Share

Bab 4: Temukan Dia!

last update Last Updated: 2026-01-13 12:06:54

Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”

“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”

“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.

“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”

“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”

Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.

“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada final.

“Ambil peralatan bersihkanmu. Naik ke lantai tiga, kamar paling ujung dengan pintu ganda hitam. Ketuk sekali, sebutkan namamu, dan masuk. Jangan bicara kecuali ditanya, jangan menatap matanya, dan demi Tuhan, jangan jatuhkan apa pun.”

Viona menatap Elian dengan pandangan memohon pertolongan, namun Elian hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah simpati yang tak berdaya.

Kali ini, bahkan Elian tidak bisa menyelamatkannya dari perintah langsung yang berkaitan dengan Davian.

Dengan langkah berat seolah kakinya dipasung besi, Viona memungut embernya. Jantungnya berdentum menyakitkan di telinga. Ia harus masuk ke sarang monster itu, tepat saat monster itu sedang mengamuk.

Pintu ganda berwarna hitam matte itu menjulang di hadapan Viona seperti gerbang menuju dunia lain.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa keterkejutan di koridor tadi, Viona memberanikan diri memutar gagang pintu yang terbuat dari perak dingin.

Kamar utama Davian Velmont bukanlah sekadar tempat beristirahat; itu adalah manifestasi dari jiwa pemiliknya.

Begitu Viona melangkah masuk, hawa dingin dari penyejuk ruangan langsung menyergap kulitnya, seolah suhu di ruangan ini sengaja diatur beberapa derajat lebih rendah dari bagian rumah lainnya.

Interiornya didominasi oleh warna abu-abu arang, hitam, dan aksen biru tua yang kelam. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada lukisan pemandangan yang menenangkan, hanya fungsionalitas yang brutal dan kemewahan yang sunyi.

Di tengah ruangan, karpet bulu tebal berwarna gelap ternoda oleh bercak cairan cokelat, sisa kopi yang menjadi penyebab pemecatan pelayan sebelumnya.

Pecahan gelas porselen berserakan di dekat kaki meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni masif.

“Tenang, Viona. Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.

Viona berlutut dan mulai memunguti pecahan porselen itu satu per satu dengan hati-hati.

Tangannya yang sudah penuh luka lecet terasa perih, namun rasa takut terhadap hukuman Davian jauh lebih mendominasi daripada rasa sakit fisiknya. Setelah pecahan gelas bersih, dia beralih ke noda kopi di karpet.

Dia menggosoknya dengan ritme cepat dan panik, takut jika sang pemilik kamar tiba-tiba kembali.

Setelah noda itu samar, Viona beralih ke tempat tidur ukuran king size yang seprai sutra hitamnya sedikit berantakan.

Dia menarik ujung seprai, berusaha merapikannya hingga tidak ada satu pun lipatan yang terlihat, persis seperti standar militer yang mungkin diinginkan pria kaku itu.

Klik.

Suara mekanisme kunci pintu yang terbuka terdengar bagaikan letusan pistol di telinga Viona.

Jantung Viona mencelos. Dia membeku di sisi tempat tidur. Langkah kaki berat terdengar memasuki ruangan, langkah kaki yang tegas dan penuh emosi.

Itu pasti Davian. Tidak ada waktu untuk lari ke pintu keluar karena dia pasti akan berpapasan langsung.

Dari celah pintu geser yang tidak tertutup rapat, Viona bisa melihat bayangan Davian masuk ke area kamar tidurnya.

Pria itu tampak seperti badai yang dipadatkan dalam wujud manusia. Dia tidak sekadar berjalan; dia menghentak. Davian melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.

Brak!

Tak lama kemudian, Davian kembali meraih ponsel yang baru saja dibantingnya. Terdengar bunyi sambungan telepon.

