แชร์

Bab 5: Aku harus Pergi!

ผู้เขียน: Salwa Maulidya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-13 12:26:54

“Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”

Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.

Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.

Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.

Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.

Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis yang siap retak kapan saja.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Davian bisa mendengarnya.

‘Dia tahu,’ batin Viona menjerit panik. ‘Dia pasti tahu siapa aku. Dia baru saja meneriakkan namaku.’

Namun, Davian hanya menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan pengenalan, melainkan tatapan seorang raja yang terganggu oleh keberadaan seekor lalat kecil di istananya.

Bagi Davian, gadis di hadapannya hanyalah gumpalan seragam pelayan yang kusam, rambut yang disanggul asal-asalan, dan wajah yang tertunduk dalam.

Jauh berbeda dari bayangan “Viona Estella”, putri bangsawan angkuh yang ada dalam benaknya.

“Kau,” suara Davian memecah keheningan. Nadanya datar dan tanpa emosi, namun memiliki bobot yang membuat bahu Viona semakin merosot. “Sejak kapan kau berdiri di situ?”

Viona menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.

“Sa-saya ... saya sedang membersihkan debu di area ganti, Tuan. Maafkan kelancangan saya.”

Davian mendengus kasar, lalu berjalan mendekati sofa kulit tempat dia tadi membanting telepon.

Dia menghempaskan tubuhnya duduk di sana, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Kelelahan yang amat sangat terpancar dari gestur tubuhnya, bercampur dengan aura gelap yang masih menguar kuat.

“Keluar,” ucap Davian singkat.

Viona mengedipkan matanya, tidak percaya. Apakah dia dilepaskan begitu saja?

“Ta-tapi, Tuan ... kamar ini belum selesai saya—”

“Aku bilang keluar!” sentak Davian dengan bola mata yang terbuka menatap Viona dengan kilatan amarah yang membuat nyali gadis itu menciut seketika.

“Aku tidak butuh pelayan bodoh yang berkeliaran saat aku sedang ingin sendiri. Keberadaanmu membuat kepalaku semakin sakit.”

Viona membungkuk dalam-dalam dengan tubuh yang gemetar semakin hebat. “Ba-baik, Tuan. Saya permisi.”

Saat Viona berbalik hendak mencapai gagang pintu, suara Davian kembali menghentikan langkahnya.

“Tunggu.”

Darah Viona membeku. Dia pun berhenti dengan tangan yang menggantung di udara, hanya beberapa sentimeter dari kebebasan. Perlahan, dia memutar tubuhnya kembali menghadap sang majikan.

Davian menatapnya dengan tatapan menilai, matanya menyipit seolah sedang mengingat sesuatu. “Kau pengganti pelayan yang kupecat tadi?” tanyanya dingin.

“Be-benar, Tuan,” cicit Viona.

“Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya,” ujar Davian dingin.

Dia lalu menunjuk ke arah tempat tidur dengan dagunya.

“Aku tidak suka kamarku disentuh saat matahari masih tinggi,” ucapnya dengan suara penuh perintah dan tekanan.

Viona mengangguk patuh.

Davian melanjutkan, “Jadwal membersihkan tempat tidurku adalah pukul tujuh pagi, tepat setelah aku pergi ke kantor, dan pukul sembilan malam saat aku sedang makan malam. Di luar jam itu, kamar ini adalah area terlarang bagimu. Mengerti?”

Viona mengangguk cepat, kepalanya bergerak seperti boneka yang rusak. “Mengerti, Tuan. Pukul tujuh pagi dan sembilan malam.”

“Dan satu hal lagi,” tambah Davian, suaranya merendah namun penuh dengan ancaman yang tersirat.

“Apa pun yang kau dengar di ruangan ini ... jika satu kata saja bocor ke telinga pelayan lain, apalagi ke telinga adik-adikku ....” Davian membiarkan kalimatnya menggantung dan membiarkan imajinasi Viona mengisi kekosongan ancaman tersebut.

“Saya bisu dan tuli, Tuan. Saya tidak mendengar apa-apa,” jawab Viona dengan suara bergetar namun tegas.

“Bagus. Sekarang lenyaplah dari hadapanku,” usirnya dengan nada dinginnya.

Davian mengibaskan tangannya, sebuah gestur pengusiran yang mutlak.

Tanpa menunggu sedetik pun, Viona memutar gagang pintu, menyelinap keluar, dan menutup pintu ganda itu dengan hati-hati.

Begitu pintu tertutup dan memisahkan dirinya dari monster di dalam sana, kaki Viona kehilangan kekuatannya.

Dia merosot, bersandar pada daun pintu yang dingin, napasnya memburu tak terkendali. Peluh dingin membasahi punggungnya.

Dia selamat. Untuk saat ini.

Namun, kata-kata Davian di telepon tadi kembali terngiang di telinganya, berputar-putar seperti rekaman mimpi buruk. “Cari wanita sialan itu! Viona Estella. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya!”

Davian Cameron bukan sekadar majikan yang galak.

“Aku pikir, pria yang akan menikahiku adalah pria tua yang sudah beruban, ternyata aku salah. Tapi, tetap saja, Davian sangat galak dan kejam.”

Kediaman mewah bahkan Davian sendiri yang menerimanya kerja, yang dia kira sebagai tempat persembunyian, ternyata adalah sarang singa yang paling berbahaya.

Viona memaksa kakinya untuk bergerak. Dia tidak boleh terlihat lemah di koridor utama.

Dengan sisa tenaga yang ada, dia berjalan cepat, setengah berlari, menuruni tangga pelayan menuju sayap timur rumah, tempat kamar-kamar para pekerja berada.

Setibanya di kamarnya yang sempit dan lembap, Viona langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.

Dia menyeret kursi kayu tua untuk mengganjal pegangan pintu, sebuah tindakan paranoid yang tidak akan bisa menahan siapa pun jika mereka mendobrak, namun memberikan sedikit rasa aman semu bagi Viona.

“Bodoh ... aku bodoh sekali,” rutuk Viona sambil terisak pelan.

Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor oleh debu.

Dia kemudian menarik tas kain lusuh dari kolong tempat tidur, satu-satunya harta benda yang dia miliki saat ini.

Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sulit mengoordinasikan gerakan, Viona mulai melempar barang-barangnya ke dalam tas.

Dua potong baju pelayan cadangan. Sebuah sisir patah. Dan bungkusan kecil berisi sisa roti yang dia sisihkan dari makan siang.

Hanya itu. Dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Viona merogoh saku celemeknya. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras. Bungkus permen emas pemberian Elian.

Dia menatap benda kecil itu sejenak. Kebaikan Elian terasa seperti oase di tengah gurun, namun oase itu tidak cukup untuk menyelamatkannya dari badai pasir bernama Davian.

“Aku harus pergi,” bisiknya pada dinding kosong. “Malam ini juga. Sebelum dia menyadari bahwa buronan yang dia cari ada di bawah atap rumahnya sendiri.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 211: Dunia Baru Davian dan Viona

    Keheningan yang damai kini menyelimuti kamar perawatan VIP di kediaman Cameron. Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer.Di tengah ranjang besar yang nyaman, Viona berbaring dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan murni, meski sisa-sisa kelelahan dari perjuangan hidup dan mati semalam masih membekas di sudut matanya.Di dalam dekapannya, terbungkus kain bedong katun Swiss yang sempat diperdebatkan Davian, sesosok malaikat kecil tertidur dengan tenang.Alexander Samuel Cameron. Nama itu telah diputuskan sebagai identitas sang pewaris takhta. Saat bayi mungil itu sedikit menggeliat dan membuka matanya yang jernih, Viona terkesiap pelan.Alex memiliki mata yang besar dan teduh persis seperti miliknya, namun garis rahang yang tegas serta bentuk hidung yang sempurna adalah salinan identik dari Davian.Ia adalah perpaduan sempurna dari dua jiwa yang hampir hancur namun memilih untuk kembali menyatu.

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 210: Pertaruhan Nyawa di Ruang Putih

    Suasana di dalam ruang persalinan darurat yang telah disiapkan Davian kini terasa begitu mencekam. Bau antiseptik yang tajam berpadu dengan aroma ketegangan yang pekat.Setiap detik terasa seperti keabadian yang menyiksa. Davian, pria yang selalu tampil tak bercela dengan kontrol emosi yang sempurna, kini tampak hancur. Ia mengenakan baju operasi berwarna hijau yang tampak kedodoran di tubuhnya yang bergetar hebat.Davian berdiri di sisi kepala Viona, menggenggam tangan istrinya dengan kekuatan yang seolah ingin menyalurkan seluruh sisa hidupnya ke dalam tubuh wanita itu.Namun, setiap kali kontraksi hebat datang, Viona mencengkeram tangan Davian begitu kuat hingga kuku-kukunya melukai kulit sang suami. Davian tidak peduli. Rasa perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan pemandangan mengerikan di depannya.“Tarik napas dalam, Nona Viona! Sedikit lagi! Kepalanya sudah mulai terlihat!” seru dokter senior yang memimpin persalinan, suaranya berusaha tetap tenang di tengah badai

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 209: Detik-Detik Kelahiran Sang Pewaris

