Home / Romansa / Jerat Cinta Pembantu Jandaku / Bab 4 Keputusan Berat

Share

Bab 4 Keputusan Berat

last update Huling Na-update: 2025-09-15 09:01:34

“Sus, tolong nenek saya.”

“Kami akan melakukan pertolongan dengan cepat. Silahkan kalian urus pendaftarannya lebih dulu.”

Setelah, urusan pendaftaran selesai, Kanaya menunggu bersama Rini dengan penuh kekhawatiran di ruang tunggu IGD. Zahra yang berada di gendongan Kanaya sudah tak berdaya dan terlelap.

Penyakit jantung Asih kemungkinan besar kambuh karena mendengar kabar mengejutkan mengenai penyitaan rumah milik Kanaya.

“Untung saja kalian cepat membawa nenek kalian kesini. Kalau terlambat sedikit saja, pasti nyawanya tidak akan tertolong. Nenek kalian memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya dan sudah sering keluar masuk rumah sakit.” Ucap Dokter sembari membaca rekam medis milik Asih.

Dari kertas rekam medis, tertera jelas jika Asih sudah pernah berobat kesini dan beberapa kali harus rawat inap karena penyakit jantung yang sering kali kambuh.

“Apa perlu rawat inap?” Tanya Kanaya.

“Kami akan melakukan observasi lebih lanjut. Masalah jantungnya sepertinya bertambah parah dan jika memang diperlukan, kami akan memasang ring pada jantungnya. Dan setelah di cek, ternyata kartu jaminan kesehatan pasien sudah tidak aktif lagi. Jadi, kami berharap untuk kartu kesehatannya bisa segera diurus. Karena jika pemasangan ring memang diperlukan, kalian tidak perlu bingung masalah biayanya.”

Kanaya mengangguk, “Baik dokter.”

“Setelah kondisinya stabil, barulah kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap. Untuk sementara ini, pasien harus tetap di ICU.”

Kanaya melangkah gontai keluar dari ruang IGD. Semua ini salahnya karena tidak membayar iuran kartu kesehatan milik sang nenek.

Himpitan ekonomi yang menerpa keluarganya membuat Kanaya harus mengesampingkan ini. Karena Kanaya pikir, penyakit Asih sudah jarang kambuh.

“Memangnya berapa tunggakannya, Nay?”

Sadar kalau tunggakannya sudah lama dan ini adalah kesempatan terakhir neneknya mendapat jatah rawat inap, Kanaya tertunduk lesu. Luka di pelipisnya yang sudah mengering, kembali ternganga.

Dengan terbata, dia menjawab, “Delapan bulan, Mbak.”

Rini menghela napas kasar, “Sudah, jangan dipikirkan. Sebentar lagi, ibu akan datang.”

“Bude Lastri?”

“Iya. Aku sudah mengabarinya. Dia sedang dalam perjalanan kemari.”

***

Tepat pukul sepuluh malam, akhirnya Lastri sampai di rumah sakit.

Lastri bekerja di Jakarta sebagai ART, dia langsung pulang begitu mendapat kabar Asih rawat inap lagi. Beruntungnya, majikan Lastri adalah orang baik dan bisa mengerti kondisinya.

Lastri mengalihkan tatapannya kepada Kanaya yang nampak duduk termenung sembari menggendong Zahra yang tertidur di pangkuannya.

“Nduk...”

Lastri duduk disamping Kanaya lalu mengelus pundak keponakannya.

Lastri sudah tahu semuanya mengenai Kanaya dari Rini.

Air mata Kanaya kembali tumpah ketika Lastri merengkuh tubuhnya. Kanaya tidak pernah selemah ini sebelumnya, namun karena pengkhianatan yang dilakukan Hendra berhasil membuat Kanaya menjadi wanita yang rapuh.

Ketika ingin cerita, dokter tiba-tiba keluar dan mengabarkan kalau Asih sudah siuman.

Ketiganya bergegas masuk ke ruang ICU dan melihat kondisi Asih.

Belum sempat Kanaya mengatakan apapun, Asih menyela cepat. “Mbok nggak tau bisa hidup berapa tahun lagi, Nay. Mbok udah bilang ke Lastri, Bude mu, biar kamu kerja di kota aja.”

“Zahra bagaimana, Mbok? Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal oleh Naya.” Lastri merasa tidak enak dengan Kanaya.

“Kan ada mbok dan Rini. Kami akan mengurus Zahra.” Senyuman Asih sangat tulus. Asih melakukan semua ini demi kebaikan Kanaya dan Zahra.

“Melihat hidupmu yang enak setelah bekerja di kota, mbok juga ingin itu terjadi pada Naya. Dia sudah cukup menderita selama ini. Setidaknya, ia bisa menutup hutangnya.”

“Kita tidak bisa memaksa Naya, Mbok. Naya berhak menentukan jalan hidupnya.”

Kanaya terdiam cukup lama. Ia mempertimbangkan ucapan Lastri.

Kanaya dihadapkan dalam dilema besar.

