LOGINPintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.
Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.
Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.
Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.
“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.
Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”
“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klakson menggema sesaat di jalanan sepi.
“Cara kau menatap Steve. Cara kau membiarkan dia menyebutkan buku favoritmu, hobi pribadimu. Kau sengaja melakukannya, bukan? Kau ingin menunjukkan pada adik-adikku bahwa kau tersedia? Bahwa kau bisa didekati jika aku sedang tidak melihat?”
Cassandra terperangah mendengarnya. Rasa takut yang sejak tadi menghimpit kini berganti dengan kemarahan yang membuncah.
“Steve adalah adikmu, Ethan! Lucas juga! Mereka keluargaku sekarang. Aku hanya mencoba bersikap sopan dan membangun komunikasi. Apa itu salah?”
Ethan tertawa hambar, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. “Keluarga? Kau pikir karena kau menyandang nama Lubis, kau bebas menebar pesona pada setiap pria yang memiliki nama belakang yang sama?”
“Aku tidak menebar pesona! Kami hanya bicara tentang sastra!” teriak Cassandra hingga air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kenapa kau begitu paranoid? Mereka saudaramu, Ethan. Darah dagingmu sendiri!”
Ethan menginjak rem secara mendadak hingga membuat tubuh Cassandra tersentak ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.
Mobil itu berhenti di pinggir jalan yang gelap, jauh dari lampu jalan, dikelilingi oleh pepohonan besar yang menambah kesan terisolasi.
Ethan memutar tubuhnya, melepaskan sabuk pengamannya sendiri, dan mencondongkan tubuh ke arah Cassandra.
Tekanan kehadirannya memenuhi kabin mobil yang sempit, membuat Cassandra merasa terpojok ke pintu mobil.
“Dengarkan aku baik-baik, Cassandra,” wajah Ethan hanya berjarak beberapa senti dari wajah Cassandra menatapnya dengan lekat.
“Di dalam keluarga ini, di dunia ini, kau hanya punya aku. Tidak ada Lucas, tidak ada Steve, bahkan tidak ada Jason. Mereka semua adalah orang asing yang hanya menunggu celah untuk mengambil apa yang menjadi milikku.”
“Kau gila!” bisik Cassandra dengan bibir bergetar.
“Aku tidak gila, aku realistis,” tangan Ethan naik dan menyentuh leher Cassandra, tepat di atas kalung emas yang melingkar di sana. Ibu jarinya mengusap kulit lembut itu dengan tekanan yang menuntut.
“Nama Lubis yang kau bawa adalah pemberianku. Perlindungan yang kau dapatkan adalah milikku. Maka, setiap senyum, setiap perhatian, dan setiap pikiranmu adalah hak milik absolutku. Mengerti?”
Cassandra mencoba memalingkan wajah, namun tangan Ethan yang lain mencengkeram dagunya, dan memaksanya untuk terus menatap mata gelap yang penuh obsesi itu.
“Kau tidak bisa mengurung jiwaku, Ethan,” tantang Cassandra dengan sisa keberaniannya.
“Aku bisa mengurung apa pun yang aku mau,” balas Ethan.
Tiba-tiba, intensitas di mata Ethan berubah. Amarah yang meledak-ledak tadi seolah meleleh menjadi hasrat yang gelap dan haus.
Dia menunduk dan mendekatkan wajahnya hingga Cassandra bisa merasakan napas pria itu yang memburu di atas bibirnya.
Cassandra memejamkan matanya, mengira Ethan akan menciumnya dengan kasar sebagai bentuk dominasi.
Jantung Cassandra berdegup kencang, bahkan menghantam rusuknya. Keheningan di dalam mobil itu menjadi begitu pekat, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling beradu.
Namun, ciuman itu tidak pernah datang.
Ethan berhenti tepat saat bibir mereka nyaris bersentuhan dan membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Cassandra, memberikan siksaan jarak yang membuat saraf Cassandra menegang hebat.
Ethan menarik napas dalam, seolah sedang menghirup aroma ketakutan dan keberadaan Cassandra untuk menenangkan monster di dalam dirinya.
“Aku tidak akan menciummu malam ini,” bisik Ethan dengan suara serak dan berbahaya. “Bukan sampai kau membuang bayangan pria lain dari kepalamu.”
Ethan menjauhkan wajahnya beberapa inci, namun tangannya masih mengunci dagu Cassandra. Matanya mengunci mata cokelat wanita itu dengan kekuatan yang melumpuhkan.
“Katakan,” perintah Ethan.
“Apa?” tanya Cassandra parau.
