MasukApa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi.
Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan, kemudian berjalan pintu kamar seraya menjawab Noela. Setelah Andrea membuka pintu, Noela langsung melenggang masuk ke dalam kamar dengan wajah berseri-seri. "Ada apa?" tanya Andrea. Gadis itu bergerak ke lemarinya mengambil pakaian sembari menata napasnya yang sempat panik. Sementara itu Noela duduk di kursi belajar Andrea, memeluk sandaran kursi. "Kamu tau Tyler?! Aku tadi ngobrol sama dia!" Gadis berambut pendek sebahu itu tersenyum lebar, memamerkan jejeran giginya yang rapi. Kedua tangan Noela kemudian pindah memeluk tubuhnya sendiri dengan gemas. "Hari ini juga hari pertama aku ngobrol lebih panjang sama dia, gak cuma say hi doang kayak yang lalu-lalu." "Oh. selamat, ya." Andrea mendekat dan menyikut lembut pundak sahabatnya "Oh iya, kamu dipanggil kenapa sama dewan kedisiplinan tadi?" tanya Noela penasaran. Andrea menekuk wajahnya. Sesekali mengintip arah lemari. "Berita-berita aku yang dimuat isinya skandal semua, makanya aktivitas aku di klub jurnalistik dibatasi, aku sampai gak ikut field trip tadi sore karena harus membersihkan lab biologi." Noela lalu beranjak dari kursinya dan berdiri di belakang Andrea lalu mengangkat kedua tangannya memijat pundak sahabatnya. "Gapapa masih ada aku." Andrea menurunkan tangan Noela dari pundaknya. "Kamu mandi dulu sana, bentar lagi jam makan malam bersama. Kamu gak mau dapat hukuman kalau telat, kan?" Setelah memastikan Noela keluar, Andrea buru-buru menggeser pintu balkon lagi dan Kyrran masih ada di sana, bersandar di tepi balkon. Andrea melipat tangan di dada. Dia menggeleng sambil mengernyit singkat. "Belum pergi juga? Hari ini ada jadwal makan malam bersama, lho. Gak takut dicariin penjaga asrama?" Kyrran meluruskan punggung, mendekat ke Andrea. Tatapannya turun tajam. "Aku masih mau memastikan kalau kamu beneran tutup mulut soal tadi sore." Andrea mendengus kasar, lalu menatap malas ke arah Kyrran untuk beberapa detik. "Ya." Puas dengan jawaban itu, Kyrran berbalik menjauh. Satu kakinya terangkat halus melewati pembatas balkon. "Oke." *** Keesokan harinya, Andrea mendatangi kantor kepala sekolah yang ada di lantai dua gedung utama Alveroz High. Gadis cantik itu mengenakan seragam rapi dengan lencana kecil klub jurnalistik yang terpasang di dada blazernya. Di tangan Andrea ada buku catatan dan hape yang sudah siap merekam wawancara. Langkah sepatunya berhenti di depan meja resepsionis yang terbuat dari kayu mengilap. Dia menoleh sebentar pada pintu besar bertuliskan Headmaster dengan pelat logam berkilau sebelum menatap sekretaris kepala sekolah di balik meja. "Permisi, Miss," kata Andrea dengan senyum manis. Wanita itu mengetik sesuatu di komputer sebelum mengangkat pandangannya pada Andrea. "Ya, Andrea, kamu ada perlu apa?" "Saya mau mengajukan wawancara singkat dengan Kepala Sekolah, Miss." Miss Tania menatapnya sebentar, lalu menggeser mouse dan melirik jadwal di layar komputer. Jemarinya berhenti beberapa detik seolah mempertimbangkan sesuatu. "Apa kamu sudah membuat janji sebelumnya?" tanyanya dengan nada formal dan sedikit judes. Andrea menggeleng pelan. "Belum, Miss, tapi ini cuma wawancara singkat. Jadi gak akan lama." Sekretaris cantik itu menarik napas kecil. "Maaf, Andrea, Kepala Sekolah sedang tidak bisa ditemui hari ini." Andrea sedikit terdiam. Jari-jarinya tanpa sadar menekan ujung buku catatan di tangannya. Manik kecokelatannya melirik ka arah pintu ruangan Kepala Sekolah. Haruskah dia menerobos masuk? Tapi jika dia melakukan hal itu, pasti dia akan dipanggil ke dewan kedisiplinan lagi dan diberi hukuman. "Kalau begitu saya tunggu sampai urusan pak kepsek selesai ya, Miss." Dia menatap sebentar ke arah bangku tunggu di sisi ruangan. Miss Tania melengkungkan senyum kaku sembari menarik napas dalam-dalam. "Kalau kamu mau wawancara, silakan kirim permohonan resmi melalui email. Miss akan menghubungi klub kamu jika ada waktu yang tersedia." Andrea akhirnya keluar dari kantor Kepala Sekolah dengan helaan napas berat. "Pakai kirim permohonan dan penyampaiannya ke klub makan waktu. Lagipula anak-anak klub juga gak boleh tahu dulu kalau aku punya berita skandal terhot," gerutunya. Dia kemudian melangkah ke lokernya untuk mengambil tas. Saat berbalik, matanya bertumpu dengan Kyrran. Cowok itu tampil rapi seperti biasa. Andrea tersenyum tipis. Seorang ketua OSIS punya hak khusus untuk menghubungi dan bertemu Kepala Sekolah kapan dan di mana saja. Dan, Andrea mengantongi rahasia Kyrran. Kilatan mata gadis itu seperti memancarkan kembang api karena Kyrran solusi masalahnya kali ini. "Tutup mulut bukan tutup mulut kalau tidak ada imbalan, kan?" gumam Andrea, menyeringai tipis."Baby Ran, bagaimana kalau kita tidak bisa keluar?" Andrea tersengal-sengal. "Sepertinya ini bagian labirin yang paling dalam." Kyrran menyunggingkan senyum, lalu mengusap punggung tangan Andrea dengan ibu jarinya. "Jangan khawatir, Sayang. Aku tahu jalur keluarnya, kalaupun kita tersesat, kita manjat saja." Andrea menghela napas dengan lengkungan senyum di bibir ranumnya. Ia mengangkat satu tangan dan memukul lengan kekar Kyrran. "Dasar! Aku serius, Baby Ran!" Kyrran membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Andrea, hingga tatapan mereka sejajar. "Aku juga serius, Sayang. Aku memang tahu jalan keluarnya." Kyrran kemudian menegakkan punggung dan berdiri di sebelah Andrea sembari menggenggam tangan mungil kekasihnya itu. "Ingatanku tetang tempat ini sudah kembali," sahut Kyrran. Suaranya rendah. Andrea mendongak ke samping, menatap profil samping cowoknya itu. "Ingatan masa kecil kamu ya, Sayang?" Kyrran menoleh lalu mengangguk tipis. "Hm." "Dulu tiap datang ke Alveroz
"Kalau begitu, aku juga seharusnya mendapatkan restu Papa, kan?"Semua orang menoleh serentak ke sumber suara.Karryne Xaonela Yoseviano ala Noela—kembaran Kyrran—berdiri di sana dengan kedua tangan terkepal lembut di kedua sisi tubuhnya. Ia baru juga tiba di Alveroz Estate. Tiga saudara laki-lakinya—Jergar, Isaac dan Lysander—menyusul masuk."Selama malam semuanya," sapa Noela ceria. Ia mengangguk hormat pada yang lebih tua.Gadis itu kemudian melangkah masuk, berhenti di samping Papa Adriell."Papa, bagaimana? Aku juga sudah cukup dewasa untuk mendapatkan restu, bukan?"Papa Adriell memijat pelipisnya. "Noela, jangan mulai."Noela merengek dramatis di sebelah papanya. "Tapi Kyrran bisa, kenapa aku yang kembarannya gak boleh pacaran."Lysander si bungsu yang sudah berada di pangkuan Opa Riovandra, menyahut. "Kakak El jangan syedih, aku juga tidak dikasih izin sama papa pacal-pacalan."Ruangan itu langs
Andrea menangis tersedu-sedu saat Anastasia ibunya menceritakan kebenaran tentang Ryuji Shimano—ayah Andrea. Gadis itu duduk berdampingan dengan sang ibu di sofa, menggenggam tangannya erat-erat.Ayah Andrea memang telah tiada karena ditembak oleh rekannya yang berkhianat—saat misi penyelamatan di lokasi penculikan dan eksperimen anak lima belas tahun silam.Anastasia juga memberitahu Andrea alasannya memalsukan kematian selama ini. Bahwa ia ingin balas dendam dan tidak ingin Andrea dengan Kakek Dedrick terlibat.Di sisi lain, Kyrran duduk diam di antara Mama Drassha dan Papa Adriel. Sejak ingatan masa kecilnya kembali, cowok itu belum banyak berbicara. Tatapannya sesekali menerawang, seolah masih berusaha menyusun seluruh kejadian yang selama ini terkubur dalam benaknya.Mama Drassha menggenggam tangan Kyrran, sementara Papa Adriel menepuk bahunya dengan lembut.Sementara itu, Anastasia beranjak dari sofa setelah menenangkan Andrea. Ia menghampiri Kyrran, berdiri di hadapan lelaki m
Bibir Andrea terbuka sedikit. Napasnya bergetar ketika ia akhirnya berhasil mengeluarkan suara, begitu lirih hingga nyaris tenggelam di antara percakapan yang perlahan berhenti."I-bu…?"Satu kata itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Andrea mengambil langkah pertama, lalu kedua dan ketiga pelan-pelan, seolah masih membutuhkan waktu untuk meresapi bahwa sosok di hadapannya itu nyata.Air mata Andrea jatuh kala wanita itu bangkit dari sofa dan membentangkan tangan."Rea, my sweetheart."Mendengar panggilan itu, membuat langkah Andrea yang semula ragu perlahan berubah cepat, hingga akhirnya ia berlari kecil menghampiri wanita tersebut.Begitu berada dalam jangkauannya, Andrea menghambur ke pelukan itu."Ibu!"Kedua tangan Andrea melingkar erat di tubuh wanita itu, seolah takut jika ia mengendurkan pelukannya sedikit saja, sosok yang selama ini ia rindukan akan kembali menghilang. Wajah Andrea tenggelam di ba
Suara baling-baling helikopter perlahan mereda setelah kendaraan udara itu mendarat di helipad Alveroz Estate. Angin yang dihasilkan baling-baling sempat menerbangkan beberapa helai rambut Andrea ketika ia turun bersama Kyrran. Setelah memastikan barang-barang mereka dibawa oleh staf, keduanya segera menuju buggy car yang telah menunggu di dekat helipad.Perjalanan menuju mansion utama hanya memakan waktu beberapa menit. Namun, sepanjang perjalanan itu, Andrea terus menggenggam tangan Kyrran, seolah enggan melepaskannya bahkan untuk sesaat.Kyrran melirik kekasihnya itu. Jemari mereka saling bertaut di atas pangkuan Andrea. Ibu jari cowok itu sesekali mengusap punggung tangan Andrea dengan lembut."Masih gugup, Sayang?" tanya Kyrran. Suaranya begitu lembut.Andrea menoleh, lalu mengangguk kecil. "Kamu sendiri?""Lumayan," jawab Kyrran.Andrea mengangkat alis. "Tumben mengaku.""Memangnya aku harus pura-pura berani di depan calon istriku sendiri?" desis Kyrran manja.Pipi Andrea seketi
Perlahan-lahan, Kyrran kemudian menurunkan wajahnya, mendekat ke wajah Andrea. Napas mereka mulai bercampur dan tersisa sepersekian inci lagi bibir mereka bersentuhan, tetapi— Drrrttt! Drrrttt! Suara getaran ponsel mendadak memecah suasana romantis mereka. Keduanya spontan membeku. Andrea yang memejamkan mata, membukanya cepat, sedangkan Kyrran perlahan mengangkat kepalanya. Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum Kyrran segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, ekspresinya berubah. "Mama, Sayang." "Kalau begitu, angkat dulu," kata Andrea. Kyrran mengangguk pasrah. "Hm, tunggu ya, Sayang." Ia mengusap layar ponselnya, lalu mengaktifkan pengeras suara agar Andrea bisa ikut mendengar percakapan mereka. "Halo, Mama," ujar Kyrran. "Halo, Kyrran Sayang." Suara Mama Drassha terdengar dari seberang. "Kamu bilang mau menghabiskan liburan Thanksgiving di rumah Opa, tapi Mama malah mendengar kabar kalau k
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan







