ログインSetelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.
Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu. "Kyrran," kata Andrea. Cowok jenius berwajah datar dan dingin itu melirik tajam. Dia tidak menjawab, hanya menatap Andrea penuh selidik. "Boleh ngobrol sebentar gak?" tanya Andrea dengan nada yang santai. Dia berhenti tepat di hadapan cowok tinggi itu. Alis Kyrran menukik. Tatapannya turun semakin tajam. "Aku butuh wawancara dengan Kepala Sekolah, aku mau minta bantuan kamu supaya bawa aku ketemu pak kepsek," urai Andrea. "Lalu?" katanya datar. "Karena kamu ketua OSIS, kamu punya hak menghubungi dan ketemu sama Kepala Sekolah secara bebas." Kyrran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku memang ketua OSIS, tapi bukan berarti aku itu kurir yang mengantar pembuat berita skandal untuk menemui penanggung jawab tertinggi di sekolah ini." Ucapan ketos iblis itu begitu menusuk. Andrea sampai tersentak sepersekian detik. "Siapa yang bilang kamu kurir?" "Gak nyebut tapi permintaan kamu menunjukkan aku sama seperti kurir." Kyrran maju selangkah. Andrea menahan napas ketika menyadari jarak di antara mereka menipis. Iris kecokelatannya otomatis naik, memandang wajah dingin Kyrran yang sedikit menunduk. Belum sempat Andrea menimpali, cowok itu sudah bersuara lagi. "Kamu anak klub jurnalistik yang terkenal selalu membongkar skandal, harusnya kamu pakai kemampuan kamu sendiri untuk ketemu Kepala Sekolah." "Kali ini beda, makanya aku mau minta bantuan kamu. Aku udah ke kantor kepsek tadi, tapi sekretarisnya bilang pak kepsek gak bisa ditemui. Dia malah suruh aku buat permohonan melalui email dan menunggu penyampaian untuk klub aku. Dan, itu makan waktu." "Gak peduli," tukas Kyrran. Cowok itu meluruskan punggung, "Buang-buang waktu," sambungnya, kemudian melangkah melewati Andrea. Sementara itu, Andrea terdiam di tempatnya. Pipi gadis itu menggembung sedikit dengan bibirnya yang mengatup rapat. Matanya menusuk tajam pada punggung Kyrran yang menuju pintu keluar kelas. Lantas kedua kepalan tangannya terangkat, meninju udara ke arah cowok itu. "Dasar nggak punya hati!" "Robot pelayanan di lobi sekolah aja lebih ramah daripada kamu!" maki gadis itu. "Sok keren!" "Padahal gak semua tahu kalau kamu punya rahasia yang—" Andrea menurunkan tangannya, membungkan mulutnya sendiri. Kekesalannya menguap, digantikan oleh adrenalin keberanian. Kyrran bergeming, tapi Andrea tahu cowok itu mendengarkan. "Kalau kamu mau rahasia itu tetap aman, kita bisa kerja sama. Aku tutup mulut soal apa yang aku lihat di belakang lab kemarin, dan kamu bantu aku ketemu Kepala Sekolah sekarang. Simpel, kan?" Akhirnya, Kyrran berbalik perlahan. Wajah datarnya tak menunjukkan emosi, namun sorot matanya berkilat berbahaya. Ia memindai Andrea, mencoba mengukur seberapa besar gertakan gadis itu. "Apa mau kamu sebenarnya? Katanya mau tutup mulut?" sinis Kyrran. "Sudah kukatakan. Bawa aku ke Kepala Sekolah. Aku punya berita besar yang harus disampaikan," tegas Andrea. "Dan kenapa aku harus peduli dengan berita kamu?" Kyrran memicing. Andrea mendengus pelan, lalu merogoh saku roknya. Ia mengeluarkan ponselnya, menyalakan layarnya. "Karena kalau berita ini nggak sampai ke Kepala Sekolah, berita lain tentang Ketua OSIS yang 'suci' sedang melanggar aturan berat akan menyebar di mading sekolah besok pagi." Andrea mengarahkan layar ponselnya ke wajah Kyrran. Di sana, terpampang jelas foto dari Andrea siluet dirinya di sudut lab yang gelap, dengan ujung rokok yang menyala terang di bibirnya. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi jaket olahraga OSIS dengan inisial nama Kyrran di punggungnya tak bisa dibantah. Rahang Kyrran mengeras seketika. Urat di pelipisnya berdenyut. Tatapannya beralih dari ponsel ke mata Andrea, tajam dan menusuk. Andrea bisa merasakan aura intimidasi yang pekat menguar dari tubuh cowok itu. Belum sempat Andrea bereaksi, Kyrran bergerak secepat kilat. Bruk! Andrea tersentak kaget ketika tubuhnya didorong kasar ke pojokan kelas, punggungnya membentur dinding dengan keras. Kyrran mengurungnya dengan kedua tangan yang menumpu pada dinding di sisi kepalanya. Wajah cowok itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, napasnya yang memburu terasa di kulit Andrea. Dengan satu gerakan cepat, Kyrran merebut ponsel dari tangan Andrea yang masih syok. "Ap-apaan?!" seru Andrea panik, mencoba merebut kembali ponselnya. Kyrran tidak menjawab. Ia mengabaikan protes Andrea dan dengan tenang membuka aplikasi kamera di ponsel gadis itu. Ia mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua yang sangat dekat, seolah ingin mengambil foto selfie. Andrea mengerutkan kening bingung. Ngapain sih? Namun, sebelum Andrea bisa mencerna situasi, Kyrran melakukan hal yang tak terduga. Ia menarik tengkuk Andrea, memaksa wajah gadis itu menempel pada wajahnya. Dan kemudian, Kyrran menekankan bibirnya ke bibir Andrea, memberikan ciuman yang kasar dan penuh paksaan. Cekrek! Suara shutter kamera ponsel terdengar tajam di tengah keheningan kelas. Andrea membeku, otaknya seolah berhenti berfungsi. Ia tidak percaya Kyrran baru saja menciumnya. Dan yang lebih mengerikan, Kyrran telah mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Kyrran melepaskan ciumannya, lalu menurunkan ponselnya. Ia menunjukkan hasil foto itu pada Andrea, sebuah foto selfie yang mengerikan, "Bukti yang ini? Silakan," katanya datar, suaranya sedingin es. Andrea terdiam, bibirnya kelu. Ia tidak menyangka Kyrran akan melakukan tindakan nekat seperti ini. Tatapan dingin dan jarak yang sangat dekat dengan cowok itu membuatnya sulit berpikir jernih. Di tangannya, Kyrran memegang kunci kebebasannya, sekaligus ancaman baru yang tak kalah mengerikan. Cowok itu melengang jalan sebelum setetes air matanya jatuh. "Brengsek!" Itu ciuman pertamanya!"Kenapa kau mengumpulkan kami di sini, Ran?" tanya Jeremy, memecah keheningan begitu memasuki bengkel klub otomotif yang berada di bagian belakang sekolah, terpisah cukup jauh dari gedung utama. Biasanya hanya anggota klub otomotif yang datang ke sana setelah jam pelajaran berakhir.Hari itu suasananya jauh lebih sepi dari biasanya. Pintu rolling setengah tertutup, mesin-mesin praktik berjajar di sudut ruangan.Rasya yang baru datang meletakkan tasnya ke atas meja kerja. "Aku juga penasaran."Davin ikut mengangguk. "Biasanya kalau meeting mendadak begini pasti ada misi ya."Derby dan Vanko berdiri bersebelahan di dekat rak perkakas sambil melipat kedua tangan di dada. Keduanya saling melirik, seolah tahu tujuan Kyrran mengumpulkan mereka.Sementara itu, Kyrran duduk di atas kap mobil proyek milik klub dengan wajah datar tanpa senyum dan itu membuat semua orang mulai merasa tidak nyaman.Kyrran kemudian mengembuskan napas panjang.
Berkat bantuan Noela, Kyrran akhirnya berhasil keluar dari asrama putri tanpa ketahuan.Mereka menyelinap melalui koridor belakang yang jarang dilewati siswa, turun menggunakan tangga darurat, lalu keluar melalui pintu samping gedung yang mengarah ke taman belakang sekolah.Begitu memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, Noela mengembuskan napas lega.Gadis berambut sebahu itu berbalik tajam, menghadap Kyrran. "Sekarang hapus fotonya!" ujar Noela tajam.Kyrran terkekeh kecil, lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Noela. "Ini, hapus sendiri."Noela menyipit curiga sebelum menarik benda pipih hitam itu dari tangan Kyrran. Noela berkutat dengan ponsel tersebut sesaat, mengirim foto ciumannya dengan Derby ke ponselnya sendiri, lalu menghapusnya di ponsel Kyrran."Kau gak simpan cadangannya, kan?" tanya Noela, nadanya waspada."Gak ada," kata Kyrran mengambil kembali ponselnya."Oke." Noela hendak ber
Kalau sampai ketahuan ada siswa laki-laki di asrama putri saat subuh, bukan hanya Kyrran yang akan mendapat masalah. Tetapi Andrea kekasihnya juga akan terseret.Kyrran bergerak cepat ke belakang pintu. "Sayang, sini," panggil cowok itu.Andrea langsung mengikuti dengan pandangan panik. "Kamu mau ngapain?""Kamu mending ngumpet dulu di lemari," sambung Andrea menyarankan."Bisa ketahuan kalau di situ, Sayang.""Di situ malah lebih jelas, Kyrran.""Sayang, ini bukan saat yang tepat untuk debat.""Kyrran—""Dengerin dulu, Sayang." Cowok itu meraih kedua bahu Andrea sebentar. Tatapannya dalam dan serius, seolah ingin memberikan pengertian pada kekasihnya itu."Kamu alihkan perhatian pengawasnya. Begitu Miss siapa pun itu masuk, bikin dia fokus ke kamu," urai Kyrran tenang.Andrea mengerjap pelan. "Drama seperti biasa ya."Kyrran mengangguk, lalu mengusap pucuk kepala kekasihnya itu. "Tepa
"Yakin mau aku keluarkan?" ucap Kyrran dengan suara dalam yang sedikit serak.Andrea mengangguk pelan. "Hmm."Kyrran kemudian mengalihkan wajahnya ke sebelah wajah Andrea, bibirnya menyapu daun telinga gadis itu. Dia kemudian berbisik. "Itu bukan handphoneku, Sayang."Andrea menoleh, ujung hidung gadis itu menempel samar di pipi Kyrran. "Terus apa? Kenapa keras? Aku juga pernah merasakannya waktu di rumah kamu waktu Thanksgiving Break." cecar Andrea penasaran."Kamu pernah melihatnya…" bisik Kyrran lagi. "Waktu kamu gak sengaja narik handuk aku pas pertama kali kamu menyusup ke kamarku…""Oh... itu... emm... tapi kok bisa jadi keras?"Kyrran tersenyum tipis. "Karena ada kamu."Wajah Andrea langsung memanas. Gadis itu mengulum bibirnya rapat-rapat menahan malu.Kyrran terkekeh kecil, lalu kembali menatap manik hazel Andrea lekat-lekat. Sementara itu Andrea semakin melingkarkan lengannya ke leher Kyrran.Cowoknya itu kemudian meraup bibir Andrea lagi dan melumatnya penuh perasaan."Aku
"Kyrran?" gumam Andrea, suaranya bergetar tak menyangka. Tanpa membuang waktu, gadis itu memutar kunci, lalu menggeser pintu kaca balkonnya lebih lebar. Udara malam menerpa wajah Andrea ketika dia melangkah keluar. Jantung Andrea sendiri berdegup begitu kencang hingga hampir menyakitkan. Langkah gadis itu berhenti sekitar dua meter di belakang sosok tinggi yang berdiri memunggunginya itu. "Kyrran…" panggilnya, suaranya pecah. Cowok itu perlahan berbalik dan tampak wajahnya dihiasi senyum tipis khas yang Andrea sangat kenali. "Hai, Sayangku." Suara dalam yang selalu menggetarkan dadanya akhirnya terdengar lagi. Andrea membeku di tempatnya. Ia tidak bermimpi ataupun berhalusinasi karena terlalu merindukan seseorang. Itu benar-benar Kyrran. Kaca-kaca langsung memenuhi manik matanya. Tanpa berpikir panjang, Andrea berlari menghampiri lalu membenamkan dirinya ke dada bidang Kyrran. Pelukannya begitu erat, seolah takut Kyrran akan menghilang jika dia melepaskannya. "Ini beneran kam
Sudah tiga hari berlalu dan Andrea belum juga bisa bertemu dengan Kyrran. Informasi yang diterimanya selalu sama. Kyrran baik-baik saja. Kyrran masih menjalani perawatan dan membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisinya.Awalnya Andrea berusaha mempercayai semua itu. Bagaimanapun juga, papa dan mama Kyrran sendiri yang mengatakannya.Tetapi semakin hari, rasanya banyak hal yang janggal. Kalau Kyrran memang baik-baik saja, setidaknya dia bisa menghubunginya, bukan?Mungkin melalui pesan, panggilan telepon atau sekadar video call selama beberapa menit.Andrea bahkan tidak akan memaksanya berbicara lama. Dia hanya ingin melihat wajah pacarnya. Memastikan sendiri bahwa Kyrran benar-benar baik-baik saja.Namun sampai detik ini…Tidak ada satu pun pesan, panggilan atau video ca dari Kyrran. Bahkan pesan terakhir Andrea hanya berakhir dengan tanda terkirim."Rea?"Suara di sampingnya membuat gadis itu tersadar dari lam
'Jangan… jangan di depan Andrea.' Kyrran membatin frustasi.Tiba-tiba saja dengung di kepalanya muncul lagi dan terasa menyengat. Pandangan Andrea di depan matanya sedikit bergoyang. Dalam waktu singkat dia mendaratkan dahinya ke pundak Andrea. "Kyrran, kamu kenapa!?" sahut gad
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