Disatu sisi, apa yang Lastri ucapkan memang benar adanya. Sebagai ibu, dia tidak tega meninggalkan putrinya yang masih berusia dua tahun.

Baginya, Zahra masih butuh kasih sayang darinya.

Kanaya menatap sang nenek. Ada keraguan dalam hati Kanaya, tapi tatapan dari Asih seolah meyakinkan Kanaya untuk mengambil keputusan ini.

"Tapi, aku mau kerja apa bude di kota? Bukannya kalau di kota itu butuh ijazah tinggi, ya? Sedangkan, aku hanya lulusan SMA saja."

"Sebenarnya, majikan bude sedang mencari ART bagian masak karena ART yang lama mengundurkan diri. Majikan Bude minta Bude yang nyari. Kalau kamu mau, bude bisa mengajak kamu bekerja disana. Masakan kamu kan enak, Nay."

"Kalau jadi ART memang gajinya berapa, bude?"

"3.5 juta, itu kalau masih awal-awal. Untuk semua kebutuhan pribadi kamu dan makan sehari-hari sudah ditanggung sendiri oleh majikan. Jadi, kamu bisa menggunakan uang kamu untuk kebutuhan Zahra dan membayar hutang kamu.”

Lastri menarik nafas sejenak. “Kalau bulan pertama dia cocok, pasti ada kenaikan gaji.”

Kanaya sangat tergiur dengan tawaran dari Lastri. Namun, ia kembali memikirkan Zahra. Usia Zahra baru dua tahun dan putrinya itu tentu saja masih membutuhkannya.

"Ikut saja sama bude mu. Kesempatan ini tidak datang dua kali." Ucap Asih menimpali.

"Aku hanya tidak tega meninggalkan Zahra, Mbok. Dia masih terlalu kecil."

Asih meraih tangan Kanaya lalu menggenggamnya, "Kamu harus berjuang untuk lepas dari kemiskinan. Kamu tidak bisa selamanya hidup dengan dihantui hutang. Mbok tahu ini pasti berat untukmu. Tapi kamu tenang saja, mbok akan merawat Zahra dengan baik."

Ada setitik air mata yang menetes dari mata Kanaya. Sang nenek adalah orang yang paling berjasa untuk Kanaya.

Sejak kecil, Asih bekerja keras untuk menghidup Kanaya. Dan sampai sekarang Kanaya belum bisa membalas jasa dari Asih.

Kini Kanaya menatap lekat Zahra yang ada di pangkuannya. Tubuh kecil itu didekap erat oleh Kanaya. Kanaya seolah ingin menguatkan hatinya untuk mengambil keputusan yang sangat berat ini.

Suasana hening menyelimuti ruangan, sampai ketika Zahra bangun dan berkata pada Kanaya. “Ibu mau kemana?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 120

    Semua orang terlihat sangat bahagia menyambut kelahiran baby Archio yang sangat tampan. Mereka bahkan tak berhenti memuji kelucuan dan ketampanan dari baby Archio. Bahkan, wajah baby Archio mirip sekali dengan Bram sewaktu kecil. Dan untuk pertama kalinya, Linda bisa merasakan menggendong cucu kandungnya. Linda sampai tak bisa membendung air matanya. Edward yang ada disana pun terus memandangi wajah cucunya itu. Dan ini kali pertama Edward merasakan kebahagiaan yang luar biasa. "Mirip dengan Bram waktu kecil kan, Pa?" ujar Linda mencari validasi. "Mirip sekali. Hidung, bibir, dagu mirip sekali dengan Bram." "Mbak Kanaya dapat hikmahnya saja. Kasihan sekali." ledek Bella. Kanaya yang terbaring di bed hanya bisa tersenyum saja. Meskipun, putranya tak ada mirip-mirip nya dengan dirinya, Kanaya sama sekali tak mempermasalahkannya. Yang terpenting baby Archio lahir dengan selamat. "Aku mau lihat adek, Pa. Aku mau cium adek chio." rengek Zahra yang ada di pangkuan Bram.

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 119

    Sesampainya di rumah sakit, Kanaya lagsung dibawa ke ruang bersalin. Bram pun ikut ke dalam karena ia tak mau meninggalkan sang istri yang tengah berjuang demi melahirkan buah hati mereka. Berjam-jam mereka menunggu pembukaan Kanaya lengkap. Dan selama itu, Bram tak sedikitpun beranjak dari samping sang istri. Bahkan, Kanaya mencoba tak bereaksi berlebihan ketika merasakan betapa sakitnya kontraksi karena ia tak mau membuat Bram khawatir. “Sayang, kamu masih kuat? Kalau tidak, bagaimana kalau kamu bersalin secara caesar saja.” Kepanikan jelas terpancara di wajah Bram. Namun, Kanaya tetap menunjukkan senyumnya di tengah kesakitan yang ia rasakan. “Enggak perlu, Mas. Aku coba normal dulu ya. Soalnya, dulu saat melahirkan Zahra pun aku bersalin secara normal.” Bram mencium punggung tangan Kanaya. Bram bahkan sampai menangis karena tak sanggup melihat istrinya kesakitan seperti ini. “Kamu menangis, Mas?” Kanaya menangkup wajah Bram untuk memastikannya. “Aku enggak tega sama kamu

