Share

Bab 6

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-02-04 17:11:16

Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.

“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.

Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.

Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.

Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.

Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.

Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.

“Sakit?” Ethan berdesis dengan wajah yang kini hanya beberapa inci dari wajahnya.

Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar memberikan siluet tajam pada rahangnya yang mengeras.

“Rasa sakit ini tidak sebanding dengan caramu mempermalukanku di depan adik-adikku tadi, Cassandra. Kau milikku. Kau jaminan atas pengkhianatan ayahmu, dan kau berani-beraninya memberikan senyummu pada laki-laki lain?”

“Aku hanya berbicara, Ethan! Demi Tuhan. Lagi pula Steve itu adikmu!” teriak Cassandra dengan suara serak.

“Kau bicara dengan mata yang bersinar, mata yang tidak pernah kau berikan padaku!” bentak Ethan, suaranya meledak di ruangan kamar mewah dan megah itu.

“Setiap tawa yang kau keluarkan untuknya adalah penghinaan bagiku. Kau ingin mereka tahu kau tidak bahagia denganku? Kau ingin mereka merasa kasihan padamu dan menjadi pahlawanmu?”

“Tidak, bukan begitu—”

“Cukup!”

Tiba-tiba, kemarahan di mata Ethan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lapar.

Ciuman yang tadi dia tunda di mobil kini mendarat dengan brutal. Itu bukan ciuman yang meminta, melainkan sebuah penaklukan.

Ethan membungkam bibir Cassandra dengan rakus, seolah ingin menghisap seluruh napas dan keberanian yang tersisa di dalam diri wanita itu.

Cassandra mencoba meronta, namun ciuman itu begitu dalam dan menuntut, memaksa bibirnya terbuka dan menyerah pada dominasi pria itu.

Di sela-sela ciuman yang menyesakkan itu, tangan Ethan bergerak ke punggung Cassandra. Tanpa peringatan, dia menyambar ritsleting gaun sutra itu.

Suara ziiip yang kasar dan tajam bergema, memutus keheningan dengan cara yang mengerikan. Ethan tidak peduli jika kain mahal itu robek; emosinya sudah meluap melampaui logika.

Dia melepaskan tautan bibir mereka dan mulai mencumbui leher Cassandra dengan kasar. Gigitannya meninggalkan tanda kemerahan, sebuah tanda kepemilikan mutlak agar siapa pun yang melihat Cassandra besok tahu siapa pemiliknya.

“Jangan ... Ethan, kumohon jangan seperti ini,” bisik Cassandra lirih.

Tubuhnya bergetar hebat di bawah tekanan pria itu. Dia bahkan bisa merasakan jemari Ethan yang dingin mulai merayap liar di bawah kain gaunnya yang sudah melonggar, mencoba meruntuhkan pertahanan terakhir yang dia miliki.

Ketakutan menyergapnya; dia tahu Ethan sedang dalam kondisi tidak terkendali.

Ethan berhenti sejenak dan kini matanya menatap mata Cassandra yang basah. Ada kilat kepuasan sekaligus kebencian di sana.

“Kau ingin bersikap sopan pada pria lain? Mari kita lihat seberapa sopan kau bisa bersikap di bawahku malam ini.”

Tepat saat Ethan bersiap untuk menanggalkan seluruh pertahanan Cassandra, sebuah getaran kuat memecah ketegangan di ruangan itu.

Drrrtt ... Drrrt t...

Ethan mengabaikannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra, menghirup aroma tubuh wanita itu yang bercampur dengan ketakutan.

Namun, ponsel di saku celananya terus bergetar dengan pola yang mendesak. Satu panggilan berakhir, dan panggilan kedua langsung menyusul.

“Sialan!” Ethan mengumpat sejadi-jadinya sambil melepaskan satu tangannya dari pergelangan tangan Cassandra dan meraih ponselnya dengan gerakan kasar, berniat mematikannya secara permanen.

Namun, saat matanya menangkap nama yang tertera di layar digital yang bersinar terang, tubuh Ethan membeku.

Seketika, suhu di ruangan itu seolah merosot drastis. Hasrat yang tadi membara di wajah Ethan padam, digantikan oleh tatapan tajam yang dingin dan penuh rahasia.

Rahangnya terkatup rapat seraya menatap layar ponsel itu seolah benda itu adalah bom waktu yang baru saja meledak.

Cassandra yanga terengah-engah di bawahnya, tengah mencoba menutupi dadanya dengan sisa kain gaun yang robek.

