FAZER LOGIN“Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”
Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.
Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.
Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.
Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.
Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.
Saat hidangan utama berupa wagyu steak disajikan, Ethan melakukan sesuatu yang membuat suasana semakin “manis”. Dia memotong daging di piringnya, lalu menyodorkan potongan kecil itu ke arah bibir Cassandra.
“Buka mulutmu, Sayang. Kau harus makan lebih banyak, pipimu sedikit tirus belakangan ini,” bisik Ethan seraya menatap Cassandra dengan intensitas yang membuat anggota keluarganya berdecak kagum akan kemesraan mereka.
Cassandra menerima suapan itu, namun di saat yang sama, dia merasakan tangan kiri Ethan yang tadinya berada di atas meja kini turun ke bawah. Tangan kokoh itu mendarat di atas lutut Cassandra yang tertutup kain gaun sutranya.
“Jadi, Cassandra,” suara berat Jason memecah keheningan. “Kudengar kau lulusan sastra dan hukum dari London. Steve, anakku yang satu ini, juga punya minat yang sama. Steve, kenapa kau diam saja?”
Steve Lubis, saudara ketiga Ethan yang memiliki aura jauh lebih tenang dan misterius itu kemudian mendongak. Tidak seperti Ethan yang mendominasi, Steve memiliki sorot mata yang lebih lembut, mirip seperti ibunya.
“Aku hanya tidak ingin mengganggu pengantin baru,” ujar Steve pelan lalu beralih menatap Cassandra. “Aku baru saja menyelesaikan The Unbearable Lightness of Being karya Kundera. Kudengar itu buku favoritmu saat di universitas, bukan?”
Mata Cassandra sedikit berbinar. Akhirnya, sebuah topik yang membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri, bukan sekadar “istri Ethan” muncul.
“Ya, itu benar. Aku sangat menyukai konsep Nietzsche tentang eternal return dalam buku itu. Bagaimana menurutmu tentang karakter Tereza?”
“Aku rasa Tereza adalah simbol dari—”
Cassandra tersentak kecil hingga garpunya berdenting pelan di atas piring. Di bawah meja, tangan Ethan tidak lagi sekadar bersandar di lututnya.
Jemari pria itu meremas lutut Cassandra dengan tekanan yang menyakitkan, seolah memberikan peringatan bisu. Kuku-kuku Ethan seolah menembus kain gaunnya, tengah menandai kulitnya.
Cassandra melirik Ethan melalui sudut matanya. Pria itu masih tampak tenang, bahkan sedang menyesap anggur merahnya dengan santai, namun rahangnya mengeras.
“Ah, sastra,” potong Ethan, suaranya kini sedikit lebih dingin meski nadanya tetap sopan.
“Cassandra tidak punya banyak waktu untuk membaca lagi belakangan ini, Steve. Dia terlalu sibuk mengurus rumah tangga kami dan mengurusku.”
Steve tampak menyadari perubahan atmosfer itu, namun dia tetap tersenyum tipis.
“Sayang sekali. Padahal aku punya edisi pertama buku itu di perpustakaan bawah. Jika kau mau, Cassandra, aku bisa meminjamkannya padamu nanti setelah makan malam.”
Cassandra tanpa sadar tersenyum tulus kepada Steve, sebuah senyum yang spontan karena merasa dihargai secara intelektual. “Terima kasih, Steve. Itu tawaran yang sangat—”
Remasan itu kian mengerat. Kali ini begitu kuat hingga Cassandra harus menggigit bibir bawahnya agar tidak mengerang kesakitan.
Ethan tidak lagi melihat ke arah Jason atau Ariana. Dia menoleh perlahan ke arah Cassandra dan menatapnya dengan mata gelap yang memancarkan kilatan api cemburu yang destruktif.
“Terima kasih, Steve,” Ethan memotong kalimat istrinya dengan tajam. “Tapi Cassandra tidak butuh pinjaman. Aku akan membelikan seluruh toko buku untuknya jika dia mau.”
Suasana meja makan mendadak menjadi canggung. Ariana mencoba mencairkan suasana dengan membicarakan rencana liburan, namun Ethan sudah tidak lagi mendengarkan.
Dia akhirnya melepaskan tangannya dari lutut Cassandra, namun aura kegelapan yang dia pancarkan semakin pekat.
Tiba-tiba, Ethan berdiri hingga membuat kursi kayunya berderit nyaring di atas lantai marmer.
“Dad, Mom, maafkan kami,” ujar Ethan singkat sambil meraih pergelangan tangan Cassandra dan menariknya untuk ikut berdiri. “Cassandra mendadak merasa tidak enak badan. Kami harus pulang sekarang.”
“Oh? Tapi kita bahkan belum mencicipi hidangan penutup, Ethan,” ujar Ariana cemas.
“Tidak perlu, Mom. Dia butuh istirahat. Di tempat yang sunyi dan hanya denganku,” sahut Ethan tanpa menoleh lagi.
Dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk membantah, Ethan menyeret Cassandra keluar dari ruang makan.
Cassandra hampir tersandung gaunnya sendiri saat mencoba mengimbangi langkah Ethan yang lebar dan penuh amarah.
Begitu mereka mencapai lobi depan yang sepi, Ethan menyudutkan Cassandra ke pilar marmer besar sebelum sopir membukakan pintu mobil.
Dia mencondongkan tubuhnya seraya menatap Cassandra dengan napas yang memburu.
“Kau berani tersenyum padanya?” desis Ethan dengan nada suara yang begitu rendah hingga terdengar seperti geraman binatang buas.
“Dia itu adikmu, Ethan! Dia hanya membicarakan buku!” bela Cassandra dengan suara gemetar.
Ethan mencengkeram kedua bahu Cassandra dan menekannya ke pilar. Tatapannya terjatuh pada bibir Cassandra yang tadi tersenyum pada Steve.
“Aku tidak peduli dia adikku atau bukan. Jangan pernah berikan senyum itu pada pria lain lagi,” Ethan berbisik tepat di depan wajah Cassandra dengan aura yang begitu mengancam.
“Atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah punya alasan untuk tersenyum lagi kecuali saat kau bersamaku.”
Dua hari berselang, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan keharuman essential oil chamomile yang menenangkan di kamar utama mansion Lubis.Cassandra duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, wajahnya tampak jauh lebih segar meski guratan lelah sisa persalinan masih membekas.Di kedua sisinya, dua boks bayi berbahan kayu ek putih berdiri kokoh, menampung dua kehidupan mungil yang sedang tertidur lelap dalam bedongan rapi.Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan serombongan keluarga Lubis yang masuk dengan keriuhan yang tak terbendung. Lucas, sepupu Ethan yang paling eksentrik, melangkah paling depan dengan setelan jas yang terlalu mencolok untuk kunjungan rumah.“Mana para pahlawan baru kita? Menyingkir, Ethan! Biarkan pamanmu yang paling tampan ini melihat mereka!” seru Lucas sambil menyikut lengan Ethan yang sedang berjaga di samping ranjang.Ethan mendengus, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. “Pelankan suaramu, Lucas. Jika kau membangunkan mereka, aku akan membuangmu ke kol
Fajar di kota itu pecah dengan warna emas yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.Di balik jendela besar kamar bersalin VVIP rumah sakit, matahari terbit dengan kehangatan yang tak biasa, seolah alam pun turut menyambut kedatangan dua pewaris baru dinasti Lubis.Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tangis bayi yang saling bersahutan, dua suara yang melengking kuat, menandakan kehidupan yang sehat dan penuh energi.Cassandra terbaring lemas dengan peluh yang masih membasahi keningnya, namun senyumnya adalah pemandangan paling indah yang pernah Ethan lihat.Dokter Miller baru saja selesai membersihkan kedua bayi laki-laki itu dan membungkus mereka dengan kain katun lembut berwarna biru pucat.“Tuan Lubis, apakah Anda siap menerima putra-putra Anda?” tanya Dokter Miller sambil memberikan bayi pertama.Ethan menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh otoritas dan kekakuannya menguap seketika.Tak lama kemudian, bayi kedua diletakkan di lengan satunya. Kini,
Malam di kota itu terasa semakin dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Lubis, suhu diatur dengan presisi demi kenyamanan Cassandra.Lilin aroma terapi lavender menyala redup, memberikan ketenangan di tengah napas Cassandra yang mulai terdengar berat.Usia kandungan yang menginjak bulan kedelapan membuat setiap posisi tidur terasa salah bagi wanita itu.Ethan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya yang sedikit memerah karena kurang tidur tetap terjaga.Tangannya yang besar bergerak ritmis, mengusap punggung bawah Cassandra dengan tekanan yang pas untuk meredakan nyeri yang tak kunjung hilang.“Masih sakit, Sayang?” bisik Ethan, suaranya parau namun penuh kelembutan.Cassandra bergumam pelan, mencoba mencari posisi miring yang nyaman. “Hanya sedikit sesak, Ethan. Mereka seolah sedang berebut ruang di dalam sini. Kau tidak perlu terjaga terus, tidurlah sejenak.”“Bagaimana aku bisa tidur jika aku tahu kau sedang berjuang menahan beban dua jagoan ini sendirian?” Ethan mengecup b
Beberapa bulan telah berlalu, dan perut Cassandra kini sudah membuncit signifikan, membawa beban kehidupan ganda yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di sofa ruang kerja Ethan.Suatu sore yang mendung di London, Ethan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja mahoninya. Wajahnya tampak serius, namun tidak ada kemarahan di sana.“Intelijenku sudah menemukannya, Cass,” ucap Ethan memecah keheningan. “Mark. Ayahmu.”Cassandra tertegun, jemarinya yang sedang mengelus perut terhenti seketika. “Di mana dia?”“Pinggiran kota kecil di Prancis, dekat perbatasan. Dia menggunakan nama samaran, bekerja di sebuah kebun anggur lokal. Hidupnya jauh dari kemewahan yang dulu dia banggakan,” Ethan berjalan mendekat, berlutut di hadapan istrinya agar mata mereka sejajar.“Mobil sudah siap. Jika kau ingin menemuinya, kita bisa berangkat ke bandara satu jam lagi. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari lagi.”Cassandra terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan
Pagi itu, aroma mentega berkualitas tinggi dan vanila organik memenuhi penjuru dapur mansion.Elea datang bukan dengan tangan kosong; ia membawa kotak-kotak bahan impor, mulai dari cokelat Belgia hingga tepung gandum khusus dari Prancis, seolah ingin membuktikan bahwa niatnya kali ini benar-benar serius.Di meja marmer, loyang mufin baru saja dikeluarkan dari oven. Uap panas mengepul, menampakkan permukaan kue yang merekah sempurna, berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang kenari yang mengkilap.“Cassandra, lihat! Mereka tidak bantat!” teriak Elea dengan suara melengking penuh kemenangan. “Mereka benar-benar mengembang!”Cassandra tersenyum lebar, mendekat untuk menghirup aroma panggangan yang menggoda selera. “Wah, ini mufin tercantik yang pernah kulihat di dapur ini, Elea. Teksturnya pas sekali.”Ethan, yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil memantau tablet kerjanya, bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat, menyipitkan mata menatap deretan kue itu dengan raut skeptis yang p
Sinar matahari sore yang mulai meredup menerobos masuk melalui atap kaca tinggi di konservatori bunga mansion utama Lubis, menciptakan bayangan artistik dari sulur-sulur tanaman rambat yang menghiasi ruangan. Aroma melati yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dari pot-pot porselen besar, menciptakan oasis ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis di luar sana. Ariana duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melati organiknya, sementara Cassandra duduk di hadapannya, merasa sangat rileks di tengah hamparan bunga anggrek langka yang menjadi kebanggaan ibu mertuanya. Ariana meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus, matanya yang teduh menatap perut Cassandra yang kini mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Ada binar kerinduan sekaligus empati yang dalam di tatapan wanita paruh baya itu. “Kau tahu, Cassandra,” Ariana memulai, suaranya lembut namun berwibawa, “mengandung seorang pewaris Lubis bukanlah sekadar soal kesehatan fisik. Ini adalah
Udara dingin dari Sungai Thames menusuk hingga ke tulang, membawa aroma garam dan besi berkarat yang memenuhi gudang tua di kawasan dermaga.Lampu gantung yang berayun pelan di langit-langit gudang memberikan penerangan remang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding beton yang
“Kau memberitahu Daddy soal rencana pengunduran diriku?” tanya Ethan dengan kening mengkerut usai mendengar ucapan Lucas barusan.Lucas menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. “Aku harus melakukannya, Ethan. Daddy sudah keterlaluan. Dia membuat keputusan sepihak untuk memisahkanmu den
Jason tidak langsung menjawab dan hanya menatap Cassandra dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, antara benci, ragu, dan sedikit rasa hormat atas keberanian wanita itu menghadapinya sendirian.“Ethan ingin keluar dari keluarga Lubis. Dia ingin melepaskan statusnya sebagai pewaris tunggal Lubis
Suasana di ruang kerja kediaman utama Lubis terasa begitu menyesakkan. Aroma cerutu mahal yang biasanya menenangkan kini justru terasa mencekik indra penciuman.Jason Lubis berdiri di balik meja besarnya, wajahnya merah padam dengan urat-urat yang menonjol di pelipis.Di hadapannya, Lucas dan Sera







