ログインWajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”
“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”
“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.
“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”
“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”
Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.
“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada final.
“Ambil peralatan bersihkanmu. Naik ke lantai tiga, kamar paling ujung dengan pintu ganda hitam. Ketuk sekali, sebutkan namamu, dan masuk. Jangan bicara kecuali ditanya, jangan menatap matanya, dan demi Tuhan, jangan jatuhkan apa pun.”
Viona menatap Elian dengan pandangan memohon pertolongan, namun Elian hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah simpati yang tak berdaya.
Kali ini, bahkan Elian tidak bisa menyelamatkannya dari perintah langsung yang berkaitan dengan Davian.
Dengan langkah berat seolah kakinya dipasung besi, Viona memungut embernya. Jantungnya berdentum menyakitkan di telinga. Ia harus masuk ke sarang monster itu, tepat saat monster itu sedang mengamuk.
Pintu ganda berwarna hitam matte itu menjulang di hadapan Viona seperti gerbang menuju dunia lain.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa keterkejutan di koridor tadi, Viona memberanikan diri memutar gagang pintu yang terbuat dari perak dingin.
Kamar utama Davian Velmont bukanlah sekadar tempat beristirahat; itu adalah manifestasi dari jiwa pemiliknya.
Begitu Viona melangkah masuk, hawa dingin dari penyejuk ruangan langsung menyergap kulitnya, seolah suhu di ruangan ini sengaja diatur beberapa derajat lebih rendah dari bagian rumah lainnya.
Interiornya didominasi oleh warna abu-abu arang, hitam, dan aksen biru tua yang kelam. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada lukisan pemandangan yang menenangkan, hanya fungsionalitas yang brutal dan kemewahan yang sunyi.
Di tengah ruangan, karpet bulu tebal berwarna gelap ternoda oleh bercak cairan cokelat, sisa kopi yang menjadi penyebab pemecatan pelayan sebelumnya.
Pecahan gelas porselen berserakan di dekat kaki meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni masif.
“Tenang, Viona. Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.
Viona berlutut dan mulai memunguti pecahan porselen itu satu per satu dengan hati-hati.
Tangannya yang sudah penuh luka lecet terasa perih, namun rasa takut terhadap hukuman Davian jauh lebih mendominasi daripada rasa sakit fisiknya. Setelah pecahan gelas bersih, dia beralih ke noda kopi di karpet.
Dia menggosoknya dengan ritme cepat dan panik, takut jika sang pemilik kamar tiba-tiba kembali.
Setelah noda itu samar, Viona beralih ke tempat tidur ukuran king size yang seprai sutra hitamnya sedikit berantakan.
Dia menarik ujung seprai, berusaha merapikannya hingga tidak ada satu pun lipatan yang terlihat, persis seperti standar militer yang mungkin diinginkan pria kaku itu.
Klik.
Suara mekanisme kunci pintu yang terbuka terdengar bagaikan letusan pistol di telinga Viona.
Jantung Viona mencelos. Dia membeku di sisi tempat tidur. Langkah kaki berat terdengar memasuki ruangan, langkah kaki yang tegas dan penuh emosi.
Itu pasti Davian. Tidak ada waktu untuk lari ke pintu keluar karena dia pasti akan berpapasan langsung.
Dari celah pintu geser yang tidak tertutup rapat, Viona bisa melihat bayangan Davian masuk ke area kamar tidurnya.
Pria itu tampak seperti badai yang dipadatkan dalam wujud manusia. Dia tidak sekadar berjalan; dia menghentak. Davian melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.
Brak!
Tak lama kemudian, Davian kembali meraih ponsel yang baru saja dibantingnya. Terdengar bunyi sambungan telepon.
Kali ini, dia tidak menggunakan mode biasa, melainkan menekan tombol loudspeaker sebelum meletakkannya kembali di meja, seolah ia ingin tangannya bebas untuk mengepal atau melempar sesuatu yang lain.
“Laporkan sekarang juga,” ucap Davian dingin dan penuh amarah.
Suara di seberang telepon terdengar ragu-ragu dan ketakutan. “Tuan Davian ... kami ... kami masih melacak jejaknya di stasiun kereta selatan, tapi—”
“Tapi apa?!” bentak Davian.
Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Viona menutup telinganya rapat-rapat di persembunyiannya. “Aku tidak membayarmu untuk memberiku alasan!”
Davian mulai mondar-mandir di depan pintu ruang ganti. Bayangannya bergerak maju mundur, setiap langkahnya mengirimkan getaran teror ke punggung Viona.
“Cari wanita sialan itu!” teriak Davian lagi, kali ini nada suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. “Viona Estella.”
Waktu seakan berhenti.
Mata Viona terbelalak lebar. Mulutnya terbuka tanpa suara, seolah pasokan oksigen di paru-parunya tiba-tiba disedot habis.
Namanya.
Pria itu menyebut namanya dengan lengkap.
Davian melanjutkan tiradanya, suaranya semakin meninggi dan penuh dengan racun.
“Berani-beraninya dia kabur dariku! Dia pikir dia siapa mempermainkan Cameron? Keluarga kita sudah sepakat, dan dia lari seperti pencuri di malam hari!”
Davian menendang kursi yang ada di dekatnya hingga terguling. Suara benturan itu membuat Viona nyaris menjerit, namun dia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Air mata ketakutan mulai mengalir deras di pipinya tanpa bisa dibendung.
Jadi, ini alasannya.
Davian Cameron. Pria yang memungutnya di jalan. Pria yang memberinya pekerjaan.
Pria ini ternyata adalah koneksi dari “Cameron”—nama keluarga dari rentenir tua yang seharusnya dia nikahi demi melunasi hutang ayahnya.
Dunia Viona runtuh seketika. Ia tidak melarikan diri ke tempat aman. Ia justru berlari masuk, langsung ke dalam kandang pemburunya sendiri.
“Temukan dia,” geram Davian, suaranya kini turun menjadi bisikan yang jauh lebih mematikan daripada teriakannya.
“Seret dia kembali ke sini. Aku tidak peduli jika kau harus membalikkan seluruh kota ini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya karena telah mempermalukanku dan merusak kesepakatan dengan Cameron.”
Keheningan yang damai kini menyelimuti kamar perawatan VIP di kediaman Cameron. Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer.Di tengah ranjang besar yang nyaman, Viona berbaring dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan murni, meski sisa-sisa kelelahan dari perjuangan hidup dan mati semalam masih membekas di sudut matanya.Di dalam dekapannya, terbungkus kain bedong katun Swiss yang sempat diperdebatkan Davian, sesosok malaikat kecil tertidur dengan tenang.Alexander Samuel Cameron. Nama itu telah diputuskan sebagai identitas sang pewaris takhta. Saat bayi mungil itu sedikit menggeliat dan membuka matanya yang jernih, Viona terkesiap pelan.Alex memiliki mata yang besar dan teduh persis seperti miliknya, namun garis rahang yang tegas serta bentuk hidung yang sempurna adalah salinan identik dari Davian.Ia adalah perpaduan sempurna dari dua jiwa yang hampir hancur namun memilih untuk kembali menyatu.
Suasana di dalam ruang persalinan darurat yang telah disiapkan Davian kini terasa begitu mencekam. Bau antiseptik yang tajam berpadu dengan aroma ketegangan yang pekat.Setiap detik terasa seperti keabadian yang menyiksa. Davian, pria yang selalu tampil tak bercela dengan kontrol emosi yang sempurna, kini tampak hancur. Ia mengenakan baju operasi berwarna hijau yang tampak kedodoran di tubuhnya yang bergetar hebat.Davian berdiri di sisi kepala Viona, menggenggam tangan istrinya dengan kekuatan yang seolah ingin menyalurkan seluruh sisa hidupnya ke dalam tubuh wanita itu.Namun, setiap kali kontraksi hebat datang, Viona mencengkeram tangan Davian begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai kulit sang suami. Davian tidak peduli. Rasa perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan pemandangan mengerikan di depannya.“Tarik napas dalam, Nona Viona! Sedikit lagi! Kepalanya sudah mulai terlihat!” seru dokter senior yang memimpin persalinan, suaranya berusaha tetap tenang di tengah badai
Malam di perbukitan kediaman Cameron biasanya diselimuti oleh kesunyian yang menenangkan, namun beberapa hari menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), atmosfer di dalam rumah besar itu terasa seperti sebuah pusat komando militer yang sedang menunggu serangan fajar.Davian, sang penguasa bisnis yang biasanya mampu tidur tenang di tengah krisis ekonomi global, kini telah kehilangan kemampuan untuk memejamkan mata lebih dari dua jam.Ia terjaga dalam kewaspadaan yang akut, telinganya selalu terpasang tajam untuk menangkap setiap desahan napas atau rintihan kecil dari arah Viona.Persiapan yang dilakukan Davian benar-benar melampaui batas kewajaran.Di halaman belakang yang luas, sebuah helikopter medis dengan mesin yang telah dipanaskan secara berkala standby 24 jam, siap menerjang langit menuju rumah sakit pusat dalam hitungan menit.Tidak hanya itu, Davian mengubah salah satu sayap bangunan rumahnya menjadi paviliun medis darurat. Tiga tim dokter spesialis termasuk dokter kandungan, anast
Memasuki trimester ketiga, kediaman utama Cameron seolah berubah menjadi sebuah tempat suci yang didedikasikan sepenuhnya untuk kenyamanan Viona.Perut Viona kini telah membulat sempurna, melambangkan kehidupan yang sedang berdenyut kuat di dalamnya.Namun, seiring dengan semakin dekatnya hari persalinan, beban fisik yang harus ditanggung Viona pun mencapai puncaknya.Tidur nyenyak kini menjadi kemewahan yang sulit diraih; ia sering terbangun di tengah malam hanya untuk mencari posisi yang tidak menekan paru-parunya, sementara sakit punggung yang menusuk menjadi teman setianya setiap kali ia mencoba melangkah.Davian, yang kini telah menjelma menjadi suami paling siaga dalam sejarah keluarga Cameron, tidak membiarkan Viona melewati penderitaan itu sendirian.Setiap malam, setelah semua urusan kantor ia delegasikan secara total kepada Julian, Davian akan duduk di ujung ranjang yang dipenuhi bantal-bantal empuk.Dengan tangan yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak triliuna
Dua bulan telah berlalu sejak persidangan perdana yang mengguncang stabilitas publik, dan pagi ini, gedung Pengadilan kembali menjadi pusat gravitasi perhatian nasional.Langit tampak mendung, seolah-olah awan kelabu turut memberikan kesaksian atas jatuhnya sebuah nama yang pernah diagungkan.Di dalam ruang sidang utama, udara terasa sangat tipis dan dingin, namun kali ini bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.Setiap kursi di barisan pengunjung terisi penuh oleh para jurnalis, analis hukum, dan beberapa anggota dewan direksi yang ingin melihat akhir dari prahara dinasti Cameron.Davian Cameron duduk di barisan terdepan dengan postur yang tak tergoyahkan. Setelan jas hitam yang ia kenakan hari ini tampak lebih gelap dari biasanya, mencerminkan ketegasan keputusannya.Di sampingnya, kursi yang biasanya kosong kini diisi oleh Julian dan Axel yang tetap waspada.Viona sengaja tidak hadir atas permintaan Davian; ia tidak ingin istrinya y
Pagi di kediaman utama Cameron kini tak lagi diawali dengan dering telepon bisnis yang agresif atau tumpukan berkas yang harus segera ditandatangani. Sebaliknya, sinar matahari yang menembus celah gorden kamar utama disambut oleh ketenangan yang menyejukkan.Davian, pria yang dulunya menganggap setiap detik adalah uang, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Baginya, jam tangan mewah yang ia kenakan bukan lagi alat untuk mengejar tenggat waktu rapat direksi, melainkan pengingat jadwal nutrisi dan vitamin Viona.Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, dan Davian sudah membatalkan tiga pertemuan strategis dengan investor asing tanpa ragu sedikit pun.Sekretarisnya sempat panik, namun Davian hanya membalas dengan satu kalimat dingin namun tegas: “Kekaisaran bisnis ini tidak akan runtuh dalam sehari, tapi aku tidak akan melewatkan satu detik pun pertumbuhan anakku.”Davian membantu Viona bersiap dengan sangat telaten. Ia bahkan berlutut di lantai hanya untuk memastik
“Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tep
Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang
“Masuk,” perintah Davian singkat.Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah
“Aku tidak bisa kembali,” bisiknya pada diri sendiri. “Lebih baik mati di jalanan ini daripada harus menikahi rentenir tua itu.”Di trotoar yang basah dan licin, Viona menyeret langkahnya yang semakin berat. Gaun selutut berwarna cream yang membalut tubuh rampingnya kini tak lagi berbentuk; basah k







