เข้าสู่ระบบDi dapur dalam unit kamarnya di asrama putri, Andrea menuangkan air dengan gerakan lesu ke dalam gelas. Helaan napas berat keluar dari bibirnya sebelum dia minum. Bayangan ciuman pertamanya yang direbut paksa oleh ketos iblis sok suci bernama Kyrran itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Dari pintu dapur, Noela muncul membawa beberapa kantong belanja dan meletakkannya di meja. "Malam ini aku mau belajar buat kue, aku sudah cari tahu kalau Tyler suka—" ucapannya terhenti saat melihat Andrea yang diam saja, seolah tidak menyadari kehadiran Noela. "Rea…" panggil Noela. Dia akhirnya mendekat, lalu menyentuh pundak Andrea. Namun, gadis cantik itu terkesiap, gelas di tangannya tergelincir jatuh ke lantai. "Kamu kenapa, Rea?" celetuk Noela. Dia mengeluarkan bahan-bahan dari kantong belanja, sambil sesekali melirik ke arah Andrea. "Gak ada apa-apa kok, El," jawab Andrea pelan. Noela meniup nasar kasar. "Rea, kamu gak usah bohong, aku tahu kamu pasti ada masalah." Andrea mengamati lawan bicaranya sedikit lama, lalu bersandar di tepi meja dapur dan melipat tangannya di dada. "Waktu aku bersihkan lab biologi, aku sebenarnya gak sengaja lihat Pak Handoko dan Lara, mereka…" Andrea mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Noela, memperlihatkan sebuah video hubungan terlarang antara guru dan siswi yang disebut Andrea. Alis Noela menukik, dia hanya melihat video itu sekilas lalu menghentikannya. "Oke, bukannya kamu senang kalau dapat berita skandal seperti ini." "Iya, tapi bukan di situ masalahnya." Andrea mengatur napasnya. "Jadi?" Alis Noela terangkat sekilas. "Setelah kabur, aku malah ngelihat Kyrran merokok di belakang lab biologi." Dagu Noela merosot dengan kedipan mata syok. "Kyrran? Merokok?" Andrea mengangguk pelan. Syoknya hanya sekilas, Noela kemudian meniup napas puas, dia tampak seperti orang yang menang undian. "Bagus dong, kamu dapat dua berita skandal. Terus masalahnya di mana?" sahut Noela. Andrea mengulum bibirnya sekilas lalu menurunkan tangannya lemas. Dia berbalik dan berpegangan pada tepi meja. "Kamu tahu kan kalau ketos punya hak menghubungi dan ketemu Kepala Sekolah dengan bebas. Nah, aku mau minta bantuan dia buat bawa aku ketemu Kepala Sekolah, tapi dia gak mau. Makanya aku ancam buat sebarkan foto dia merokok. Tapi…" Noela berhenti mengatur bahan-bahan kuenya. "Tapi kenapa?" Haruskah Andrea cerita soal ciuman pertamanya yang dicuri Kyrran? Dia ragu. Alih-alih menyampaikan dengan kata-kata, Andrea memperagakan saat Kyrran mendesaknya ke pojokan kelas. Dia membenturkan kedua telapak tangannya ke meja. Dia juga melayangkan telapak tangan ke wajahnya, maksud hati ingin menunjukkan kalau tengkuknya diraih oleh Kyrran. Tapi, Noela menangkapnya beda. Gadis berambut pendek sebahu itu mencengkram bungkusan tepung di tangannya kencang. "Gak bisa dibiarin," sungut Noela, napas gadis itu memburu. "Beraninya dia nampar cewek!" gadis berambut sebatas bahu itu mengendus kasar. Andrea terkesiap, lalu menggeleng cepat. "Eh, enggak kok, El, cuma—" kalimat Andrea terputus. "Padahal dia yang salah karena melanggar aturan," desis Noela. Wajahnya memerah, kepalanya seperti mendidih. Noela menarik tangan Andrea, langkahnya cepat menuju pintu keluar unit kamar mereka. "El, kita mau ke mana?" tanya Andrea bingung. "Ketemu Kyrran," jawab Noela dengan mata berkilat penuh emosi. Dia merampas kantong tepung yang baru saja dibeli. Andrea sempat menoleh ke meja saat tangannya ditarik. "Bukannya kamu mau belajar bikin kue?" "Bikin kue bisa ditunda, Rea." Dia mempererat pegangannya pada pergelangan tangan Andrea. Beberapa saat kemudian, Noela dan Andrea akhirnya tiba di ruangan ketua OSIS. Pintu terbuka keras tanpa aba-aba. Brak! Kedua gadis itu masuk dengan langkah cepat dan tegang. Di balik meja besar di ujung ruangan, Kyrran duduk tenang sambil bersandar sedikit di kursinya, tatapannya tajam penuh terkendali. "Kalian gak punya sopan santun ya?" Suara cowok itu datar. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat. Noela akhirnya melepas tangan Andrea. Genggaman yang sejak tadi penuh emosi itu hilang, menyisakan ketegangan di setiap ketukan langkahnya. Sementara itu, Andrea terdiam di belakang, napasnya masih tidak stabil, matanya menatap ke arah Kyrran tapi tubuhnya seperti tertahan. Sepatu Noela berhenti tepat di depan meja besar itu. Tatapannya berkilat api emosi. Tanpa ragu sedikitpun, satu telapak tangannya menghantam permukaan meja. "Jangan kasar-kasar dong jadi cowok!" suara Noela naik beberapa oktaf. "Kamu ternyata ketua OSIS yang gak pantas dijadikan panutan. Memang pantas dilabeli ketos iblis." Tatapan gadis itu menantang. "Kenapa kamu kasar sama Rea? Minta maaf gak!?" tuntutnya. Kyrran tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangkat pandangannya sedikit, menatap tangan yang masih menekan mejanya, lalu naik ke wajah Noela. Tatapan mereka bersua—yang satu penuh amarah, yang satu tetap dingin. "Kenapa?" sahut Kyrran. Dari Noela, dia kemudian mengalihkan tatapan pada Andrea yang terpaku di belakang sofa. “Memang kemarin mainnya kasar?” suaranya datar tapi penuh kendali. "Pakai nanya lagi!" Emosi Noela memuncak, tanpa ragu dia melayangkan kantong tepung di tangannya ke wajah Kyrran."Andrea sudah dibawa sama mereka," bisik Noela pada Derby dan Jolina. Gadis berambut sebahu itu menunjukkan tas dan ponsel Andrea yang ia temukan di depan toilet setelah listrik menyala. Jolina mengangguk. "Sekarang giliran kita beraksi juga.""Ayo ke mobil," ajak Derby. Cowok itu melangkah lebih dulu. Ketiga remaja tersebut berjalan cepat menembus kerumunan pesta, menuju parkiran. Noela yang menyetir mobil sementara Derby duduk di sebelahnya sambil memangku laptop. Di jok belakang Jolina duduk sambil berkutat dengan ponselnya. "Aku sudah dapat empat belas cewek yang pernah disekap grup KGA dan bersedia speak up," celetuk Jolina. Noela memandangi pantulan gadis itu di kaca depan. "Sesuai kata Andrea, kumpulkan minimal dua puluh orang, jadi harus dicari lagi.""I'm on it, baby," kata Jolina.Noela kemudian melirik ke arah Derby yang jemarinya menari di atas keyboard laptop. "Sudah dapat lokasinya?"
"Mari bermain," ujar Andrea tajam, sebelum melangkahkan heels sambil mengarahkan cahaya ponselnya. Tepat saat gadis itu melewati pintu toilet, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuhnya dari belakang. Tas kecil dan ponselnya lepas dari genggaman, jatuh ke lantai. Meski sesuai prediksinya, Andrea tetap membuat dirinya meronta dan mencoba berteriak agar tidak memupuk kecurigaan para anggota grup itu. "Mmphhhh!"Kain tebal membekap hidung dan mulutnya, lalu aroma kimia menyengat indera penciuman Andrea hingga gadis itu kehilangan kesadaran. Saat membuka mata, hal pertama yang Andrea rasakan adalah dinginnya lantai beton yang menyergap kulit gadis itu. Andrea mengerjap pelan sambil mencoba fokus. Kepalanya masih terasa berat dan tangannya yang terikat menekan lantai kasar. Selanjutnya dia berusaha perlahan untuk duduk. Matanya menyapu sekeliling, mencoba mengingat detail-detail yang sama dengan tempat penyekapan Andrea s
"Would you dance with me?" suara Kyrran begitu dalam. Andrea mengangkat pandangannya pada iris hitam Kyrran yang begitu dekat. Sesuatu di kilat mata cowok itu seolah membelenggu sekujur tubuhnya. Andrea tidak tahu apa, tapi seluruh sarafnya terasa kesemutan. Gadis itu akhirnya menelan saliva pelan untuk mengontrol debar jantungnya. Namun, merasa tidak ada efek, Andrea kemudian menyapu sekitar. Siswa-siswi dari sekolah mereka sudah memperhatikan sambil berbisik-bisik. Tatapan penasaran, syok, iri, sampai tidak percaya bercampur jadi satu. Dan di saat yang sama, Andrea mengingat kembali alasan kenapa ia harus berada di dekat Kyrran malam ini. Perlahan, Andrea kembali menatap Kyrran lalu menjawab, "yes… i would love to." Di kejauhan, tiga sahabatnya sudah berada di posisi masing-masing. Noela dibawa oleh crushnya ke lantai dansa. Sementara Jolina dan Derby berdiri di sisi bar.
