Share

Jerat Cinta Pak Manajer Tampan
Jerat Cinta Pak Manajer Tampan
Penulis: Gilva Afnida

Bab 1 - Kamar Asing

Penulis: Gilva Afnida
last update Tanggal publikasi: 2025-11-27 23:41:07

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menusuk mata Freya membuatnya terkejut dan bangun. Kepalanya berdenyut-denyut seolah ada gendang yang dipukul dari dalam, dan tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Freya menutupi wajah dengan lengan-mencoba menghindari cahaya, tapi ketika menggeser badan, tangannya menyentuh sesuatu yang hangat dan juga lembut.

Freya membuka mata perlahan. Jantungnya langsung berdebar kencang. Di sampingnya, seorang pria berambut ikal yang acak masih tertidur lelap, badannya hanya terbungkus selimut sampai pinggang. Wajahnya sama sekali tidak dikenal baginya.

Ya Tuhan... siapa dia? Freya menutupi mulut dengan tangan, takut bersuara. Kemudian dia melihat ke arah bawah-tubuhnya sendiri. Dan seperti yang sudah dia duga, dia pun sama keadaannya.

Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Freya merenung sambil merasakan tubuhnya lemas di atas kasur yang tidak dikenal. Ingatan semalam hancur seperti kaca pecah-pesta di bar, teman-teman yang hilang dari pandangan, minuman yang terus datang, dan kemudian... dia membelalakkan mata. Seharusnya dia berada di apartemennya Rio, kekasihnya. Tapi kenapa dia malah bisa sampai di sini bersama pria tak dikenal? Dia mencoba mengingat, tapi kepalanya hanya semakin sakit.

Lantai kamar terasa berputar saat dia mencoba duduk. Tangannya gemetar saat dia berusaha menggapai ponsel di samping kasur. Layar menampilkan jam setengah delapan, tiga pesan dari ibunya dan beberapa panggilan tak terjawab dari Rio. Dia menekan napas dalam-dalam, mencoba menenangkan denyutan jantung yang kencang. Bau alkohol masih terasa di mulutnya, dan dia merasa mual menyebar di perut.

Freya bergerak perlahan-lahan, mencoba keluar dari kasur tanpa mengganggu pria itu. Tapi selimut yang menutupi tubuhnya terlepas sedikit dan Freya dapat melihat bekas luka dilengannya sendiri. Freya menjadi lebih panik.

Sayangnya Freya tak punya waktu untuk berpikir lebih lanjut. Sebelum pria itu bangun dan Freya akan mendapat masalah baru, dia harus bergegas pergi karena sebentar lagi meeting di kantor akan dimulai.

Tapi saat Freya memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai, pakaian itu begitu kotor dan bau alkohol. Dia melihat tas yang dia campakkan di sudut kamar, namun tak melihat baju ganti di dalamnya.

Tanpa berpikir panjang, Freya membuka lemari dan mengacak-acak isinya berharap ada sesuatu yang bisa dia pakai. Harapannya terkabul begitu dia menemukan satu set baju kerja wanita diantara tumpukan baju-baju pria.

Freya langsung memakai baju tersebut dan memasukkan baju kotornya ke dalam tas.

"Selamat tinggal, Pria asing. Mungkin pertemuan kita hanya sampai di sini," gumam nya sebelum keluar dari apartemen tersebut.

Sambil mengenakan sepatu, Freya mengamati nomor pintu yang tertera di samping pintu. Dia menepuk dahinya cukup keras. "Bego... Bego!" umpatnya. "Harusnya aku masuk kamar nomor seratus sepuluh, bukan seratus satu."

Kamar milik Rio berada di lantai 2 sedangkan kamar yang dia masuki berada di lantai 1.

Gawat! Kalau Rio melihatnya keluar dari kamar apartemen pria lain, penjelasan apa yang harus dia jabarkan?

Sebelum itu terjadi, Freya berlari sekuat tenaga keluar dari gedung apartemen lalu mencari taksi di tepi jalan.

Perjalanan ke kantor terasa begitu cepat. Begitu dia masuk, orang-orang di kantor menatapnya secara terang-terangan.

Apa dia terlihat begitu kacau? Denyutan di kepala masih terasa dan dia belum sempat memeriksa wajahnya di cermin. Tapi dia yakin kalau saat ini pasti wajahnya memang kacau.

Dan... benar saja. Di depan cermin kamar mandi, Freya dapat melihat riasan wajahnya yang kacau dan matanya membengkak.

"Oh... God!" pekiknya tertahan. Pantas orang-orang melihatnya aneh.

Freya langsung mengambil sabun cuci muka dari tas dan mencuci wajahnya dengan cepat. Dia tak ada waktu untuk mandi, hanya sikat gigi sebentar sebelum menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh agar bau alkohol tersamarkan. Kali ini tak ada riasan dempul seperti biasanya. Hanya ada bedak tipis dan juga lipstik berwarna merah muda yang lembut.

Begitu Freya sampai di depan ruangan kerja, Erlin-rekan kerjanya, sudah menunggu di depan pintu dengan cemas.

"Kamu kemana aja? Dari tadi Pak Budi udah nyariin kamu loh," kata Erlin cemas, mengangkat alis sebelahnya begitu menyadari penampilan Freya yang tak seperti biasanya. "Terus... mana rokmu? Tumben pakai celana panjang?"

Freya memaksakan senyumnya. "Ada masalah kecil. Nanti deh aku ceritain. Sekarang, mana Pak Budi? Meetingnya udah dimulai belum?"

"Udah." Erlin menarik lengan Freya lalu berbisik, "Kayaknya ada masalah besar deh. Sebaiknya kamu cepat ke sana sekarang."

Wajah Freya menjadi kaku. Gegas dia mendatangi ruang meeting dengan sisa tenaga yang ada.

"Kamu telat lima menit, Fre." Bintang, teman satu timnya, sudah menghadangnya di depan pintu. "Cepat masuk!"

Ketegangan langsung terasa saat Freya memasuki ruang meeting. Pak Budi, sang direktur utama, nampak mengerutkan kening dengan serius.

"Pak Budi kenapa?" tanya Freya ke Bintang.

"Kamu gak tahu?" Bintang berbisik pelan di samping Freya. "Proyek yang kita tangani terancam gagal karena salah satu investor terbesar kita mundur dan mencabut dananya."

"Kok bisa?"

"Kabarnya Bu Dira menggelapkan dana proyek. Makanya selama tiga bulan, proyek ini gak ada kemajuan," bisik Bintang lagi.

Astaga... kepala Freya semakin pusing karenanya. Kalau proyek ini gagal, impian Freya untuk naik jabatan akan pupus dan tinggal kenangan.

"Terus, gimana?" tanyanya.

"Bu Dira dipecat dan kita bakal ada manajer baru."

"Manajer baru? Siapa itu?"

Tepat setelah Freya bertanya demikian, suara pria bernada berat dari arah pintu membuatnya menoleh.

"Selamat pagi, Pak Budi. Saya Aryana Bintara. Manajer baru yang akan menggantikan Bu Dira."

Jantung Freya berhenti sejenak lalu berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Napasnya tercekik di tenggorokan. Dia menggosok mata lalu membuka mata lagi untuk memastikan jika dia salah orang. Tapi nyatanya, pria di depannya benar-benar sama dengan orang yang tidur bersamanya tadi pagi.

