Share

Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam
Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam
Author: Leona Valeska

Bab 1

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-02-04 16:40:14

“Selamat atas pernikahanmu, Tuan Lubis. Pengantinmu sangat cantik,” ucap salah satu kolega Ethan yang menyapa mereka dengan tulus.

Cassandra memaksakan sebuah senyum saat menyalami kolega bisnis keluarga Lubis.

Bagi ribuan tamu undangan, malam ini adalah puncak dari sebuah dongeng romantis. Cassandra, dengan gaun putih rancangan desainer ternama, tampak seperti putri yang akhirnya menemukan pangerannya.

Dan pria di sampingnya, Ethan Lubis—pria tampan berusia 30 tahun adalah pangeran yang begitu tampan, mapan, dan terlihat begitu memuja istrinya.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan renda terasa dingin dan gemetar. Di sampingnya, Ethan melingkarkan lengan di pinggangnya dengan posesif.

Setiap kali ada tamu yang memuji keserasian mereka, Ethan akan mengecup pelipis Cassandra dengan lembut, sebuah gestur yang membuat para tamu wanita mendesah iri.

“Kau terlihat lelah, Sayang. Sebentar lagi kita pulang,” bisik Ethan tepat di telinga Cassandra.

Suaranya begitu hangat dan menenangkan, tipe suara yang dulu selalu Cassandra dambakan saat dia masih remaja, saat dia hanya bisa mengagumi Ethan dari jauh.

Dulu, Cassandra adalah gadis kecil yang menyimpan foto Ethan di bawah bantalnya. Teman satu kelas selama sekolah dasar, menengah pertama, atas, hingga kuliah di kampus yang sama.

Namun, pernikahan ini bukanlah pernikahan atas dasar cinta yang mereka bangun. Ayah Cassandra melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidup mereka.

Sebuah pengkhianatan dana investasi besar-besaran membuat keluarganya hancur dan ayahnya kabur entah ke mana, meninggalkan utang yang kini mengejar-ngejar Cassandra sampai membuatnya harus bekerja sebagai sekretaris pribadi Ethan.

Di saat itulah, Ethan memberikan dua pilihan padanya; menikah dengannya untuk mengelabui ayahnya—Jason, agar berhenti menjodohkannya, atau berakhir di penjara atas utang besar yang dimiliki ayahnya.

“Terima kasih sudah bertahan, Cassandra,” ucap seorang bibi Cassandra sembari memeluknya. “Beruntung sekali Ethan masih mau menerimamu padahal keluargamu sedang di ujung tanduk. Dia pria yang sangat baik.”

Cassandra hanya bisa mengangguk kaku. Baik. Ya, di mata dunia, Ethan adalah pahlawan yang menikahi putri dari pria yang memiliki banyak utang atas nama ‘cinta’.

Tapi Cassandra tahu, pernikahan ini adalah bentuk pelunasan utang yang tidak akan pernah lunas.

Setelah dua jam bersandiwara, akhirnya mereka sampai di penthouse pribadi milik Ethan.

Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam unit mereka, suasana mendadak berubah. Kehangatan pesta tadi menguap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Cassandra menarik napas lega dan merasa sedikit lebih santai karena merasa “tugasnya” di depan publik telah usai.

Dia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota sambil mencoba mencairkan suasana.

“Pestanya luar biasa, Ethan. Bahkan terlihat seperti pernikahan normal pada umumnya,” kata Cassandra dengan pelan.

Dia menoleh ke arah Ethan dengan senyum kecil yang jujur, berharap bahwa mungkin, di balik semua konflik utang yang telah Ethan lunasi, mereka bisa memulai hidup baru yang setidaknya damai.

“Jangan banyak bicara. Kau boleh melepaskan gaun itu setelah memenuhi tugasnya di depan kamera tadi.”

Suara bariton itu memecah keheningan dengan rendah dan bergetar, sampai membuat bulu kuduk Cassandra meremang.

Dia menoleh perlahan dan melihat pria itu berdiri di dekat bar pribadi, sedang menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal.

Pria itu sudah melepas jas dan dasinya dengan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, yang menampilkan pangkal lehernya yang kokoh.

“Di mana kamar asisten rumah tanggamu? Aku ingin meminta bantuan untuk membuka ritsleting di punggungku.”

Ethan menyesap wiskinya sebelum berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Cassandra, lalu memangkas jarak hingga wanita itu bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan tajamnya alkohol.

“Tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal di sini, Cassandra,” ujar Ethan dengan lembut, namun nadanya mengandung sebuah peringatan.

Dia lalu meletakkan gelasnya di meja samping dan bergerak memutari tubuh Cassandra.

“Hanya ada aku dan kau. Di gedung ini, privasiku adalah segalanya. Tidak ada mata asing yang boleh melihat apa yang terjadi di balik pintu ini. Termasuk melihatmu.”

Cassandra merasakan jemari Ethan yang panjang dan dingin menyentuh tengkuknya yang terbuka.

Sentuhan itu terasa ringan bahkan hampir seperti belaian, namun Cassandra tersentak seolah kulitnya baru saja tersulut api.

Ethan tidak mempedulikan reaksi itu. Dengan gerakan yang sangat terukur, dia menurunkan ritsleting gaun Cassandra milimeter demi milimeter.

Udara dingin langsung menerpa kulit punggung Cassandra yang terekspos, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan napas hangat Ethan yang kini terasa di bahunya.

“Kau gemetar,” bisik Ethan lalu menumpukan dagunya di bahu Cassandra dan menatap pantulan wajah wanita itu di dinding kaca yang kini berfungsi sebagai cermin gelap.

“Apa kau takut padaku? Setelah dua puluh tahun kita berada di gedung yang sama, apa kau baru menyadari bahwa aku adalah ancaman bagimu?”

Cassandra menelan ludah dengan susah payah. Mata gelap Ethan yang menatapnya melalui pantulan kaca itu tampak seperti jurang yang siap menelannya hidup-hidup.

Baru saja Cassandra hendak membuka mulutnya, ponsel di dalam tas kecil Cassandra berdering nyaring.

Cassandra tersentak dan refleks meraih tasnya. Di layar ponsel, muncul nama: “Devan”.

Devan adalah sahabat masa kecilnya, satu-satunya orang yang masih peduli padanya sejak keluarganya jatuh miskin.

Wajah Cassandra sedikit cerah secara spontan saat melihat nama itu. Dia merasa memiliki sedikit “oksigen” di tengah tekanan Ethan yang kini berubah menjadi dingin kembali padahal sangat manis di resepsi pernikahan mereka tadi.

“Ini Devan ... mungkin dia mau mengucapkan selamat atau memastikan aku baik-baik saja. Aku angkat sebentar, ya?” ucap Cassandra tanpa menyadari perubahan drastis pada raut wajah suaminya.

Belum sempat Cassandra menggeser tombol hijau, tangan besar Ethan menyambar ponsel itu dengan kecepatan yang menakutkan.

“Ethan? Apa yang—”

Brak!

Ethan tidak mematikan teleponnya. Dia justru melempar ponsel mahal itu ke atas meja marmer di dekat mereka dan membiarkan panggilan itu tetap terhubung namun tak terjangkau. Matanya yang tadinya tenang kini berkilat penuh amarah yang tertahan.

“Tidak ada pria manapun yang boleh menghubungimu mulai detik ini, Cassandra,” desis Ethan.

“Ta-tapi, Ethan. Dia adalah sahabatku—”

“Kau pikir aku peduli?” potongnya kemudian merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam.

Dia lalu membukanya dan menampilkan sebuah kalung choker dari emas murni yang sangat tipis, nyaris menyerupai benang emas, namun tampak sangat kokoh.

Di bagian tengahnya terdapat pengait kecil yang unik, tanpa lubang kunci konvensional.

“Pakai ini,” perintah Ethan.

Tanpa menunggu persetujuan, Ethan melingkarkan logam dingin itu di leher jenjang Cassandra. Jari-jarinya yang cekatan mengunci pengait itu dengan bunyi klik halus yang terdengar sangat final di telinga Cassandra.

Cassandra meraba lehernya dengan bingung. “Di mana kuncinya? Bagaimana cara membukanya?” tanyanya kemudian.

Ethan menarik tangan kanan Cassandra, lalu mengarahkan jemari wanita itu ke jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya sendiri.

Di sisi jam tangan itu, terdapat sebuah tonjolan kecil yang hampir tak terlihat, sebuah kunci magnetik mikro yang terintegrasi dengan perangkat di tangannya.

