LOGIN“Apa yang sedang kau lakukan?”
Suara Ethan terdengar tajam memotong kesunyian pagi pertama Cassandra sebagai istri dari pria itu.
Ethan sudah rapi dengan kemeja hitam yang disetrika sempurna, meski jasnya masih tersampir di lengan kursi. Matanya menatap wajan di atas kompor seolah benda itu adalah ancaman keamanan.
“Aku ... aku hanya ingin membuat sarapan,” jawab Cassandra sambil memegang sudit dengan tangan yang sedikit bergetar. “Aku pikir kita bisa memulai pagi dengan lebih baik jika—”
Sebelum Cassandra menyelesaikan kalimatnya, Ethan melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun dia meraih gagang wajan dan menuangkan seluruh isinya ke dalam tempat sampah otomatis yang terbuka dengan suara whirring mekanis.
“Ethan! Apa yang kau lakukan?” Cassandra memekik dengan mata yang membelalak seraya menatap sarapan yang dia buat dengan susah payah kini tercampur dengan limbah dapur.
Ethan berbalik lalu menatapnya dengan tatapan datar yang mengintimidasi.
“Sarapan itu tidak sesuai dengan standar nutrisi yang sudah ditetapkan untukmu, Cassandra. Aku tidak mengizinkanmu memasukkan sampah ke dalam tubuhmu. Aku punya tim ahli gizi yang sudah menyusun menu harianmu, dan kau tidak boleh menyimpang satu gram pun.”
“Sampah? Itu hanya telur dan sedikit almond, Ethan,” bantah Cassandra dengan nada yang sedikit kesal karena takut jika dia marah, Ethan semakin meledak padanya.
Tak peduli dengan ucapan istrinya, dia melangkah dan mengikis jarak di antara mereka hingga punggung Cassandra menempel pada tepi meja dapur yang dingin.
Dia lalu membungkuk dan menatap Cassandra tepat di matanya. “Sedikit almond, katamu?”
Ethan tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Kau lupa bahwa almond adalah sepupu dekat dari kacang tanah, Cassandra. Dan kau memiliki reaksi anafilaksis tingkat rendah terhadap kacang-kacangan tertentu yang mengandung protein serupa. Kau ingin mati tersedak karena sesak napas di pagi pertama pernikahanmu, huh?”
Cassandra membeku, sementara jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
“Bagaimana ... bagaimana kau tahu?” bisiknya dengan suara tercekat. “Aku tidak pernah mencantumkan riwayat alergi itu di formulir medis kantor. Bahkan ayahku saja sering lupa.”
Ethan tidak menjawab secara langsung. Dia justru meraih apron linen yang tersampir di bahu Cassandra, apron yang belum sempat Cassandra ikat dengan benar karena terburu-buru tadi.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh penekanan, Ethan memutar tubuh Cassandra hingga wanita itu membelakanginya.
Cassandra bisa merasakan napas hangat Ethan di ceruk lehernya, tepat di atas kalung emas yang melingkar di sana.
Jemari Ethan yang panjang mulai menarik tali apron di pinggang Cassandra.
Sentuhan itu sangat hati-hati, namun setiap gesekan jari Ethan pada kulit pinggangnya yang tertutup kain tipis terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh sarafnya.
Ethan menarik tali itu dan memastikan ikatannya kencang, hampir seperti sebuah pelukan paksa dari belakang.
“Aku tahu segalanya tentangmu, Cassandra,” bisik Ethan, suaranya kini selembut beludru namun mengandung ancaman yang pekat.
“Aku tahu catatan medis masa kecilmu, aku tahu golongan darahmu, aku bahkan tahu berapa detak jantungmu saat kau sedang bermimpi buruk semalam.”
Tangan Ethan tidak langsung lepas setelah mengikat apron dan membiarkan telapak tangannya tetap berada di pinggang Cassandra, jemarinya perlahan merayap naik ke arah punggung, seolah sedang memetakan setiap inci tubuh wanita itu.
“Dengarkan aku baik-baik,” Ethan berbisik tepat di telinga Cassandra sampai membuat wanita itu memejamkan mata rapat-rapat.
“Jangan pernah mencoba melakukan sesuatu tanpa izinku lagi. Tubuhmu, kesehatanmu, bahkan rasa sakitmu itu semua berada di bawah pengawasanku. Hanya aku yang boleh menyentuh kulitmu, hanya aku yang boleh memutuskan apa yang terbaik untukmu.”
Cassandra merasakan sensasi panas menjalar di wajahnya, perpaduan antara amarah dan reaksi tubuh yang tidak bisa dia kendalikan terhadap dominasi Ethan yang begitu intens.
