Home / Romansa / Jerat Cinta Sang Penculik / 22. Cinta yang terhalang jarak.

Share

22. Cinta yang terhalang jarak.

last update publish date: 2026-08-22 10:05:41

Satu bulan kemudian***

Udara di Sangatta erasa lebih lembap dan hangat, namun bagi Maya, ketenangan yang dia temukan di sini adalah hal yang paling dia butuhkan. Sejak tiba sebulan lalu, ia tinggal bersama Sherin di sebuah rumah kecil yang sederhana namun nyaman, tak jauh dari Puskesmas tempat mereka berdua bekerja mengabdikan ilmunya.

"Sudah siap, Maya? Pasien pagi ini pasti sudah mulai berdatangan," sapa Sherin sambil menyiapkan perlengkapan medis, dia wanita berhijab sebaya dengan Maya namun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Cinta Sang Penculik    35. Elis yang merusak kebahagiaan.

    Di Executive Suite Room Hotel Grand Palace. Ethan baru saja melepas jas tuksedonya dan sedang membantu Mayra melepaskan jepit peniti di bagian belakang gaunnya juga resletingnya. Maya sedang berganti piyama tidur dan akan merebah di ranjang karena lelah. Suasana malam pengantin yang seharusnya penuh kehangatan dan keheningan romantis mendadak hancur berantakan saat ponsel Ethan meraung nyaring di atas meja rias. Panggilan dari Aiden Ethan menggeser layar ponselnya. "Ya, Halo Den? Ada apa malam-malam—" "Ethan! KAMU CEPAT KE RUMAH SAKIT CITRA MEDIKA! Elis kritis!" suara Yerin malah yang terdengar histeris berbaur tangisan di seberang telepon. "Bang Aiden nemuin Elis nyayat nadinya di kamar mandi dia kehilangan banyak darah!" DEG! Ponsel di genggaman Ethan hampir saja terlepas. Iris mata sehitam jurang miliknya membelalak kaget. Rahang tegasnya mengeras rapat, sementara aura dingin seketika menyelimuti seluruh tubuh tegapnya. Maya yang berdiri di depannya dan akan melepas sangg

  • Jerat Cinta Sang Penculik    34. Awal kebahagiaan bersama mu

    Suasana di salah satu lounge eksklusif Hotel Grand Palace tampak riuh penuh kehangatan. Di atas meja bundar bermaterial marmer, bertumpuk lusinan katalog dekorasi ballroom, contoh kain, daftar menu catering, hingga sampel undangan beraksen tinta emas. Bu Larasati tampak begitu bersemangat membolak-balik berkas penawaran dari pihak manajemen hotel. "Laras, untuk menu utama, aku mau pastikan ada Wagyu Tenderloin dan Salmon Wellington. Tamu-tamu kehormatan kita harus disajikan yang terbaik," ujar pak Aditya mantap seraya kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung. "Setuju, ayah," sahut Bu Larasati seraya tersenyum gembira. "Untuk hidangan penutupnya, Laras sudah minta chef utama Grand Palace menyiapkan dessert stall khusus untuk Maya dan Ethan—ada panna cotta dan es krim buah segar." Maya yang duduk di samping Ethan hanya bisa tersenyum simpul, sesekali menyeruput jus jeruk segarnya. Tangan kirinya digenggam erat oleh Ethan di bawah meja. Pria itu terus mengusap punggung tangan

  • Jerat Cinta Sang Penculik    33. Restu dan binar ceria.

    Pipi Ethan mendadak merona tipis mendengar pernyataan itu. Pria tegap yang ditakuti seluruh jaringan mafia itu kini tampak salah tingkah hanya karena ucapan cinta dari Maya. "Katakan lagi aku mau dengar lagi sayang" bisik Ethan seraya merengkuh pinggang Maya, menempelkan kening mereka berdua. "Gak mau, ah. Nanti kamu makin manja dan besar kepala," goda Maya tertawa kecil. "Biarin. Sama kamu bebas, boleh kan manja." sahut Ethan santai, lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Maya, menyesap rasa manis yang mengusir seluruh sisa kegelapan dari masa lalunya. Di ambang pintu ruang keluarga, Papi Aditya yang didorong oleh Pak Seno ajudannya dan. Bu Larasati yang akan masuk ke pintu ruangan tamu ini tersenyum lega menyaksikan pemandangan hangat itu. Mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam tapi sudah dapat pemandangan indah itu, bik Wina yang berjalan di belakang menutup bibirnya dan menahan tawa, melihat dua majikannya yang tengah berciuman itu. "Ehemm!" Pak Aditya sengaja