“Kuncinya ada di sini, di jam tanganku. Dan jam ini tidak akan pernah lepas dari tanganku, bahkan saat aku tidur,” ujar Ethan dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

Dia kembali mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibirnya hampir bersentuhan dengan daun telinga Cassandra, memberikan sensasi panas yang membuat Cassandra lemas.

“Jangan menganggap ini sebagai perhiasan pengantin yang cantik, Cassandra. Karena ini adalah tanda kepemilikan. Dan selama kalung ini melingkar di lehermu, kau harus ingat satu hal ....”

Ethan menjeda kalimatnya, namun matanya yang gelap itu menatap lurus ke dalam pupil mata Cassandra yang melebar karena terkejut.

“Setiap tarikan napasmu, setiap kata yang keluar dari mulutmu, dan setiap jengkal kulitmu kini telah menjadi milikku. Dan aku tidak akan pernah memberikan kuncinya pada siapa pun, termasuk dirimu sendiri!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 133

    Dua hari berselang, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan keharuman essential oil chamomile yang menenangkan di kamar utama mansion Lubis.Cassandra duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, wajahnya tampak jauh lebih segar meski guratan lelah sisa persalinan masih membekas.Di kedua sisinya, dua boks bayi berbahan kayu ek putih berdiri kokoh, menampung dua kehidupan mungil yang sedang tertidur lelap dalam bedongan rapi.Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan serombongan keluarga Lubis yang masuk dengan keriuhan yang tak terbendung. Lucas, sepupu Ethan yang paling eksentrik, melangkah paling depan dengan setelan jas yang terlalu mencolok untuk kunjungan rumah.“Mana para pahlawan baru kita? Menyingkir, Ethan! Biarkan pamanmu yang paling tampan ini melihat mereka!” seru Lucas sambil menyikut lengan Ethan yang sedang berjaga di samping ranjang.Ethan mendengus, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. “Pelankan suaramu, Lucas. Jika kau membangunkan mereka, aku akan membuangmu ke kol

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 132

    Fajar di kota itu pecah dengan warna emas yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.Di balik jendela besar kamar bersalin VVIP rumah sakit, matahari terbit dengan kehangatan yang tak biasa, seolah alam pun turut menyambut kedatangan dua pewaris baru dinasti Lubis.Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tangis bayi yang saling bersahutan, dua suara yang melengking kuat, menandakan kehidupan yang sehat dan penuh energi.Cassandra terbaring lemas dengan peluh yang masih membasahi keningnya, namun senyumnya adalah pemandangan paling indah yang pernah Ethan lihat.Dokter Miller baru saja selesai membersihkan kedua bayi laki-laki itu dan membungkus mereka dengan kain katun lembut berwarna biru pucat.“Tuan Lubis, apakah Anda siap menerima putra-putra Anda?” tanya Dokter Miller sambil memberikan bayi pertama.Ethan menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh otoritas dan kekakuannya menguap seketika.Tak lama kemudian, bayi kedua diletakkan di lengan satunya. Kini,

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 131

    Malam di kota itu terasa semakin dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Lubis, suhu diatur dengan presisi demi kenyamanan Cassandra.Lilin aroma terapi lavender menyala redup, memberikan ketenangan di tengah napas Cassandra yang mulai terdengar berat.Usia kandungan yang menginjak bulan kedelapan membuat setiap posisi tidur terasa salah bagi wanita itu.Ethan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya yang sedikit memerah karena kurang tidur tetap terjaga.Tangannya yang besar bergerak ritmis, mengusap punggung bawah Cassandra dengan tekanan yang pas untuk meredakan nyeri yang tak kunjung hilang.“Masih sakit, Sayang?” bisik Ethan, suaranya parau namun penuh kelembutan.Cassandra bergumam pelan, mencoba mencari posisi miring yang nyaman. “Hanya sedikit sesak, Ethan. Mereka seolah sedang berebut ruang di dalam sini. Kau tidak perlu terjaga terus, tidurlah sejenak.”“Bagaimana aku bisa tidur jika aku tahu kau sedang berjuang menahan beban dua jagoan ini sendirian?” Ethan mengecup b