Ya Tuhan... Kekonyolan macam apa ini?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 190 - Tamat

    Taman belakang yang biasanya hanya hijau kini dipenuhi dengan berbagai jenis bunga hingga taman menjadi warna-warni. Di tengah taman, ada sebuah tenda kecil dari kain putih yang cantik, dan di sana telah berdiri Aksa dengan senyuman lebar.Dan di samping Aksa, berdiri Arya. Dia mengenakan baju kasual yang rapi. Wajahnya berseri dan sedang memegang satu buket besar bunga mawar merah di tangannya."Kejutan!" teriak Aksa sambil berlari kecil memeluk pinggang Freya.Arya melangkah mendekat, matanya menatap Freya dengan binar cinta yang dalam. Dia mengecup kening Freya cukup lama. "Maaf ya karena aku nggak menjemputmu tadi. Aku cuman ingin memastikan semuanya siap untuk menyambutmu kembali ke rumah."Rasa kesal Freya menguap seketika, digantikan oleh air mata haru yang mengalir deras. Freya pun mencium pipi Arya singkat.Aksa mendongak, mengerucutkan bibir sambil berkacak pinggang. "Ih, Ayah curang! Aku juga mau dicium Ibu!" protesnya dengan suara cempreng.Freya tertawa kecil, rasa haru d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 189 - Kejutan untuk Freya

    Dua hari berlalu dengan rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi Arya bekerja dan setiap sore hingga malam dia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Freya. Dia tidak ingin Freya merasa kesepian saat menjalani perawatan di rumah sakit.Di satu sore, Arya baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah kakeknya. Wajahnya tampak letih, namun dia tetap tersenyum saat melihat sosok kecil berlari ke arahnya. Hatinya masih ada perasaan bersalah saat mengingat dirinya pernah mengabaikan perhatian bocah kecil itu."Ayah!" teriak Aksa sambil memeluk kaki Arya.Arya berjongkok, menggendong putra kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Hai, jagoan Ayah. Udah mandi?"Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Arya dengan tatapan menyelidik. "Ayah... Ibu kapan pulangnya?" tanya Aksa dengan suara lirih. "Ibu udah lama banget di luar kota. Aku kangen. Biasanya kalau Ibu pergi kerja jauh, malam-malam Ibu selalu telepon, tapi sekarang Ibu jarang angkat teleponku."Hati Arya mencelos mendengar pertanyaan

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 188 - Freya siuman

    Setelah berganti dengan kemeja yang baru saja dibawakan oleh salah satu suruhan Dikta, Arya menghela napas panjang. Dia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah yang lebih tegar.Begitu dia kembali ke depan ruang IGD, Dikta langsung berdiri. "Arya, dokter baru aja keluar tadi. Dia bilang operasinya lancar. Guntingnya nggak mengenai organ vital, meski pendarahannya cukup banyak. Sekarang mereka sedang memindahkan Freya ke ruang pemulihan."Mendengar itu, kekuatan di kaki Arya seolah tersedot habis. Dia terduduk di kursi dengan penuh rasa syukur.Langkah kaki Arya terasa berat saat dia menyusuri koridor rumah sakit menuju bangsal rawat inap. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Freya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya masih pucat dengan deru napas yang teratur.Arya mendekat dengan perlahan dan menarik kursi di samping ranjang untuk duduk di sana. Dengan gerakan yang hati-hati, dia meraih tangan Freya yang terbebas dari infus, lalu menggenggamnya dengan kedua tanga

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 187 - Mengingat semuanya

    Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jernih. Arya teringat di sebuah kamar tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tepi ranjang, menatap Freya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk bercak darah di atas sprei putih.Dalam ingatan itu, Arya mengingat rasa bersalah yang menghimpit dadanya saat dia mengatakan semua kebohongannya tentang hubungan intim bersama Freya demi mengikat Freya."Sprei itu... darah itu..." gumam Arya tanpa sadar, air matanya jatuh menetes mengenai pipi pucat Freya.Arya teringat betapa egoisnya dia dulu. Dia mengingat dengan jelas wajah ketakutan Freya saat dia membohonginya tentang malam itu.Dia merasa sangat kecil dan hina. Saat amnesia, dia bersikap sombong, dingin, dan penuh curiga pada Freya. Dia bahkan sempat menuduh Freya selingkuh dengan Dikta, padahal wanita yang dia tuduh itu sekarang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dari Aditya. Arya merasa tidak layak mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari seseorang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 186 - Tusukan Gunting

