Mag-log in“Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”
Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.
Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.
Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.
Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.
Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.
Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis yang siap retak kapan saja.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Davian bisa mendengarnya.
‘Dia tahu,’ batin Viona menjerit panik. ‘Dia pasti tahu siapa aku. Dia baru saja meneriakkan namaku.’
Namun, Davian hanya menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan pengenalan, melainkan tatapan seorang raja yang terganggu oleh keberadaan seekor lalat kecil di istananya.
Bagi Davian, gadis di hadapannya hanyalah gumpalan seragam pelayan yang kusam, rambut yang disanggul asal-asalan, dan wajah yang tertunduk dalam.
Jauh berbeda dari bayangan “Viona Estella”, putri bangsawan angkuh yang ada dalam benaknya.
“Kau,” suara Davian memecah keheningan. Nadanya datar dan tanpa emosi, namun memiliki bobot yang membuat bahu Viona semakin merosot. “Sejak kapan kau berdiri di situ?”
Viona menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
“Sa-saya ... saya sedang membersihkan debu di area ganti, Tuan. Maafkan kelancangan saya.”
Davian mendengus kasar, lalu berjalan mendekati sofa kulit tempat dia tadi membanting telepon.
Dia menghempaskan tubuhnya duduk di sana, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Kelelahan yang amat sangat terpancar dari gestur tubuhnya, bercampur dengan aura gelap yang masih menguar kuat.
“Keluar,” ucap Davian singkat.
Viona mengedipkan matanya, tidak percaya. Apakah dia dilepaskan begitu saja?
“Ta-tapi, Tuan ... kamar ini belum selesai saya—”
“Aku bilang keluar!” sentak Davian dengan bola mata yang terbuka menatap Viona dengan kilatan amarah yang membuat nyali gadis itu menciut seketika.
“Aku tidak butuh pelayan bodoh yang berkeliaran saat aku sedang ingin sendiri. Keberadaanmu membuat kepalaku semakin sakit.”
Viona membungkuk dalam-dalam dengan tubuh yang gemetar semakin hebat. “Ba-baik, Tuan. Saya permisi.”
Saat Viona berbalik hendak mencapai gagang pintu, suara Davian kembali menghentikan langkahnya.
“Tunggu.”
Darah Viona membeku. Dia pun berhenti dengan tangan yang menggantung di udara, hanya beberapa sentimeter dari kebebasan. Perlahan, dia memutar tubuhnya kembali menghadap sang majikan.
Davian menatapnya dengan tatapan menilai, matanya menyipit seolah sedang mengingat sesuatu. “Kau pengganti pelayan yang kupecat tadi?” tanyanya dingin.
“Be-benar, Tuan,” cicit Viona.
“Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya,” ujar Davian dingin.
Dia lalu menunjuk ke arah tempat tidur dengan dagunya.
“Aku tidak suka kamarku disentuh saat matahari masih tinggi,” ucapnya dengan suara penuh perintah dan tekanan.
Viona mengangguk patuh.
Davian melanjutkan, “Jadwal membersihkan tempat tidurku adalah pukul tujuh pagi, tepat setelah aku pergi ke kantor, dan pukul sembilan malam saat aku sedang makan malam. Di luar jam itu, kamar ini adalah area terlarang bagimu. Mengerti?”
Viona mengangguk cepat, kepalanya bergerak seperti boneka yang rusak. “Mengerti, Tuan. Pukul tujuh pagi dan sembilan malam.”
“Dan satu hal lagi,” tambah Davian, suaranya merendah namun penuh dengan ancaman yang tersirat.
“Apa pun yang kau dengar di ruangan ini ... jika satu kata saja bocor ke telinga pelayan lain, apalagi ke telinga adik-adikku ....” Davian membiarkan kalimatnya menggantung dan membiarkan imajinasi Viona mengisi kekosongan ancaman tersebut.
“Saya bisu dan tuli, Tuan. Saya tidak mendengar apa-apa,” jawab Viona dengan suara bergetar namun tegas.
“Bagus. Sekarang lenyaplah dari hadapanku,” usirnya dengan nada dinginnya.
Davian mengibaskan tangannya, sebuah gestur pengusiran yang mutlak.
Tanpa menunggu sedetik pun, Viona memutar gagang pintu, menyelinap keluar, dan menutup pintu ganda itu dengan hati-hati.
Begitu pintu tertutup dan memisahkan dirinya dari monster di dalam sana, kaki Viona kehilangan kekuatannya.
Dia merosot, bersandar pada daun pintu yang dingin, napasnya memburu tak terkendali. Peluh dingin membasahi punggungnya.
Dia selamat. Untuk saat ini.
Namun, kata-kata Davian di telepon tadi kembali terngiang di telinganya, berputar-putar seperti rekaman mimpi buruk. “Cari wanita sialan itu! Viona Estella. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya!”
Davian Cameron bukan sekadar majikan yang galak.
“Aku pikir, pria yang akan menikahiku adalah pria tua yang sudah beruban, ternyata aku salah. Tapi, tetap saja, Davian sangat galak dan kejam.”
