa pulang.”

Lalu Aron menarik selimut, memejamkan mata tanpa memperdulikan Natasya yang masih terbengong mendengar ucapannya.

Tidak boleh dibawa pulang? Lalu bagaimana?

Netra Natasya menatap kesal Aron. Apa itu artinya dia harus belajar di sini?

“Orang ini suka sekali menyusahkanku. Apa salahnya membiarkan aku membawa bukunya?” gerutu Natasya lirih.

Aron tersenyum tipis mendengar Natasya menggerutu. Lalu heran sendiri kenapa dia melakukan hal seperti ini pada gadis itu.

Kesempatannya yang terbatas mempelajari materi di buku Aron membuat Natasya belajar hingga larut. Saking lelahnya, dia sampai tertidur.

Tengah malam saat Aron bangun, dia melihat Natasya yang tidur di meja.

Dia bangkit dari tempat tidur kemudian mendekati Natasya.

“Malah tidur di sini,” gumamnya.

Aron lantas memindahkan tubuh kecil Natasya ke tempat tidur. Bukan tempat tidurnya bersama sang istri, melainkan tempat tidur di kamar sebelah.

Saat dia hendak meletakkan tubuh Natasya, wanita itu malah mengigau dalam tidurnya.

“Dia sangat tampan tapi kejam…”

“Awas saja kalau jadi pasienku nanti… akan aku suntik dengan jarum yang sangat besar….”

Mendengar itu Aron geli sendiri, bahkan dia terkekeh.

“Lulus saja belum, sudah mau menyuntikku,” sahutnya pelan.

Tiba-tiba, Natasya menarik tangannya hingga Aron kehilangan keseimbangan dan jatuh menindihnya. Tanpa sengaja, bibirnya jatuh tepat di atas bibir Natasya.

Buru-buru Aron menarik tubuhnya, “Natasya, kamu…!”

Aron menyergah napas, lalu bergegas keluar dari kamar tamu dan kembali ke kamarnya.

Tangannya meraba bibirnya. Ciuman sekilas tadi cukup membuat perasaannya tak menentu.

Siapa sangka, dari ciuman itu Aron justru bermimpi bercinta dengan Natasya. Pria itu mendesah dalam tidurnya hingga mencapai klimaks.

Dengan nafas yang memburu, Aron membuka matanya. Dia merasakan celananya basah.

Gila… bisa-bisanya dia memimpikan hal seperti itu?!

Aron lantas bangun dan membersihkan diri, lalu mengganti celananya dengan yang bersih.

Hari-hari terus berlalu, Aron berusaha melupakan mimpi sialan itu. Sampai tak terasa, akhirnya ujian remidi datang juga.

Aron memberikan ulangan tersebut ketika jam kuliah usai.

“Kalau kamu gagal lagi, maka nilaimu tidak akan bisa diubah,” peringat Aron dengan tegas.

Natasya mengangguk, dia yakin pasti bisa mengerjakan soal serumit apapun. Sebulan ini dia sudah berjuang keras untuk hari ini.

Namun, saat dia mendapatkan soal ujiannya, mata Natasya seketika membulat. Aron sepertinya sengaja memberikannya soal yang sangat sulit. Bahkan materi yang belum diajarkan dijadikan sebagai soal ujian.

‘Dasar dosen menyebalkan!’ umpat Natasya dalam hati.

Wanita itu berusaha mengingat setiap materi yang Aron ajarkan. Untunglah satu demi satu dia bisa menyelesaikan soal itu.

Waktu masih tersisa, tapi Natasya mampu mengerjakan empat puluh soal dari Aron.

“Ini, Pak.” Dia menyodorkan lembar jawabannya.

Senyum Aron mengembang melihat jawaban Natasya. “Setelah ini aku harap kamu tidak merepotkan aku lagi, Natasya,” katanya.

“Baik, Pak. Terima kasih telah membimbing saya,” sahut gadis itu sambil tersenyum.

Setelah remidi, Natasya merasa sangat lega.

Akhirnya, dia tidak lagi berhubungan dengan dosen killer di luar jam kuliah!

***

Baru beberapa hari bisa bernafas lega, kali ini Natasya harus kembali masuk ke dalam neraka.

Bagaimana tidak? Ternyata Aron lah yang menjadi dosen pembimbingnya!

“Mampuslah aku.” Dia berguling di tempat tidur sambil berteriak frustrasi. “Tidaaaaak!”

Belum-belum Aron sudah memberi tugas yang sangat sulit sehingga membuat Natasya stres.

Semalaman, Natasya memikirkan hal tugasnya hingga dia tidur larut.

“Ibu, Natasya telat.” Gadis itu buru-buru mencium punggung tangan ibunya, lalu berangkat tanpa sarapan.

Sesampainya di kampus, pintu kelasnya sudah tertutup.

“Matilah aku.” Natasya mengembuskan napas panjang, berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi Aron yang tidak menoleransi keterlambatan.

Ia lantas membuka pintu, kemudian menghadap Aron yang sudah berdiri di depan podium kecil di depan kelas.

