LOGINWaktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.
Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.
Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.
Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.
Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya.
Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?
Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.
“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.
Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan setelan jas navy yang licin sempurna, seolah-olah kegilaan semalam hanyalah halusinasi Cassandra. Tidak ada sisa kemarahan, yang ada hanyalah otoritas yang mutlak.
“Ini dokumen yang kau minta,” ujar Cassandra sambil meletakkan map itu di atas meja.
Ethan tidak mendongak. Jemarinya yang panjang bergerak lincah membolak-balik kertas.
Keheningan di antara mereka terasa mencekik, seperti kabel yang ditarik kencang hingga nyaris putus. Rasa penasaran yang membuncah akhirnya mengalahkan ketakutan Cassandra.
“Kau baru kembali ke apartemen pukul lima pagi tadi,” bisik Cassandra.
“Kalau boleh tahu, ke mana kau pergi semalam? Siapa yang meneleponmu hingga kau … pulang di subuh tadi?”
Gerakan tangan Ethan terhenti mendengar pertanyaan itu. Dia lalu mendongak, matanya yang tajam mengunci tatapan Cassandra dengan intensitas yang membuat lutut wanita itu lemas. Ada kilat misteri di sana, sesuatu yang gelap dan tak terjangkau.
“Sejak kapan jaminan memiliki hak untuk menginterogasi pemiliknya?” tanya Ethan dengan nada merendahkan.
Dia kemudian menutup map itu dengan bunyi brak yang keras. “Ambil tasmu. Kita ada pertemuan dengan klien besar di Hotel The Grand Regent sepuluh menit lagi.”
“Tapi jadwalmu hari ini hanya—”
“Aku tidak meminta pendapatmu, Cassandra. Aku memberikan perintah,” potong Ethan dingin sembari berdiri dan meraih kunci mobilnya.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di restoran hotel mewah yang tertutup untuk umum siang itu.
Hanya ada satu meja yang ditempati oleh seorang pria paruh baya bernama Tuan Bramantyo, seorang taipan properti yang dikenal memiliki pengaruh luas namun reputasi yang sedikit berengsek.
“Ah, Ethan! Senang melihatmu,” sapa Bramantyo dengan suara lantang.
Namun, matanya segera beralih dari Ethan dan terpaku pada sosok di belakangnya. “Dan siapa bunga cantik yang kau bawa ini? Sekretaris baru? Atau ... koleksi pribadimu?”
Ethan menarik kursi untuk Cassandra dengan gerakan yang terlihat sopan namun sebenarnya posesif, tangannya menekan bahu Cassandra sedikit terlalu keras.
“Sekretaris pribadi juga istriku. Cassandra.”
“Ah, istrimu! Aku memang mendengar kabar pernikahanmu. Tapi, tidak menyangka kita akan bertemu di sini.” Bramantyo mengedipkan sebelah matanya pada Cassandra yang membuat wanita itu langsung menunduk karena takut.
Selama makan siang berlangsung, pembicaraan bisnis terasa seperti latar belakang bagi Cassandra. Dia merasa tidak nyaman karena tatapan Bramantyo terus-menerus merayap di tubuhnya.
“Kau tahu, Ethan,” ujar Bramantyo sambil memutar gelas wine-nya, “bisnis ini bisa berjalan sangat mulus jika sekretarismu ini mau sedikit lebih 'ramah'. Mata cokelatnya itu sangat memikat. Jarang sekali melihat wanita dengan kecantikan seklasik ini di dunia bisnis yang kotor.”
Bramantyo kemudian mengulurkan tangan, bahkan dengan beraninya menyentuh jemari Cassandra yang berada di atas meja.
“Bagaimana kalau kau bekerja untukku saja, Manis? Aku akan memberikan apa pun yang tidak bisa diberikan oleh bos berikut suamimu yang kaku ini.”
Cassandra sontak membeku. Dia bisa merasakan suhu di sampingnya turun drastis.
Ethan yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan pisau dan garpunya dengan denting perak yang tajam di atas piring porselen.
Wajah Ethan menggelap. Rahangnya mengeras, dan otot-otot di lengannya terlihat menegang di balik jasnya.
“Tuan Bramantyo,” panggil Ethan dengan nada seperti geraman hewan buas. “Kurasa fokus kita hari ini adalah kontrak lahan di Serta, bukan mata sekretarisku.”
“Oh, ayolah Ethan, jangan terlalu protektif,” tawa Bramantyo hambar, namun dia segera menarik tangannya saat melihat tatapan membunuh di mata Ethan.