Dia bisa melihat perubahan drastis pada pria di atasnya. Ethan tidak lagi menatapnya dengan nafsu, melainkan dengan kalkulasi yang dingin.

Perlahan, dia bangun dan melepaskan seluruh berat tubuhnya dari Cassandra. Dia berdiri di tepi ranjang, membelakangi Cassandra, dan merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan yang sangat mekanis.

“Kau selamat malam ini,” bisik Ethan dengan datar, namun nada ancamannya justru terasa lebih mematikan karena ketenangannya.

Dia berbalik sedikit untuk menatap Cassandra yang masih meringkuk ketakutan di atas ranjang dengan mata cokelat yang berkaca-kaca.

“Tutup gaunmu dan jangan keluar dari kamar ini sampai aku kembali!”

Begitu pintu tertutup, Cassandra menarik napas lega karena malam ini mungkin dia selamat. Namun, pikirannya terfokus pada panggilan yang membuat Ethan rela meninggalkan dirinya dalam keadaan setengah telanjang seperti ini.

“Siapa yang menghubungi Ethan malam-malam begini?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 133

    Dua hari berselang, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan keharuman essential oil chamomile yang menenangkan di kamar utama mansion Lubis.Cassandra duduk bersandar di tumpukan bantal sutra, wajahnya tampak jauh lebih segar meski guratan lelah sisa persalinan masih membekas.Di kedua sisinya, dua boks bayi berbahan kayu ek putih berdiri kokoh, menampung dua kehidupan mungil yang sedang tertidur lelap dalam bedongan rapi.Pintu kamar terbuka lebar, menampakkan serombongan keluarga Lubis yang masuk dengan keriuhan yang tak terbendung. Lucas, sepupu Ethan yang paling eksentrik, melangkah paling depan dengan setelan jas yang terlalu mencolok untuk kunjungan rumah.“Mana para pahlawan baru kita? Menyingkir, Ethan! Biarkan pamanmu yang paling tampan ini melihat mereka!” seru Lucas sambil menyikut lengan Ethan yang sedang berjaga di samping ranjang.Ethan mendengus, namun ia tidak menunjukkan kemarahan. “Pelankan suaramu, Lucas. Jika kau membangunkan mereka, aku akan membuangmu ke kol

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 132

    Fajar di kota itu pecah dengan warna emas yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam.Di balik jendela besar kamar bersalin VVIP rumah sakit, matahari terbit dengan kehangatan yang tak biasa, seolah alam pun turut menyambut kedatangan dua pewaris baru dinasti Lubis.Keheningan pagi itu hanya dipecah oleh suara tangis bayi yang saling bersahutan, dua suara yang melengking kuat, menandakan kehidupan yang sehat dan penuh energi.Cassandra terbaring lemas dengan peluh yang masih membasahi keningnya, namun senyumnya adalah pemandangan paling indah yang pernah Ethan lihat.Dokter Miller baru saja selesai membersihkan kedua bayi laki-laki itu dan membungkus mereka dengan kain katun lembut berwarna biru pucat.“Tuan Lubis, apakah Anda siap menerima putra-putra Anda?” tanya Dokter Miller sambil memberikan bayi pertama.Ethan menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh otoritas dan kekakuannya menguap seketika.Tak lama kemudian, bayi kedua diletakkan di lengan satunya. Kini,

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 131

    Malam di kota itu terasa semakin dingin, namun di dalam kamar utama kediaman Lubis, suhu diatur dengan presisi demi kenyamanan Cassandra.Lilin aroma terapi lavender menyala redup, memberikan ketenangan di tengah napas Cassandra yang mulai terdengar berat.Usia kandungan yang menginjak bulan kedelapan membuat setiap posisi tidur terasa salah bagi wanita itu.Ethan duduk bersandar di kepala ranjang, matanya yang sedikit memerah karena kurang tidur tetap terjaga.Tangannya yang besar bergerak ritmis, mengusap punggung bawah Cassandra dengan tekanan yang pas untuk meredakan nyeri yang tak kunjung hilang.“Masih sakit, Sayang?” bisik Ethan, suaranya parau namun penuh kelembutan.Cassandra bergumam pelan, mencoba mencari posisi miring yang nyaman. “Hanya sedikit sesak, Ethan. Mereka seolah sedang berebut ruang di dalam sini. Kau tidak perlu terjaga terus, tidurlah sejenak.”“Bagaimana aku bisa tidur jika aku tahu kau sedang berjuang menahan beban dua jagoan ini sendirian?” Ethan mengecup b

