LOGINTiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.
Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.
Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.
Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.
“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.
Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.
Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha menjadi tidak terlihat.
Dari kejauhan, di persimpangan koridor utama, ia melihat sosok tinggi menjulang dengan mantel hitam panjang. Itu Davian Cameron.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan bawahan dari divisi bisnis keluarga, sedang berlutut dengan wajah pucat pasi.
Suara Davian tidak berteriak, namun nada rendahnya menggelegar, memantul di dinding-dinding batu, membawa aura kematian yang pekat.
“Katakan padaku, Aris,” ucap Davian dingin. “Apakah kau pikir aku menggajimu untuk mendengarkan dongeng kegagalan?”
“Bu-bukan begitu, Tuan Davian!” Pria bernama Aris itu menyahut dengan suara gemetar hebat.
“Pasar sedang tidak stabil, pengiriman tertahan di pelabuhan utara karena badai! Sumpah, saya sudah berusaha melobi pihak bea cukai, tapi—”
“Cukup.” Satu kata dari Davian memotong segalanya.
“Aku tidak peduli dengan badai atau bea cukai. Yang aku peduli adalah angka di laporanku merah. Dan kau tahu apa yang terjadi pada hal-hal yang tidak berguna di rumah ini?”
“Tuan, tolong ... anak saya masih kecil ....”
“Bawa dia keluar,” perintah Davian kepada dua pengawal yang berdiri di belakangnya. “Dan pastikan dia tidak pernah mendapat pekerjaan di kota ini lagi. Bersihkan sampah ini dari hadapanku.”
Viona membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan untuk menahan pekikan ngeri.
Dia melihat bawahan itu diseret paksa sambil menangis, sementara Davian hanya berdiri tegak, merapikan sarung tangan kulitnya tanpa sedikitpun rasa belas kasihan di matanya.
Aura pria itu begitu gelap dan mengintimidasi, seolah-olah udara di sekitarnya membeku.
Dengan lutut gemetar, Viona segera bersembunyi di balik pilar besar pualam. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia memejamkan matanya berharap agar Davian tidak menoleh ke arahnya.
“Hii!”
Viona terlonjak kaget saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Dia pun berbalik dengan cepat, hampir saja menjatuhkan ember pel jika saja sebuah tangan tidak menahannya.
Elian berdiri di sana, menyeringai lebar dengan kedua tangan terselip di saku celana bahan santainya.
“Astaga, kau pucat sekali,” ujar Elian dengan nada geli, menatap wajah Viona yang seputih kertas. “Kau melihat 'hantu' berjas hitam itu, ya?”
Viona mencoba mengatur napasnya, memegang dadanya yang masih nyeri karena terkejut. “Tuan Elian ... Anda hampir membuat jantung saya berhenti.”
“Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud membunuh pelayan baru kami,” kekeh Elian. Ia kemudian melirik ke arah di mana Davian baru saja menghilang.
“Kakak Tertua memang sedang dalam mode 'Bencana Alam' hari ini. Sebaiknya kau jangan berdiri di jalur lintasannya jika masih ingin hidup. Moodnya sedang buruk sejak pulang dari pertemuan perjodohan itu.”
Viona mengerutkan kening, namun ketakutannya jauh lebih kuat daripada rasa ingin tahunya tentang perjodohan itu.
“Beliau ... beliau sangat menakutkan, Tuan. Saya belum pernah melihat orang yang begitu dingin memecat seseorang.”
“Oh, itu belum seberapa,” sahut Elian sambil bersandar di pilar.
Viona hanya menelan ludahnya mendengarnya.
Elian memiringkan kepalanya dan menatap Viona lekat-lekat. Senyum jahil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh simpati yang tulus. Ia melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata gadis itu dan tangan Viona yang merah dan lecet.
“Hei, jangan menangis,” ujar Elian lembut. “Jika Davian melihatmu menangis, dia akan mengira kau lemah, dan dia benci kelemahan. Di sini, air mata tidak mengundang belas kasihan, Nona Kucing.”
“Ma-maafkan saya ....” Viona menghapus sudut matanya dengan punggung tangan, namun desisan perih kembali terdengar.
“Tunggu,” Elian meraih pergelangan tangan Viona dengan hati-hati. Ia mengangkat tangan gadis itu dan mengamatinya. “Lihatlah ini. Tangan ini hancur total. Kau benar-benar tidak pernah memegang kain pel seumur hidupmu, kan?”
Viona menggeleng lemah, tidak berani menarik tangannya. “Saya sedang berusaha belajar, Tuan.”
“Kau menggosok lantai atau menggosok kulitmu sendiri?” canda Elian ringan, mencoba mencairkan suasana. “Kau memegang gagang pel terlalu erat. Santai saja. Kotoran di lantai ini tidak akan menyerangmu balik.”
Viona tersenyum tipis, sangat tipis mendengar gurauan itu.
Elian melepaskan tangan Viona, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sesuatu yang berkilau. Dua butir permen karamel yang dibungkus kertas emas.
“Ambil ini,” Elian menyodorkan permen itu ke telapak tangan Viona yang terluka.
Viona menatap permen itu dengan bingung. “Permen ... Tuan?”
“Ya, permen. Gula bagus untuk syok,” jelas Elian sambil membuka bungkus permen miliknya sendiri dan memasukkannya ke mulut.
“Kakakku mungkin monster, tapi aku adalah malaikat penyelamatmu. Makanlah, supaya kau tidak pingsan.”
Dengan ragu, Viona membuka bungkusan itu dan memasukkan permen karamel ke dalam mulutnya. Rasa manis yang pekat segera menyebar, sedikit menenangkan sarafnya yang tegang.
“Terima kasih, Tuan Elian,” ucap Viona tulus.
Baru saja Elian hendak membuka mulutnya, suara langkah kaki yang tegas dan terburu-buru terdengar mendekat dari arah tangga pelayan.
Seorang pria tua dengan setelan jas buntut yang rapi, rambut putih yang disisir klimis, dan wajah yang kaku muncul di hadapan mereka. Itu adalah Sebastian, Kepala Pelayan kediaman Cameron.
Viona langsung menegakkan tubuhnya dan menyembunyikan bungkus permen di balik celemeknya. Elian hanya melambaikan tangan dengan santai.
“Ah, Sebastian. Sedang berolahraga pagi?” sapa Elian.
Sebastian membungkuk hormat sekilas pada Elian, namun wajahnya tetap serius. “Selamat pagi, Tuan Muda Elian. Maaf mengganggu waktu santai Anda, tetapi saya sedang mencari pelayan baru ini.”
Mata Sebastian beralih tajam menatap Viona, membuat gadis itu kembali merasa kecil.
“Ada apa, Tuan Sebastian?” tanya Viona takut-takut. “Apakah hasil pel lantai saya kurang bersih? Saya akan mengulangnya—"
“Bukan soal lantai,” potong Sebastian cepat. Suaranya mengandung urgensi yang membuat bulu kuduk Viona meremang. “Ini situasi darurat.”
“Darurat?” tanya Elian dengan alis terangkat. “Apa ada pipa yang bocor?”
Sebastian menggeleng dan matanya tidak lepas dari Viona. “Lebih buruk. Tuan Davian baru saja memecat pelayan pribadinya lima menit yang lalu karena menumpahkan kopi di atas dokumen perjanjian dagang.”
Elian meringis. “Aduh. Itu hukuman mati.”
“Tepat sekali,” lanjut Sebastian. Ia menunjuk Viona dengan telunjuknya yang bersarung tangan putih.
“Kau, Viona. Kami kekurangan staf berpengalaman saat ini. Semua pelayan senior sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam nanti. Kau yang harus menggantikannya.”
Suhu di dalam ruang galeri pribadi itu mendadak naik, mengalahkan sejuknya pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit.Davian tidak lagi bisa menahan diri. Sentuhan lembut Viona tadi seolah menjadi pemantik api yang membakar seluruh pengendalian diri pria itu. Matanya menggelap, dipenuhi kabut gairah yang menuntut penuntasan.Davian tampak tergesa-gesa saat jemarinya yang gemetar karena hasrat mulai membuka mini dress yang dikenakan oleh Viona.Dia tidak sabar, tarikannya begitu kuat hingga beberapa kancing kecil di bagian belakang gaun itu terlepas.Bersamaan dengan itu, Davian menghujani wajah dan leher Viona dengan ciuman panas membara yang membuat Viona mendesah pelan.Viona bisa merasakan betapa liarnya Davian sore ini, seolah pria itu sedang menuangkan seluruh rasa takut kehilangan dan cintanya yang meluap ke dalam setiap sentuhan.Dalam sekejap, gaun itu jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Viona telanjang sepenuhnya di bawah sorotan lampu galeri yang remang. Kulitn
Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Viona sedang berdiri di depan kanvas besarnya, memegang palet dengan gerakan yang sangat presisi.Dia baru saja akan menyapukan warna biru kobalt saat sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.Davian menyandarkan dagunya di bahu Viona, menghirup aroma cat dan parfum mawar yang selalu melekat pada tubuh istrinya.“Sepertinya melukis itu mudah, Viona. Kau hanya menggerakkan tanganmu dan tiba-tiba ada wajah manusia di sana,” bisik Davian dengan pelan.Viona terkekeh, namun dia tetap fokus pada kanvasnya. “Mudah katamu? Aku butuh waktu sepuluh tahun untuk membuat gerakan ini terlihat mudah di matamu, Davian.”“Boleh aku mencoba?” tanya Davian tiba-tiba.Viona menoleh, menatap suaminya dengan ragu. Davian yang biasanya memegang pulpen mahal untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, kini ingin memegang kuas?“Kau serius? Jasmu bisa terkena noda cat, dan aku tidak mau mendengar keluhanmu soal harga setelan itu nanti.”“Buka saja jasn
Pagi itu, langit di atas pemakaman mewah keluarga Cameron tampak kelabu, seolah-olah awan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan hujan.Davian berdiri tegak di depan sebuah nisan marmer hitam yang kokoh, tempat mendiang ayahnya beristirahat.Dia mengenakan setelan hitam formal yang membuat auranya terasa semakin dingin.Di sampingnya, Viona berdiri dengan gaun senada, jemarinya menggenggam sebuket bunga lili putih, bukan anggrek yang kemarin sempat memicu badai di rumah mereka.Davian meletakkan tangannya di atas nisan itu, mengusap debu imajiner dengan gerakan yang tidak menunjukkan kerinduan, melainkan beban.“Papa pergi saat aku baru saja menyelesaikan kuliah di luar negeri,” ujar Davian memecah kesunyian.“Dia meninggalkan kekaisaran yang tampak megah dari luar, tapi sebenarnya sedang digerogoti utang dan skandal internal. Aku harus menghadapi semuanya sendirian, Viona.”Viona menoleh lalu menatap profil samping suaminya yang tampak keras. “Kau tidak punya pilihan lain saat
Viona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan
Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me
Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.