“Pertemuan cukup sampai di sini!”
Ethan menarik tangan Cassandra dan menyeretnya menuju deretan lift tanpa berkata sepatah kata pun.
“Ethan, kita harus kembali ke kantor. Rapat internal akan dimulai satu jam lagi!” protes Cassandra sambil berusaha menyamai langkah lebar Ethan.
Ethan tidak menjawab. Dia menekan tombol lift dengan kasar. Namun, alih-alih menekan tombol 'L' untuk lobi atau parkiran, jarinya menekan tombol lantai paling atas, lantai Penthouse Suites.
Ting.
Pintu lift terbuka. Ethan mendorong Cassandra masuk ke dalam lorong sunyi yang dilapisi karpet tebal.
Dia berhenti di depan sebuah pintu dengan nomor emas dan menempelkan kartu akses yang entah sejak kapan sudah ada di kantongnya.
“Apa yang kau lakukan? Tempat apa ini?” tanya Cassandra panik saat Ethan membanting pintu kamar itu hingga tertutup dan menguncinya.
Ethan menatap Cassandra dengan tatapan lapar yang jauh lebih berbahaya daripada semalam.
“Urusan kita di apartemen tertunda karena panggilan sialan itu. Dan aku tidak suka membiarkan pekerjaan menggantung.”
“Ethan, jangan sekarang ... kita sedang di hotel, dan ini jam kerja—”
“Setiap jam adalah jam kerjaku, dan kau adalah milikku selama dua puluh empat jam penuh,” desis Ethan.
Dia lalu mengangkat tubuh Cassandra dengan satu sentakan kuat hingga membuat wanita itu memekik saat tubuhnya diempaskan ke atas ranjang besar yang menghadap pemandangan kota dari ketinggian.
Ethan mulai menanggalkan jas dan dasinya dengan gerakan cepat dan penuh amarah yang terpendam.
“Malam tadi kau selamat karena keberuntungan. Hari ini, tidak ada telepon yang akan menyelamatkanmu.”
Dia merangkak ke atas ranjang dan mengunci pergerakan Cassandra di bawah dominasi tubuhnya yang berat. “Mari kita selesaikan apa yang kita mulai semalam, Cassandra.”
Ethan tidak lagi memberikan ruang untuk negosiasi. Dengan gerakan yang efisien dan penuh dominasi, dia melucuti kemeja putih Cassandra, bahkan membiarkan kancing-kancingnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara halus yang tertelan tebalnya karpet.“Ethan …,” suara Cassandra tercekat di tenggorokan, antara ketakutan dan antisipasi yang tidak masuk akal.Tanpa jawaban, Ethan membungkam bibir Cassandra dengan brutal. Ciuman itu tidak memiliki sisa kelembutan; itu adalah invasi.Lidahnya menuntut akses dengan paksa, menyesap sisa napas Cassandra hingga wanita itu merasa paru-parunya hampir meledak.Tangan Ethan yang besar merayap di punggung Cassandra, lalu meremas kulit halusnya dengan intensitas yang meninggalkan jejak panas.Turun dari bibir, Ethan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cassandra yang jenjang.Dia menghisap dan menggigit kulit sensitif itu hingga menciptakan tanda-tanda kepemilikan baru di atas bekas yang sudah memudar dari semalam.Cassandra memekik pelan, tangannya
Waktu sudah menunjuk angka delapan pagi dan kini Cassandra kembali ke rutinitas semulanya, menjadi sekretaris pribadi Ethan di pagi hingga sore hari.Wanita itu sedang berdiri di depan cermin toilet, tengah mencoba menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan concealer tebal dan membetulkan letak kerah kemeja sutra putihnya yang tinggi.Meskipun gaun semalam sudah hancur, harga dirinya yang tersisa harus tetap dia jaga.Dia berjalan menuju meja sekretarisnya tepat di depan pintu ruang megah sang CEO. Tangannya gemetar saat menyusun tumpukan dokumen audit yang harus segera ditandatangani.Bayangan Ethan yang meninggalkannya begitu saja semalam, setelah hampir menghancurkannya masih menghantui setiap tarikan napasnya. Siapa yang menelepon? Mengapa pria sedingin Ethan bisa langsung patuh dan pergi hingga fajar menyingsing?Cassandra mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.“Masuk,” suara bariton itu terdengar datar dan tanpa emosi.Ethan duduk di balik meja besarnya, terlihat segar dengan
