LOGIN
“Selamat atas pernikahanmu, Tuan Lubis. Pengantinmu sangat cantik,” ucap salah satu kolega Ethan yang menyapa mereka dengan tulus.
Cassandra memaksakan sebuah senyum saat menyalami kolega bisnis keluarga Lubis.
Bagi ribuan tamu undangan, malam ini adalah puncak dari sebuah dongeng romantis. Cassandra, dengan gaun putih rancangan desainer ternama, tampak seperti putri yang akhirnya menemukan pangerannya.
Dan pria di sampingnya, Ethan Lubis—pria tampan berusia 30 tahun adalah pangeran yang begitu tampan, mapan, dan terlihat begitu memuja istrinya.
Tangannya yang terbungkus sarung tangan renda terasa dingin dan gemetar. Di sampingnya, Ethan melingkarkan lengan di pinggangnya dengan posesif.
Setiap kali ada tamu yang memuji keserasian mereka, Ethan akan mengecup pelipis Cassandra dengan lembut, sebuah gestur yang membuat para tamu wanita mendesah iri.
“Kau terlihat lelah, Sayang. Sebentar lagi kita pulang,” bisik Ethan tepat di telinga Cassandra.
Suaranya begitu hangat dan menenangkan, tipe suara yang dulu selalu Cassandra dambakan saat dia masih remaja, saat dia hanya bisa mengagumi Ethan dari jauh.
Dulu, Cassandra adalah gadis kecil yang menyimpan foto Ethan di bawah bantalnya. Teman satu kelas selama sekolah dasar, menengah pertama, atas, hingga kuliah di kampus yang sama.
Namun, pernikahan ini bukanlah pernikahan atas dasar cinta yang mereka bangun. Ayah Cassandra melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidup mereka.
Sebuah pengkhianatan dana investasi besar-besaran membuat keluarganya hancur dan ayahnya kabur entah ke mana, meninggalkan utang yang kini mengejar-ngejar Cassandra sampai membuatnya harus bekerja sebagai sekretaris pribadi Ethan.
Di saat itulah, Ethan memberikan dua pilihan padanya; menikah dengannya untuk mengelabui ayahnya—Jason, agar berhenti menjodohkannya, atau berakhir di penjara atas utang besar yang dimiliki ayahnya.
“Terima kasih sudah bertahan, Cassandra,” ucap seorang bibi Cassandra sembari memeluknya. “Beruntung sekali Ethan masih mau menerimamu padahal keluargamu sedang di ujung tanduk. Dia pria yang sangat baik.”
Cassandra hanya bisa mengangguk kaku. Baik. Ya, di mata dunia, Ethan adalah pahlawan yang menikahi putri dari pria yang memiliki banyak utang atas nama ‘cinta’.
Tapi Cassandra tahu, pernikahan ini adalah bentuk pelunasan utang yang tidak akan pernah lunas.
Setelah dua jam bersandiwara, akhirnya mereka sampai di penthouse pribadi milik Ethan.
Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam unit mereka, suasana mendadak berubah. Kehangatan pesta tadi menguap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Cassandra menarik napas lega dan merasa sedikit lebih santai karena merasa “tugasnya” di depan publik telah usai.
Dia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota sambil mencoba mencairkan suasana.
“Pestanya luar biasa, Ethan. Bahkan terlihat seperti pernikahan normal pada umumnya,” kata Cassandra dengan pelan.
Dia menoleh ke arah Ethan dengan senyum kecil yang jujur, berharap bahwa mungkin, di balik semua konflik utang yang telah Ethan lunasi, mereka bisa memulai hidup baru yang setidaknya damai.
“Jangan banyak bicara. Kau boleh melepaskan gaun itu setelah memenuhi tugasnya di depan kamera tadi.”
Suara bariton itu memecah keheningan dengan rendah dan bergetar, sampai membuat bulu kuduk Cassandra meremang.
Dia menoleh perlahan dan melihat pria itu berdiri di dekat bar pribadi, sedang menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal.
Pria itu sudah melepas jas dan dasinya dengan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, yang menampilkan pangkal lehernya yang kokoh.
“Di mana kamar asisten rumah tanggamu? Aku ingin meminta bantuan untuk membuka ritsleting di punggungku.”
Ethan menyesap wiskinya sebelum berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Cassandra, lalu memangkas jarak hingga wanita itu bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan tajamnya alkohol.
“Tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal di sini, Cassandra,” ujar Ethan dengan lembut, namun nadanya mengandung sebuah peringatan.
Dia lalu meletakkan gelasnya di meja samping dan bergerak memutari tubuh Cassandra.
“Hanya ada aku dan kau. Di gedung ini, privasiku adalah segalanya. Tidak ada mata asing yang boleh melihat apa yang terjadi di balik pintu ini. Termasuk melihatmu.”
Cassandra merasakan jemari Ethan yang panjang dan dingin menyentuh tengkuknya yang terbuka.
Sentuhan itu terasa ringan bahkan hampir seperti belaian, namun Cassandra tersentak seolah kulitnya baru saja tersulut api.
Ethan tidak mempedulikan reaksi itu. Dengan gerakan yang sangat terukur, dia menurunkan ritsleting gaun Cassandra milimeter demi milimeter.
Udara dingin langsung menerpa kulit punggung Cassandra yang terekspos, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan napas hangat Ethan yang kini terasa di bahunya.
