LOGIN"Wah kak Maya, apa kabar?" "Baik dek, maaf ya terakhir saat saya pergi dari sini nggak pamit pada kamu dan ibu" "Nggak apa-apa kak, aku maklum kok," Yerin dengan ramah duduk di sebelah Maya seperti teman akrab. "Mulai sekarang, nak Maya akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu. kamu tolong bantu beliau beradaptasi ya." "Selamat datang di sini kak, aku senang banget lho ada pacarnya bang Ethan tinggal di sini haha, jadi aku punya teman kakak baru," ucap Yerin ramah, merangkul lengan Maya. "Jika kakak butuh bantuan, bilang ke aku saja ya." "Terima kasih, dek....." balas Maya tersenyum lega, setidaknya Bu Ningrum dan Yerin menyambutnya dengan baik. Aiden yang melihat situasi itu tersenyum tipis pada Maya. "Bunda, saya pamit kembali kalo gitu, masih harus kerja nanti siang, Ethan menitipkan pesan agar kak Maya sabar. Dia akan segera datang menjemput saat keadaan sudah aman." "Terima kasih banyak, bang Aiden. Hati-hati di jalan," pesan Maya.Setelah kepergian Aiden, B
"Jangan khawatir, silakan duduk yang tenang. Perjalanan ini masih cukup jauh," suara Aiden tiba-tiba terdengar memecah keheningan, lembut namun tegas. "Kita akan menempuh perjalanan kurang lebih lima jam menuju Bogor. Ethan berpesan agar kakak beristirahat sebentar selama di jalan. dia ingin kakak dalam keadaan baik saat sampai di sana." Maya mengangguk pelan, meski hatinya masih gelisah. "Terima kasih, bang Aiden. Tapi... bolehkah aku bertanya? Kenapa harus ke tempat panti asuhan, apa di Jakarta beneran sudah nggak aman?" Aiden melirik sekilas lewat kaca spion, lalu kembali menatap jalanan yang mulai sepi. "Ethan memutuskan tempat yang paling aman untuk kamu saat ini adalah panti asuhan di Bogor, lagipula Bunda Ningrum sudah seperti orang tua kami, yang sudah kami percayai sejak lama. Lokasi panti juga tersembunyi di kecamatan kecil, jauh dari pusat kota dan sangat jarang orang luar tahu keberadaannya. Ethan sudah memastikan, tak ada orang dari lingkaran musuh yang pernah mengeta
Malam makin larut. Maya tak berani memejamkan mata sedikit pun. Setiap suara langkah kaki yang bergema di lorong di luar kamarnya, membuat jantungnya berpacu kencang. Dia terus memeluk lutut di tepi ranjang, mata tak lepas dari layar ponsel yang digenggam erat, menunggu kabar dari Ethan yang tak kunjung datang setelah seminggu lebih dia di sembunyikan di penginapan kecil ini.Jam dinding berdentang pelan, hampir pukul satu malam, menandakan malam makin larut, dia tertidur dengan posisi duduk saking takutnya hanya untuk berbaring saja.menjelang subuh saat hujan gerimis di sini.. Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar pelan namun tegas.Tok... tok... tok...Tubuh Maya menegang seketika dia terbangun kaget dan bersikap waspada. Darah seakan berhenti mengalir. Napasnya tertahan di kerongkongan. Dia mundur perlahan menjauhi pintu, punggungnya menempel erat pada dinding kamar."Kak Nevi? apa anda sudah bangun?"Suara pria itu terdengar rendah dan menyelidik. Maya melirik jam dinding sud
Pintu kamar tertutup rapat di belakang Ethan. Suara langkah kakinya perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam kamar itu. Maya berdiri terpaku di tempatnya, tangan masih terulur seakan masih bisa menyentuh sosok yang baru saja perg, dan dan dia snednriw di sini.Untuk pertama kalinya dia takut hanya karena sendirian padahal biasanya dia wanita mandiri yang kemanapun terbiasa sendirian. namun saat ini Maya seperti hidup di bawah ancaman, di sinilah ketakutannya berasal Dadanya terasa sesak, napasnya tercekat di kerongkongan. Perlahan dia merosot jatuh ke tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menahan tangis yang sedari tadi berusaha ia tahan."Dia pergi... demi menyelamatkanku, semoga saja semua ini cepat selesai aku tak tahan lagi," Untuk pertama kalinya Maya menyesali hidup kenapa dia harus bertunangan dengan Dimas.Maya menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Dia tak boleh lemah. dia boleh menang
Tiga hari telah berlalu sejak malam hangat mereka di tepi pantai Anyer. Suasana masih terasa damai dan hangat, seakan dunia milik berdua saja. Ethan dan Maya menikmati sisa waktu liburan mereka, berjalan beriringan menyusuri pasir putih di pagi hari, duduk berdua di depan api unggun saat senja menjelang. Setiap sentuhan dan pelukan mereka terasa begitu berharga, seakan ada firasat hal buruk sebentar lagi akan datang. Dan firasat itu ternyata benar.Sore itu, saat mereka sedang bersiap untuk kembali ke Jakarta, ponsel Ethan bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal betul, perintah langsung dari Kakek Rangga."Selesaikan pekerjaanmu. Gadis itu tidak boleh hidup lebih lama. Hilangkan nyawanya jangan lebih dari besok pagi. Jangan tinggalkan jejak apa pun. Ini perintah klien."Tangan Ethan mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Napasnya tertahan di kerongkongan. Maya yang berdiri tak jauh darinya menyadari perubahan ekspresi wajah kekasihnya, yang tadi masih lembut k
Setelah dari rumah sakit tadi, dan mendapatkan kabar baik, Ethan mengajak Maya ke pantai Anyer, anggap saja sembari bersembunyi dari si mafia dan membawa sanderanya ke manapun walaupun pada akhirnya hubungan mereka sudah berubah jadi hubungan cinta.Sesampainya di depan gedung apartemen milik Maya yang selama ini menjadi tempat sembunyi, sebuah mobil SUV Land cruiser berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka, Land Cruiser itu tampak berkilau di bawah sinar matahari siang. Pintu terbuka, dan Aiden turun menyerahkan kunci kendaraan itu kepada Ethan sebelum pamit pergi, dia juga sudah menyiapkan peralatan kemah lengkap di bagasi mobil dan stok bahan makanan. "Nih bro, tapi loe kudu hati-hati, kayaknya si David masih menyisir di Jakarta cari loe, mendingan kalian keluar kota saja,""Iya gue tau, karena itu gue kudu keluar kota, hari ini, nggak berani tetap di apartemen ini, kasihan Maya," jawab Ethan setelah TOS dengan Aiden."Makasih ya, gue cabut dulu, abis ini gue transfer 20 juta