“Maaf, Pak, saya telat,” cicit Natasya pelan. Tatapan tajam Aron dia dapat, sehingga membuatnya tak berani menatap.

“Duduklah!” titah Aron dingin.

Untuk sesaat, Natasya tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun, ia segera berjalan ke bangku belakang sebelum dosennya itu berubah pikiran.

“Duduk di depan!”

Langkah Natasya berhenti, ia menoleh dan mendapati Aron menatapnya datar.

Gadis itu mengembuskan napas pelan sambil mengepalkan tangan. Dia menatap Aron kemudian mengangguk, “Baik, Pak.”

Setelah jam mata kuliah Aron selesai, Natasya diminta Aron untuk ke kantornya.

“Astaga, dosen ini kenapa terus mencari gara-gara denganku,” batinnya kesal.

Singkat cerita, dia telah di kantor Aron. Dosen killer itu memberinya setumpuk tugas.

“Minggu depan harus sudah selesai,” titahnya.

Kedua bola mata Natasya rasanya mau keluar. Ia menatap tumpukan tugas itu lalu menatap Aron tak percaya. Tugas sebanyak ini harus selesai minggu depan? Gila!

“Pak, bagaimana mungkin?” Natasya seketika tampak lemas di depan Aron.

“Aku tidak mau mendengar alasan, sekiranya ada yang tidak dimengerti tanyakan padaku,” sahut Aron acuh tak acuh.

Di rumah, Natasya melihat tugas dari Aron. Tujuh lembar tugas harus selesai dalam seminggu, berarti satu hari harus menyelesaikan satu lembar.

Karena sulit, mau tidak mau Natasya pergi ke rumah dosennya itu.

“Ada apa?” Pertanyaan itu langsung keluar ketika Aron membuka pintu.

“Mohon bimbingannya, Pak,” jawab Natasya sambil menunduk sopan. Belum apa-apa dia sudah merasa lelah.

Aron mempersilahkan Natasya masuk. Anehnya, kali ini perlakuan pria itu sedikit baik, bahkan ia menyiapkan minuman dan camilan untuk Natasya.

Dua jam telah berlalu, kini Natasya telah menyelesaikan tugasnya.

“Akhirnya, terima kasih, Pak Aron,” ujar wanita itu sambil tersenyum.

Karena sudah malam, Natasya berniat untuk pulang. Namun ketika dia berdiri, dia malah oleng karena kakinya kesemutan terlalu lama duduk.

Aron buru-buru menangkap tubuh Natasya, sehingga mereka terjatuh di sofa. Dan untuk yang kedua kalinya… bibir mereka bertemu.

Baik Natasya maupun Aron tertegun, mereka saling pandang dan mematung cukup lama.

Hingga tangan Natasya buru-buru mendorong tubuh Aron menjauh.

“Ma-maaf, Pak Aron.” Natasya segera beranjak dan berlari keluar dari kediaman dosennya itu.

Ia naik dan mengendarai motor bututnya, lalu bergegas dari sana.

Sepanjang jalan Natasya menggeleng. Ingatan ciuman itu terus menari di otaknya.

“Tidaaak, bibirku sudah tidak perawan lagi!”

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
cerita nya keren wajib untuk di ikuti
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Viral

    Tidak sampai dua jam setelah kejadian di kelas, seluruh kampus sudah dipenuhi dengan gosip tentang Pak Aron dan Natasya. Mahasiswa berkumpul di kantin, di taman, di koridor, semua membicarakan hal yang sama."Aku tidak percaya Pak Aron memanggil Natasya dengan sebutan sayang!" seru seorang mahasiswi pada kelompok temannya."Aku ada di kelas itu! Aku dengar sendiri! Pak Aron benar-benar bilang 'sayang' dan Natasya memanggilnya 'Mas'!" tambah temannya yang memang ada di kelas saat kejadian itu."Tapi kan Pak Aron sudah menikah. Istrinya artis terkenal itu lho," ujar mahasiswa lain dengan bingung."Sudah bercerai lah! Aku dengar gosipnya sudah lama mereka bercerai," sahut yang lain lagi.Di kantin, Alex dan Mira duduk di meja pojok sambil mendengarkan semua gosip yang beredar. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi khawatir."Ini sudah menyebar kemana-mana," bisik Mira sambil melirik ke sekitar."Aku tahu. Dan sepertinya akan semakin besar," balas Alex dengan nada cemas."Kita harus

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Beruntung

    Tidak ada yang berani bertanya lagi. Aron berjalan keluar kelas dengan langkah cepat, menggendong Natasya yang terus merintih kesakitan di pelukannya. Mira dan Alex langsung mengikuti dari belakang, mengambil tas Natasya dan tas Aron yang tertinggal."Pak Aron, kami ikut," ujar Mira sambil berlari kecil menyusul.Aron hanya mengangguk, terlalu panik untuk bicara banyak. Dia terus berjalan cepat menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan menatap mereka dengan pandangan bingung dan khawatir."Bertahanlah sayang, kita akan segera sampai rumah sakit," bisik Aron pada Natasya sambil terus berjalan."Aku takut, Mas," bisik Natasya dengan suara bergetar. "Bayinya... bagaimana dengan bayinya?""Bayinya akan baik-baik saja. Kamu juga akan baik-baik saja," ujar Aron meski dia sendiri sangat ketakutan.Mereka sampai di parkiran dan Aron langsung membuka pintu belakang mobilnya, membaringkan Natasya dengan hati-hati di kursi belakang. Mira ikut masuk un

