แชร์

Bab 3 - Enggan mengakui

ผู้เขียน: Gilva Afnida
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-27 23:44:04

Freya berjalan keluar dari ruangan meeting dengan lesu. Semangat yang tadinya membara seketika lenyap. Kedatangan Arya membuat harapannya untuk naik jabatan seperti jauh dari angan-angan. Tadinya dia ingin kabur dari masalah, tapi nyatanya, masalah itu yang datang kembali padanya.

"Menyebalkan!" Freya begitu kesal saat memikirkan sikap Arya barusan.

Sebenarnya apa yang dia perbuat pada Arya semalam? Sampai Arya seperti ingin menjegalnya.

Freya berusaha mengingat lagi kejadian semalam, tapi usahanya nihil. Ingatannya terputus begitu dia masuk kamar Arya.

"Sialan!" jeritnya lagi kesal. Beruntung lorong sedang sepi, tidak ada orang.

Suara nada dering yang panjang membuyarkan kekesalannya. Wajahnya berubah gembira begitu tahu kalau yang meneleponnya adalah Rio.

Freya berdeham, menetralkan suara sebelum mengangkat telepon. "Halo, Sayang."

"Sayang, kemana aja kamu semalam? Katanya mau mampir ke apartemenku? Kok gak jadi?" tanya Rio dari seberang sana.

"Ah, iya, Sayang. Maaf ya, kemarin tiba-tiba aku gak enak badan. Jadi aku putuskan untuk langsung pulang," ujar Freya berbohong.

"Aku khawatir banget loh sama kamu, sampai gak bisa tidur dari semalam karena nungguin kabar dari kamu. Kamu gak apa-apa, Kan?"

Duh, so sweet banget sih abang Rio! Meleleh hati adek jadinya, Bang! jerit Freya kegirangan dalam hatinya.

"Aku gak apa-apa kok. Semalam habis pulang, aku langsung tidur. Terus hapenya mati, baru aku nyalain tadi pagi. Sebagai gantinya nanti aku- aaahh!!" Freya menjerit sampai ponsel yang sedang dipegangnya terlepas dari genggaman saat melihat wajah Arya muncul tepat di depan mukanya.

"Kamu wanita yang tiba-tiba masuk ke apartemenku semalam, Kan?" tanya Arya, tanpa basa-basi.

Freya mengerjapkan mata. Tangannya memegang dada, merasakan debaran di dadanya masih berdegup begitu kencang. Beruntung dia tak punya penyakit jantung.

Freya menyipitkan mata. Amarahnya kembali membumbung tinggi begitu teringat dengan perdebatan mereka barusan. Ide cemerlang untuk mengerjai Arya pun muncul dalam benaknya.

"Maksud bapak apa? Semalam saya gak kemana-mana." Freya melipat kedua tangan, matanya lurus ke arah Arya dengan tenang.

"Jangan pura-pura gak ingat. Semalam kamu mabuk terus maksa masuk ke apartemenku. Perbuatanmu itu bisa aku laporkan polisi, tahu gak?"

Freya membelalakkan matanya. "Jangan nuduh sembarangan ya, Pak! Mana ada semalam saya maksa masuk ke apartemen bapak? Perbuatan bapak ini juga bisa saya laporkan ke polisi atas tuduhan yang gak berdasar."

Arya menaikkan alisnya sebelah. "Tuduhan gak berdasar katamu?" Kakinya maju selangkah, membuat Freya reflek memundurkan langkahnya. Matanya bergerak, menelusuri tubuh Freya lalu mendarat di bagian dada. "Terus kamu bisa dapat setelan baju kerja limited edition itu darimana? Dari dalam lemariku, Kan?"

Freya menutupi dadanya dengan kedua tangan, merasa risih. "Memang yang punya setelan baju limited edition kayak gini cuma bapak doang?" tanyanya menaikkan dagu.

"Setelan baju kerja yang kamu pakai itu hadiah khusus dari desainer terkenal di Paris untuk mamaku. Itu gak diperjualbelikan. Jadi bisa dipastikan setelan baju kerja yang kamu pakai itu hanya satu-satunya di dunia ini."

Kedua mata Freya semakin membulat sempurna. Sejenak dia lupa kalau pria di depannya ini merupakan cucu dari pemilik perusahaan Bintara Grup. Tidak perlu diragukan soal kekayaan, kekuasaan dan kenalan hebat dari berbagai negara.

"Aku gak percaya," kata Freya, masih tak mau kalah. "Buktinya apa kalau baju ini emang hadiah khusus dari desainer Paris? Bisa aja kan bapak cuma mengarang."

