เข้าสู่ระบบMalam itu, Alveroz High begitu sunyi. Sebagian besar lampu asrama sudah padam, menyisakan beberapa jendela yang masih memancarkan cahaya hangat. Angin malam berembus pelan membawa aroma rumput basah dari taman sekolah.Andrea berada dalam kamar Kyrran di asrama putra. Seperti biasanya, gadis itu akan berpakaian seperti cowok agar bisa menyusup masuk.Dua remaja itu sedang membereskan akuarium ubur-ubur milik Kyrran yang bercahaya lembut memantulkan warna keunguan ke seluruh ruangan.Mereka mengganti air, embersihkan kaca dan memastikan sistem filternya bekerja dengan baik. Sesekali mereka saling menyiram air tanpa sengaja lalu berdebat soal siapa yang memulai lebih dulu.Untuk beberapa saat, masalah operasi, rumah sakit dan semua ketakutan mereka seakan menghilang. Yang ada hanya mereka berdua dan rutinitas kecil keduanya.Mereka selesai membersihkan akuarium bundar itu setelah satu jam lebih.Kyrran kemudian mematikan lampu utama kamarnya, menjadikan ruangan langsung menjadi gelap. N
"Kamu masih marah?" tanya Kyrran, menatap profil samping Andrea.Gadis itu tetap diam, lalu lanjut menggerakkan ujung kuasnya ke kanvas. Kyrran menghela napas, menarik kursi di sebelahnya lalu duduk."Aku tahu kamu sengaja menghindar. Tapi apa harus begitu caranya?" keluh Kyrran.Andrea mengulum bibir lalu menaruh kuas di atas meja. "Aku cuma sedang ingin sendiri, Kyrran."Gadis itu akhirnya menoleh dan tatapan mereka bertemu. Mata Andrea masih menyimpan bekas tangisan semalam. Namun kali ini gadis itu tidak menangis.Andrea menyahut, "kalau aku bilang iya, kamu mau berubah pikiran?"Kyrran terdiam. Jujur saja ia masih berpegang pada pendiriannya yang tidak ingin kehilangan ingatan.Andrea menatapnya lekat. "Aku sudah membujuk kamu," ujar gadis itu pelan."Papa mama kamu sudah membujuk kamu. Dua keluarga besar kamu. Noela juga. Darell juga. Sahabat-sahabat kita juga.""Tapi kamu tetap gak mau melakukan operasi itu," sambung Andrea dengan suara lirih.Kyrran menunduk, memejamkan mata s
Pagi berikutnya, Alveroz High kembali dipenuhi hiruk-pikuk seperti biasanya. Suara langkah kaki siswa beradu dengan lantai koridor, pintu kelas terbuka dan tertutup, beberapa guru berjalan tergesa membawa tumpukan buku. Semuanya tampak normal di sekolah elit itu.Hanya Andrea yang merasa harinya jauh dari kata normal. Ya, sejak datang ke sekolah, gadis itu sengaja menghindari Kyrran.Tidak ada alasan lain karena ingin cowoknya itu mau memikirkan kembali keputusan tentang operasi yang jadi jalan kesembuhannya.Maka dari itu, Andrea tidak akan berbicara dengan Kyrran untuk sementara.Sudah terlalu banyak orang yang membujuk Kyrran. Kedua orang tuanya, Noela, Darell, semua keluarganya, para sahabat di geng mereka, bahkan Andrea sendiri sudah memohon kepadanya.Namun Kyrran tetap keras kepala. Cowok itu tidak mau menjalani operasi yang berisiko membuatnya kehilangan seluruh ingatan.Andrea memahami ketakutannya. Tetapi memahami bukan
Andrea perlahan beranjak dari pasir. Kakinya masih terasa lemas setelah terlalu lama duduk di sana, tetapi ia tidak peduli. Pandangannya hanya tertuju pada Kyrran yang mendekat perlahan. Gadis itu juga ikut melangkah ke arah Kyrran hingga mereka sama-sama berhenti di hadapan satu sama lain. Andrea menatap wajah Kyrran dengan mata sembab. Ia mengusap rambut hitam legamnya yang sedikit berantakan karena angin pantai. "Ya, aku sudah dengar semuanya," ucapnya pelan. Kyrran mengembuskan napas panjang, menatap Andrea beberapa lama, lalu tangannya terangkat dan memegang kedua pundak Andrea. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya dengan erat. Andrea langsung membalas. Kedua tangan gadis itu melingkar di punggung Kyrran dengan wajahnya yang tersembunyi di dada bidang cowok itu. Begitu hangat dan nyata. Dan hal itu membuat air mata Andrea kembali mengalir. "Maaf, Rea…" Suara Kyrran terdengar berat di atas kepalanya. "Maaf aku gak bicara lagi sama kamu."
Andrea melewati pintu sebuah kafe dengan bunyi lonceng kecil yang bergemerincing di atasnya. Gadis itu masuk dengan langkah pelan.Sejak menerima telepon dari Darell kakak sepupu Kyrran, pikirannya tidak berhenti berputar. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan cowok itu sampai matanya menemukan sosok yang duduk sendirian di sudut kafe.Darell mengangkat tangan begitu melihatnya."Andrea."Gadis itu menghampiri lalu duduk di kursi berhadapan dengannya. "Ada apa, Darell? Sepertinya kamu mau membicarakan hal yang sangat penting sampai minta bertemu."Darell tidak langsung menjawab. Tatapan cowok itu tampak serius."Ya, memang sangat penting, karena ini mengenai Kyrran."Jantung Andrea langsung berdegup lebih cepat. "Kyrran kenapa? Beberapa hari ini dia ada jadwal kontrol rutin, apa terjadi sesuatu di rumah sakit?"Darell menghela napas. "Tidak terjadi apa-apa, hanya saja hasil pasti dari dokter
Brooooooommmm…Brooooooommmm…Kyrran terus menekan pedal gas lebih dalam dan kencang. Mesin mobil sport miliknya meraung nyaring, memecah keheningan malam di Yoseviano International Circuit—sirkuit pribadi milik keluarga pihak papanya yang terletak di pinggiran kota.Jarum speedometer terus bergerak naik. Angin menghantam bodi mobil dengan keras saat kendaraan itu melesat di lintasan lurus sebelum menikung tajam ke tikungan berikutnya.Kedua tangan Kyrran yang terbalut sarung tangan balap mengunci kemudi erat. Jemarinya menegang di balik material hitam itu, seolah seluruh emosinya tertumpah pada genggaman tersebut.Sudah dua hari sejak kedua orang tuanya memberi tahu soal risiko operasi yang bisa menyembuhkan Kyrran. Dan setiap kali memejamkan mata, ia selalu teringat soal kehilangan ingatan yang akan dialami jika ia menerima melakukan operasi itu.Kenapa bayaran kesembuhannya harus dengan kehilangan semua yang pernah membentuk d
"Gosh! Dia—" Andrea menggigit bibir bawahnya untuk menahan ucapan yang tak seharusnya diungkapkan. Tapi dalam benaknya, ia mendengar secara gamblang. Hot banget, ujarnya dalam hati sambil cengo menatap sosok cowok di sisi kolam dekat matras hitam dan alat latihan calisthenics. Tak lain
"Rea! Aku punya berita penting!" Teriakan heboh Noela membuat Andrea terkejut. Dia tidak mengenakan headphone dan pintu kamarnya memang terbuka lebar, sehingga suara melengking sahabatnya itu langsung menyerang pendengarannya. Andrea menoleh, iris kecokelatannya yang bening beralih dari layar l
Setelah kelas selesai, satu per satu siswa keluar dari kelas. Biasanya, Andrea juara satu siswa yang meninggalkan kelas paling cepat. Tapi, kali ini gadis itu menahan diri.Setelah melihat Kyrran beranjak dari kursi, gadis itu ikut bangkit dan langsung menghampiri cowok itu."Kyrran," kata Andrea.
Apa kata Noela kalau melihat Andrea cuma pakai handuk dan berduaan dengan cowok di kamarnya. Andrea buru-buru mendorong Kyrran keluar dari kamar. Cowok tinggi itu sendiri tidak ada perlawanan, membiarkan punggungnya didesak pergi. Dia menggeser pintu balkon dan menarik tirai dengan sekali gerakan