Satu jam sebelumnya, Kyrran menghentikan langkahnya di sebelah sebuah supercar jingga yang terparkir di depan gerbang asrama putra. Lantas cowok itu mengangkat pintu gunting perlahan, lalu masuk ke kursi penumpang sambil mengembuskan napas panjang. Di balik kemudi, Darell—kakak sepupunya—sudah menunggu sambil tersenyum jahil. "Aku sudah mendengar kalau semua kendaraanmu disita sementara oleh Papa Adriell." Darell terkekeh kecil sambil menyalakan mesin supercar. "Pantas saja kau mau nebeng." Kyrran mendesis pelan sambil memasang seatbelt. "Gak usah banyak omong. Jalan saja." "Ya, ya. Sensitif amat," timpal Darell. Mesin mobil meraung halus sebelum keluar dari lingkungan sekolah, menuju jalanan kota yang penuh lampu malam. Darell menyetir santai dengan satu tangan di kemudi sambil mengangguk-angguk mengikuti musik yang mengalun. Sementara itu, Kyrran sibuk denga
Andrea mondar-mandir di kamarnya sejak dua puluh menit terakhir. Jemari lentik gadis itu beberapa kali masuk ke rambutnya sendiri dengan frustrasi sambil terus memutar ulang detail yang baru saja Andrea sadari. Astaga. Bagaimana bisa dia melewatkan hal sepenting itu? Kenapa dia tidak curiga dari awal dengan tanda di telapak tangan sang Ketua Kyrran’s Guardian Angels malam itu? Ponsel Andrea di atas meja terus bergetar penuh notifikasi, tapi Andrea belum sempat membalas satu pun. Begitu suara ketukan terdengar yang ia yakini berasal dari Noela, Andrea membuka pintu cepat lalu menarik sahabatnya masuk. Noela mengernyit bingung. Wajar. Gadis berambut sebahu itu daritadi sibuk belajar membuat kue dan pasti belum cek grup. "Kenapa?" tanya Noela. Andrea menoleh dengan napas yang berat. "Aku sudah tau siapa Ketua grup KGA," ujarnya pelan dengan kilatan mata serius.
Sore harinya, Andrea menapaki tangga ke lantai tiga gedung seni sambil membawa paper bag. Di dalamnya ada kardigan milik Natasya yang sudah dicuci bersih. Setibanya di studio balet, alunan musik klasik memenuhi pendengaran Andrea. Lantas ia membawa langkahnya semakin ke dalam. Tepat di tengah ruangan yang dikelilingi oleh cermin besar, ada Natasya yang sedang menari sendirian dengan gerakan balet ringan dan anggun. Rok latihan hitamnya berputar lembut mengikuti tiap langkah pointe yang nyaris tanpa suara. Andrea terpaku beberapa jenak, memperhatikannya. Ketika musik akhirnya berhenti, Natasya menoleh ke arah pintu lalu tersenyum kecil saat menyadari keberadaan Andrea. Ia berjalan mendekat sambil menyeka peluh tipis di lehernya. "Aku membawa kardiganmu," kata Andrea, menyodorkan paper bag itu. "Padahal kamu tidak perlu buru-buru mengembalikannya," timpal Natasya. Senyum tipis tersungging di bibir Andrea. "Aku gak biasa menyimpan barang orang lain terlalu lama." Nata