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 130

    Beberapa bulan telah berlalu, dan perut Cassandra kini sudah membuncit signifikan, membawa beban kehidupan ganda yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di sofa ruang kerja Ethan.Suatu sore yang mendung di London, Ethan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja mahoninya. Wajahnya tampak serius, namun tidak ada kemarahan di sana.“Intelijenku sudah menemukannya, Cass,” ucap Ethan memecah keheningan. “Mark. Ayahmu.”Cassandra tertegun, jemarinya yang sedang mengelus perut terhenti seketika. “Di mana dia?”“Pinggiran kota kecil di Prancis, dekat perbatasan. Dia menggunakan nama samaran, bekerja di sebuah kebun anggur lokal. Hidupnya jauh dari kemewahan yang dulu dia banggakan,” Ethan berjalan mendekat, berlutut di hadapan istrinya agar mata mereka sejajar.“Mobil sudah siap. Jika kau ingin menemuinya, kita bisa berangkat ke bandara satu jam lagi. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari lagi.”Cassandra terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 129

    Pagi itu, aroma mentega berkualitas tinggi dan vanila organik memenuhi penjuru dapur mansion.Elea datang bukan dengan tangan kosong; ia membawa kotak-kotak bahan impor, mulai dari cokelat Belgia hingga tepung gandum khusus dari Prancis, seolah ingin membuktikan bahwa niatnya kali ini benar-benar serius.Di meja marmer, loyang mufin baru saja dikeluarkan dari oven. Uap panas mengepul, menampakkan permukaan kue yang merekah sempurna, berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang kenari yang mengkilap.“Cassandra, lihat! Mereka tidak bantat!” teriak Elea dengan suara melengking penuh kemenangan. “Mereka benar-benar mengembang!”Cassandra tersenyum lebar, mendekat untuk menghirup aroma panggangan yang menggoda selera. “Wah, ini mufin tercantik yang pernah kulihat di dapur ini, Elea. Teksturnya pas sekali.”Ethan, yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil memantau tablet kerjanya, bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat, menyipitkan mata menatap deretan kue itu dengan raut skeptis yang p

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 128

    Sinar matahari sore yang mulai meredup menerobos masuk melalui atap kaca tinggi di konservatori bunga mansion utama Lubis, menciptakan bayangan artistik dari sulur-sulur tanaman rambat yang menghiasi ruangan. Aroma melati yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dari pot-pot porselen besar, menciptakan oasis ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis di luar sana. Ariana duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melati organiknya, sementara Cassandra duduk di hadapannya, merasa sangat rileks di tengah hamparan bunga anggrek langka yang menjadi kebanggaan ibu mertuanya. Ariana meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus, matanya yang teduh menatap perut Cassandra yang kini mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Ada binar kerinduan sekaligus empati yang dalam di tatapan wanita paruh baya itu. “Kau tahu, Cassandra,” Ariana memulai, suaranya lembut namun berwibawa, “mengandung seorang pewaris Lubis bukanlah sekadar soal kesehatan fisik. Ini adalah

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 88

    Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi. Sinar matahari pagi menembus celah jendela dapur, menciptakan garis-garis cahaya yang menyoroti debu halus di udara.Cassandra yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang segar, menghentikan langkahnya saat melihat sosok pria jan

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 87

    Suasana di ruang makan itu sebenarnya cukup hangat, dengan cahaya lampu gantung yang berpendar lembut di atas meja kayu ek.Namun, denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar terlalu nyaring di telinga Cassandra. Sejak tadi, Ethan hanya duduk diam, memotong daging steaknya dengan ge

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 86

    “Apa kau gila, Jason?”Ariana menatap suaminya dengan sorot mata yang sarat akan kekecewaan mendalam. Mereka berdiri di ruang tengah rumah mereka setelah Jason baru saja tiba di kantor Ethan, namun ketegangan di antara keduanya terasa begitu mencekik.Ariana tidak menyangka bahwa ancaman yang kelua

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 85

    Setibanya di kantor, Ethan menghela napasnya ketika melihat Jason berdiri membelakangi pintu, tengah menatap gedung-gedung pencakar langit kota tersebut dengan tangan terlipat di belakang punggung.Ethan tidak menyapa, dia langsung duduk di kursi kebesarannya, menyalakan komputer dan laptop secara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status