“Kau bukan pemilik hidupku, Ethan. Kau hanya suamiku di atas kertas.”
Ethan terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar sangat gelap dan posesif.
Dia lalu membalikkan tubuh Cassandra kembali, tangannya kini mencengkeram lembut dagu Cassandra, memaksanya menatap mata elang pria itu.
“Di atas kertas, di depan Tuhan, dan di dalam apartemen ini ... kau adalah milikku seutuhnya,” ujar Ethan dengan penekanan pada setiap kata.
“Sekarang, duduklah. Makanan yang sebenarnya akan tiba dalam dua menit. Dan jangan pernah berpikir untuk menyentuh dapur ini lagi tanpa perintahku.”
Ethan melepaskan cengkeramannya dan meninggalkan Cassandra yang berdiri gemetar di tengah dapur yang megah namun terasa seperti penjara bawah tanah.
Dia menatap punggung Ethan yang berjalan menjauh, menyadari bahwa pria ini tidak hanya memantau gerak-geriknya, tapi telah membedah seluruh hidupnya jauh sebelum mereka terikat pernikahan.
Pertanyaannya bukan lagi kapan dia bisa bebas, melainkan seberapa dalam Ethan telah merencanakan pengurungan ini selama dua puluh tahun terakhir.
Saat suara bel pintu berdenting menandakan kiriman makanan dari koki pribadi Ethan tiba, Cassandra menyadari satu hal yang lebih mengerikan: kalung di lehernya bukan satu-satunya hal yang mengikatnya.
Ethan telah menenun jaring yang begitu halus dan rapi, hingga setiap langkah yang dia ambil seolah-olah memang sudah diarahkan oleh pria itu.
“Makanlah, Cassandra,” perintah Ethan tanpa menoleh, suaranya kembali datar dan dingin.
“Hari ini Lucas akan berkunjung, dan aku tidak ingin kau terlihat lemas saat suamimu ini menunjukkan betapa bahagianya kita.”
Dua hari berselang, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan keharuman essential oil chamomile yang menenangkan di kamar utama mansion Lubis.Cassandra duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, wajahnya tampak jauh lebih segar meski guratan lelah sisa persalinan masih membekas.Di kedua sisinya, dua boks bayi berbahan kayu ek putih berdiri kokoh, menampung dua kehidupan mungil yang sedang tertidur lelap dalam bedongan rapi.Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan serombongan keluarga Lubis yang masuk dengan keriuhan yang tak terbendung. Lucas, sepupu Ethan yang paling eksentrik, melangkah paling depan dengan setelan jas yang terlalu mencolok untuk kunjungan rumah.“Mana para pahlawan baru kita? Menyingkir, Ethan! Biarkan pamanmu yang paling tampan ini melihat mereka!” seru Lucas sambil menyikut lengan Ethan yang sedang berjaga di samping ranjang.Ethan mendengus, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. “Pelankan suaramu, Lucas. Jika kau membangunkan mereka, aku akan membuangmu ke kol
Fajar di kota itu pecah dengan warna emas yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.Di balik jendela besar kamar bersalin VVIP rumah sakit, matahari terbit dengan kehangatan yang tak biasa, seolah alam pun turut menyambut kedatangan dua pewaris baru dinasti Lubis.Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tangis bayi yang saling bersahutan, dua suara yang melengking kuat, menandakan kehidupan yang sehat dan penuh energi.Cassandra terbaring lemas dengan peluh yang masih membasahi keningnya, namun senyumnya adalah pemandangan paling indah yang pernah Ethan lihat.Dokter Miller baru saja selesai membersihkan kedua bayi laki-laki itu dan membungkus mereka dengan kain katun lembut berwarna biru pucat.“Tuan Lubis, apakah Anda siap menerima putra-putra Anda?” tanya Dokter Miller sambil memberikan bayi pertama.Ethan menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh otoritas dan kekakuannya menguap seketika.Tak lama kemudian, bayi kedua diletakkan di lengan satunya. Kini,
Malam di kota itu terasa semakin dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Lubis, suhu diatur dengan presisi demi kenyamanan Cassandra.Lilin aroma terapi lavender menyala redup, memberikan ketenangan di tengah napas Cassandra yang mulai terdengar berat.Usia kandungan yang menginjak bulan kedelapan membuat setiap posisi tidur terasa salah bagi wanita itu.Ethan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya yang sedikit memerah karena kurang tidur tetap terjaga.Tangannya yang besar bergerak ritmis, mengusap punggung bawah Cassandra dengan tekanan yang pas untuk meredakan nyeri yang tak kunjung hilang.“Masih sakit, Sayang?” bisik Ethan, suaranya parau namun penuh kelembutan.Cassandra bergumam pelan, mencoba mencari posisi miring yang nyaman. “Hanya sedikit sesak, Ethan. Mereka seolah sedang berebut ruang di dalam sini. Kau tidak perlu terjaga terus, tidurlah sejenak.”“Bagaimana aku bisa tidur jika aku tahu kau sedang berjuang menahan beban dua jagoan ini sendirian?” Ethan mengecup b