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Sakit Perut

    Siang itu matahari bersinar terik di atas kampus. Jam kuliah Aron dimulai tepat pukul satu siang, setelah mahasiswa selesai istirahat makan siang. Seperti biasa, Aron masuk ke kelas dengan wajah datar dan langkah mantap, membawa suasana tegang yang selalu menyertai kehadirannya."Selamat siang," sapa Aron dengan nada dingin khas dosen killer."Selamat siang, Pak!" jawab mahasiswa serempak.Aron meletakkan tasnya di meja dan mulai membuka laptop. "Hari ini kita akan membahas sistem pencernaan manusia. Tolong buka buku kalian halaman 234."Suara halaman buku yang dibuka memenuhi kelas. Mahasiswa-mahasiswa mulai fokus pada buku mereka masing-masing, tidak ada yang berani tidak memperhatikan saat Pak Aron mengajar.Natasya duduk di bangku tengah bersama Mira. Dia membuka bukunya dengan pelan, berusaha terlihat normal meski sejak tadi siang dia sudah merasakan perutnya sedikit tidak nyaman. Dia pikir itu hanya karena terlalu banyak makan siang tadi.Aron mulai menjelaskan materi dengan det

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Jangan Merasa Bersalah

    Natasya mengangguk pelan sambil menunduk. "Maafkan aku, Mas. Ini semua salahku. Karena aku hamil, Mas jadi tidak bisa menyentuhku dan harus melampiaskan sendiri.""Natasya, bukan begitu," Aron langsung berjalan mendekat dan berlutut di depan istrinya. "Ini bukan salahmu sama sekali.""Tapi Mas jadi harus menahan hasrat sendiri. Aku tahu Mas pasti sangat tersiksa," ucap Natasya sambil air matanya mulai jatuh.Aron mengusap air mata di pipi istrinya dengan lembut. "Dengar, aku tidak tersiksa. Aku melakukan itu karena aku tidak mau mengganggumu. Kamu sedang hamil, kondisimu masih rentan. Aku tidak mau egois memaksakan hasratku padamu.""Tapi Mas juga punya kebutuhan. Aku istrimu, seharusnya aku yang memenuhi kebutuhan itu," Natasya menatap mata suaminya dengan penuh penyesalan.Sebelum Aron bisa menjawab, Natasya tiba-tiba menarik leher suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut. Aron terkejut tapi tidak menolak ciuman istrinya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang penuh emosi.Natasy

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Menuntaskan Hasrat Sendiri

    Malam itu langit tampak gelap tanpa bintang. Hujan gerimis turun perlahan, menciptakan suara nyaman yang biasanya membuat orang mudah tertidur. Tapi malam ini berbeda untuk Natasya. Dia terbangun di tengah malam dengan tubuh yang terasa segar, tidak seperti biasanya yang selalu terasa lelah karena kehamilan. Natasya menggeliat pelan dan meraih ke samping, mencari kehangatan tubuh suaminya yang biasanya selalu ada di sana. Tapi yang dia rasakan hanya sprei dingin dan tempat tidur kosong. "Mas?" panggil Natasya dengan suara serak sambil membuka matanya perlahan. Tidak ada jawaban. Natasya duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Pandangannya menyapu seluruh kamar yang gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur. Aron tidak ada di kamar. "Kemana dia?" gumam Natasya sambil turun dari tempat tidur. Mata Natasya tertuju pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Ada cahaya yang merembes keluar dari celah pintu tersebut. Natasya berjalan perlah

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Beli Banyak Makanan untuk Ibu Hamil

    Dia keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju basement. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat, tapi Aron hanya mengangguk singkat tanpa berhenti melangkah.Di mobil, Aron mengendarai keluar kampus menuju area pedagang kaki lima yang biasanya ramai di pagi hari. Dia ingat ada beberapa penjual makanan di dekat pasar tradisional yang tidak jauh dari kampus.Sampai di sana, Aron langsung mencari penjual rujak. Matanya menyapu ke kiri dan kanan, mencari gerobak rujak yang biasanya mudah dikenali dari warna-warni buahnya."Ah, itu dia," gumam Aron sambil menunjuk gerobak rujak di pojok jalan.Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri penjual rujak tersebut. Seorang ibu paruh baya yang ramah langsung menyambut kedatangannya."Selamat pagi, Pak. Mau pesan rujak?" tanya ibu itu dengan senyum lebar."Ya, Bu. Saya mau pesan rujak buah. Yang lengkap ya, Bu. Campur semua buahnya," ujar Aron."Baik, Pak. Mau pedas atau tidak?" tanya ibu itu samb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status