LOGINBegitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.
“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.
Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.
Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.
Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.
Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.
Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.
“Sakit?” Ethan berdesis dengan wajah yang kini hanya beberapa inci dari wajahnya.
Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar memberikan siluet tajam pada rahangnya yang mengeras.
“Rasa sakit ini tidak sebanding dengan caramu mempermalukanku di depan adik-adikku tadi, Cassandra. Kau milikku. Kau jaminan atas pengkhianatan ayahmu, dan kau berani-beraninya memberikan senyummu pada laki-laki lain?”
“Aku hanya berbicara, Ethan! Demi Tuhan. Lagi pula Steve itu adikmu!” teriak Cassandra dengan suara serak.
“Kau bicara dengan mata yang bersinar, mata yang tidak pernah kau berikan padaku!” bentak Ethan, suaranya meledak di ruangan kamar mewah dan megah itu.
“Setiap tawa yang kau keluarkan untuknya adalah penghinaan bagiku. Kau ingin mereka tahu kau tidak bahagia denganku? Kau ingin mereka merasa kasihan padamu dan menjadi pahlawanmu?”
“Tidak, bukan begitu—”
“Cukup!”
Tiba-tiba, kemarahan di mata Ethan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lapar.
Ciuman yang tadi dia tunda di mobil kini mendarat dengan brutal. Itu bukan ciuman yang meminta, melainkan sebuah penaklukan.
Ethan membungkam bibir Cassandra dengan rakus, seolah ingin menghisap seluruh napas dan keberanian yang tersisa di dalam diri wanita itu.
Cassandra mencoba meronta, namun ciuman itu begitu dalam dan menuntut, memaksa bibirnya terbuka dan menyerah pada dominasi pria itu.
Di sela-sela ciuman yang menyesakkan itu, tangan Ethan bergerak ke punggung Cassandra. Tanpa peringatan, dia menyambar ritsleting gaun sutra itu.
Suara ziiip yang kasar dan tajam bergema, memutus keheningan dengan cara yang mengerikan. Ethan tidak peduli jika kain mahal itu robek; emosinya sudah meluap melampaui logika.
Dia melepaskan tautan bibir mereka dan mulai mencumbui leher Cassandra dengan kasar. Gigitannya meninggalkan tanda kemerahan, sebuah tanda kepemilikan mutlak agar siapa pun yang melihat Cassandra besok tahu siapa pemiliknya.
“Jangan ... Ethan, kumohon jangan seperti ini,” bisik Cassandra lirih.
Tubuhnya bergetar hebat di bawah tekanan pria itu. Dia bahkan bisa merasakan jemari Ethan yang dingin mulai merayap liar di bawah kain gaunnya yang sudah melonggar, mencoba meruntuhkan pertahanan terakhir yang dia miliki.
Ketakutan menyergapnya; dia tahu Ethan sedang dalam kondisi tidak terkendali.
Ethan berhenti sejenak dan kini matanya menatap mata Cassandra yang basah. Ada kilat kepuasan sekaligus kebencian di sana.
“Kau ingin bersikap sopan pada pria lain? Mari kita lihat seberapa sopan kau bisa bersikap di bawahku malam ini.”
Tepat saat Ethan bersiap untuk menanggalkan seluruh pertahanan Cassandra, sebuah getaran kuat memecah ketegangan di ruangan itu.
Drrrtt ... Drrrt t...
Ethan mengabaikannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra, menghirup aroma tubuh wanita itu yang bercampur dengan ketakutan.
Namun, ponsel di saku celananya terus bergetar dengan pola yang mendesak. Satu panggilan berakhir, dan panggilan kedua langsung menyusul.
“Sialan!” Ethan mengumpat sejadi-jadinya sambil melepaskan satu tangannya dari pergelangan tangan Cassandra dan meraih ponselnya dengan gerakan kasar, berniat mematikannya secara permanen.
Namun, saat matanya menangkap nama yang tertera di layar digital yang bersinar terang, tubuh Ethan membeku.
Seketika, suhu di ruangan itu seolah merosot drastis. Hasrat yang tadi membara di wajah Ethan padam, digantikan oleh tatapan tajam yang dingin dan penuh rahasia.
Rahangnya terkatup rapat seraya menatap layar ponsel itu seolah benda itu adalah bom waktu yang baru saja meledak.
Cassandra yanga terengah-engah di bawahnya, tengah mencoba menutupi dadanya dengan sisa kain gaun yang robek.
Dia bisa melihat perubahan drastis pada pria di atasnya. Ethan tidak lagi menatapnya dengan nafsu, melainkan dengan kalkulasi yang dingin.
Perlahan, dia bangun dan melepaskan seluruh berat tubuhnya dari Cassandra. Dia berdiri di tepi ranjang, membelakangi Cassandra, dan merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan yang sangat mekanis.
“Kau selamat malam ini,” bisik Ethan dengan datar, namun nada ancamannya justru terasa lebih mematikan karena ketenangannya.
Dia berbalik sedikit untuk menatap Cassandra yang masih meringkuk ketakutan di atas ranjang dengan mata cokelat yang berkaca-kaca.
“Tutup gaunmu dan jangan keluar dari kamar ini sampai aku kembali!”
Begitu pintu tertutup, Cassandra menarik napas lega karena malam ini mungkin dia selamat. Namun, pikirannya terfokus pada panggilan yang membuat Ethan rela meninggalkan dirinya dalam keadaan setengah telanjang seperti ini.
“Siapa yang menghubungi Ethan malam-malam begini?”
Ethan tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan yang efisien dan penuh dominasi, dia melucuti kemeja putih Cassandra, bahkan membiarkan kancing-kancingnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara halus yang tertelan tebalnya karpet.“Ethan …,” suara Cassandra tercekat di tenggorokan, antara ketakutan dan antisipasi yang tidak masuk akal.Tanpa jawaban, Ethan membungkam bibir Cassandra dengan brutal. Ciuman itu tidak memiliki sisa kelembutan; itu adalah invasi.Lidahnya menuntut akses dengan paksa, menyesap sisa napas Cassandra hingga wanita itu merasa paru-parunya hampir meledak.Tangan Ethan yang besar merayap di punggung Cassandra, lalu meremas kulit halusnya dengan intensitas yang meninggalkan jejak panas.Turun dari bibir, Ethan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra yang jenjang.Dia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu hingga menciptakan tanda-tanda kepemilikan baru di atas bekas yang sudah memudar dari semalam.Cassandra memekik pelan, tangannya
Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya. Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan
Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.“Sakit?” Etha
Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klak
“Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.Saat hidangan utama berupa wagyu steak disaji
Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.“Apa ini?”Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima







