FAZER LOGINTaksi berhenti tepat di depan lobi apartemen. Reyner segera membawa tas ranselnya masuk ke dalam kamar Lana yang tertata rapi dan beraroma lavendel yang menenangkan. Sementara itu, Lana sibuk di dapur, menyiapkan minuman hangat sambil merapikan bekal lauk dari Tiara untuk sarapan besok.Saat Lana sedang menuang air panas ke dalam cangkir, tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang. Reyner menyandarkan dagunya di bahu Lana, menghirup aroma rambut istrinya dalam-dalam."Aku merindukanmu, Sayang," bisik Reyne, suaranya penuh kerinduan.Lana tersenyum simpul, menyandarkan kepalanya ke dada Reyner sambil mengusap lembut lengan suaminya. "Aku juga sangat merindukanmu, Rey. Rasanya lega bisa sedekat ini lagi bersamamu.""Aku punya sesuatu untukmu..." Reyner merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru khas toko emas ternama dan sedikit mengguncangnya di depan wajah Lana."Apa itu? P
Hari berganti, Reyner akhirnya menyusul Lana ke rumah Leon di Bogor. Sore itu, udara pegunungan yang sejuk menyelimuti teras belakang rumah, namun suasana hati Reyner tampak tidak sejalan dengan ketenangan di sana."Rey, Bibi sudah menyiapkan kamar untuk kita di sini. Kata Kak Leon dan Kak Tiara, lebih baik kita menginap saja sambil mematangkan rencana penggerebekan bisnis spa milik Garry itu," ujar Lana lembut.."Ck, mana enak menginap di sini? Nggak bebas kalau aku mau bermesraan sama kamu," keluh Reyner blak-blakan."Astaga, dalam situasi genting begini masih saja terpikir ke sana?" Lana menanggapi dengan gugup, menyuapkan sepotong buah ke mulutnya untuk menutupi rona merah di pipinya.Sambil menatap ke arah kolam renang, Reyner menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, persis seperti remaja yang sedang apel di rumah pacar dan takut ketahuan calon mertua."Memangnya apa lagi yang dicari pasangan LDR halal seperti kita kalau bukan
Malam itu, di saat Kimmy terus menatap layar ponselnya yang bisu menanti telepon yang tak kunjung datang, Reyner justru sedang melakukan video call dengan Lana. Debby sudah tertidur pulas di sampingnya, memberikan ruang bagi keduanya untuk bicara lebih leluasa."Kenapa tidak dari tadi kamu memberitahuku, hah?!" Reyner mendengus kasar, gurat kekesalan tampak jelas di wajahnya melalui layar ponsel."Aku... aku hanya tidak ingin merusak fokus kerjamu, Rey. Maafkan aku. Kupikir, lebih baik aku bicara saat kamu sudah selesai bekerja saja," sahut Lana pelan. Ada sedikit nada gentar dalam suaranya. Ia tahu betul Reyner bisa menjadi sangat emosional dan impulsif jika menyangkut keselamatannya.Lana meremas ujung selimutnya, mencoba membaca ekspresi suaminya yang masih tampak tegang. Di seberang sana, Reyner mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha meredam amarah yang sempat meledak karena rasa khawatir yang berlebihan."Lana, dengar. Pekerjaanku tida
"Sekarang, pulanglah. Ada gadis baru yang mau kemari, jangan membuat masalah," ucap Garry sembari merapikan bajunya yang sedikit kusut.Kimmy menatap Garry dengan pandangan tak percaya. Dadanya sesak mendapati perlakuan kakak angkat yang menanamkan benih di rahimnya. "Kamu tega mengusirku tanpa memberiku waktu untuk istirahat atau sekadar minum? Padahal aku sedang hamil anakmu, Mas!"Garry tak perduli. Boro-boro merasa iba, ia justru merogoh dompetnya dan melemparkan beberapa lembar uang merah tepat ke wajah Kimmy. Lembaran uang itu melayang jatuh di atas karpet bulu yang mahal."Ambil," perintahnya singkat."Tidak perlu, Mas. Uang yang kamu lempar kemarin saja masih ada," sahut Kimmy ketus, berusaha menjaga harga dirinya yang sudah hancur."Ambil, atau mau kusiksa lewat Bonita?" Ucap Garry. Matanya berkilat mengancam, menyebut nama wanita iblis yang dikenal tak punya belas kasihan dalam menyiksa orang.Kimmy bergidik ngeri mende
"Saya janji tidak akan bicara pada Bapak dan Ibu, Non. Tapi Nona juga harus janji, jangan keluar rumah tanpa Pak Leon atau Ibu, ya? Nanti kalau ada apa-apa, saya bisa dipecat. Anak-anak saya masih kecil-kecil, Non," ucap Haris memohon sambil sesekali melirik spion motor skuternya.Lana menghela napas panjang, merasakan ketulusan sekaligus ketakutan dalam suara pria tua itu. Ia menyadari bahwa keselamatannya bukan hanya soal nyawanya sendiri, tapi juga menyangkut nasib orang-orang yang bekerja menjaganya."Baik, Pak. Saya mengerti. Saya tidak akan keluar tanpa pengawalan lagi,"Begitu sampai di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi, Pak Haris segera membukakan pintu dengan sigap. Lana turun dari motor dengan kaki yang masih sedikit lemas, segera melangkah masuk ke dalam rumah yang kini terasa seperti satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa dari gangguan Garry.****Sore hari setelah selesai mengajar, Kimmy mampir ke apar
Mobil blind van itu melambat, menjaga jarak sekitar dua puluh meter di belakang Lana. Pengemudinya menurunkan sedikit kaca jendela, memastikan targetnya benar-benar sendirian sebelum meraih ponsel untuk melapor."Target sudah keluar rumah. Dia sedang di tukang bubur ruko blok C. Perlukah kita bergerak sekarang?" bisik pria di balik kemudi itu dengan nada dingin."Jangan. Biar aku sendiri yang menemuinya untuk menyapa istri sah adik iparku," jawab pria bersuara dingin itu yang kini ada di mobil lain yang terparkir di minimarket, Garry yang tengah menghisap cerutunya menginjak pedal gas-nya ke arah ruko di mana Lana berada.Di kedai bubur ayam, Lana sibuk memilih lauk; sate telur puyuh, sate usus, dan tambahan pangsit goreng yang melimpah. Ia sempat memotret mangkuknya untuk dipamerkan pada Reyner melalui pesan singkat, berseloroh bahwa anak mereka sedang ingin makan banyak pagi ini.Namun, baru saja suapan ketiga masuk ke mulutnya, aroma






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
