LOGINViona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.
Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”
“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.
Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.
Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.
Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.
Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah desis halus engsel yang terlumasi dengan baik. Pintu pun terbuka, menyuguhkan udara malam yang dingin dan bau tanah basah.
Namun, harapan Viona hancur berkeping-keping saat dia melangkah keluar.
Klik.
Lampu sorot taman yang tersembunyi di balik pohon-pohon palem tiba-tiba menyala serentak, menyulap kegelapan menjadi terang benderang. Viona sontak mematung, pupil matanya mengecil karena cahaya yang menyilaukan.
“Wah, wah. Lihat siapa yang sedang melakukan patroli malam.”
Suara familiar itu membuat jantung Viona serasa merosot hingga ke perut. Di teras belakang yang berlantai marmer gelap, duduk dua pria yang seolah baru saja keluar dari sampul majalah gaya hidup pria.
Julian dan Elian. Di atas meja bundar di depan mereka, terdapat sebotol whisky kristal dan dua gelas yang setengah terisi.
Julian bersandar dengan gaya santai sambil menyilangkan kaki panjangnya sementara tangannya memutar-mutar gelas. Senyumnya yang biasanya ramah kini terlihat misterius di bawah cahaya lampu taman.
“Loh, Maid kecil mau ke mana malam-malam begini dengan tas sebesar itu?” tanya Julian santai.
Viona mencengkeram tali tasnya hingga buku jarinya memutih. “Saya ... saya ...,” suaranya tercekat.
Dia mencoba menyembunyikan tasnya di balik tubuhnya yang mungil. “Saya ingin mencari apotek, Tuan. Perut saya ... sakit sekali. Saya butuh obat sekarang juga.”
Elian sontak tertawa kecil, suara tawa yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti lonceng peringatan.
Dia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan pelan ke arah Viona. “Apotek terdekat berjarak lima kilometer dari sini, Nona Kucing. Dan jalanan di luar sana sangat gelap. Kau tidak ingin berakhir di selokan lagi seperti saat Kakak Tertua menemukanmu, kan?”
“Tapi saya benar-benar sakit, Tuan,” Viona memohon, suaranya bergetar hebat. “Tolong biarkan saya lewat.”
Julian bangkit dan mendekat, aromanya yang maskulin dan mahal kini terasa mengintimidasi.
Dia lalu meletakkan tangannya di bahu Viona, sebuah sentuhan yang ringan namun terasa seberat beban beton.
“Jangan keras kepala. Kami punya kotak obat yang lebih lengkap dari apotek manapun di kota ini.”
Tanpa menunggu jawaban, Julian menarik lengan Viona dengan paksa namun tetap terasa halus, menyeretnya menuju sofa tempat mereka duduk tadi.
“Duduklah. Temani kami sebentar. Elian baru saja memenangkan taruhan pacuan kuda, dan dia butuh pendengar untuk kesombongannya.”
“Tuan, saya harus pergi, saya—”
“Duduk, Viona,” potong Julian. Kali ini suaranya tidak lagi jenaka. Ada otoritas Cameron yang mengalir di sana.
“Atau aku harus memanggil Sebastian untuk memeriksa tas yang kau bawa itu? Aku penasaran apakah ada perak keluarga yang ikut 'jalan-jalan' malam ini.”
Viona terpaksa duduk di tepi sofa beludru dengan tubuh kaku seperti kayu. Dia terjebak. Di depannya, dua pria ini memperlakukannya seperti hiburan malam, sementara di dalam rumah, seorang monster sedang mencari keberadaannya.
“Kau tahu,” Elian memulai sambil menuangkan sedikit minuman ke gelas ketiga dan menyodorkannya pada Viona.
“Cameron Estate ini punya sistem keamanan yang aneh. Pintunya tidak akan berbunyi jika kau keluar, tapi sensor berat di gerbang belakang akan mengirim sinyal langsung ke ponsel kami. Kau hampir saja memicu sistem itu.”
Viona menatap cairan amber di gelasnya dengan tatapan kosong. Dia merasa seperti tikus yang sedang dipermainkan oleh dua kucing predator sebelum mereka memutuskan untuk menggigit lehernya.
“Katakan padaku, Viona,” Julian mencondongkan tubuhnya seraya menatap wajah pucat Viona dengan intensitas yang mengerikan.
“Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin gadis dengan struktur wajah sepertimu lahir di jalanan. Kau memiliki aura seorang wanita yang terbiasa memerintah, bukan melayani.”
“Saya hanya orang biasa, Tuan,” bisik Viona, air mata hampir tumpah lagi. “Saya mohon, biarkan saya pergi. Saya tidak cocok berada di sini.”
“Oh, kau salah,” sahut Julian sambil membelai rambut Viona yang sedikit berantakan. “Kau adalah hal paling menarik yang masuk ke rumah ini dalam satu dekade terakhir. Kakakku jarang membawa 'sampah' ke rumah, kecuali sampah itu memiliki nilai yang sangat tinggi.”
Viona merasa mual mendengar ucapan Julian tadi. Apakah mereka sudah curiga? Apakah mereka sedang menunggu saat yang tepat untuk menyerahkannya pada Davian?
