LOGIN“Tapi Pak saya harus pulang.” Ujar Natasya.
Perlahan tangan Aron terlepas pria itu kembali memejamkan mata agaknya suara tadi hanya igauan semata. Natasha menghela nafas dalam-dalam, dia sangat lega. Takut Aron terjatuh dari sofa dia sengaja mantap bantal-bantal kecil tepat di bawah sofa agar jika Aron terjatuh tubuhnya tidak membentur lantai. Semua sudah Natasya perhitungkan biar dia pulang dengan lega. Keesokannya setelah Aron membuka mata dia terkejut melihat bantal-bantal sofanya berpindah di lantai tepat di bawahnya. perlahan pria itu mengingat kejadian semalam dan senyuman tersungging di bibirnya. “Dia ternyata sudah memperhitungkan semuanya.” Aron kemudian merapikan bantal-bantal itu kembali. Di kampus Aron kembali memanggil Natasya, selain ingin meminta maaf soal semalam dia juga ingin membahas tugas yang Natasya kirim. “Alasan aku memanggilmu ada dua, yang pertama mengenai masalah semalam dan juga tugas kamu.” Aron mulai menjelaskan, meski dia berbicara panjang kali lebar tapi ekspresi dingin tak hilang dari wajahnya. “Pak Aron bisa nggak sih seperti semalam saja, lembut dan manis.” Batin Natasya. Netra Natasya tak lepas dari Aron, di terus membayangkan wajah Aron semalam. “Natasya!” Melihat Natasya yang malah melamun, Aron mengambil buku dan memukulkannya di meja. Suara buku itu sontak membuyarkan lamunan Natasya. “Baik Pak. Siap!” Ucapnya dengan tegas. “Tapi boleh saya meminjam bukunya?” Sambungnya kemudian. “Tugas yang aku berikan itu materinya ada di perpus coba kamu cari.” Hari ini Aron tidak membawa banyak buku, jadi Natasya mau nggak mau harus mencari buku di perpus. Buku di perpus sangatlah banyak kalau dia mencari satu persatu sampai selesai jam kuliah Natasya belum tentu menemukannya. “Apa Aron bisa tolong saya mencari bukunya?” cicit Natasya takut-takut. Aron menatapnya tajam dan tidak berkata apapun hal ini membuat Natasya cukup paham. “Maaf Pak tidak usah, saya cari sendiri.” Natasya bergegas pergi ke perpus kebetulan masih ada waktu sekitar 1 jam ke mata kuliah berikutnya. Satu persatu dia mencari materi sesuai tugas yang Aron berikan tapi sudah setengah jam tapi dia tak kunjung mendapatkan bukunya sehingga Natasha nyaris menyerah. “Sudahlah,” ujar wanita itu pasrah namun ketika hendak berbalik tubuhnya membentur tubuh seorang pria bau, Musk maskulin dari tubuh pria itu tak asing di Indra penciumannya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang perlahan dia mendongakkan kepala dan benar saja itu adalah Aron. “Waktu berjalan sudah 30 menit tapi kamu masih belum menemukan buku ini?” Aron menepukkan buku yang baru diambil ke dahi Natasya sehingga membuat wanita itu memekik. “Sakit pak,” sambil mengelus dahinya. “Sudah sana segera kerjakan waktumu tidak banyak.” Aron memberikan bukunya kepada Natasya. Mahasiswa itu segera mengerjakan tugas yang Aeon diberikan, untung saja dalam waktu kurang dari 30 menit dia sudah menyelesaikan semua. Natasya buru-buru keluar dia berlari masuk ke dalam kelas. Untunglah dia tidak terlambat. “Loh kenapa Pak Aron yang masuk?” Mereka semua heran, hari ini tidak ada jam mata pelajaran Aron. Di depan Aron menjelaskan alasan dia masuk kelas. Dia sedikit membahas materi tentang mata pelajarannya, besok rencananya dia tidak masuk jadi dia menjelaskan hari ini saja. “Kamu kenapa lesu seperti itu?” tanya Dira teman sejurusan Natasya. “Aku dapat dospem siapa tebak.” Tanya Natasya. “Siapa memangnya?” Tanya Dira penasaran. Tangan Natasya menunjuk Aron, hal ini sontak membuat Dira tertawa. Semua mata tertuju pada Dira dan Natasya termasuk Aron. “Apa yang kalian lakukan?” Suara Bariton Aron menggema, ketika semua mendengarkan penjelasannya, Natasya dan Dira malah bercanda. “Maaf Pak.” Natasya meminta maaf. “Maju ke depan.” Titah Aron. Natasha dan Dira saling pandang kemudian mereka maju ke depan. “Coba jelaskan materi ini kepada teman-teman kalian.” Aron mempersilahkan Natasya dan Dira. Mereka menggeleng, baik Natasya maupun Dira belum paham materi ini. “Berdiri di luar kelas!” titahnya, kini tatapan Aron mengarah ke mahasiswanya, “Ini sebagai hukuman kalau ada yang mengobrol saat jam mata kuliahku!” Pulang dari kampus Natasya pergi menemui Aron, kebetulan tugas yang Aron berikan materinya berasal dari buku-buku Aron sendiri. “Aku heran padamu tugas yang kuberikan apa masih kurang cukup sehingga kamu selalu saja membuat masalah, apa jangan-jangan kamu sengaja ingin terus mendapatkan tugas dariku?” Pikiran negatif muncul di benak Aron. Celengan keras Natasha tunjukkan tentu tidak seperti itu, siapa juga yang mau diberi tugas terus-menerus. “Kalau begitu kenapa ngobrol asyik di saat jam pelajaran!” Dia meninggikan suaranya. Semula Natasya yang menatapnya perlahan menunduk ke bawah meremas jarinya sendiri saking gugupnya. “Maaf.” Ucapnya lirih nyaris tak terdengar. “Kalau kamu mau nanti malam datanglah ke rumah, kebetulan aku juga sedang menyiapkan materi.” Usai berbicara demikian, Aron mengambil tas jinjingnya lalu pergi meninggalkan Natasya. Otak Natasya rasanya mau pecah, Aron benar-benar killer. “Kapan aku segera lulus supaya tidak berhubungan dengan dosen killer itu! Malam itu di rumah Aron Natasha bergegas mengerjakan hukumannya, setelah selesai Natasya berniat untuk segera pulang lalu dia naik ke atas untuk mencari Aron. Pak… Natasya mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, Wanita itu melihat alat penunjuk waktu di pergelangan tangannya, ternyata hari sudah semakin larut. Sebenarnya bisa saja dia meninggalkan tugasnya tetapi mengingat Aron yang tidak berperasaan dia takut kalau dicap kurang sopan dan disuruh mengerjakan tugas lagi. “Pak Aron.” Kembali mengetuk pintu dan memanggil-manggil Aron. Tiba-tiba pintu kamar Aron terbuka sendiri ketika Natasya terus mengetuknya dan wanita itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam mencari Aron. “Pak Aron.” Di sebuah kamar mandi yang sedikit terbuka dia mendengar suara. “Aaahhhh…”Setahunan KemudianAuditorium kampus dipenuhi oleh mahasiswa yang mengenakan toga wisuda. Suasana penuh kebahagiaan dan haru. Hari ini adalah hari wisuda, hari dimana mereka semua akan resmi menjadi dokter.Di barisan paling depan, Natasya duduk dengan toga yang rapi. Wajahnya berseri-seri, mata berbinar penuh kebahagiaan. Tiga tahun yang penuh perjuangan akhirnya sampai di titik ini.Di kursi penonton, Aron duduk sambil menggendong Arjuna yang kini sudah berusia satu tahun. Bocah tampan itu dengan antusias menunjuk-nunjuk ke arah panggung."Ma ma!" seru Arjuna sambil menunjuk Natasya."Iya, Sayang. Itu Mama kamu. Hari ini Mama wisuda," jawab Aron sambil tersenyum lebar.Di samping Aron, duduk ibu Natasya yang wajahnya basah oleh air mata bahagia. Kakek Sanjaya dan Kakek Atmaja juga ada di sana, begitu juga dengan orangtua Aron. Semua keluarga berkumpul untuk menyaksikan momen penting ini."Aku sangat bangga dengan Natasya," gumam Kakek Sanjaya sambil menghapus air matanya."Dia meman
Siang itu, setelah ibu Natasya pulang, Natasya menghabiskan waktu dengan Arjuna. Dia memandikannya, bermain dengannya, dan mengobservasi setiap gerak-gerik bayinya. Di benaknya terus berkecamuk pertanyaan: bisakah dia meninggalkan Arjuna beberapa jam untuk kuliah?Malam harinya, ketika Arjuna sudah tidur dan Aron sedang bekerja di ruang kerja, Natasya duduk sendirian di kamar. Dia menatap sertifikat-sertifikat prestasi yang terpajang di dinding. Semua itu hasil kerja kerasnya.Dia teringat masa-masa sulit dulu. Bagaimana dia harus bekerja sambilan sambil kuliah. Bagaimana ibunya sering menangis diam-diam karena khawatir tidak bisa membiayai kuliah. Bagaimana dia hampir putus asa beberapa kali tapi tetap bertahan."Apa semua perjuangan itu akan sia-sia begitu saja?" gumam Natasya pada dirinya sendiri.Dia bangkit dan berjalan ke baby box dimana Arjuna tidur. Dia menatap bayinya yang tidur sangat pulas. Wajahnya begitu damai, begitu tenang."Sayang, Mama bingung," bisik Natasya sambil m
Bab 51: Jerat Cinta Dosen KillerDua bulan sudah berlalu sejak Arjuna pulang ke rumah. Bayi mungil yang dulu penuh dengan selang kini tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan. Pipinya mulai chubby, matanya bulat dan jernih seperti ibunya, sementara hidung dan rahangnya tegas seperti ayahnya. Setiap senyumnya mampu membuat hati Natasya dan Aron meleleh.Pagi itu, Natasya duduk di ruang keluarga sambil menggendong Arjuna yang baru selesai menyusu. Bayi itu tertidur pulas di pelukannya dengan wajah yang begitu damai. Natasya mengusap pipi chubby Arjuna dengan lembut, tersenyum penuh kasih sayang."Mama sayang banget sama kamu, Nak," bisik Natasya sambil mencium kening Arjuna.Aron yang sedang membaca buku di sofa sebelah sesekali melirik ke arah istri dan anaknya. Dia tersenyum melihat pemandangan itu, tapi di benaknya ada sesuatu yang mengganjal. Masa cuti Natasya sudah habis minggu depan, tapi istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali kuliah.Bel rumah berbunyi. Pembantu membuka
Aron mengangguk sambil mengusap air matanya. "Dia tahu kamu Mamanya. Dia sudah menunggu kamu bangun, sayang."Natasya tidak bisa berhenti menatap bayinya. Meskipun mungil dan penuh dengan selang, baginya bayi itu adalah makhluk terindah di dunia."Mas, dia belum punya nama," ujar Natasya pelan sambil tetap menggenggam jari bayinya."Iya, aku tunggu kamu sadar dulu. Kita harus beri nama sama-sama," jawab Aron sambil ikut menyentuh bayi mereka lewat lubang inkubator yang lain."Aku sudah memikirkannya sejak hamil," Natasya tersenyum tipis meskipun air matanya masih mengalir. "Kalau laki-laki, aku ingin beri nama Arjuna. Arjuna Adyatama."Aron terdiam sejenak, meresapi nama yang indah itu. "Arjuna... pahlawan yang kuat dan pantang menyerah. Cocok untuk anak kita yang sudah berjuang keras sejak lahir.""Kamu setuju, Mas?" tanya Natasya."Sangat setuju, sayang. Arjuna Adyatama. Nama yang sempurna," Aron mencium kening Natasya dengan lembut.Mereka berdua menatap bayi mereka dengan penuh ka
Aron mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Tangannya gemetar memegang setir, pikirannya kacau balau. Perkembangan apa yang dimaksud rumah sakit? Apakah Natasya sadar? Atau justru sebaliknya?"Kumohon, kumohon jangan berita buruk," gumam Aron terus-menerus sambil mengemudi.Dia tidak peduli dengan rambu lalu lintas, tidak peduli dengan klakson mobil lain yang memprotes kendaraannya. Yang ada di pikirannya hanya Natasya.Lima belas menit kemudian, Aron sampai di rumah sakit. Dia langsung berlari menuju ruang perawatan sang istri. Di depan pintu dia melihat Mamanya, Papanya, kedua kakeknya, dan ibu Natasya berkumpul dengan wajah cemas."Bu! Bagaimana Natasya?!" tanya Aron panik begitu sampai.Ibu Natasya tersenyum sambil menangis. "Aron, Natasya... dia...""Dia kenapa?!" Aron hampir berteriak."Dia menggerakkan jarinya tadi. Dokter bilang itu pertanda baik. Ada kemungkinan dia akan segera sadar," jelas Papanya.Aron merasakan kakinya lemas. Dia hampir terjatuh kalau tidak
Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Aron. Natasya masih terbaring koma di ruang perawatan, memang setelah keadaan Natasya keluar dari masa kritis dia dipindahkan ke ruang perawatan.Tapi bayi mereka masih berjuang di NICU meskipun kondisinya mulai membaik sedikit demi sedikit.Aron mencoba kembali mengajar setelah dipaksa oleh kedua kakek dan orangtuanya yang sudah pulang dari luar negeri. Mereka khawatir Aron akan sakit kalau terus-terusan di rumah sakit tanpa istirahat yang cukup."Aron, kamu harus mengajar dan melakukan aktivitas lainnya. Natasya pasti tidak ingin melihatmu begini," ujar mamanya sambil mengelus kepala Aron yang tertidur di samping ranjang Natasya."Tapi Ma, aku tidak bisa meninggalkan mereka," jawab Aron dengan suara parau."Kamu tidak meninggalkan mereka. Kamu hanya pergi bekerja beberapa jam, lalu kembali lagi. Kami akan menjaga Natasya dan anak kamu," bujuk Papanya. Akhirnya Aron menyerah. Dia setuju untuk