Share

BAB. 9

Penulis: Wisha Berliani
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 10:13:03

Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.

“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.

Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.

Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.

Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.

“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”

Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.

“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.

Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.

“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.

Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”

Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.

“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 9

    Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 8

    Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 7

    Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 6

    Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 5

    Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 4

    Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status