Compartilhar

Bab 5

last update Última atualização: 2026-02-04 16:47:27

Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.

Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.

Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.

Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.

“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.

Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”

“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klakson menggema sesaat di jalanan sepi.

“Cara kau menatap Steve. Cara kau membiarkan dia menyebutkan buku favoritmu, hobi pribadimu. Kau sengaja melakukannya, bukan? Kau ingin menunjukkan pada adik-adikku bahwa kau tersedia? Bahwa kau bisa didekati jika aku sedang tidak melihat?”

Cassandra terperangah mendengarnya. Rasa takut yang sejak tadi menghimpit kini berganti dengan kemarahan yang membuncah.

“Steve adalah adikmu, Ethan! Lucas juga! Mereka keluargaku sekarang. Aku hanya mencoba bersikap sopan dan membangun komunikasi. Apa itu salah?”

Ethan tertawa hambar, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. “Keluarga? Kau pikir karena kau menyandang nama Lubis, kau bebas menebar pesona pada setiap pria yang memiliki nama belakang yang sama?”

“Aku tidak menebar pesona! Kami hanya bicara tentang sastra!” teriak Cassandra hingga air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kenapa kau begitu paranoid? Mereka saudaramu, Ethan. Darah dagingmu sendiri!”

Ethan menginjak rem secara mendadak hingga membuat tubuh Cassandra tersentak ke depan sebelum tertahan oleh sabuk pengaman.

Mobil itu berhenti di pinggir jalan yang gelap, jauh dari lampu jalan, dikelilingi oleh pepohonan besar yang menambah kesan terisolasi.

Ethan memutar tubuhnya, melepaskan sabuk pengamannya sendiri, dan mencondongkan tubuh ke arah Cassandra.

Tekanan kehadirannya memenuhi kabin mobil yang sempit, membuat Cassandra merasa terpojok ke pintu mobil.

“Dengarkan aku baik-baik, Cassandra,” wajah Ethan hanya berjarak beberapa senti dari wajah Cassandra menatapnya dengan lekat.

“Di dalam keluarga ini, di dunia ini, kau hanya punya aku. Tidak ada Lucas, tidak ada Steve, bahkan tidak ada Jason. Mereka semua adalah orang asing yang hanya menunggu celah untuk mengambil apa yang menjadi milikku.”

“Kau gila!” bisik Cassandra dengan bibir bergetar.

“Aku tidak gila, aku realistis,” tangan Ethan naik dan menyentuh leher Cassandra, tepat di atas kalung emas yang melingkar di sana. Ibu jarinya mengusap kulit lembut itu dengan tekanan yang menuntut.

“Nama Lubis yang kau bawa adalah pemberianku. Perlindungan yang kau dapatkan adalah milikku. Maka, setiap senyum, setiap perhatian, dan setiap pikiranmu adalah hak milik absolutku. Mengerti?”

Cassandra mencoba memalingkan wajah, namun tangan Ethan yang lain mencengkeram dagunya, dan memaksanya untuk terus menatap mata gelap yang penuh obsesi itu.

“Kau tidak bisa mengurung jiwaku, Ethan,” tantang Cassandra dengan sisa keberaniannya.

“Aku bisa mengurung apa pun yang aku mau,” balas Ethan.

Tiba-tiba, intensitas di mata Ethan berubah. Amarah yang meledak-ledak tadi seolah meleleh menjadi hasrat yang gelap dan haus.

Dia menunduk dan mendekatkan wajahnya hingga Cassandra bisa merasakan napas pria itu yang memburu di atas bibirnya.

Cassandra memejamkan matanya, mengira Ethan akan menciumnya dengan kasar sebagai bentuk dominasi.

Jantung Cassandra berdegup kencang, bahkan menghantam rusuknya. Keheningan di dalam mobil itu menjadi begitu pekat, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling beradu.

Namun, ciuman itu tidak pernah datang.

Ethan berhenti tepat saat bibir mereka nyaris bersentuhan dan membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Cassandra, memberikan siksaan jarak yang membuat saraf Cassandra menegang hebat.

Ethan menarik napas dalam, seolah sedang menghirup aroma ketakutan dan keberadaan Cassandra untuk menenangkan monster di dalam dirinya.

“Aku tidak akan menciummu malam ini,” bisik Ethan dengan suara serak dan berbahaya. “Bukan sampai kau membuang bayangan pria lain dari kepalamu.”

Ethan menjauhkan wajahnya beberapa inci, namun tangannya masih mengunci dagu Cassandra. Matanya mengunci mata cokelat wanita itu dengan kekuatan yang melumpuhkan.

“Katakan,” perintah Ethan.

“Apa?” tanya Cassandra parau.

“Katakan padaku siapa satu-satunya pria yang berhak atas hidupmu. Katakan bahwa tidak ada Steve, tidak ada Lucas, dan tidak ada masa lalu. Hanya aku.”

Cassandra terdiam, namun air matanya jatuh membasahi ibu jari Ethan yang masih mencengkeram dagunya.

“Katakan, Cassandra,” desak Ethan. “Akui bahwa hanya aku satu-satunya pria di hidupmu. Katakan sekarang, atau kita tidak akan pernah beranjak dari jalanan sepi ini.”

Cassandra menatap mata Ethan, mencari sisa-sisa kewarasan di sana, namun yang dia temukan hanyalah kegelapan yang tak berujung.

Di bawah tekanan tatapan itu, di tengah kesunyian malam yang mencekam, Cassandra menyadari bahwa sangkar emas ini tidak memiliki pintu keluar.

“Hanya ... hanya kau, Ethan,” bisik Cassandra akhirnya, sebuah pengakuan yang terasa seperti menyerahkan seluruh sisa harga dirinya.

Ethan menatapnya selama beberapa detik lagi, mencari kejujuran di balik suara itu.

Perlahan, senyum miring yang puas muncul di bibirnya. Dia akhirnya melepaskan cengkeramannya dan kembali ke posisi duduknya, juga menyalakan mesin mobil kembali seolah-olah ketegangan mematikan tadi tidak pernah terjadi.

“Bagus,” ujar Ethan dingin sambil mulai menjalankan mobil kembali.

“Ingat kata-katamu itu, Nyonya Lubis. Karena jika aku melihatmu tersenyum pada mereka lagi, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah bisa melihatmu lagi! Mengerti?!" 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 8

    Ethan tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan yang efisien dan penuh dominasi, dia melucuti kemeja putih Cassandra, bahkan membiarkan kancing-kancingnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara halus yang tertelan tebalnya karpet.“Ethan …,” suara Cassandra tercekat di tenggorokan, antara ketakutan dan antisipasi yang tidak masuk akal.Tanpa jawaban, Ethan membungkam bibir Cassandra dengan brutal. Ciuman itu tidak memiliki sisa kelembutan; itu adalah invasi.Lidahnya menuntut akses dengan paksa, menyesap sisa napas Cassandra hingga wanita itu merasa paru-parunya hampir meledak.Tangan Ethan yang besar merayap di punggung Cassandra, lalu meremas kulit halusnya dengan intensitas yang meninggalkan jejak panas.Turun dari bibir, Ethan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra yang jenjang.Dia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu hingga menciptakan tanda-tanda kepemilikan baru di atas bekas yang sudah memudar dari semalam.Cassandra memekik pelan, tangannya

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 7

    Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya. Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 6

    Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.“Sakit?” Etha

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 5

    Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klak

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 4

    “Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.Saat hidangan utama berupa wagyu steak disaji

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 3

    Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.“Apa ini?”Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status