MasukMalam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya.
Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Suaranya serak. “Ada orang di luar?” Tak ada jawaban. Jasmine menarik napas dalam-dalam dan mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tok! Tok! Tok! “Aku lapar…” Nada suaranya bergetar. “Aku juga sakit… tolong…” Di balik pintu, ia bisa mendengar langkah kaki. Mereka ada, tapi memilih diam. “Kenapa…” isaknya pecah. “Kenapa kalian sejahat ini…” Tok! Tok! Tok! “Aku cuma mau makan... sedikit saja... tolong…” Tetap tak ada jawaban. Kesunyian itu terasa lebih kejam daripada teriakan. Perlahan, Jasmine merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang tertutup rapat. Tangisnya akhirnya pecah. Tubuhnya gemetar, sendirian, terkurung di kamar mewah yang terasa seperti sangkar. Di saat yang sama, gerbang mansion terbuka. Konvoi mobil hitam masuk dengan tertib. Mesin-mesin dimatikan hampir bersamaan. Zein turun dari mobil paling depan. Jas hitamnya masih rapi, meski ia baru saja keluar dari sebuah transaksi berdarah. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Asisten pribadinya turun menyusul, berdiri setengah langkah di belakang. “Pengiriman sudah beres, Tuan,” lapor sang asisten pelan sambil berjalan mengiringinya. “Semua unit diterima. Pembayaran masuk penuh.” “Tidak ada masalah?” tanya Zein tanpa menoleh. “Tidak, Tuan. Pihak mereka patuh.” “Bagus.” Langkah Zein tak melambat. “Pastikan tidak ada satu pun ekor yang mengikuti.” “Sudah dicek, Tuan. Aman.” Pintu utama mansion terbuka. Keduanya masuk ke dalam. Begitu tiba di ruang tengah, Zein baru melirik salah satu pelayan yang segera menunduk hormat. “Bagaimana keadaannya?” tanya Zein datar. “Nona Jasmine… sejak setengah jam lalu terus berteriak. Dia beberapa kali menggedor pintu dan meminta makan, Tuan.” Langkah Zein terhenti. “Dan?” tanyanya singkat. “Kami menjalankan perintah Tuan. Tidak ada yang merespon,” jawab pelayan itu tenang. Zein mengangguk pelan. “Siapkan makan. Lengkap. Sekarang,” perintahnya. Pelayan itu terdiam sejenak, lalu buru-buru mengangguk. “Baik, Tuan.” Zein melirik asistennya. “Kau boleh pulang. Datang lagi besok pagi.” Asisten itu langsung menunduk. “Siap, Tuan.” Tak lama kemudian, sebuah troli penuh makanan didorong pelayan menyusuri lorong mansion. Zein berjalan di depan. Semakin dekat ke kamar itu, suara dari dalam terdengar makin jelas. Tok! Tok! Tok! “Tolooong… buka pintunya… aku lapar…” Zein berhenti tepat di depan pintu. Dari balik daun kayu tebal itu, suara itu terus memanggil. “Please… aku cuma mau makan…” Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibir Zein. “Buka,” perintahnya singkat. Kunci diputar, dan pintu pun terbuka. Jasmine yang tadi menggedor pintu hampir terhuyung ke depan saat daun kayu itu terbuka. Matanya langsung tertuju pada troli makanan di hadapannya. Aroma hangat menyeruak ke hidungnya. Perutnya langsung bergejolak. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah. Zein melangkah masuk. Pelayan mendorong troli ke dalam, menunduk singkat, lalu keluar. Pintu kembali tertutup. Kini, hanya tinggal mereka berdua. Jasmine berdiri kaku di dekat pintu, tatapannya tak bisa lepas dari piring-piring di atas troli. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah takut jika ia bergerak, semuanya akan menghilang. Zein memandang Jasmine sejenak. “Kau lapar?” tanyanya datar. Jasmine tak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada makanan, harga dirinya bertarung dengan tubuhnya yang sudah terlalu lemah. Zein tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, lalu melangkah ke sofa dan duduk santai. Tatapannya menyapu Jasmine dari atas ke bawah: wajah pucat, rambut berantakan, dan tubuh yang tampak kelelahan. “Kau lapar, Jasmine?” ulangnya, kali ini lebih tenang, tapi menusuk. Jasmine hanya mengangguk pelan. “Lucu. Padahal pagi tadi kau menolak makan sampai membuat seisi mansion kacau. Sekarang lihat dirimu.” Zein menepuk dudukan sofa di sampingnya. “Kemari.” Dengan ragu, Jasmine mendekat. Baru saja dia hendak duduk, pinggangnya tiba-tiba ditarik, dan tubuhnya terjatuh ke pangkuan Zein. “Ka—Kau,” pekik Jasmine terkejut. “Kalau ingin makan,” bisik Zein di telinga, “terima dulu hukuman karena kau sudah membuatku marah pagi ini.” Sebelum Jasmine sempat menjawab, bibir Zein sudah menyambar bibirnya dengan cepat, menekan, dan menguasai. “Mmpphh—” Jasmine terkejut, napasnya tercekat menerima sentuhan yang tiba-tiba itu. Namun Zein tak mau berhenti. Bahkan tangannya mulai meraba naik ke dada Jasmine dan meremas keras. Hingga di detik berikutnya, Deg. Gerakannya terhenti. Sorot matanya berubah, dari gelap menjadi bingung. Ia menatap jemarinya yang basah, cairan putih kekuningan yang terasa hangat itu berkilau di telapak tangannya. Tatapannya berpindah ke dada Jasmine, lalu kembali ke tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya retak. “Apa ini?” *****Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah
Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su
Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da
Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te
Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk
Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat







