Share

Bab 2 - Manajer Baru

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2025-11-27 23:42:44

Setengah jam yang lalu pria yang baru datang di depan itu masih menjadi teman tidurnya, dan sekarang, pria itu menjadi manajer baru di timnya?

Apa dunia sudah gila?

"Halo semuanya, nama saya Aryana Bintara. Saya manajer baru yang akan menggantikan Bu Dira. Mohon bantuannya." Arya memperkenalkan diri dengan sopan. Dia menatap ke anggota tim satu persatu, lalu berhenti pada Freya yang mulutnya masih ternganga.

Pak Budi tersenyum senang. Kerutan di wajahnya tadi seolah hilang setelah melihat kedatangan Arya. "Selamat datang di tim pemasaran, Pak Arya. Saya sangat berharap anda bisa membawa kemajuan untuk tim ini nantinya."

"Baik, Pak."

"Baiklah, mari kita segera mulai meetingnya."

Tak ada pergerakan apapun dari Freya, Bintang menyenggol lengan Freya hingga tersadar. "Cepat mulai presentasinya, Fre," bisik Bintang dengan gemas.

"Oh... i-iya." Freya sangat terkejut dengan kehadiran Arya hingga tak sadar kalau dirinyalah yang harus presentasi di depan.

Sebelum memulai, Freya memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan sopan. Lalu memulai presentasi tanpa ada kendala sampai selesai.

"Laporan dari saya selesai. Apa ada pertanyaan?" tanya Freya sambil membereskan berkas-berkas.

Arya menaikkan tangannya. "Menurutku, ada beberapa poin yang kurang kuat. Terutama proyeksi ROI yang baru saja kamu sampaikan."

Gerakan tangan Freya terhenti. Dia menoleh ke arah Arya dengan alis naik sebelah. "Kurang kuat? Saya sudah melakukan riset mendalam dan menggunakan data terbaru. Angka-angka itu realistis, Pak."

"Realistis menurut versimu," jawab Arya dengan nada meremehkan. "Sepertinya kamu terlalu optimis. Berdasarkan apa yang sudah kamu laporkan, kamu hanya fokus pada potensi keuntungan, tanpa mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi."

Freya menggigit bibir bawahnya, tak menyangka Arya akan mendebatnya. "Resiko memang selalu ada, Pak Arya. Tapi kita gak bisa hanya berdiam diri karena takut gagal. Kita harus berani mengambil langkah untuk mencapai hasil yang maksimal."

"Berani dan ceroboh itu beda tipis, Nona Freya." Arya mencondongkan tubuhnya ke arah meja, lalu menyatukan kedua tangannya. "Kita harus punya dasar yang kuat sebelum menjanjikan sesuatu pada klien. Kalau proyeksi kita meleset, reputasi perusahaan yang jadi taruhannya."

"S-saya gak ceroboh." Freya mulai gugup, tapi masih berusaha menampilkan senyumannya. "Saya hanya percaya pada kemampuan tim kita. Dan saya yakin, dengan strategi yang tepat, kita bisa mencapai target yang kita tetapkan."

"Strategi yang tepat atau strategi yang hanya terlihat bagus di atas kertas?" Senyuman Freya seketika memudar. "Kamu terlalu fokus pada visual dan branding, tanpa memikirkan aspek finansialnya," kata Arya dengan nada sinis.

Tangan Freya mengepal di samping celananya. "Branding itu penting untuk menciptakan citra positif di mata konsumen, Pak. Tanpa branding yang kuat, produk kita gak akan laku."

"Citra positif saja gak cukup, Nona Freya." Arya masih terus mendebat Freya. "Kita butuh angka yang meyakinkan. Klien tidak akan peduli dengan logo yang bagus atau slogan yang menarik kalau mereka tidak melihat potensi keuntungan yang jelas."

"Tapi bisnis itu bukan hanya soal angka, Pak. Ada faktor-faktor lain yang juga berpengaruh, seperti emosi, tren, dan kebutuhan pasar."

"Emosi? Tren?" sahut Arya dengan cepat. "Itu semua bisa diukur dan dianalisis. Kita gak bisa mengandalkan perasaan atau intuisi semata."

Kedua sudut bibir Freya berkedut tak suka. Bu Dira belum pernah mendebat pendapatnya selama ini. Bahkan selalu memuji setiap dia maju presentasi ataupun laporan.

Seolah mengetahui isi pikiran Freya, Arya pun melanjutkan ucapannya, "Sepertinya selama ini Bu Dira gak pernah mendebatmu. Makanya kamu dan anggota tim lain terlena sampai gak tahu kalau Bu Dira menggelapkan dana proyek milyaran rupiah."

Napas Freya tercekat di tenggorokan. Ucapan Arya bagaikan pukulan telak untuk dirinya dan anggota tim. Ketegangan langsung terasa menyelimuti seluruh ruangan, membuat anggota lain hanya mampu menyaksikan perdebatan dengan diam.

Tiba-tiba terdengar suara batuk dari arah ujung meja. "Ehem... sepertinya ada perdebatan seru di sini." Pak Budi selaku atasan nampak santai dan menikmati perdebatan bawahannya dengan tenang. "Semoga saja perdebatan ini bisa menghasilkan ide-ide yang lebih baik lagi untuk perusahaan."

"Dan untuk kamu, Freya." Pak Budi menunjuk Freya yang membuat gadis itu langsung membeku. "Sebaiknya kamu dengarkan saran dari Pak Arya. Semua ini demi kebaikan tim kamu. Kalau proyek ini bisa terselamatkan, nantinya kamu dan tim juga yang bakal merasakan dampak baiknya."

"B-baik, Pak."

Setelah itu Pak Budi pergi, begitupun dengan Arya, mengikuti di belakangnya.

Kepergian mereka berdua membuat Freya dan tim kembali bisa menghirup udara dengan tenang.

"Fre, kamu gak apa-apa?" tanya Bintang cemas. "Wah, gila sih itu si Pak Arya. Dia kayak punya dendam kesumat sama kamu."

Dada Freya naik turun. Dia merasakan amarah sudah merasuk ke dalam tulangnya. Arya bukan hanya mendebatnya, tapi juga mempermalukan dirinya di depan anggota tim.

"Sebenarnya siapa sih dia? Kenapa tiba-tiba Pak Budi angkat dia jadi manajer di sini?" tanya Freya sambil mendaratkan bokongnya di ujung meja.

"Ya ampun, Fre. Kamu kemana aja sih? Perasaan dari tadi gak tahu apa-apa mulu." Ucapan Bintang hanya ditanggapi Freya dengan terkekeh pelan. "Menurut info, dia itu cucunya Pak Bambang Bintara, pemilik perusahaan Bintara grup. Nah, dia ini ditugaskan ke perusahaan cabang sini untuk melatih kemampuannya sebelum bisa memegang perusahaan pusat nantinya."

Wajah Freya memucat seketika. Orang yang semalam tidur bersamanya ternyata cucu dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja?

Mampus! Matilah aku! jeritnya dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 190 - Tamat

    Taman belakang yang biasanya hanya hijau kini dipenuhi dengan berbagai jenis bunga hingga taman menjadi warna-warni. Di tengah taman, ada sebuah tenda kecil dari kain putih yang cantik, dan di sana telah berdiri Aksa dengan senyuman lebar.Dan di samping Aksa, berdiri Arya. Dia mengenakan baju kasual yang rapi. Wajahnya berseri dan sedang memegang satu buket besar bunga mawar merah di tangannya."Kejutan!" teriak Aksa sambil berlari kecil memeluk pinggang Freya.Arya melangkah mendekat, matanya menatap Freya dengan binar cinta yang dalam. Dia mengecup kening Freya cukup lama. "Maaf ya karena aku nggak menjemputmu tadi. Aku cuman ingin memastikan semuanya siap untuk menyambutmu kembali ke rumah."Rasa kesal Freya menguap seketika, digantikan oleh air mata haru yang mengalir deras. Freya pun mencium pipi Arya singkat.Aksa mendongak, mengerucutkan bibir sambil berkacak pinggang. "Ih, Ayah curang! Aku juga mau dicium Ibu!" protesnya dengan suara cempreng.Freya tertawa kecil, rasa haru d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 189 - Kejutan untuk Freya

    Dua hari berlalu dengan rutinitas yang melelahkan. Setiap pagi Arya bekerja dan setiap sore hingga malam dia menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani Freya. Dia tidak ingin Freya merasa kesepian saat menjalani perawatan di rumah sakit.Di satu sore, Arya baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah kakeknya. Wajahnya tampak letih, namun dia tetap tersenyum saat melihat sosok kecil berlari ke arahnya. Hatinya masih ada perasaan bersalah saat mengingat dirinya pernah mengabaikan perhatian bocah kecil itu."Ayah!" teriak Aksa sambil memeluk kaki Arya.Arya berjongkok, menggendong putra kecilnya itu ke dalam pelukannya. "Hai, jagoan Ayah. Udah mandi?"Aksa mengangguk pelan. Dia menatap Arya dengan tatapan menyelidik. "Ayah... Ibu kapan pulangnya?" tanya Aksa dengan suara lirih. "Ibu udah lama banget di luar kota. Aku kangen. Biasanya kalau Ibu pergi kerja jauh, malam-malam Ibu selalu telepon, tapi sekarang Ibu jarang angkat teleponku."Hati Arya mencelos mendengar pertanyaan

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 188 - Freya siuman

    Setelah berganti dengan kemeja yang baru saja dibawakan oleh salah satu suruhan Dikta, Arya menghela napas panjang. Dia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah yang lebih tegar.Begitu dia kembali ke depan ruang IGD, Dikta langsung berdiri. "Arya, dokter baru aja keluar tadi. Dia bilang operasinya lancar. Guntingnya nggak mengenai organ vital, meski pendarahannya cukup banyak. Sekarang mereka sedang memindahkan Freya ke ruang pemulihan."Mendengar itu, kekuatan di kaki Arya seolah tersedot habis. Dia terduduk di kursi dengan penuh rasa syukur.Langkah kaki Arya terasa berat saat dia menyusuri koridor rumah sakit menuju bangsal rawat inap. Begitu pintu kamar terbuka, dia melihat Freya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya masih pucat dengan deru napas yang teratur.Arya mendekat dengan perlahan dan menarik kursi di samping ranjang untuk duduk di sana. Dengan gerakan yang hati-hati, dia meraih tangan Freya yang terbebas dari infus, lalu menggenggamnya dengan kedua tanga

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 187 - Mengingat semuanya

    Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dengan sangat jernih. Arya teringat di sebuah kamar tidur, dia melihat dirinya sendiri sedang berdiri di tepi ranjang, menatap Freya yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menunjuk bercak darah di atas sprei putih.Dalam ingatan itu, Arya mengingat rasa bersalah yang menghimpit dadanya saat dia mengatakan semua kebohongannya tentang hubungan intim bersama Freya demi mengikat Freya."Sprei itu... darah itu..." gumam Arya tanpa sadar, air matanya jatuh menetes mengenai pipi pucat Freya.Arya teringat betapa egoisnya dia dulu. Dia mengingat dengan jelas wajah ketakutan Freya saat dia membohonginya tentang malam itu.Dia merasa sangat kecil dan hina. Saat amnesia, dia bersikap sombong, dingin, dan penuh curiga pada Freya. Dia bahkan sempat menuduh Freya selingkuh dengan Dikta, padahal wanita yang dia tuduh itu sekarang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya dari Aditya. Arya merasa tidak layak mendapatkan pengorbanan sebesar ini dari seseorang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 186 - Tusukan Gunting