Kediaman mewah bahkan Davian sendiri yang menerimanya kerja, yang dia kira sebagai tempat persembunyian, ternyata adalah sarang singa yang paling berbahaya.
Viona memaksa kakinya untuk bergerak. Dia tidak boleh terlihat lemah di koridor utama.
Dengan sisa tenaga yang ada, dia berjalan cepat, setengah berlari, menuruni tangga pelayan menuju sayap timur rumah, tempat kamar-kamar para pekerja berada.
Setibanya di kamarnya yang sempit dan lembap, Viona langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Dia menyeret kursi kayu tua untuk mengganjal pegangan pintu, sebuah tindakan paranoid yang tidak akan bisa menahan siapa pun jika mereka mendobrak, namun memberikan sedikit rasa aman semu bagi Viona.
“Bodoh ... aku bodoh sekali,” rutuk Viona sambil terisak pelan.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor oleh debu.
Dia kemudian menarik tas kain lusuh dari kolong tempat tidur, satu-satunya harta benda yang dia miliki saat ini.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sulit mengoordinasikan gerakan, Viona mulai melempar barang-barangnya ke dalam tas.
Dua potong baju pelayan cadangan. Sebuah sisir patah. Dan bungkusan kecil berisi sisa roti yang dia sisihkan dari makan siang.
Hanya itu. Dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Viona merogoh saku celemeknya. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras. Bungkus permen emas pemberian Elian.
Dia menatap benda kecil itu sejenak. Kebaikan Elian terasa seperti oase di tengah gurun, namun oase itu tidak cukup untuk menyelamatkannya dari badai pasir bernama Davian.
“Aku harus pergi,” bisiknya pada dinding kosong. “Malam ini juga. Sebelum dia menyadari bahwa buronan yang dia cari ada di bawah atap rumahnya sendiri.”
Viona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan
Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me
Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.
Malam itu, perbukitan Royal Sapphire diselimuti kabut tipis, namun di dalam kamar utama kediaman Cameron, suhu udara terasa jauh lebih tinggi.Davian melangkah masuk dengan sisa kelelahan dari kantor yang masih menggelayut di pundaknya.Dia melonggarkan dasi abu-abunya, namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu saat melihat pemandangan di atas tempat tidur King Size mereka.Viona duduk bersandar di kepala ranjang yang megah. Dia hanya mengenakan lingerie sutra hitam yang sangat tipis, membiarkan kulit bahunya yang mulus terpapar cahaya lampu tidur yang temaram.Sebuah senyum tenang, namun penuh arti, tersungging di bibirnya saat dia menatap kedatangan suaminya.Davian terpaku sejenak, matanya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu kontras di atas sprei putih bersih. “Viona? Kau belum tidur?”“Aku menunggumu, Davian,” jawab Viona lembut. Suaranya terdengar seperti bisikan yang mengundang.Davian meletakkan tas kantornya di kursi santai, lalu berjalan mendekat.
Viona melepaskan jemari Davian dari wajahnya perlahan, meskipun dia tidak menjauh. Dia menatap mata suaminya dengan sorot yang lebih jernih, mencoba mencari pijakan di tengah badai emosi yang baru saja mereka lalui.“Aku ingin fokus pada lukisanku, Davian,” ucap Viona pelan namun tegas.“Bulan depan adalah bulan penentu bagiku. Pameran tunggal itu akan menentukan apakah aku memang pelukis yang berbakat atau hanya sekadar istri pengusaha kaya yang sedang mencari hobi. Aku sudah mempertaruhkan segalanya untuk ini.”Davian terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir istrinya.“Aku tidak ingin fokusku terpecah dengan urusan masa lalumu yang belum sepenuhnya hilang dalam hubungan rumah tangga kita ini. Marsha, Alicia, atau apa pun itu ... aku mohon, selesaikan sendiri tanpa melibatkan ketenanganku,” lanjut Viona.Davian mengangguk pelan. Dia bisa merasakan beban dalam suara Viona. “Aku mengerti. Aku tidak akan membiarkan hal itu mengganggumu lagi. Fokuslah pada pameranmu. Aku
“Kenapa Marsha masih suka sekali menghubungimu, Davian?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Viona, dingin dan tajam, memecah kesunyian lobi rumah yang megah.Dia berdiri mematung di depan meja konsol, matanya masih terpaku pada layar ponsel yang terus berkedip menampilkan nama perempuan dari masa lalu itu.Davian, yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan tas kantor di tangan, langkahnya terhenti. Dia melihat istrinya berdiri di sana dengan raut wajah yang sulit ditebak.Tanpa kata, Davian mendekat dan menyambar ponselnya dari atas meja. Dia melihat notifikasi itu sekilas, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah beban seluruh dunia baru saja jatuh ke bahunya.“Aku juga tidak tahu, Viona. Dia tidak berhenti mengirim pesan sejak minggu lalu,” jawab Davian suara rendah, mencoba meredam ketegangan yang mulai merayap naik.“Dia menyebut soal peninggalan kakaknya. Alicia,” Viona menekankan nama itu. “Sepertinya dia tahu persis tombol mana yang harus d