    Malam di perbukitan kediaman Cameron biasanya diselimuti oleh kesunyian yang menenangkan, namun beberapa hari menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), atmosfer di dalam rumah besar itu terasa seperti sebuah pusat komando militer yang sedang menunggu serangan fajar.Davian, sang penguasa bisnis yang biasanya mampu tidur tenang di tengah krisis ekonomi global, kini telah kehilangan kemampuan untuk memejamkan mata lebih dari dua jam.Ia terjaga dalam kewaspadaan yang akut, telinganya selalu terpasang tajam untuk menangkap setiap desahan napas atau rintihan kecil dari arah Viona.Persiapan yang dilakukan Davian benar-benar melampaui batas kewajaran.Di halaman belakang yang luas, sebuah helikopter medis dengan mesin yang telah dipanaskan secara berkala standby 24 jam, siap menerjang langit menuju rumah sakit pusat dalam hitungan menit.Tidak hanya itu, Davian mengubah salah satu sayap bangunan rumahnya menjadi paviliun medis darurat. Tiga tim dokter spesialis termasuk dokter kandungan, anast

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 207: Penantian di Ambang Cahaya

    Memasuki trimester ketiga, kediaman utama Cameron seolah berubah menjadi sebuah tempat suci yang didedikasikan sepenuhnya untuk kenyamanan Viona.Perut Viona kini telah membulat sempurna, melambangkan kehidupan yang sedang berdenyut kuat di dalamnya.Namun, seiring dengan semakin dekatnya hari persalinan, beban fisik yang harus ditanggung Viona pun mencapai puncaknya.Tidur nyenyak kini menjadi kemewahan yang sulit diraih; ia sering terbangun di tengah malam hanya untuk mencari posisi yang tidak menekan paru-parunya, sementara sakit punggung yang menusuk menjadi teman setianya setiap kali ia mencoba melangkah.Davian, yang kini telah menjelma menjadi suami paling siaga dalam sejarah keluarga Cameron, tidak membiarkan Viona melewati penderitaan itu sendirian.Setiap malam, setelah semua urusan kantor ia delegasikan secara total kepada Julian, Davian akan duduk di ujung ranjang yang dipenuhi bantal-bantal empuk.Dengan tangan yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak triliuna

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 206: Titik Akhir Sang Penghianat

    Dua bulan telah berlalu sejak persidangan perdana yang mengguncang stabilitas publik, dan pagi ini, gedung Pengadilan kembali menjadi pusat gravitasi perhatian nasional.Langit tampak mendung, seolah-olah awan kelabu turut memberikan kesaksian atas jatuhnya sebuah nama yang pernah diagungkan.Di dalam ruang sidang utama, udara terasa sangat tipis dan dingin, namun kali ini bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena ketegangan yang sudah mencapai puncaknya.Setiap kursi di barisan pengunjung terisi penuh oleh para jurnalis, analis hukum, dan beberapa anggota dewan direksi yang ingin melihat akhir dari prahara dinasti Cameron.Davian Cameron duduk di barisan terdepan dengan postur yang tak tergoyahkan. Setelan jas hitam yang ia kenakan hari ini tampak lebih gelap dari biasanya, mencerminkan ketegasan keputusannya.Di sampingnya, kursi yang biasanya kosong kini diisi oleh Julian dan Axel yang tetap waspada.Viona sengaja tidak hadir atas permintaan Davian; ia tidak ingin istrinya y

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 205: Detak Jantung Sang Pewaris

    Pagi di kediaman utama Cameron kini tak lagi diawali dengan dering telepon bisnis yang agresif atau tumpukan berkas yang harus segera ditandatangani. Sebaliknya, sinar matahari yang menembus celah gorden kamar utama disambut oleh ketenangan yang menyejukkan.Davian, pria yang dulunya menganggap setiap detik adalah uang, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Baginya, jam tangan mewah yang ia kenakan bukan lagi alat untuk mengejar tenggat waktu rapat direksi, melainkan pengingat jadwal nutrisi dan vitamin Viona.Hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, dan Davian sudah membatalkan tiga pertemuan strategis dengan investor asing tanpa ragu sedikit pun.Sekretarisnya sempat panik, namun Davian hanya membalas dengan satu kalimat dingin namun tegas: “Kekaisaran bisnis ini tidak akan runtuh dalam sehari, tapi aku tidak akan melewatkan satu detik pun pertumbuhan anakku.”Davian membantu Viona bersiap dengan sangat telaten. Ia bahkan berlutut di lantai hanya untuk memastik

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 88: Jejak Semalam jadi Bahan Godaan si Kembar

    Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi.Viona sudah duduk dengan kaku, di meja makan sambil berkali-kali merapikan syal sutra tipis berwarna krem yang melilit lehernya.Rambut panjangnya sengaja dia gerai ke depan, berusaha menciptakan tirai alami untuk menutupi jejak-jejak yang ditinggalkan Davia

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 6: Terperangkap di Sangkar Emas

    Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seum

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 4: Temukan Dia!

    Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 3: Menjadi Pelayan Pribadi Davian

    Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status