Beberapa bulan telah berlalu, dan perut Cassandra kini sudah membuncit signifikan, membawa beban kehidupan ganda yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di sofa ruang kerja Ethan.Suatu sore yang mendung di London, Ethan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja mahoninya. Wajahnya tampak serius, namun tidak ada kemarahan di sana.“Intelijenku sudah menemukannya, Cass,” ucap Ethan memecah keheningan. “Mark. Ayahmu.”Cassandra tertegun, jemarinya yang sedang mengelus perut terhenti seketika. “Di mana dia?”“Pinggiran kota kecil di Prancis, dekat perbatasan. Dia menggunakan nama samaran, bekerja di sebuah kebun anggur lokal. Hidupnya jauh dari kemewahan yang dulu dia banggakan,” Ethan berjalan mendekat, berlutut di hadapan istrinya agar mata mereka sejajar.“Mobil sudah siap. Jika kau ingin menemuinya, kita bisa berangkat ke bandara satu jam lagi. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari lagi.”Cassandra terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan
Pagi itu, aroma mentega berkualitas tinggi dan vanila organik memenuhi penjuru dapur mansion.Elea datang bukan dengan tangan kosong; ia membawa kotak-kotak bahan impor, mulai dari cokelat Belgia hingga tepung gandum khusus dari Prancis, seolah ingin membuktikan bahwa niatnya kali ini benar-benar serius.Di meja marmer, loyang mufin baru saja dikeluarkan dari oven. Uap panas mengepul, menampakkan permukaan kue yang merekah sempurna, berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang kenari yang mengkilap.“Cassandra, lihat! Mereka tidak bantat!” teriak Elea dengan suara melengking penuh kemenangan. “Mereka benar-benar mengembang!”Cassandra tersenyum lebar, mendekat untuk menghirup aroma panggangan yang menggoda selera. “Wah, ini mufin tercantik yang pernah kulihat di dapur ini, Elea. Teksturnya pas sekali.”Ethan, yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil memantau tablet kerjanya, bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat, menyipitkan mata menatap deretan kue itu dengan raut skeptis yang p
Sinar matahari sore yang mulai meredup menerobos masuk melalui atap kaca tinggi di konservatori bunga mansion utama Lubis, menciptakan bayangan artistik dari sulur-sulur tanaman rambat yang menghiasi ruangan. Aroma melati yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dari pot-pot porselen besar, menciptakan oasis ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis di luar sana. Ariana duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melati organiknya, sementara Cassandra duduk di hadapannya, merasa sangat rileks di tengah hamparan bunga anggrek langka yang menjadi kebanggaan ibu mertuanya. Ariana meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus, matanya yang teduh menatap perut Cassandra yang kini mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Ada binar kerinduan sekaligus empati yang dalam di tatapan wanita paruh baya itu. “Kau tahu, Cassandra,” Ariana memulai, suaranya lembut namun berwibawa, “mengandung seorang pewaris Lubis bukanlah sekadar soal kesehatan fisik. Ini adalah
Udara di dalam kamar utama itu seolah mendadak menipis, digantikan oleh ketegangan elektrik yang memicu adrenalin di setiap jengkal kulit mereka.Begitu daun pintu ganda itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, Ethan tidak lagi membuang waktu.Dalam satu gerakan yang presisi dan penuh kekuatan, i
Suara mesin mobil yang meredam di pelataran parkir kediaman mereka menandakan kepulangan sang tuan rumah lebih awal dari biasanya.Di dalam, Cassandra sedang menyesap teh chamomile hangat di ruang tengah, matanya terpaku pada buku panduan kehamilan yang terbuka di pangkuannya.Namun, fokusnya terpe
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar di ruang kerja Ethan memberikan aksen maskulin pada perabotan kayu ek yang mendominasi ruangan.Pintu kayu ganda itu terbuka dengan sentakan kasar, menampakkan sosok Lucas yang masuk dengan langkah lebar dan napas yang masih sedikit mem
Ruang makan yang elegan di kediaman mereka bermandikan cahaya temaram dari lampu gantung kristal yang menggantung rendah di atas meja marmer panjang.Denting alat makan perak yang beradu halus dengan piring porselen menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan di antara mereka.Ethan duduk d