Begitu pintu apartemen tertutup, Ethan tidak memberikan kesempatan bagi Cassandra untuk sekadar melepas sepatunya. Dengan gerakan kasar, dia menyambar pergelangan tangan Cassandra dan menyeretnya menuju kamar utama.“Ethan, lepas! Kau menyakitiku!” rintih Cassandra, namun Ethan tidak bergeming.Wajah pria itu kaku seperti pahatan batu granit dengan tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang melumpuhkan.Dengan satu sentakan kasar, Ethan melepaskan tangan Cassandra dan mendorongnya ke arah ranjang king size.Tubuh Cassandra terempas dan memantul di atas seprai sutra yang halus. Sebelum dia sempat mengumpulkan kesadaran atau mencoba merangkak menjauh, berat tubuh Ethan sudah menindihnya.Ethan mengunci kedua tangan Cassandra di atas kepala dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya menumpu di samping kepala Cassandra, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.Napas Ethan yang memburu kini terasa seperti racun yang memabukkan bagi Cassandra.“Sakit?” Etha
Pintu mobil mewah itu tertutup dengan bantingan keras, meredam hiruk-pikuk pesta di luar dan menggantinya dengan keheningan yang mencekam.Ethan tidak menunggu sopir pribadinya; dia mengambil alih kemudi sendiri. Mesin menderu dan dalam hitungan detik, sedan hitam itu melesat membelah jalanan malam kota itu yang mulai lengang.Kecepatan mobil meningkat secara konstan. Cassandra mencengkeram sabuk pengamannya dan matanya terpaku pada spidometer yang jarumnya terus bergerak ke arah kanan.Di sampingnya, rahang Ethan mengeras, dengan jemarinya yang mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.“Apa kau sangat menikmatinya, Cassandra?” suara Ethan memecah kesunyian dengan nada rendah dan tenang, namun mengandung getaran amarah yang sanggup menyayat kulit.Cassandra menoleh sambil mencoba mengatur napasnya. “Menikmati apa, Ethan? Kita hanya makan malam dengan orang tuamu.”“Jangan bermain bodoh denganku!” Ethan membentak lalu memukul kemudi dengan telapak tangannya hingga suara klak
“Kalian berdua tampak sangat serasi,” ujar Ariana dengan tatapan mata yang berbinar menatap Ethan dan Cassandra yang duduk berdampingan. “Aku senang Ethan akhirnya memilih wanita yang memiliki otak secerdas dirinya.”Keluarga Lubis sedang makan malam bersama, sebuah undangan yang tidak mungkin Ethan tolak jika Jason yang memintanya.Ethan tersenyum mendengarnya, sebuah senyum yang tampak begitu hangat dan tulus, jenis senyum yang hanya dia keluarkan saat berada di bawah pengawasan orang tuanya.Dia kemudian meraih jemari Cassandra di atas meja dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.“Cassandra adalah segalanya yang aku butuhkan, Mom,” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sebuah akting yang hebat, pikir Cassandra.Dia akhirnya memaksakan senyum tipis, meski perutnya melilit.Dia merasa seperti boneka porselen yang sedang dipamerkan untuk mendukung akting “istri yang sedang jatuh cinta”, Cassandra harus tetap bersikap anggun.Saat hidangan utama berupa wagyu steak disaji
Siang itu, Ethan harus menghadiri pertemuan mendadak di kantor pusat dan harus meninggalkan Cassandra sendirian di dalam penthouse yang terasa seperti akuarium raksasa.Ethan melarangnya keluar, namun pria itu lupa satu hal: dia tidak mengunci ruang kerja pribadinya.Didorong oleh rasa penasaran yang membakar, Cassandra melangkah masuk ke ruangan yang didominasi oleh kayu ek gelap dan aroma tembakau mahal.Ruangan itu sangat rapi, hampir tidak manusiawi. Namun, di balik meja kerja yang megah, terdapat sebuah laci lemari arsip yang sedikit terbuka. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tanpa label.“Apa ini?”Dengan tangan gemetar, Cassandra membukanya. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti.Isi kotak itu bukan dokumen bisnis. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto fisik, bukan digital, dengan kualitas lensa tele yang sangat tajam. Cassandra mengambil satu per satu dengan jemari yang mendingin.Foto pertama: Dirinya sedang duduk di bangku taman King’s College, London, lima