“Kau gemetar,” bisik Ethan lalu menumpukan dagunya di bahu Cassandra dan menatap pantulan wajah wanita itu di dinding kaca yang kini berfungsi sebagai cermin gelap.
“Apa kau takut padaku? Setelah dua puluh tahun kita berada di gedung yang sama, apa kau baru menyadari bahwa aku adalah ancaman bagimu?”
Cassandra menelan ludah dengan susah payah. Mata gelap Ethan yang menatapnya melalui pantulan kaca itu tampak seperti jurang yang siap menelannya hidup-hidup.
Baru saja Cassandra hendak membuka mulutnya, ponsel di dalam tas kecil Cassandra berdering nyaring.
Cassandra tersentak dan refleks meraih tasnya. Di layar ponsel, muncul nama: “Devan”.
Devan adalah sahabat masa kecilnya, satu-satunya orang yang masih peduli padanya sejak keluarganya jatuh miskin.
Wajah Cassandra sedikit cerah secara spontan saat melihat nama itu. Dia merasa memiliki sedikit “oksigen” di tengah tekanan Ethan yang kini berubah menjadi dingin kembali padahal sangat manis di resepsi pernikahan mereka tadi.
“Ini Devan ... mungkin dia mau mengucapkan selamat atau memastikan aku baik-baik saja. Aku angkat sebentar, ya?” ucap Cassandra tanpa menyadari perubahan drastis pada raut wajah suaminya.
Belum sempat Cassandra menggeser tombol hijau, tangan besar Ethan menyambar ponsel itu dengan kecepatan yang menakutkan.
“Ethan? Apa yang—”
Brak!
Ethan tidak mematikan teleponnya. Dia justru melempar ponsel mahal itu ke atas meja marmer di dekat mereka dan membiarkan panggilan itu tetap terhubung namun tak terjangkau. Matanya yang tadinya tenang kini berkilat penuh amarah yang tertahan.
“Tidak ada pria manapun yang boleh menghubungimu mulai detik ini, Cassandra,” desis Ethan.
“Ta-tapi, Ethan. Dia adalah sahabatku—”
“Kau pikir aku peduli?” potongnya kemudian merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam.
Dia lalu membukanya dan menampilkan sebuah kalung choker dari emas murni yang sangat tipis, nyaris menyerupai benang emas, namun tampak sangat kokoh.
Di bagian tengahnya terdapat pengait kecil yang unik, tanpa lubang kunci konvensional.
“Pakai ini,” perintah Ethan.
Tanpa menunggu persetujuan, Ethan melingkarkan logam dingin itu di leher jenjang Cassandra. Jari-jarinya yang cekatan mengunci pengait itu dengan bunyi klik halus yang terdengar sangat final di telinga Cassandra.
Cassandra meraba lehernya dengan bingung. “Di mana kuncinya? Bagaimana cara membukanya?” tanyanya kemudian.
Ethan menarik tangan kanan Cassandra, lalu mengarahkan jemari wanita itu ke jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya sendiri.
Di sisi jam tangan itu, terdapat sebuah tonjolan kecil yang hampir tak terlihat, sebuah kunci magnetik mikro yang terintegrasi dengan perangkat di tangannya.
“Kuncinya ada di sini, di jam tanganku. Dan jam ini tidak akan pernah lepas dari tanganku, bahkan saat aku tidur,” ujar Ethan dengan senyum miring yang penuh kemenangan.
Dia kembali mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibirnya hampir bersentuhan dengan daun telinga Cassandra, memberikan sensasi panas yang membuat Cassandra lemas.
“Jangan menganggap ini sebagai perhiasan pengantin yang cantik, Cassandra. Karena ini adalah tanda kepemilikan. Dan selama kalung ini melingkar di lehermu, kau harus ingat satu hal ....”
Ethan menjeda kalimatnya, namun matanya yang gelap itu menatap lurus ke dalam pupil mata Cassandra yang melebar karena terkejut.
“Setiap tarikan napasmu, setiap kata yang keluar dari mulutmu, dan setiap jengkal kulitmu kini telah menjadi milikku. Dan aku tidak akan pernah memberikan kuncinya pada siapa pun, termasuk dirimu sendiri!”
Ethan tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan yang efisien dan penuh dominasi, dia melucuti kemeja putih Cassandra, bahkan membiarkan kancing-kancingnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara halus yang tertelan tebalnya karpet.“Ethan …,” suara Cassandra tercekat di tenggorokan, antara ketakutan dan antisipasi yang tidak masuk akal.Tanpa jawaban, Ethan membungkam bibir Cassandra dengan brutal. Ciuman itu tidak memiliki sisa kelembutan; itu adalah invasi.Lidahnya menuntut akses dengan paksa, menyesap sisa napas Cassandra hingga wanita itu merasa paru-parunya hampir meledak.Tangan Ethan yang besar merayap di punggung Cassandra, lalu meremas kulit halusnya dengan intensitas yang meninggalkan jejak panas.Turun dari bibir, Ethan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra yang jenjang.Dia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu hingga menciptakan tanda-tanda kepemilikan baru di atas bekas yang sudah memudar dari semalam.Cassandra memekik pelan, tangannya
Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya. Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan
Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.“Sakit?” Etha
Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klak
“Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.Saat hidangan utama berupa wagyu steak disaji
Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.“Apa ini?”Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima