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 130

    Beberapa bulan telah berlalu, dan perut Cassandra kini sudah membuncit signifikan, membawa beban kehidupan ganda yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di sofa ruang kerja Ethan.Suatu sore yang mendung di London, Ethan meletakkan beberapa lembar dokumen di atas meja kerja mahoninya. Wajahnya tampak serius, namun tidak ada kemarahan di sana.“Intelijenku sudah menemukannya, Cass,” ucap Ethan memecah keheningan. “Mark. Ayahmu.”Cassandra tertegun, jemarinya yang sedang mengelus perut terhenti seketika. “Di mana dia?”“Pinggiran kota kecil di Prancis, dekat perbatasan. Dia menggunakan nama samaran, bekerja di sebuah kebun anggur lokal. Hidupnya jauh dari kemewahan yang dulu dia banggakan,” Ethan berjalan mendekat, berlutut di hadapan istrinya agar mata mereka sejajar.“Mobil sudah siap. Jika kau ingin menemuinya, kita bisa berangkat ke bandara satu jam lagi. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari lagi.”Cassandra terdiam cukup lama, menatap keluar jendela ke arah rintik hujan

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 129

    Pagi itu, aroma mentega berkualitas tinggi dan vanila organik memenuhi penjuru dapur mansion.Elea datang bukan dengan tangan kosong; ia membawa kotak-kotak bahan impor, mulai dari cokelat Belgia hingga tepung gandum khusus dari Prancis, seolah ingin membuktikan bahwa niatnya kali ini benar-benar serius.Di meja marmer, loyang mufin baru saja dikeluarkan dari oven. Uap panas mengepul, menampakkan permukaan kue yang merekah sempurna, berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang kenari yang mengkilap.“Cassandra, lihat! Mereka tidak bantat!” teriak Elea dengan suara melengking penuh kemenangan. “Mereka benar-benar mengembang!”Cassandra tersenyum lebar, mendekat untuk menghirup aroma panggangan yang menggoda selera. “Wah, ini mufin tercantik yang pernah kulihat di dapur ini, Elea. Teksturnya pas sekali.”Ethan, yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil memantau tablet kerjanya, bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat, menyipitkan mata menatap deretan kue itu dengan raut skeptis yang p

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 128

    Sinar matahari sore yang mulai meredup menerobos masuk melalui atap kaca tinggi di konservatori bunga mansion utama Lubis, menciptakan bayangan artistik dari sulur-sulur tanaman rambat yang menghiasi ruangan. Aroma melati yang segar bercampur dengan wangi tanah basah dari pot-pot porselen besar, menciptakan oasis ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis di luar sana. Ariana duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melati organiknya, sementara Cassandra duduk di hadapannya, merasa sangat rileks di tengah hamparan bunga anggrek langka yang menjadi kebanggaan ibu mertuanya. Ariana meletakkan cangkir porselennya dengan bunyi denting halus, matanya yang teduh menatap perut Cassandra yang kini mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Ada binar kerinduan sekaligus empati yang dalam di tatapan wanita paruh baya itu. “Kau tahu, Cassandra,” Ariana memulai, suaranya lembut namun berwibawa, “mengandung seorang pewaris Lubis bukanlah sekadar soal kesehatan fisik. Ini adalah

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 70

    Uap panas masih menyelimuti kamar mandi saat Cassandra melangkah keluar. Aroma sabun beraroma mawar yang lembut tertinggal di kulitnya yang masih lembap.Dia hanya mengenakan bathrobe putih tebal yang diikat longgar di pinggang. Di sudut ruangan, pencahayaan hotel yang temaram memberikan kesan inti

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 69

    Baru saja Ethan hendak menarik tangan Cassandra untuk beranjak, seorang wanita dengan langkah yang diatur sedemikian rupa mendekat.Dia mengenakan gaun mini ketat berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kulit putihnya, menunjukkan setiap lekuk tubuhnya tanpa ragu.“Ethan? Ethan Lubis?” su

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 68

    Paris menyambut mereka dengan langit abu-abu yang elegan dan udara dingin yang menusuk tulang.Namun, tidak ada waktu bagi Cassandra untuk sekadar mengagumi Menara Eiffel dari kejauhan.Begitu kaki mereka menginjak lobi hotel mewah di kawasan Place Vendôme, Ethan langsung ditarik oleh asisten priba

  • Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam   Bab 67

    Suasana rumah baru di kawasan elit itu masih terasa sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang memecah keheningan sore.Cassandra menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna abu-abu gelap di ruang tengah. Ia mengembuskan napas panjang, dan membiarkan kepalanya tersandar pada bantalan sofa yang empu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status