LOGINPukul 17.05, Reyner turun dari mobilnya. Kemeja kerjanya tampak kusut, sepadan dengan raut wajahnya yang menyiratkan kelelahan hebat. Tepat saat ia hendak melangkah, ponselnya berdering nyaring menampilkan nama Kimmy di layar."Halo, ada apa?" suaranya terdengar tanpa minat."Bisa tidak kamu mampir sebentar ke kos yang aku share location tadi? Sendiri saja, tanpa Lana," pinta Kimmy dengan nada manja."Bukannya tidak bisa, tapi aku tidak mau. Sudah ya, sampai nanti malam kujemput makan malam bersama Lana," tutup Reyner sepihak tanpa menunggu protes lebih lanjut.Ia melangkah masuk ke lorong kontrakan dengan tas kerja tersampir di bahu. Namun, tepat di belokan, Nana muncul seolah-olah mereka berpapasan tanpa sengaja padahal wanita itu sudah berjaga di sana sejak tadi."Aduh, Mas Reyner baru pulang ya? Jam segini kok baru kelihatan, pasti capek banget ya mas ngurus proyek panas-panasan begitu?""Iya, Mbak Nana. Mari, duluan ya,
"Darimana kau tahu alamat Reyner di sini? Perasaan tak satu pun keluarga Papa Julian tahu letak persisnya. Kau memata-matai kami, ya? Dan apa tujuanmu kemari? Kau lupa, ya, kalau tidak ada bonding apalagi hubungan fisik dengan Rey?" desak Lana telak.Kimmy menyesap es tehnya perlahan, lalu tersenyum miring dengan sorot mata licik. "Jangan terlalu percaya diri, Lana. Di dunia ini tidak ada rahasia yang tidak bisa dibeli, apalagi kalau sekadar alamat kontrakan kumuh seperti ini. Soal hubungan fisik? Kau saja yang terlalu naif menganggap suamimu itu malaikat yang bisa tahan iman setiap saat!""Rey sedang di proyek dan baru pulang sore nanti. Kontrakan itu memang kumuh karena begitulah cara Rey menghemat biaya sebagai pria lajang sebelum kami menikah. Jadi, kalau kau berniat menguras harta suamiku, pakai otakmu sedikit." Kedatangan pesanan seblak seketika menjeda ultimatum Lana."Satu lagi, aku tidak akan menyewakan hotel berbintang untukmu. Aku akan ca
Pagi itu di Jakarta."Pa, beritahu mantu kesayanganmu itu agar tidak berdrama bunuh diri dengan menyalahkan Lana. Jelas-jelas yang salah itu Roy, anakmu," peringat Dian pada Julian, suaminya yang sedang membaca koran di meja makan sebelum sarapan."Jangan menyalahkan Lana sepihak, Papa harus objektif kalau memang Roy yang menyelinap ke toilet," pungkas Dian sekali lagi, setelah tahu duduk perkara mengapa Intan nekat menyilet nadinya.Bukan tanpa sebab Dian berkata demikian, karena Julian cenderung pilih kasih antara Lana dan Intan.Julian melipat korannya dengan kasar, lalu meletakkannya di meja hingga menimbulkan suara dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya dengan wajah yang mengeras."Cukup, Dian! Intan itu sedang bertaruh nyawa di rumah sakit. Apa pun alasannya, Lana tidak seharusnya memprovokasi keadaan sampai kakak iparnya nekat begitu!""Lana tidak pernah memprovokasi! Roy yang lebih dulu menggoda Lana sampai bera
Di kontrakan kecil itu, lampu utama telah padam, digantikan temaram lampu tidur."Ternyata punya istri sepertimu menyenangkan begini. Kenapa dulu aku sempat marah saat kamu menjebakku, ya? Sekarang aku malah bersyukur karena jebakan gilamu itu." Rey terkekeh geli menertawakan kebodohannya dulu yang gengsi disertai oleh amarah."Tanya saja pada dirimu sendiri kenapa," jawab Lana terkikik, teringat awal pernikahan mereka yang penuh ketegangan."Aku... sebenarnya mulai menyukaimu sejak awal kamu masuk ke komunitas hiking. Hanya saja..." Rey menjedanya sejenak dengan berpikir."Hanya saja kenapa?""Aku masih waspada karena kamu mantan pacar Bang Roy. Rasanya aneh bagiku kalau mendekati mantan kakak sendiri.""Padahal aku berharap kamu mendekatiku, lho. Tapi karena kamu kelamaan, ya sudah aku jebak saja sekalian," ucap Lana terkekeh. "Eh, dianya malah mengamuk," lanjutnya sambil menunjuk Reyner dengan geli.Reyner menari
"Halo, Bang? Aku butuh bantuanmu sekarang," ucap Kimmy dengan suara bergetar karena emosi begitu sambungan telepon diangkat. "Kirimkan aku alamat lengkap kontrakan Reyner di Semarang. Aku tidak peduli apa risikonya, besok pagi aku harus sudah ada di depan pintu mereka!"Di seberang telepon, terdengar kekehan rendah dari Garry yang sedang menikmati kemenangannya. "Tenang, Kimmy sebentar lagi akan kukirim. Jangan lupa buat pertunjukan yang meriah untuk mereka."Setelah mandi dan berpakaian santai, Lana menyiapkan minuman dingin untuk menyegarkan suasana. Sementara itu, Reyner sudah berkutat kembali dengan laptopnya di meja kayu kecil. Sebagai arsitek, ia harus memeriksa setiap detail proyek hotelnya; tuntutan ketelitian dan akurasinya sangat tinggi.Lana melirik layar laptop suaminya yang penuh dengan kerumitan garis-garis blueprint di aplikasi AutoCAD. "Kamu tidak pusing setiap hari melihat garis-garis yang saling bertumpuk begitu?" tanya Lana heran s
Di atas ranjang kayu dalam kontrakan tiga petak itu, Lana dan Reyner melupakan sejenak segala kekacauan yang terjadi di Jakarta. Keduanya terjebak dalam badai gairah yang mereka ciptakan sendiri, membuat suasana kamar yang sempit itu terasa panas dan menyesakkan. Suara derit ranjang yang ritmis menjadi musik latar bagi penyatuan mereka."Rey, jangan terlalu bersemangat! Bisa-bisa ranjang ini roboh kalau kamu terlalu heboh begitu," bisik Lana dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kuat bahu kokoh Reyner saat suaminya itu terus memacu tempo dengan beringas.Reyner tidak berhenti, justru semakin menunduk untuk mengunci tatapan Lana yang sayu karena gairah. Keringat bercucuran dari pelipisnya, menetes mengenai dada Lana yang naik-turun tak beraturan."Biar saja roboh, Sayang! Kalau sampai hancur, kita lanjut main di lantai sampai kau menyerah memohon ampun padaku malam ini!"Reyner mengerang tertahan, mengecap kenikmatan yang membuncah se







