Compartir

BAB. 8

last update Última actualización: 2026-01-19 17:57:26

Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya.

Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain.

Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun.

“Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca.

“Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar.

Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan.

Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu.

Tok. Tok. Tok.

Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu.

“Permisi…” Suaranya serak. “Ada orang di luar?”

Tak ada jawaban.

Jasmine menarik napas dalam-dalam dan mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

“Aku lapar…” Nada suaranya bergetar. “Aku juga sakit… tolong…”

Di balik pintu, ia bisa mendengar langkah kaki. Mereka ada, tapi memilih diam.

“Kenapa…” isaknya pecah. “Kenapa kalian sejahat ini…”

Tok! Tok! Tok!

“Aku cuma mau makan... sedikit saja... tolong…”

Tetap tak ada jawaban.

Kesunyian itu terasa lebih kejam daripada teriakan.

Perlahan, Jasmine merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang tertutup rapat. Tangisnya akhirnya pecah. Tubuhnya gemetar, sendirian, terkurung di kamar mewah yang terasa seperti sangkar.

Di saat yang sama, gerbang mansion terbuka.

Konvoi mobil hitam masuk dengan tertib. Mesin-mesin dimatikan hampir bersamaan.

Zein turun dari mobil paling depan. Jas hitamnya masih rapi, meski ia baru saja keluar dari sebuah transaksi berdarah. Wajahnya tetap dingin seperti biasa.

Asisten pribadinya turun menyusul, berdiri setengah langkah di belakang.

“Pengiriman sudah beres, Tuan,” lapor sang asisten pelan sambil berjalan mengiringinya. “Semua unit diterima. Pembayaran masuk penuh.”

“Tidak ada masalah?” tanya Zein tanpa menoleh.

“Tidak, Tuan. Pihak mereka patuh.”

“Bagus.” Langkah Zein tak melambat. “Pastikan tidak ada satu pun ekor yang mengikuti.”

“Sudah dicek, Tuan. Aman.”

Pintu utama mansion terbuka. Keduanya masuk ke dalam.

Begitu tiba di ruang tengah, Zein baru melirik salah satu pelayan yang segera menunduk hormat.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Zein datar.

“Nona Jasmine… sejak setengah jam lalu terus berteriak. Dia beberapa kali menggedor pintu dan meminta makan, Tuan.”

Langkah Zein terhenti.

“Dan?” tanyanya singkat.

“Kami menjalankan perintah Tuan. Tidak ada yang merespon,” jawab pelayan itu tenang.

Zein mengangguk pelan.

“Siapkan makan. Lengkap. Sekarang,” perintahnya.

Pelayan itu terdiam sejenak, lalu buru-buru mengangguk. “Baik, Tuan.”

Zein melirik asistennya. “Kau boleh pulang. Datang lagi besok pagi.”

Asisten itu langsung menunduk. “Siap, Tuan.”

Tak lama kemudian, sebuah troli penuh makanan didorong pelayan menyusuri lorong mansion.

Zein berjalan di depan.

Semakin dekat ke kamar itu, suara dari dalam terdengar makin jelas.

Tok! Tok! Tok!

“Tolooong… buka pintunya… aku lapar…”

Zein berhenti tepat di depan pintu.

Dari balik daun kayu tebal itu, suara itu terus memanggil.

“Please… aku cuma mau makan…”

Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibir Zein.

“Buka,” perintahnya singkat.

Kunci diputar, dan pintu pun terbuka.

Jasmine yang tadi menggedor pintu hampir terhuyung ke depan saat daun kayu itu terbuka.

Matanya langsung tertuju pada troli makanan di hadapannya.

Aroma hangat menyeruak ke hidungnya. Perutnya langsung bergejolak. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.

Zein melangkah masuk.

Pelayan mendorong troli ke dalam, menunduk singkat, lalu keluar.

Pintu kembali tertutup. Kini, hanya tinggal mereka berdua.

Jasmine berdiri kaku di dekat pintu, tatapannya tak bisa lepas dari piring-piring di atas troli. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah takut jika ia bergerak, semuanya akan menghilang.

Zein memandang Jasmine sejenak.

“Kau lapar?” tanyanya datar.

Jasmine tak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada makanan, harga dirinya bertarung dengan tubuhnya yang sudah terlalu lemah.

Zein tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, lalu melangkah ke sofa dan duduk santai. Tatapannya menyapu Jasmine dari atas ke bawah: wajah pucat, rambut berantakan, dan tubuh yang tampak kelelahan.

“Kau lapar, Jasmine?” ulangnya, kali ini lebih tenang, tapi menusuk.

Jasmine hanya mengangguk pelan.

“Lucu. Padahal pagi tadi kau menolak makan sampai membuat seisi mansion kacau. Sekarang lihat dirimu.”

Zein menepuk dudukan sofa di sampingnya.

“Kemari.”

Dengan ragu, Jasmine mendekat. Baru saja dia hendak duduk, pinggangnya tiba-tiba ditarik, dan tubuhnya terjatuh ke pangkuan Zein.

“Ka—Kau,” pekik Jasmine terkejut.

“Kalau ingin makan,” bisik Zein di telinga, “terima dulu hukuman karena kau sudah membuatku marah pagi ini.”

Sebelum Jasmine sempat menjawab, bibir Zein sudah menyambar bibirnya dengan cepat, menekan, dan menguasai.

“Mmpphh—” Jasmine terkejut, napasnya tercekat menerima sentuhan yang tiba-tiba itu.

Namun Zein tak mau berhenti. Bahkan tangannya mulai meraba naik ke dada Jasmine dan meremas keras. Hingga di detik berikutnya,

Deg.

Gerakannya terhenti. Sorot matanya berubah, dari gelap menjadi bingung. Ia menatap jemarinya yang basah, cairan putih kekuningan yang terasa hangat itu berkilau di telapak tangannya.

Tatapannya berpindah ke dada Jasmine, lalu kembali ke tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya retak.

“Apa ini?”

*****

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 66

    Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 65

    Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 64

    Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 63

    Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 62

    Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktivitas yang bisa meningkatkan detak jantung. Melatih napas. Mengeluarkan keringat.” Jasmine langsung refleks melihat ke sekeliling kamar. “Kita tidak punya treadmill.” Zein terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Bukan tawa keras, tapi lebih seperti getaran hangat di dada yang masih sangat dekat dengan wajah Jasmine. “Kau pikir aku bicara soal alat?” “Ya memang olahraga pakai alat, kan? Atau lari pagi?” Jasmine tampak benar-benar berpikir keras. “Tapi... kamu tadi bilang sesuatu yang sudah jadi milikmu…” Ia berhenti sendiri. Pipi gadis itu mulai memerah perlahan. Zein menikmati setiap detik kebingungan itu. “Mine,” panggilnya lembut. Jasmine menoleh. “Detak jantungmu sudah naik

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 61

    Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status