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 118

    Sepulangnya dari pertunjukkan seni Zahra, semua orang pergi ke restoran untuk makan siang. Zahra pun sudah berganti pakaian namun riasannya masih menempel pada wajah gadis cantik itu karena Zahra tidak mau jika makeup nya itu sampai di hapus. Dan alhasil, Kanaya membiarkan Zahra bermakeup peri seperti itu. “Makan yang banyak. Kamu pasti capek sekali tadi.” ujar Linda sembari menambahkan nasi ke piring Zahra. “Penampilanku tadi bagaimana Oma? Bagus tidak? Aku tadi nervous banget sampai-sampai aku pengen pipis di atas panggung.” Celetukan dari Zahra mengundang tawa semua orang. Zahra memang tidak pernah bisa bohong. “Bagus banget. Kamu enggak dengar tadi Oma dan Opa teriaknya paling kencang?” “Dengar kok. Aku sampai geleng-geleng kepala.” Kanaya menahan senyumnya karena Zahra sudah pintar untuk menanggapi orang-orang. Dan Kanaya hanya akan menegur jika Zahra sudah melewati batas. “Onty ambil fotoku banyak tidak? Aku mau ibu upload di media sosialku nanti.” “Tenang saja. Onty

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 117

    Waktu berlalu sangat cepat. Kini, usia kandungan Kanaya sudah memasuki bulan ke sembilan. Kehidupan rumah tangga Kanaya semakin harmonis, terlebih lagi dengan mertua Kanaya yang sudah bisa menerima Kanaya sepenuhnya. Di sisi lain, kehidupan mereka semakin tenang sebab Yasmine dan juga Aron sudah mendapatkan hukuman yang pantas atas kejahatan mereka. Dan semoga saja, ini bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk dua orang itu. Dan kini, Bram mulai membatasi aktivitas Kanaya. Bram tak mau Kanaya terlalu lelah karena ini sudah mulai memasuki HPL nya. Bahkan, yang aktif mengatar jemput zahra sekolah adalah Bram dan bergantian dengan Linda. Zahra sudah berusia tiga tahun lebih sekarang dan sudah masuk pra sekolah. Bram memasukkan Zahra ke sekolah yang elit dan itu membuat Kanaya senang karena Bram tak pernah memperlakukan Zahra dengan buruk. “Kamu harus banyak makan sayur dan protein, Kanaya. Tambah lauknya lagi.” Linda langsung meletakkan paha ayam di piring Kanaya yang sudah ham

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 116

    Du hari kemudian,Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Kanaya yang sebenarnya sedikit mual mencoba menahan diri agar tidak mengganggu keluarganya yang lain. Sedangkan, Zahra begitu anteng menikmati makanannya di sampingnya. “Nanti, kamu akan ke menemani Kanaya untuk memberikan keterangan kepada polisi?” ucap Linda melempar tanya. Bram yang fokus mengunyah pun menganggukkan kepala. “Iya, Ma. Hari ini, jadwal Kanaya untuk memberikan keterangan sebagai korban sekaligus saksi.” Kanaya melirik Bram sekilas lalu kembali fokus menghabiskan sarapannya. “Sepertinya, mereka akan di tuntut dengan hukuman berat. Kejahatan mereka sangat tidak termaafkan dengan memalsukan kematian seseorang,” sambar Setya. Bella menggangguk lalu berkata, “Benar sekali. Semoga saja, mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. “ “Kamu baik-baik saja kan Kanaya? Jangan takut dan katakan yang sejujurnya di hadapan petugas,” pinta Linda. Kanaya menelan paksa nasi

  • Jerat Cinta Pembantu Jandaku   Bab 115

    Setelah dua hari menginap di rumah Kanaya, akhirnya Bram dan Kanaya kembali ke Jakarta. Mereka sudah cukup puas menghabiskan waktu di kampung halaman Kanaya. Bram bahkan sangat senang karena ia bisa melepaskan penatnya dari rutinitas padatnya. Begitupun dengan Kanaya, yang akhirnya bisa menikmati keasrian desa yang begitu ia rindukan itu. “Oh cucu Oma...” Kedatangan mereka langsung disambut dengan bahagia oleh Linda yang memang sudah menunggu kedatangan anak, menantunya dan cucu nya itu. Bahkan, Linda langsung mengambil Zahra dari gendongan Bram. “Oma rindu sekali dengan kamu.” “Aku juga,” jawab Zahra dengan lucunya. Edward pun ada disana. Ia mengelus lembut rambut panjang Zahra lalu menciumnya. Melihat itu, hati Kanaya tesentuh. Kanaya tak peduli jika Edward tidak bsia menerimanya, namun Kanaya sangat bahagia karena putrinya bisa di terima oleh sang papa mertua. “Bagaimana keadaan kalian? Sehat?” tanya Linda. “Alhamdulillah, sehat,”jawab Kanaya. Kanaya mencium punggung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status