LOGINFreya berjalan mendahului Arya menuju lift tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang menggunakan high heels berbunyi tegas di lantai marmer.Suasana di dalam mobil jauh lebih buruk daripada saat mereka bertengkar. Tak ada suara pertengkaran, perdebatan atau ejekan seperti biasa. Hanya ada suara mesin mobil dan desis AC.Arya berkali-kali melirik Freya dari kursi kemudi. Tapi Freya hanya menatap lurus ke jendela, memperhatikan jalanan kota yang sibuk seolah-olah itu adalah hal paling menarik di dunia."Fre, soal tadi pagi... aku hanya ingin kamu tahu kalau aku benar-benar—""Bisa fokus menyetir, Pak Arya?" sahut Freya dingin, tetap menatap jendela. "Saya gak ingin terlambat dan membuat reputasi perusahaan hancur karena masalah pribadi kita."Arya mencengkeram erat kemudi setirnya. Panggilan "Pak Arya" itu terasa seperti tamparan keras baginya. Freya telah menarik garis pembatas yang sangat jelas. Begitu sampai di kantor pusat calon investor, Freya berub
Arya bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat, kepalanya tertunduk lesu. Di balik kayu tebal itu, suara isak tangis Freya menyayat kesunyian kamar suite yang dingin.Setiap sedu-sedan yang lolos dari mulut Freya terasa seperti sembilu yang menguliti harga diri Arya. Ia ingin masuk, ingin berlutut dan memohon ampun, tapi ia tahu kehadirannya sekarang hanyalah bensin bagi api kemarahan Freya. Arya memejamkan mata dan dalam kegelapan itu, memori saat dia pertama kali bertemu dengan Freya berputar kembali dengan begitu jernih.Malam itu, Arya sedang berada di puncak stres karena tekanan terus-menerus dari Widya yang tengah sakit keras dan menyuruhnya untuk segera menikah. Ia baru saja hendak memejamkan mata di kamar apartemennya ketika pintu kamarnya terbuka kasar. Saat melihat, baru dia sadari kalau pintu kamarnya tidak sepenuhnya tertutup karena terganjal sendal.Seorang gadis dengan gaun pesta yang berantakan dan rambut acak-acakan masuk sambil sempoyongan. Bau
Cahaya fajar menyelinap di antara gorden, menerangi wajah Freya yang perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa berat, namun ada kehangatan yang menjalar di hatinya saat ingatan tentang malam tadi berputar kembali. Sentuhan Arya, napas yang memburu, dan bagaimana pria itu memujanya dalam kegelapan—itu adalah malam paling intim dan panas yang pernah ia rasakan.Saat menoleh, Arya sudah tak ada lagi di sampingnya. Suara gemericik air yang berisik dari arah kamar mandi menandakan ada seseorang di dalamnya. Freya tersenyum kecil. Arya pasti sedang mandi sekarang. Menutup wajah dengan selimut, Freya merasa malu. Bayangan soal semalam mampu membuat kedua pipinya memerah. Dia tak menyangka kalau Arya sangat lihai memperlakukan dirinya di atas ranjang.Apa saat kejadian malam itu sama seperti malam kemarin?Ah, sayangnya dia sama sekali tak ingat apa yang sudah terjadi saat malam itu.Rasa nyeri dan sakit masih dirasakannya begitu dia bergerak. Namun saat dia mencoba menggeser tubuhnya untuk men
Mereka jatuh tepat di atas ranjang king size yang empuk. Pegas tempat tidur itu membal sejenak sebelum akhirnya diam.Hening seketika menyelimuti ruangan.Freya terengah-engah, matanya membelalak menatap langit-langit, sementara ia merasakan beban tubuh Arya di atasnya.Arya bertumpu pada kedua sikunya di sisi kepala Freya, menjaganya agar tidak menekan tubuh gadis itu sepenuhnya. Jarak wajah mereka hanya hitungan sentimeter.Napas Arya yang hangat menerpa kulit wajah Freya. Wangi sabun hotel yang maskulin dari tubuh Arya memenuhi indra penciuman Freya, membuatnya mendadak lupa bagaimana cara bernapas dengan benar."Kenapa dari tadi kamu berisik sih?" Suara Arya terdengar berat dan serak. Ada kilatan aneh yang muncul di sorot matanya, membuat Freya merinding. "Ngapain kita rebutan tempat kalau kasurnya bisa kita pakai berdua?"Freya menelan ludah, suaranya hampir hilang. "T-tapi... kita..."Arya tidak beranjak. Tatapannya turun ke bibir Freya yang sedikit
Freya keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang bermotif awan merah—ciri khas organisasi Akatsuki di Naruto. Ia lupa tidak membawa blus atau gaun formal tapi sama sekali tak lupa membawa piyama kebanggaannya.Arya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melepas kancing kemejanya, langsung terdiam saat melihat Freya. "Kamu serius? Bahkan di kamar hotel bintang lima ini, kamu tetap membawa organisasi kriminal internasional itu ke sini?"Freya merapatkan piyamanya. "Ini nyaman, Mas! Lagi pula, aku gak bawa piyama lain selain ini."Arya menggelengkan kepala, tapi matanya tidak bisa berbohong—ia memperhatikan bagaimana rambut basah Freya jatuh di bahunya. Ia segera berdiri, berjalan melewati Freya menuju kamar mandi dengan langkah cepat. "Tidur cepat. Besok kita bakal mengunjungi bank untuk menemui calon investor kedua."Namun, ketika Arya keluar dari kamar mandi hanya dengan celana training dan kaos oblong putih, ia mendapati Freya belum tidur. Gadis itu duduk di ba
Pak Baskoro membuka tas tersebut, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "Luar biasa! Kalian benar-benar punya koneksi yang hebat. Cucuku pasti akan berhenti merajuk sekarang."Pria tua itu kemudian meraih pena montblanc-nya dan tanpa ragu membubuhkan tanda tangan di atas berkas kontrak senilai sepuluh miliar rupiah tersebut.Sret. Sret.Bunyi goresan pena itu terdengar seperti musik paling indah di telinga Arya dan Freya."Selamat," Pak Baskoro menjabat tangan Arya dengan erat. "Aku bukan hanya berinvestasi pada proyek kalian, tapi juga pada kegigihan kalian. Orang yang mau melakukan apa saja—termasuk berburu kaos langka—adalah orang yang bisa aku percaya untuk menjaga uangku."Setelah basa-basi singkat dan ucapan terima kasih, Arya dan Freya melangkah keluar menuju lobi gedung dengan langkah ringan. Begitu pintu lift tertutup dan hanya ada mereka berdua, Freya langsung bersorak kecil sambil melompat."Sepuluh miliar, Mas! Kita berhas







