Compartilhar

Bab 3

last update Última atualização: 2026-02-04 16:41:30

Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.

Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.

Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.

Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.

“Apa ini?”

Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.

Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.

Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima tahun lalu. Dia sedang tertawa kecil sambil membaca buku. Sudut pengambilannya dari balik pepohonan yang jauh.

Foto kedua: Dirinya sedang berjalan menyeberangi jalanan Waterloo saat hujan, memegang payung transparan. Foto itu diambil dari ketinggian, mungkin dari jendela sebuah gedung.

Foto ketiga: Dirinya di dalam kafe, sedang menyeruput kopi. Fotonya diambil melalui kaca jendela yang sedikit berembun, menangkap ekspresi melamunnya dengan sangat detail.

Ratusan foto. Semuanya adalah dirinya. Dan semuanya diambil tanpa dia sadari.

“Et-Ethan … apa yang dia lakukan?” gumamnya dengan mata membola sempurna.

“Sudut pengambilan di foto yang kau pegang itu adalah yang paling sulit.”

Suara bariton yang tenang itu menyambar dari ambang pintu dan membuat Cassandra tersentak hingga foto-foto di tangannya berhamburan ke lantai.

Ethan sudah berdiri di sana dan masih mengenakan jasnya, bersandar pada kusen pintu dengan ekspresi yang sangat santai bahkan terlalu santai untuk seseorang yang baru saja tertangkap basah sebagai penguntit.

“Ethan ... apa ini?” Cassandra menunjuk tumpukan foto itu dengan suara bergetar. “Kau mengikutiku? Selama ini? Di London?”

Ethan melangkah masuk bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah di depan Cassandra.

Dia justru berlutut di depan Cassandra sambil memungut satu foto yang jatuh di dekat kaki istrinya. Dia memandangi foto itu dengan tatapan penuh apresiasi, seolah sedang menatap lukisan mahal di galeri.

“Aku tidak menyebutnya mengikuti, Cassandra. Aku menyebutnya dengan mengamati,” ujar Ethan lembut lalu mengusap permukaan foto yang menampilkan wajah Cassandra dari samping.

“Lihat pencahayaannya. Matahari musim gugur di London saat itu sangat sempurna menyinari rambutmu. Aku harus menunggu tiga jam di dalam mobil hanya untuk mendapatkan frame ini tanpa ada orang lain yang menghalangi pandanganku.”

Cassandra mundur selangkah sambil geleng-geleng kepala. “Ini gila, Ethan. Ini bukan pengamatan. Ini obsesi yang sakit. Kau sudah merencanakan semua ini sejak lama? Pernikahan ini, kebangkrutan ayahku—"

“Jangan menuduhku atas kegagalan bisnismu, Sayang,” potong Ethan dengan nada suara yang tetap tenang namun mengintimidasi.

Dia lalu berdiri, menjulang tinggi di atas Cassandra. “Aku hanya memanfaatkan peluang untuk membawa pulang apa yang seharusnya sudah menjadi milikku sejak dulu.”

Ethan lantas melangkah maju yang memaksa Cassandra mundur hingga pinggangnya menabrak meja kerja.

Ethan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Cassandra, mengurungnya di sana. Kepalanya menunduk, menatap dalam ke mata Cassandra yang dipenuhi ketakutan.

“Kau tahu?” bisik Ethan, jemarinya perlahan merayap ke leher Cassandra, dan menyentuh kalung emas yang melingkar di sana.

“Di foto-foto ini, kau tampak sangat cantik, tapi kau tampak tidak tergapai. Seperti hantu yang aku kejar di tengah kabut London. Tapi sekarang,” dia menekan ibu jarinya ke nadi di leher Cassandra yang berdenyut kencang, “kau nyata. Kau hangat. Dan kau ada di sini.”

Cassandra menelan ludahnya berkali-kali. Dia bisa merasakan panas tubuh Ethan, aroma parfumnya yang memabukkan, dan kegilaan yang terpancar dari tatapan pria itu.

Ethan tidak tampak marah karena rahasianya terbongkar; dia justru tampak puas, seolah beban berat telah terangkat karena kini Cassandra tahu seberapa besar dunianya telah didominasi oleh pria itu.

“Kau harus melihat semuanya, Cassandra. Jangan hanya beberapa,” ujar Ethan tiba-tiba sambil menegakkan tubuh dan melangkah menuju pintu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Cassandra panik.

Ethan berdiri di ambang pintu, lalu tangannya memegang gagang pintu kayu yang berat itu.

“Kau bilang kau ingin mengenalku, bukan? Kotak itu adalah sejarahmu dari sudut pandangku. Nikmatilah setiap detiknya. Lihatlah betapa berartinya dirimu bagiku selama lima belas tahun ini.”

Klik.

Suara kunci yang memutar terdengar nyaring. Cassandra berlari menuju pintu dan memutar gagangnya, namun pintu itu tetap kokoh.

“Ethan! Buka pintunya!” teriak Cassandra sambil memukul pintu itu dengan sangat keras.

“Aku akan kembali dalam satu jam. Gunakan waktu itu untuk melihat setiap foto di sana. Aku ingin kau menyadari bahwa ke mana pun kau memandang masa lalumu, sebenarnya aku selalu ada di sana, menunggumu untuk masuk ke dalam sangkar ini.”

Hening. Ethan sudah tidak bersuara lagi, atau mungkin sudah pergi lagi meninggalkan Cassandra seorang diri di sana.

Cassandra merosot ke lantai lalu bersandar pada pintu yang terkunci.

Matanya menatap ruangan yang penuh dengan foto-fotonya, ratusan mata Ethan yang memandangnya dari masa lalu.

Dia menyadari bahwa dia tidak hanya terjebak di apartemen ini, dia telah terjebak di dalam pikiran obsesif Ethan Lubis selama separuh hidupnya, dan tidak ada jalan keluar bagi seseorang yang sudah dijadikan pusat semesta oleh seorang monster.

“Kenapa dulu aku bisa mengagumi pria obsesif itu? Ternyata, yang aku tahu tentangnya hanya segelintir debu,” bisiknya lirih.

“Apa lagi yang akan kutemukan setelah ini?” 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 8

    Ethan tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan yang efisien dan penuh dominasi, dia melucuti kemeja putih Cassandra, bahkan membiarkan kancing-kancingnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara halus yang tertelan tebalnya karpet.“Ethan …,” suara Cassandra tercekat di tenggorokan, antara ketakutan dan antisipasi yang tidak masuk akal.Tanpa jawaban, Ethan membungkam bibir Cassandra dengan brutal. Ciuman itu tidak memiliki sisa kelembutan; itu adalah invasi.Lidahnya menuntut akses dengan paksa, menyesap sisa napas Cassandra hingga wanita itu merasa paru-parunya hampir meledak.Tangan Ethan yang besar merayap di punggung Cassandra, lalu meremas kulit halusnya dengan intensitas yang meninggalkan jejak panas.Turun dari bibir, Ethan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra yang jenjang.Dia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu hingga menciptakan tanda-tanda kepemilikan baru di atas bekas yang sudah memudar dari semalam.Cassandra memekik pelan, tangannya

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 7

    Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya. Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 6

    Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.“Sakit?” Etha

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 5

    Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klak

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 4

    “Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.Saat hidangan utama berupa wagyu steak disaji

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 3

    Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.“Apa ini?”Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status