Kali ini, dia tidak menggunakan mode biasa, melainkan menekan tombol loudspeaker sebelum meletakkannya kembali di meja, seolah ia ingin tangannya bebas untuk mengepal atau melempar sesuatu yang lain.

“Laporkan sekarang juga,” ucap Davian dingin dan penuh amarah.

Suara di seberang telepon terdengar ragu-ragu dan ketakutan. “Tuan Davian ... kami ... kami masih melacak jejaknya di stasiun kereta selatan, tapi—”

“Tapi apa?!” bentak Davian.

Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Viona menutup telinganya rapat-rapat di persembunyiannya. “Aku tidak membayarmu untuk memberiku alasan!”

Davian mulai mondar-mandir di depan pintu ruang ganti. Bayangannya bergerak maju mundur, setiap langkahnya mengirimkan getaran teror ke punggung Viona.

“Cari wanita sialan itu!” teriak Davian lagi, kali ini nada suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. “Viona Estella.”

Waktu seakan berhenti.

Mata Viona terbelalak lebar. Mulutnya terbuka tanpa suara, seolah pasokan oksigen di paru-parunya tiba-tiba disedot habis.

Namanya.

Pria itu menyebut namanya dengan lengkap.

Davian melanjutkan tiradanya, suaranya semakin meninggi dan penuh dengan racun.

“Berani-beraninya dia kabur dariku! Dia pikir dia siapa mempermainkan Cameron? Keluarga kita sudah sepakat, dan dia lari seperti pencuri di malam hari!”

Davian menendang kursi yang ada di dekatnya hingga terguling. Suara benturan itu membuat Viona nyaris menjerit, namun dia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat.

Air mata ketakutan mulai mengalir deras di pipinya tanpa bisa dibendung.

Jadi, ini alasannya.

Davian Cameron. Pria yang memungutnya di jalan. Pria yang memberinya pekerjaan.

Pria ini ternyata adalah koneksi dari “Cameron”—nama keluarga dari rentenir tua yang seharusnya dia nikahi demi melunasi hutang ayahnya.

Dunia Viona runtuh seketika. Ia tidak melarikan diri ke tempat aman. Ia justru berlari masuk, langsung ke dalam kandang pemburunya sendiri.

“Temukan dia,” geram Davian, suaranya kini turun menjadi bisikan yang jauh lebih mematikan daripada teriakannya.

“Seret dia kembali ke sini. Aku tidak peduli jika kau harus membalikkan seluruh kota ini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya karena telah mempermalukanku dan merusak kesepakatan dengan Cameron.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 7: Simpan Tenagamu dan Tidurlah

    “Tunggu dulu ... lelucon macam apa ini, Kak?”Mata Julian membelalak tak percaya saat membandingkan foto wanita anggun di dalam map dengan sosok pelayan kusam yang kini gemetar di hadapannya.Dia lalu bangkit dari kursi dengan gerakan kasar hingga kakinya menyenggol meja dan membuat botol kristal bergetar.“Viona Estella? Putri tunggal Mike yang bangkrut itu?” Julian menatap Viona dengan pandangan baru, bercampur di antara rasa takjub dan ngeri. “Jadi, maid kecil yang baru saja kugoda untuk minum bersama ini adalah calon kakak iparku?”Elian yang duduk di sebelahnya tersedak minumannya sendiri. Dia lalu meletakkan gelas itu dengan keras. “Sialan. Pantas saja kau bilang dia punya struktur wajah bangsawan. Kita baru saja mencoba menggoda tunangan Davian Cameron?”Davian tidak memedulikan keterkejutan adik-adiknya. Pandangannya terpaku pada Viona, dengan tatapan tajam dan mematikan seperti mata pisau yang baru diasah.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 6: Terperangkap di Sangkar Emas

    Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah des

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 5: Aku harus Pergi!

    “Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 4: Temukan Dia!

    Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada fin

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

    Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha me

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 2: Diterima

    “Masuk,” perintah Davian singkat.Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status