“Katakan padaku siapa satu-satunya pria yang berhak atas hidupmu. Katakan bahwa tidak ada Steve, tidak ada Lucas, dan tidak ada masa lalu. Hanya aku.”
Cassandra terdiam, namun air matanya jatuh membasahi ibu jari Ethan yang masih mencengkeram dagunya.
“Katakan, Cassandra,” desak Ethan. “Akui bahwa hanya aku satu-satunya pria di hidupmu. Katakan sekarang, atau kita tidak akan pernah beranjak dari jalanan sepi ini.”
Cassandra menatap mata Ethan, mencari sisa-sisa kewarasan di sana, namun yang dia temukan hanyalah kegelapan yang tak berujung.
Di bawah tekanan tatapan itu, di tengah kesunyian malam yang mencekam, Cassandra menyadari bahwa sangkar emas ini tidak memiliki pintu keluar.
“Hanya ... hanya kau, Ethan,” bisik Cassandra akhirnya, sebuah pengakuan yang terasa seperti menyerahkan seluruh sisa harga dirinya.
Ethan menatapnya selama beberapa detik lagi, mencari kejujuran di balik suara itu.
Perlahan, senyum miring yang puas muncul di bibirnya. Dia akhirnya melepaskan cengkeramannya dan kembali ke posisi duduknya, juga menyalakan mesin mobil kembali seolah-olah ketegangan mematikan tadi tidak pernah terjadi.
“Bagus,” ujar Ethan dingin sambil mulai menjalankan mobil kembali.
“Ingat kata-katamu itu, Nyonya Lubis. Karena jika aku melihatmu tersenyum pada mereka lagi, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah bisa melihatmu lagi! Mengerti?!"
Dua hari berselang, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan keharuman essential oil chamomile yang menenangkan di kamar utama mansion Lubis.Cassandra duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, wajahnya tampak jauh lebih segar meski guratan lelah sisa persalinan masih membekas.Di kedua sisinya, dua boks bayi berbahan kayu ek putih berdiri kokoh, menampung dua kehidupan mungil yang sedang tertidur lelap dalam bedongan rapi.Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan serombongan keluarga Lubis yang masuk dengan keriuhan yang tak terbendung. Lucas, sepupu Ethan yang paling eksentrik, melangkah paling depan dengan setelan jas yang terlalu mencolok untuk kunjungan rumah.“Mana para pahlawan baru kita? Menyingkir, Ethan! Biarkan pamanmu yang paling tampan ini melihat mereka!” seru Lucas sambil menyikut lengan Ethan yang sedang berjaga di samping ranjang.Ethan mendengus, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. “Pelankan suaramu, Lucas. Jika kau membangunkan mereka, aku akan membuangmu ke kol
Fajar di kota itu pecah dengan warna emas yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.Di balik jendela besar kamar bersalin VVIP rumah sakit, matahari terbit dengan kehangatan yang tak biasa, seolah alam pun turut menyambut kedatangan dua pewaris baru dinasti Lubis.Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tangis bayi yang saling bersahutan, dua suara yang melengking kuat, menandakan kehidupan yang sehat dan penuh energi.Cassandra terbaring lemas dengan peluh yang masih membasahi keningnya, namun senyumnya adalah pemandangan paling indah yang pernah Ethan lihat.Dokter Miller baru saja selesai membersihkan kedua bayi laki-laki itu dan membungkus mereka dengan kain katun lembut berwarna biru pucat.“Tuan Lubis, apakah Anda siap menerima putra-putra Anda?” tanya Dokter Miller sambil memberikan bayi pertama.Ethan menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh otoritas dan kekakuannya menguap seketika.Tak lama kemudian, bayi kedua diletakkan di lengan satunya. Kini,
Malam di kota itu terasa semakin dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Lubis, suhu diatur dengan presisi demi kenyamanan Cassandra.Lilin aroma terapi lavender menyala redup, memberikan ketenangan di tengah napas Cassandra yang mulai terdengar berat.Usia kandungan yang menginjak bulan kedelapan membuat setiap posisi tidur terasa salah bagi wanita itu.Ethan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya yang sedikit memerah karena kurang tidur tetap terjaga.Tangannya yang besar bergerak ritmis, mengusap punggung bawah Cassandra dengan tekanan yang pas untuk meredakan nyeri yang tak kunjung hilang.“Masih sakit, Sayang?” bisik Ethan, suaranya parau namun penuh kelembutan.Cassandra bergumam pelan, mencoba mencari posisi miring yang nyaman. “Hanya sedikit sesak, Ethan. Mereka seolah sedang berebut ruang di dalam sini. Kau tidak perlu terjaga terus, tidurlah sejenak.”“Bagaimana aku bisa tidur jika aku tahu kau sedang berjuang menahan beban dua jagoan ini sendirian?” Ethan mengecup b
Beberapa bulan telah berlalu, dan perut Cassandra kini sudah membuncit signifikan, membawa beban kehidupan ganda yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di sofa ruang kerja Ethan.Suatu sore yang mendung di London, Ethan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja mahoninya. Wajahnya tampak serius, namun tidak ada kemarahan di sana.“Intelijenku sudah menemukannya, Cass,” ucap Ethan memecah keheningan. “Mark. Ayahmu.”Cassandra tertegun, jemarinya yang sedang mengelus perut terhenti seketika. “Di mana dia?”“Pinggiran kota kecil di Prancis, dekat perbatasan. Dia menggunakan nama samaran, bekerja di sebuah kebun anggur lokal. Hidupnya jauh dari kemewahan yang dulu dia banggakan,” Ethan berjalan mendekat, berlutut di hadapan istrinya agar mata mereka sejajar.“Mobil sudah siap. Jika kau ingin menemuinya, kita bisa berangkat ke bandara satu jam lagi. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari lagi.”Cassandra terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan
Pagi itu, aroma mentega berkualitas tinggi dan vanila organik memenuhi penjuru dapur mansion.Elea datang bukan dengan tangan kosong; ia membawa kotak-kotak bahan impor, mulai dari cokelat Belgia hingga tepung gandum khusus dari Prancis, seolah ingin membuktikan bahwa niatnya kali ini benar-benar serius.Di meja marmer, loyang mufin baru saja dikeluarkan dari oven. Uap panas mengepul, menampakkan permukaan kue yang merekah sempurna, berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang kenari yang mengkilap.“Cassandra, lihat! Mereka tidak bantat!” teriak Elea dengan suara melengking penuh kemenangan. “Mereka benar-benar mengembang!”Cassandra tersenyum lebar, mendekat untuk menghirup aroma panggangan yang menggoda selera. “Wah, ini mufin tercantik yang pernah kulihat di dapur ini, Elea. Teksturnya pas sekali.”Ethan, yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil memantau tablet kerjanya, bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat, menyipitkan mata menatap deretan kue itu dengan raut skeptis yang p
Sinar matahari sore yang mulai meredup menerobos masuk melalui atap kaca tinggi di konservatori bunga mansion utama Lubis, menciptakan bayangan artistik dari sulur-sulur tanaman rambat yang menghiasi ruangan. Aroma melati yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dari pot-pot porselen besar, menciptakan oasis ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis di luar sana. Ariana duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melati organiknya, sementara Cassandra duduk di hadapannya, merasa sangat rileks di tengah hamparan bunga anggrek langka yang menjadi kebanggaan ibu mertuanya. Ariana meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus, matanya yang teduh menatap perut Cassandra yang kini mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Ada binar kerinduan sekaligus empati yang dalam di tatapan wanita paruh baya itu. “Kau tahu, Cassandra,” Ariana memulai, suaranya lembut namun berwibawa, “mengandung seorang pewaris Lubis bukanlah sekadar soal kesehatan fisik. Ini adalah
Gelas whiskey di tangan Ethan bergetar halus saat cairan berwarna amber itu bergoyang mengikuti denyut tangannya yang tegang.Dia sedang duduk di kursi kulit di sudut ruang kerja pribadinya, dengan cahaya lampu ruangan dibuat redup, menyisakan bayangan panjang yang jatuh ke lantai marmer.Lucas, ad
Ethan manggut-manggut dengan pelan, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya. “Bagus. Suruh dia mulai bekerja besok pagi. Pastikan dia tahu bahwa aku tidak suka pengulangan instruksi.”Ethan kemudian menggeser dokumen dari Selena tadi kembali ke arah Karl.Karl menaikkan alisnya, tidak menyentu
Cassandra terdiam lalu meletakkan garpunya. “Ethan ... bagaimanapun dia adalah Papamu. Dia yang menjagamu dari kecil hingga kau sesukses ini. Jangan terlalu membencinya.”Ethan tersenyum miring, senyum yang sarat akan kepahitan. “Fakta yang harus kau tahu, Cassandra, bahwa aku hanyalah anak yang ti
Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi. Sinar matahari pagi menembus celah jendela dapur, menciptakan garis-garis cahaya yang menyoroti debu halus di udara.Cassandra yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang segar, menghentikan langkahnya saat melihat sosok pria jan