    Mendengar itu, rahang Arya mengeras. Kepalan tangannya sudah bersiap hendak menghantam wajah Aditya, namun dia menahan diri sejenak, menatap Aditya dengan kebencian yang mendalam."Kamu salah besar kalau mengira kata-kata provokatifmu membuat amarahku terpancing," ucap Arya tepat di depan wajah Aditya. "Kamu masuk ke kantorku, mengancam istriku dan merasa bisa melenggang bebas? Kamu harus ingat kalau di sini, akulah yang memegang kendali."Arya kemudian memalingkan sedikit wajahnya ke arah Freya tanpa melepas Aditya. "Freya, telepon keamanan sekarang. Dan hubungi polisi. Katakan ada orang yang berbuat onar di sini."Aditya mencoba memberontak, namun kekuatan fisik Arya jauh di atasnya. Arya mengunci pergerakan Aditya dengan menekan lengannya ke tenggorokan pria itu, memastikan Aditya tidak bisa berkutik sedikit pun.Tak lama dari itu, dua petugas keamanan gedung yang dipanggil Freya akhirnya datang. Keduanya berlari masuk dengan napas terengah-engah dan terkejut saat melihat Arya seda

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 185 - Pemegang kendali

    Sambil menghela napas panjang, Freya menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Pikirannya masih kacau karena pertemuan dengan Aditya tadi, membuatnya melakukan banyak kesalahan pada laporan hingga Arya menyuruhnya mengulang berkali-kali. Kantor kini mulai sepi, menyisakan lampu-lampu temaram di sudut ruangan.Rasa takut dan rindu pada Aksa membuatnya ingin bertemu. Sebelum kembali fokus mengerjakan revisi yang seolah tak ada habisnya, Freya meraih ponsel dan segera melakukan video call ke nomor Bi Inah untuk melihat wajah Aksa.Begitu panggilan tersambung, wajah polos Aksa muncul di layar dengan senyum lebar."Ibu! Kok belum pulang?" tanya Aksa dengan suara cerianya."Iya, Sayang. Ibu masih ada kerjaan sedikit lagi. Aksa udah makan?" tanya Freya."Udah! Tadi disuapin Bi Inah. Ibu lembur sama Ayah ya?" Mendengar itu, hati Freya sedikit mencelos. Dia melirik ke ruang kerjanya Arya dan memang terlihat lampu masih menyala. "Ah, iya, Ibu lembur sama Ayah.""Kalau gitu, Ibu cepat pulang y

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 105 - Fakta Diracuni

    Begitu Arya melangkah keluar dari ruangan VVIP, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung bergeser menutup jalannya. Mereka adalah pengawal pribadi suruhan Wijaya yang ditugaskan khusus untuk memastikan Arya tidak melangkah meninggalkan rumah sakit."Maaf, Pak Arya. Perintah P

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 104 - Tekanan keluarga besar

    Matahari masih belum nampak saat Arya menapakkan kakinya di bandara. Rian segera datang menjemput dan membawanya menuju ke mobil."Bapak mau pulang dulu atau-""Langsung ke rumah sakit," potong Arya dengan cepat."Baik, Pak."Mobil melaju dengan kencang. Selama dalam perjalanan, Arya menyempatkan d

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 103 - Tawaran dari Aditya

    Freya ragu sejenak, namun melihat Aksa yang sedang bersedih, dia berpikir kehadiran sosok yang dikenal Aksa mungkin bisa sedikit mencairkan suasana. "Masuklah, Mas."Aditya duduk di ruang tamu yang kecil itu. Sedang Freya menyiapkan minuman di dapur. Aditya sempat melirik Aksa yang mengacuhkannya,

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 102 - Aku mau Om Arya!

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden, namun kepala Freya masih terasa sangat berat akibat pengaruh obat tidur yang dia minum semalam. Kesadarannya perlahan terkumpul saat dia merasakan guncangan kecil di bahunya."Ibu... Ibu, bangun..." Suara mungil itu terdengar serak, seperti habis menangis.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status