    Mendengar itu, rahang Arya mengeras. Kepalan tangannya sudah bersiap hendak menghantam wajah Aditya, namun dia menahan diri sejenak, menatap Aditya dengan kebencian yang mendalam."Kamu salah besar kalau mengira kata-kata provokatifmu membuat amarahku terpancing," ucap Arya tepat di depan wajah Aditya. "Kamu masuk ke kantorku, mengancam istriku dan merasa bisa melenggang bebas? Kamu harus ingat kalau di sini, akulah yang memegang kendali."Arya kemudian memalingkan sedikit wajahnya ke arah Freya tanpa melepas Aditya. "Freya, telepon keamanan sekarang. Dan hubungi polisi. Katakan ada orang yang berbuat onar di sini."Aditya mencoba memberontak, namun kekuatan fisik Arya jauh di atasnya. Arya mengunci pergerakan Aditya dengan menekan lengannya ke tenggorokan pria itu, memastikan Aditya tidak bisa berkutik sedikit pun.Tak lama dari itu, dua petugas keamanan gedung yang dipanggil Freya akhirnya datang. Keduanya berlari masuk dengan napas terengah-engah dan terkejut saat melihat Arya seda

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 185 - Pemegang kendali

    Sambil menghela napas panjang, Freya menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Pikirannya masih kacau karena pertemuan dengan Aditya tadi, membuatnya melakukan banyak kesalahan pada laporan hingga Arya menyuruhnya mengulang berkali-kali. Kantor kini mulai sepi, menyisakan lampu-lampu temaram di sudut ruangan.Rasa takut dan rindu pada Aksa membuatnya ingin bertemu. Sebelum kembali fokus mengerjakan revisi yang seolah tak ada habisnya, Freya meraih ponsel dan segera melakukan video call ke nomor Bi Inah untuk melihat wajah Aksa.Begitu panggilan tersambung, wajah polos Aksa muncul di layar dengan senyum lebar."Ibu! Kok belum pulang?" tanya Aksa dengan suara cerianya."Iya, Sayang. Ibu masih ada kerjaan sedikit lagi. Aksa udah makan?" tanya Freya."Udah! Tadi disuapin Bi Inah. Ibu lembur sama Ayah ya?" Mendengar itu, hati Freya sedikit mencelos. Dia melirik ke ruang kerjanya Arya dan memang terlihat lampu masih menyala. "Ah, iya, Ibu lembur sama Ayah.""Kalau gitu, Ibu cepat pulang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 183 - Sengaja memancing amarah

    Freya berusaha menahan rasa nyeri yang muncul di pergelangan tangannya. Dia mengendikkan bahu, nampak tak acuh. "Bukannya dia udah bilang alasannya ke kamu tadi?""Bohong!" bentak Arya. "Itu cuman alasan dia aja supaya diperbolehkan kakek untuk menginap di sini."Freya bisa merasakan deru napas Ary

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 182 - Selingkuh?

    Taman belakang dengan penerangan yang remang-remang terasa mencekam saat mendengar Dikta menyampaikan kabar tentang Aditya yang hampir bebas."Apa? Aditya nggak jadi dipenjara?" tanya Freya, suaranya bergetar.Dikta mengangguk. "Awalnya pengadilan memvonis Aditya dengan hukuman lima tahun penjara d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 180 - Bibir bengkak

    Akhirnya saat itu juga, Freya mengikuti permintaan Arya untuk memijat kepala Arya yang katanya masih terasa berdenyut-denyut sakit. Di tepi ranjang yang luas, Freya duduk di belakang Arya, jemarinya bergerak lincah memijat pelipis dan pangkal leher suaminya.Arya tampak rileks, kepalanya sedikit m

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 175 - Arya uring-uringan

    Ciuman yang tadinya lembut, lambat laun berubah menjadi penuh tuntutan dan gairah yang membara. Arya melumat bibir Freya dengan napas yang memburu.Arya mengerang rendah di sela ciuman mereka, memperdalam tautan itu seakan ingin menyesap seluruh tubuh Freya ke dalam dirinya. Oksigen di dalam mobil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status