Rahang Arya mengeras. Dia pun menarik ujung blus yang tengah dipakai Freya lalu menunjukkan label blus yang bertuliskan 'For Ika Mariana'. Tulisan itu ditulis dengan font berukuran kecil yang membuat orang harus mendekatkan matanya saat ingin membaca tulisannya.

"Kamu lihat? Tulisannya 'For Ika Mariana'. Itu nama mamaku. Dan juga, ada nama desainernya yang tercetak di belakang kerah."

Freya panik. Tak pernah terlintas dalam benaknya kalau baju yang dia kenakan ada label khusus. Karena otaknya tak dapat menemukan ide lain, dia pun menundukkan badan-hendak mengambil ponsel yang tadi terjatuh. Tapi siapa sangka Arya mengetahui aksinya dan menyambar ponselnya dengan cepat.

"Mau kabur lagi?" Arya memamerkan ponsel Freya yang berhasil dia dapatkan.

"Sini, kembalikan ponsel saya!" Arya malah menaikkan ponsel saat Freya berusaha meraihnya.

"Akui dulu kalau semalam kamu memang maksa masuk ke apartemenku."

"Saya beneran gak kemana-mana semalam," ujar Freya masih enggan mengakui.

"Kalau gitu, aku laporkan kamu ke polisi. Aku punya banyak bukti," ancam Arya.

"Silahkan saja laporkan ke polisi. Kalau sampai orang-orang tahu masalah ini, yang malu bukan cuma saya aja. Tapi bapak juga." Freya tersenyum sinis begitu melihat Arya mengetatkan rahangnya.

Saat ketegangan terjadi, ponsel Freya kembali berdering nyaring.

"Ada yang nelpon, kembalikan ponsel saya, Pak." Sekali lagi Freya berusaha, tapi Arya semakin menaikkan ponselnya. Bahkan Arya juga menghalangi Freya dengan tangan satunya.

Arya melirik ke arah ponsel Freya untuk mengetahui siapa yang menelpon. Di layar tertera nama 'Rio sayang' dan foto Rio terpampang jelas di sana.

"Rio sayang?" gumam Arya. Dia pun bertanya pada Freya, "Jadi kamu pacarnya Rio?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 89 - Bestie Aksa

    Momen emosional antara Arya dan Freya tiba-tiba terhenti oleh suara langkah kecil yang beradu dengan lantai marmer. Aksa muncul dari balik pintu kamar mandi dengan handuk putih besar yang melilit tubuh kecilnya, membuat kepalanya terlihat makin mungil. Rambutnya masih basah dan berantakan, sementara wajahnya tampak segar setelah bermain air.Aksa memicingkan matanya saat melihat posisi Arlan yang berdiri sangat dekat dengan Freya. Dengan langkah mantap, ia berlari kecil dan menyelinap di antara keduanya, menggunakan tubuh mungilnya untuk memberi jarak."Ibu! Om Arya!" seru Aksa sambil berkacak pinggang, menatap keduanya bergantian.Freya tersentak dan sedikit menjauh, sementara Arya hanya bisa menaikkan alisnya, bingung sekaligus gemas."Ibu jangan dekat-dekat dulu sama Om Arya," ucap Aksa dengan nada serius."Lho, kenapa sayang? Ibu kan cuma lagi bicara sama Om Arya," tanya Freya sambil menahan tawa, mencoba merapikan handuk Aksa yang mulai melorot.Aksa menoleh ke arah Arya, lalu ke

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 88 - Ikatan darah

    "Halo.""Halo, Ibu..." Suara Freya hampir menghilang saat mendengar suara ibunya."Freya! Ya Tuhan, Fre, kamu di mana? Ibu baru aja melihat berita di televisi... Ibu gak percaya dengan apa yang mereka katakan. Mereka bilang kamu pengganggu rumah tangga orang?" Suara Dina terdengar penuh kecemasan dan kebingungan.Freya memejamkan mata, hatinya perih.Selama lima tahun ini, dia berhasil menjaga citra dirinya sebagai wanita mandiri yang tegar di mata ibunya. Dia selalu menyembunyikan luka di masa lalu sendirian selama ini."Ibu, tolong tenang dulu. Berita itu... gak semuanya benar. Aku gak pernah jadi selingkuhan siapa pun." Freya mencoba menjelaskan dengan suara yang stabil, meski air matanya mulai mengalir."Terus kenapa foto itu ada? Dan kenapa Aditya mengeluarkan pernyataan soal pertunangan? Ibu bahkan gak tahu kalau hubungan kalian udah sejauh itu. Apa yang terjadi selama ibu pergi, Freya?"Freya menoleh ke arah taman, dimana Arya sedang tertawa riang menemani Aksa bermain dan berl

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 87 - Menebus kesalahan masa lalu

    Freya terdiam cukup lama. Dia menatap tangannya yang digenggam Arya. Akhirnya, dia menggeleng perlahan. "Enggak, Mas. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai atasan. Selain itu, seperti yang udah aku bilang, aku hanya merasa sangat berhutang budi pada papanya. Kalau bukan karena Pak Baskoro yang menyelamatkanku, aku gak tahu apa aku bisa mencapai di posisiku yang sekarang. Pak Baskoro memberiku tempat kerja dan tempat tinggal di Jogja. Tanpa Pak Baskoro, aku, ibuku dan Aksa mungkin gak akan punya kehidupan yang baik seperti sekarang."Freya menyeka air matanya. "Itulah sebabnya aku gak bisa begitu aja membantah ucapan Mas Adit. Aku merasa harus membayar hutang budi. Aku merasa seperti mengkhianati orang yang udah memberikan nyawa kedua untukku."Mendengar penjelasan itu, sorot mata Arya berubah. Ada rasa bersalah yang besar karena dia tidak ada di saat Freya paling membutuhkannya, namun ada juga tekad baru yang menyala."Fre, aku tahu kalau ucapanku ini terdengar

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 86 - Pilihan yang mengikat

    Suara riuh di depan gerbang rumah Freya semakin menjadi-jadi. Suara lampu kilat kamera dan teriakan pertanyaan wartawan mulai membuat Aksa terbangun dan menangis ketakutan di kamarnya. Freya memeluk putranya erat-erat di pojok kamar, menutup telinga Aksa agar tidak mendengar cacian yang dilemparkan orang-orang di luar.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat membelah kerumunan. Sebuah mobil SUV hitam dengan kawalan dua motor besar menerobos masuk, memaksa wartawan minggir dengan paksa.Pintu gerbang terbuka sedikit dan beberapa pria berjas hitam segera membentuk barikade manusia. Dari dalam mobil, Arya keluar dengan wajah yang memancarkan amarah sekaligus kecemasan luar biasa. Dia tidak memedulikan kilatan kamera yang menyambar wajahnya, fokusnya hanya satu, pintu rumah Freya.Arya mendobrak masuk. "Freya! Aksa!"Freya muncul di ambang pintu kamar dengan mata sembap. "Mas, apa yang kamu lakukan? Kedatanganmu ke sini hanya akan membuat mereka semakin yakin k

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 85 - Skandal perselingkuhan

    Berita itu langsung meledak seperti bom waktu di tengah ketenangan. Hanya dalam hitungan jam setelah Zea mengirimkan foto-foto tersebut, jagat maya dan media nasional sudah dipenuhi oleh tajuk berita yang sensasional.Freya sudah pulang ke rumah, sedang duduk di ruang tamu, mencoba menenangkan diri dengan menyesap teh hangat, sementara Aksa sedang tidur siang di kamarnya.Tiba-tiba, ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi dari media sosial dan pesan singkat masuk seperti air bah.Sebuah tautan berita dari portal gosip terbesar dikirimkan oleh salah satu staf kantornya dengan pesan: "Bu Freya, tolong lihat ini. Wartawan sudah mulai berkumpul di depan gerbang kantor!"Freya membuka tautan itu dan jantungnya seakan berhenti berdetak.SKANDAL PANAS: CEO Pilar Bintara Kepergok Bermalam dengan Manajer Furnitur di Jogja? Istri Sah Ditinggal di Hotel!"Di bawah tajuk itu, terpampang foto-foto dirinya yang sedang memapah Arya yang setengah sadar di lobi hotel. Foto

  • Jerat Cinta Pak Manajer Tampan   Bab 84 - Zea yang ambisius

    "Hari ini, kalian berdua adalah gangguan terbesar dalam hidupku. Aku lelah dengan drama ini. Aku lelah dengan rahasia, aku lelah dengan perebutan kekuasaan dan aku lelah menjadi wanita yang hanya bisa menunggu keputusan pria."Freya berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya lebar-lebar. "Keluar kalian. Sekarang juga," perintahnya dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah. "Aku butuh waktu untuk bicara dengan Aksa. Aku butuh waktu untuk memikirkan masa depan bisnisku tanpa gangguan emosional dari kalian. Jangan hubungi aku, jangan cari aku, sampai aku sendiri yang memutuskan untuk menemui kalian."Aditya tampak terpukul, bahunya merosot.Sementara Arya menatap Freya dengan rasa kagum yang bercampur dengan luka. Dia menyadari bahwa Freya yang dia temui sekarang bukan lagi Freya yang bisa dia kendalikan dengan kata-kata manis atau perlindungan semu.Tanpa sepatah kata pun, Aditya melangkah keluar terlebih dahulu setelah melempar ponsel ke arah Arya.Seda

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status