Home / Romansa / Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan / Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

Share

Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

last update Last Updated: 2026-01-12 12:33:20

Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.

Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.

Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.

Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.

“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.

Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.

Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha menjadi tidak terlihat.

Dari kejauhan, di persimpangan koridor utama, ia melihat sosok tinggi menjulang dengan mantel hitam panjang. Itu Davian Cameron.

Di hadapannya, seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan bawahan dari divisi bisnis keluarga, sedang berlutut dengan wajah pucat pasi.

Suara Davian tidak berteriak, namun nada rendahnya menggelegar, memantul di dinding-dinding batu, membawa aura kematian yang pekat.

“Katakan padaku, Aris,” ucap Davian dingin. “Apakah kau pikir aku menggajimu untuk mendengarkan dongeng kegagalan?”

“Bu-bukan begitu, Tuan Davian!” Pria bernama Aris itu menyahut dengan suara gemetar hebat.

“Pasar sedang tidak stabil, pengiriman tertahan di pelabuhan utara karena badai! Sumpah, saya sudah berusaha melobi pihak bea cukai, tapi—”

“Cukup.” Satu kata dari Davian memotong segalanya.

“Aku tidak peduli dengan badai atau bea cukai. Yang aku peduli adalah angka di laporanku merah. Dan kau tahu apa yang terjadi pada hal-hal yang tidak berguna di rumah ini?”

“Tuan, tolong ... anak saya masih kecil ....”

“Bawa dia keluar,” perintah Davian kepada dua pengawal yang berdiri di belakangnya. “Dan pastikan dia tidak pernah mendapat pekerjaan di kota ini lagi. Bersihkan sampah ini dari hadapanku.”

Viona membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan untuk menahan pekikan ngeri.

Dia melihat bawahan itu diseret paksa sambil menangis, sementara Davian hanya berdiri tegak, merapikan sarung tangan kulitnya tanpa sedikitpun rasa belas kasihan di matanya.

Aura pria itu begitu gelap dan mengintimidasi, seolah-olah udara di sekitarnya membeku.

Dengan lutut gemetar, Viona segera bersembunyi di balik pilar besar pualam. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia memejamkan matanya berharap agar Davian tidak menoleh ke arahnya.

“Hii!”

Viona terlonjak kaget saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Dia pun berbalik dengan cepat, hampir saja menjatuhkan ember pel jika saja sebuah tangan tidak menahannya.

Elian berdiri di sana, menyeringai lebar dengan kedua tangan terselip di saku celana bahan santainya.

“Astaga, kau pucat sekali,” ujar Elian dengan nada geli, menatap wajah Viona yang seputih kertas. “Kau melihat 'hantu' berjas hitam itu, ya?”

Viona mencoba mengatur napasnya, memegang dadanya yang masih nyeri karena terkejut. “Tuan Elian ... Anda hampir membuat jantung saya berhenti.”

“Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud membunuh pelayan baru kami,” kekeh Elian. Ia kemudian melirik ke arah di mana Davian baru saja menghilang.

“Kakak Tertua memang sedang dalam mode 'Bencana Alam' hari ini. Sebaiknya kau jangan berdiri di jalur lintasannya jika masih ingin hidup. Moodnya sedang buruk sejak pulang dari pertemuan perjodohan itu.”

Viona mengerutkan kening, namun ketakutannya jauh lebih kuat daripada rasa ingin tahunya tentang perjodohan itu.

“Beliau ... beliau sangat menakutkan, Tuan. Saya belum pernah melihat orang yang begitu dingin memecat seseorang.”

“Oh, itu belum seberapa,” sahut Elian sambil bersandar di pilar.

Viona hanya menelan ludahnya mendengarnya.

Elian memiringkan kepalanya dan menatap Viona lekat-lekat. Senyum jahil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh simpati yang tulus. Ia melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata gadis itu dan tangan Viona yang merah dan lecet.

“Hei, jangan menangis,” ujar Elian lembut. “Jika Davian melihatmu menangis, dia akan mengira kau lemah, dan dia benci kelemahan. Di sini, air mata tidak mengundang belas kasihan, Nona Kucing.”

“Ma-maafkan saya ....” Viona menghapus sudut matanya dengan punggung tangan, namun desisan perih kembali terdengar.

“Tunggu,” Elian meraih pergelangan tangan Viona dengan hati-hati. Ia mengangkat tangan gadis itu dan mengamatinya. “Lihatlah ini. Tangan ini hancur total. Kau benar-benar tidak pernah memegang kain pel seumur hidupmu, kan?”

Viona menggeleng lemah, tidak berani menarik tangannya. “Saya sedang berusaha belajar, Tuan.”

“Kau menggosok lantai atau menggosok kulitmu sendiri?” canda Elian ringan, mencoba mencairkan suasana. “Kau memegang gagang pel terlalu erat. Santai saja. Kotoran di lantai ini tidak akan menyerangmu balik.”

Viona tersenyum tipis, sangat tipis mendengar gurauan itu.

Elian melepaskan tangan Viona, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sesuatu yang berkilau. Dua butir permen karamel yang dibungkus kertas emas.

“Ambil ini,” Elian menyodorkan permen itu ke telapak tangan Viona yang terluka.

Viona menatap permen itu dengan bingung. “Permen ... Tuan?”

“Ya, permen. Gula bagus untuk syok,” jelas Elian sambil membuka bungkus permen miliknya sendiri dan memasukkannya ke mulut.

“Kakakku mungkin monster, tapi aku adalah malaikat penyelamatmu. Makanlah, supaya kau tidak pingsan.”

Dengan ragu, Viona membuka bungkusan itu dan memasukkan permen karamel ke dalam mulutnya. Rasa manis yang pekat segera menyebar, sedikit menenangkan sarafnya yang tegang.

“Terima kasih, Tuan Elian,” ucap Viona tulus.

Baru saja Elian hendak membuka mulutnya, suara langkah kaki yang tegas dan terburu-buru terdengar mendekat dari arah tangga pelayan.

Seorang pria tua dengan setelan jas buntut yang rapi, rambut putih yang disisir klimis, dan wajah yang kaku muncul di hadapan mereka. Itu adalah Sebastian, Kepala Pelayan kediaman Cameron.

Viona langsung menegakkan tubuhnya dan menyembunyikan bungkus permen di balik celemeknya. Elian hanya melambaikan tangan dengan santai.

“Ah, Sebastian. Sedang berolahraga pagi?” sapa Elian.

Sebastian membungkuk hormat sekilas pada Elian, namun wajahnya tetap serius. “Selamat pagi, Tuan Muda Elian. Maaf mengganggu waktu santai Anda, tetapi saya sedang mencari pelayan baru ini.”

Mata Sebastian beralih tajam menatap Viona, membuat gadis itu kembali merasa kecil.

“Ada apa, Tuan Sebastian?” tanya Viona takut-takut. “Apakah hasil pel lantai saya kurang bersih? Saya akan mengulangnya—"

“Bukan soal lantai,” potong Sebastian cepat. Suaranya mengandung urgensi yang membuat bulu kuduk Viona meremang. “Ini situasi darurat.”

“Darurat?” tanya Elian dengan alis terangkat. “Apa ada pipa yang bocor?”

Sebastian menggeleng dan matanya tidak lepas dari Viona. “Lebih buruk. Tuan Davian baru saja memecat pelayan pribadinya lima menit yang lalu karena menumpahkan kopi di atas dokumen perjanjian dagang.”

Elian meringis. “Aduh. Itu hukuman mati.”

“Tepat sekali,” lanjut Sebastian. Ia menunjuk Viona dengan telunjuknya yang bersarung tangan putih.

“Kau, Viona. Kami kekurangan staf berpengalaman saat ini. Semua pelayan senior sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam nanti. Kau yang harus menggantikannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 7: Simpan Tenagamu dan Tidurlah

    “Tunggu dulu ... lelucon macam apa ini, Kak?”Mata Julian membelalak tak percaya saat membandingkan foto wanita anggun di dalam map dengan sosok pelayan kusam yang kini gemetar di hadapannya.Dia lalu bangkit dari kursi dengan gerakan kasar hingga kakinya menyenggol meja dan membuat botol kristal bergetar.“Viona Estella? Putri tunggal Mike yang bangkrut itu?” Julian menatap Viona dengan pandangan baru, bercampur di antara rasa takjub dan ngeri. “Jadi, maid kecil yang baru saja kugoda untuk minum bersama ini adalah calon kakak iparku?”Elian yang duduk di sebelahnya tersedak minumannya sendiri. Dia lalu meletakkan gelas itu dengan keras. “Sialan. Pantas saja kau bilang dia punya struktur wajah bangsawan. Kita baru saja mencoba menggoda tunangan Davian Cameron?”Davian tidak memedulikan keterkejutan adik-adiknya. Pandangannya terpaku pada Viona, dengan tatapan tajam dan mematikan seperti mata pisau yang baru diasah.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 6: Terperangkap di Sangkar Emas

    Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah des

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 5: Aku harus Pergi!

    “Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 4: Temukan Dia!

    Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada fin

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

    Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha me

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 2: Diterima

    “Masuk,” perintah Davian singkat.Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status