공유

Bab 5. Ancaman

작가: Sweety
last update 게시일: 2026-03-31 12:18:11

Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.

Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu.

"Kyrran," kata Andrea.

Cowok jenius berwajah datar dan dingin itu melirik tajam. Dia tidak menjawab, hanya menatap Andrea penuh selidik.

"Boleh ngobrol sebentar gak?" tanya Andrea dengan nada yang santai. Dia berhenti tepat di hadapan cowok tinggi itu.

Alis Kyrran menukik. Tatapannya turun semakin tajam.

"Aku butuh wawancara dengan Kepala Sekolah, aku mau minta bantuan kamu supaya bawa aku ketemu pak kepsek," urai Andrea.

"Lalu?" katanya datar.

"Karena kamu ketua OSIS, kamu punya hak menghubungi dan ketemu sama Kepala Sekolah secara bebas."

Kyrran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku memang ketua OSIS, tapi bukan berarti aku itu kurir yang mengantar pembuat berita skandal untuk menemui penanggung jawab tertinggi di sekolah ini."

Ucapan ketos iblis itu begitu menusuk. Andrea sampai tersentak sepersekian detik. "Siapa yang bilang kamu kurir?"

"Gak nyebut tapi permintaan kamu menunjukkan aku sama seperti kurir." Kyrran maju selangkah.

Andrea menahan napas ketika menyadari jarak di antara mereka menipis. Iris kecokelatannya otomatis naik, memandang wajah dingin Kyrran yang sedikit menunduk.

Belum sempat Andrea menimpali, cowok itu sudah  bersuara lagi. "Kamu anak klub jurnalistik yang terkenal selalu membongkar skandal, harusnya kamu pakai kemampuan kamu sendiri untuk ketemu Kepala Sekolah."

"Kali ini beda, makanya aku mau minta bantuan kamu. Aku udah ke kantor kepsek tadi, tapi sekretarisnya bilang pak kepsek gak bisa ditemui. Dia malah suruh aku buat permohonan melalui email dan menunggu penyampaian untuk klub aku. Dan, itu makan waktu."

"Gak peduli," tukas Kyrran.

Cowok itu meluruskan punggung, "Buang-buang waktu," sambungnya, kemudian melangkah melewati Andrea.

Sementara itu, Andrea terdiam di tempatnya. Pipi gadis itu menggembung sedikit dengan bibirnya yang mengatup rapat.

Matanya menusuk tajam pada punggung Kyrran yang menuju pintu keluar kelas. Lantas kedua kepalan tangannya terangkat, meninju udara ke arah cowok itu.

"Dasar nggak punya hati!"

"Robot pelayanan di lobi sekolah aja lebih ramah daripada kamu!" maki gadis itu. "Sok keren!"

"Padahal gak semua tahu kalau kamu punya rahasia yang—"

Andrea menurunkan tangannya, membungkan mulutnya sendiri. Kekesalannya menguap, digantikan oleh adrenalin keberanian.

Kyrran bergeming, tapi Andrea tahu cowok itu mendengarkan.

"Kalau kamu mau rahasia itu tetap aman, kita bisa kerja sama. Aku tutup mulut soal apa yang aku lihat di belakang lab kemarin, dan kamu bantu aku ketemu Kepala Sekolah sekarang. Simpel, kan?"

Akhirnya, Kyrran berbalik perlahan. Wajah datarnya tak menunjukkan emosi, namun sorot matanya berkilat berbahaya. Ia memindai Andrea, mencoba mengukur seberapa besar gertakan gadis itu.

"Apa mau kamu sebenarnya? Katanya mau tutup mulut?" sinis Kyrran.

"Sudah kukatakan. Bawa aku ke Kepala Sekolah. Aku punya berita besar yang harus disampaikan," tegas Andrea.

"Dan kenapa aku harus peduli dengan berita kamu?" Kyrran memicing.

Andrea mendengus pelan, lalu merogoh saku roknya. Ia mengeluarkan ponselnya, menyalakan layarnya. "Karena kalau berita ini nggak sampai ke Kepala Sekolah, berita lain tentang Ketua OSIS yang 'suci' sedang melanggar aturan berat akan menyebar di mading sekolah besok pagi."

Andrea mengarahkan layar ponselnya ke wajah Kyrran. Di sana, terpampang jelas foto dari Andrea siluet dirinya di sudut lab yang gelap, dengan ujung rokok yang menyala terang di bibirnya. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi jaket olahraga OSIS dengan inisial nama Kyrran di punggungnya tak bisa dibantah.

Rahang Kyrran mengeras seketika. Urat di pelipisnya berdenyut. Tatapannya beralih dari ponsel ke mata Andrea, tajam dan menusuk. Andrea bisa merasakan aura intimidasi yang pekat menguar dari tubuh cowok itu.

Belum sempat Andrea bereaksi, Kyrran bergerak secepat kilat.

Bruk!

Andrea tersentak kaget ketika tubuhnya didorong kasar ke pojokan kelas, punggungnya membentur dinding dengan keras. Kyrran mengurungnya dengan kedua tangan yang menumpu pada dinding di sisi kepalanya. Wajah cowok itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, napasnya yang memburu terasa di kulit Andrea.

Dengan satu gerakan cepat, Kyrran merebut ponsel dari tangan Andrea yang masih syok.

"Ap-apaan?!" seru Andrea panik, mencoba merebut kembali ponselnya.

Kyrran tidak menjawab. Ia mengabaikan protes Andrea dan dengan tenang membuka aplikasi kamera di ponsel gadis itu. Ia mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua yang sangat dekat, seolah ingin mengambil foto selfie.

Andrea mengerutkan kening bingung. Ngapain sih?

Namun, sebelum Andrea bisa mencerna situasi, Kyrran melakukan hal yang tak terduga. Ia menarik tengkuk Andrea, memaksa wajah gadis itu menempel pada wajahnya. Dan kemudian, Kyrran menekankan bibirnya ke bibir Andrea, memberikan ciuman yang kasar dan penuh paksaan.

Cekrek!

Suara shutter kamera ponsel terdengar tajam di tengah keheningan kelas.

Andrea membeku, otaknya seolah berhenti berfungsi. Ia tidak percaya Kyrran baru saja menciumnya. Dan yang lebih mengerikan, Kyrran telah mengabadikan momen itu dalam sebuah foto.

Kyrran melepaskan ciumannya, lalu menurunkan ponselnya. Ia menunjukkan hasil foto itu pada Andrea, sebuah foto selfie yang mengerikan, "Bukti yang ini? Silakan," katanya datar, suaranya sedingin es.

Andrea terdiam, bibirnya kelu. Ia tidak menyangka Kyrran akan melakukan tindakan nekat seperti ini. Tatapan dingin dan jarak yang sangat dekat dengan cowok itu membuatnya sulit berpikir jernih. 

Di tangannya, Kyrran memegang kunci kebebasannya, sekaligus ancaman baru yang tak kalah mengerikan. Cowok itu melengang jalan sebelum setetes air matanya jatuh.

"Brengsek!"

Itu ciuman pertamanya!

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Ketos Galak   Bab 108. Kyrran, Pelan-pelan

    Mulanya Andrea singgah sebentar di toko buku agar tidak kelihatan turun bersama Kyrran di sekolah dari mobil yang sama. Bisa disekap lagi dia oleh grup Kyrran’s Guardian Angels kalau sampai foto mereka bersama tersebar di akun gosip sekolah. Sementara dia ingin mengusut grup itu lebih dalam. Mau memesan ojek atau taksi online pun membuatnya sedikit trauma dengan kejadian semalam. Sehingga dia menghubungi Derby untuk menjemputnya. "Bisa, Der?" tanya Andrea. Derby menjawab dari seberang telepon. "Bisa, Andrea. Tapi aku mau ketemu ketua klub teknologi dulu, untuk bahas pengunduran diri dari klub." "Kamu benaran mau kembali jadi pemain rugbi?" "Ya, begitulah." "Okay, kamu urus dulu. Aku bisa menunggu." Andrea menoleh kanan kiri kemudian mematuk tatapan pada area stationery. "Aku sekalian mau keliling sebentar." "Oke" Ketika telepon berakhir, Andrea membawa langkahnya yang pelan dan agak pincang ke area tersebut. Manik kecokelatan gadis itu langsung tertarik pada

  • Jerat Ketos Galak   Bab 107. Mengkhawatirkan Andrea

    "Ada apa lagi, Mama?" Kyrran berucap datar. Lantas tubuh seratus delapan puluh dua senti itu berbalik pelan. Mama Drassha berjalan menghampiri dengan senyum lembut. Tak jauh di belakang, Papa Adriell menyusul sambil membawa tiga paper bag. Dua berwarna hitam dan satunya berwarna putih gading. Begitu sampai di depan Kyrran, Mama Drassha langsung mengangkat tangan dan meraih pipi cowok itu dengan lembut. "Semangat ya sayang untuk pertandingan basket weekend ini," ucapnya hangat. "Jangan lupa kirim foto kamu untuk mama dan papa." Setelah itu jemari Mama Drassha menyapu pelan rambut hitam legam Kyrran yang sedikit berantakan karena angin. Mama Drassha merapikannya seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan sejak Kyrran kecil. Cowok itu langsung mengalihkan tatapan ke samping dengan mimik datar. Namun telinganya samar memerah. Mama Drassha mengulas senyum melihat reaksi Kyrran, lalu menoleh sekilas pada Papa Adriell. Pria itu menyerahkan ketiga paper bag tadi, lalu Mama Drassha

  • Jerat Ketos Galak   Bab 106. Muak dengan Kebohongan

    Setelah sarapan selesai, Andrea dan Kyrran diantar oleh Papa Adriell dan Mama Drassha untuk kembali ke Alveroz High. Kedua remaja itu duduk berdampingan di jok belakang. Kyrran melirik keluar jendela kaca mobil. Langit abu menggantung pucat di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari hanya muncul samar seperti tertahan lapisan awan tebal. Meski begitu, jalanan pusat kota sudah ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan coat panjang dan gelas kopi hangat di tangan mereka. Daun-daun maple merah keemasan bergulir pelan di trotoar—tertiup angin akhir musim gugur, sementara sisa gerimis pagi meninggalkan pantulan tipis di aspal hitam. Mobil yang dikemudikan Papa Adriell meluncur melewati deretan kafe kaca dan persimpangan sibuk dengan lampu lalu lintas yang berganti warna perlahan. Semua terasa hidup, dunia berjalan seperti biasa. Tetapi bagi Kyrran, setiap waktu bagai hitungan mundur un

  • Jerat Ketos Galak   Bab 105. Sudut Pandang Papa Kyrran

    Sedikit sudut pandang dari Adriell, papa Kyrran. Dari kelima anaknya, memang Kyrran yang paling penurut dan tidak neko-neko sampai putranya itu memutuskan berhenti homeschooling dan masuk ke jenjang SMA. Melihat Kyrran yang sekarang mengingatkan Adriell pada dirinya dulu sewaktu sekolah. Pembangkang, emosian, keras kepala, egois dan bertingkah macam berandalan. Di Alveroz High memang julukannya sebagai Genius Badboy waktu itu. Anak pertamanya Jergar dan anak bungsunya Lysander lebih mirip sifatnya dengan sang istri. Kalau anak keduanya yang bernama Isaac punya sifat seperti Adriell tapi playboy. Anak keempatnya, kembaran Kyrran—Karryne aka Noela—sifatnya menyerap seimbang dari Adriell dan Drassha. Menyaksikan Kyrran membawa seorang gadis menginap di kamarnya, membuat Adriell benar-benar melihat salinan dirinya. Dulu, Drassha juga pernah ada situasi dalam bahaya dan dikejar oleh orang-orang yang mau membunuh sang istri k

  • Jerat Ketos Galak   Bab 104. Just Kiss Me, Andrea

    Pandangan Andrea terangkat, tatapan tajam Kyrran menyambutnya. Rahang cowok itu mengeras dan bola matanya berkilat penuh amarah, seperti mengobarkan api. Andrea sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Sejak menggendongnya tadi, Kyrran memang sudah tampak kesal. Jemari gadis itu mencengkeram ujung handuknya erat-erat agar tidak melorot dan jantung Andrea berdetak tak karuan karena melihat ekspresi cowok di hadapannya."Aku mau merokok sekarang," ucap Kyrran dengan napasnya yang berat, seolah menahan emosi. Andrea mengulum bibirnya sebelum menimpali, "merokok saja, gak ada yang larang, kenapa kamu malah ke sini?""Ini kamarku dan aku gak mungkin merokok di sini. Kamu tau mama papaku ada di bawah. Tadi aku sudah mendapatkan omelan.""Kalau begitu tunggu sampai mereka pergi," saran Andrea. "I can’t!" bentak Kyrran, cengkeraman di pundak polos Andrea makin kuat. Gadis itu sampai meringis. "Let me kiss you," ucap Kyr

  • Jerat Ketos Galak   Bab 103. Kesal

    "Kenapa papa diam?" cecar Kyrran dengan nadanya yang seolah menyindir. Papa Adriell menghela napas sambil menukik alisnya singkat. "Papa tidak diam, cuma pusing dengan tingkahmu.""Daripada memikirkan masalahku, kenapa papa tidak coba mengapresiasi aku yang sudah memecahkan rekor papa sebagai basket player Alveroz High?""Apa papa tau weekend ini aku ada pertandingan basket?""Tau," jawab Papa Adriell. Kyrran bersandar santai kemudian menyilangkan lengannya. Tatapannya sedikit menyipit. "Oh ya? TapiPapa dan Mama tidak pernah hadir di pertandinganku.""Bukan begitu, Kyrran. Mama dan Papa—" ucapan Papa Adriell terpotong oleh suara bel. TING. Kyrran melirik tajam pada papanya kemudian beranjak dari sofa dengan gerakan kasar dan melangkah menuju pintu utama. Seorang wanita berpenampilan formal berdiri di balik pintu dengan senyum sopan. Itu Olivia, asisten pribadi mama Kyrran. Rambutnya disanggul

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status