Ketegangan di teras itu mencapai puncaknya. Udara seolah membeku saat suara gesekan sepatu kulit yang berat terdengar dari arah pintu kaca yang menghubungkan teras dengan ruang kerja pribadi di lantai bawah.
Ketiga orang di teras itu menoleh serentak. Davian Cameron berdiri di ambang pintu. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya terbuka di bagian kerah, dan lengan bajunya digulung hingga ke siku.
Namun, bukan penampilannya yang membuat Viona merasa dunianya berakhir.
Di tangan kanannya, Davian memegang sebuah map kulit berwarna hitam. Sebuah map yang sangat Viona kenal, itu adalah format laporan investigasi pribadi dari firma detektif “Black-Hawk” yang sering digunakan keluarga bangsawan.
Mata Davian yang sehitam jelaga menatap lurus ke arah Viona. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak seperti tadi di telepon. Yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan. Ketenangan sebelum badai menghancurkan segalanya.
Davian mengangkat map itu sedikit, lalu menjatuhkannya ke atas meja di depan Julian dan Elian dengan suara bug yang berat. Map itu terbuka dan menampilkan selembar foto profil seorang wanita cantik dengan gaun pesta mewah.
Foto Viona Estella.
“Malam yang sangat sibuk, bukan?” bisik Davian dengan nada rendah, hampir seperti bisikan iblis.
Davian melangkah mendekat, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Viona sepenuhnya. Dia mencondongkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inci dari telinga Viona yang gemetar.
“Aku mencari seorang pengantin yang hilang, dan rupanya, dia sedang asyik minum-minum dengan adik-adikku di halaman belakang rumahku sendiri.”
“Tunggu dulu ... lelucon macam apa ini, Kak?”Mata Julian membelalak tak percaya saat membandingkan foto wanita anggun di dalam map dengan sosok pelayan kusam yang kini gemetar di hadapannya.Dia lalu bangkit dari kursi dengan gerakan kasar hingga kakinya menyenggol meja dan membuat botol kristal bergetar.“Viona Estella? Putri tunggal Mike yang bangkrut itu?” Julian menatap Viona dengan pandangan baru, bercampur di antara rasa takjub dan ngeri. “Jadi, maid kecil yang baru saja kugoda untuk minum bersama ini adalah calon kakak iparku?”Elian yang duduk di sebelahnya tersedak minumannya sendiri. Dia lalu meletakkan gelas itu dengan keras. “Sialan. Pantas saja kau bilang dia punya struktur wajah bangsawan. Kita baru saja mencoba menggoda tunangan Davian Cameron?”Davian tidak memedulikan keterkejutan adik-adiknya. Pandangannya terpaku pada Viona, dengan tatapan tajam dan mematikan seperti mata pisau yang baru diasah.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma
Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah des
“Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis
Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada fin
Tiga hari pertama di kediaman Cameron terasa seperti sebuah hukuman panjang yang tak berujung bagi Viona.Transisi dari seorang nona muda yang jari-jemarinya hanya terbiasa menari di atas tuts piano menjadi seorang pelayan rendahan adalah kejutan budaya yang menyakitkan.Di lorong sayap barat yang sunyi, Viona sedang berlutut, berusaha menyeka noda pada lantai marmer dengan kain pel yang terasa kasar di kulitnya.Napasnya terengah-engah. Ia menatap kedua tangannya; kulit yang tadinya sehalus sutra kini memerah, lecet, dan di beberapa bagian kulit arinya terkelupas akibat gesekan dengan sabun keras dan gagang sapu.“Aduh ...,” desis Viona pelan saat sabun pel itu menyengat luka kecil di ibu jarinya.Ia menjatuhkan kain itu kembali ke dalam ember dengan suara kecipak air yang terdengar terlalu keras di lorong yang hening.Tiba-tiba, suara pintu yang dibanting dengan keras di ujung koridor membuat Viona tersentak hebat. Ia segera bangkit dan merapatkan punggungnya ke dinding, berusaha me
“Masuk,” perintah Davian singkat.Viona menuruti, kepalanya tertunduk dalam. Mereka memasuki ruang santai bergaya Victorian.Di sana, duduk di atas sofa beludru berwarna merah marun, terdapat dua pemuda yang memiliki kemiripan wajah dengan Davian, meskipun aura mereka jauh lebih santai. Itu adalah Julian dan Elian.Julian sedang melempar-lemparkan sebuah koin emas ke udara dengan bosan, sementara Elian tampak sedang membolak-balik halaman buku tebal tanpa benar-benar membacanya.Kedatangan Davian membuat aktivitas kedua adiknya terhenti.“Kakak Tertua,” sapa Julian dan seringai tipis muncul di bibirnya saat dia menangkap koin yang jatuh. “Kau pulang lebih awal. Dan kau membawa ... oleh-oleh?”Mata Julian dan Elian serentak tertuju pada sosok mungil di belakang Davian. Viona yang sadar sedang diperhatikan, semakin mengeratkan cengkeramannya pada sisi rok gaunnya yang kotor dan robek di bagian ujung.“Dia butuh pekerjaan. Urus dia,” ucap Davian datar. Tanpa memberikan penjelasan lebih l