  • Jerat Cinta Sang Penculik    32. Rencana pernikahan yang terwujud

    Lampu kilat kamera wartawan masih menyambar-nyambar di halaman luar Gedung Kejaksaan Agung. Di dalam ruang pemeriksaan yang dingin dan beraroma pemutih, Dimas duduk dengan tangan terborgol di atas meja besi. Kemeja mewahnya kini lecek, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah sembab akibat kombinasi rasa panik, marah, dan keputusasaan. Seseorang mengetuk pintu ruang tahanan sementara itu. "Tersangka Dimas Bastian, Anda memiliki waktu sepuluh menit dengan tamu khusus," ujar petugas kejaksaan seraya membukakan pintu. Dimas mendongak gusar, berharap itu adalah pengacara mahal yang disewa papinya sudah datang. Namun, begitu sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk, napas Dimas mendadak tertahan di tenggorokan. _E-Ethan! Pria tampan itu melangkah masuk dengan santai, kedua tangannya terbenam anggun di saku celana bahan hitam. Tidak ada guratan amarah di wajah tampannya, yang ada hanyalah sebuah senyum dingin, tipis, dan penuh kemenangan mutlak yan

  • Jerat Cinta Sang Penculik    31. Penangkapan mantan tunangan.

    Suasana di kediaman mewah keluarga Pak Fahmi sore itu mendadak tegang luar biasa. Di dalam ruang kerja, Dimas mengemas berkas-berkas penting dan beberapa paspor ke dalam tas hitam dengan tangan bergetar hebat. Peluh dingin membasahi keningnya. Berita mengenai penyitaan aset dan penetapan status tersangka dari KPK serta Kejaksaan Agung sudah menyebar cepat di media massa. "Sialan! Bagaimana bisa dokumen transaksi rekening offshore itu jatuh ke tangan penyidik?!" umpat Dimas histeris seraya menutup resleting tasnya. "Dimas! Kamu mau ke mana, Nak?!" Pak Fahmi sang ayah masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat pasi, kepalanya penuh kepanikan. "Dimas harus kabur sekarang, Papi! Lewat jalur rahasia, jet pribadi di bandara privat sudah menunggu sebelum petugas datang!" teriak Dimas panik. Namun, belum sempat Dimas melangkah keluar pintu, suara sirine mobil dinas kepolisian, kejaksaan dan KPK serta derap langkah sepatu militer bergema dari arah halaman depan. Brak!! Pintu utama rumah

  • Jerat Cinta Sang Penculik    30. Pagi dengan harapan baru

    Cahaya matahari pagi di pantai perlahan menerobos masuk melalui celah gorden kamar mungil ini, memancarkan pendar keemasan di atas ranjang king yang isinya sudah berantakan, kamar yang kemarin rapi, pagi ini seperti baru di hantam badai. Maya perlahan membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang indranya rasakan adalah kehangatan luar biasa yang mendekap erat tubuhnya, disusul rasa ngilu samar di beberapa bagian tubuhnya terutama di kewanitaannya yang masih sangat perih, dan tubuhnya yang remuk seperti habis olahraga berat Mulai pagi ini dia bukan gadis perawan lagi, dengan penuh kesadaran dia memberikan tubuhnya pada pria yang masih terlelap dan tengah memeluknya posesif semalaman, pria itu masih tidur nyenyak dengan lengan kekarnya yang memeluk pinggangnya. Wajah cantiknya seketika merona, seperti sebuah pengingat nyata atas badai gairah yang membakar mereka semalaman di kamar ini, seakan kamar ini bisa menjadi saksi betapa panas pertempuran mereka semalam dan itu terjadi ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status