LOGIN“Lyra.”Panggilan dari suara lembut yang sangat familiar di telingaku.Aku mencoba menggerakkan jari-jari tangan. Kaku, tapi aku bisa menggerakkannya.“Lyra.”Panggilan suara itu terdengar kembali.Kepalaku masih terasa pusing dan mataku amat berat, namun aku terus berusaha untuk membuka kedua kelopak mataku.Perlahan, rasa sakit itu mulai meluruh. Aku mulai membuka mata.Cahaya yang terang? Apakah cahaya itu kembali lagi?Aku memejamkan mata sejenak, lalu mencoba memfokuskan kembali pandanganku.Di mana aku? Semuanya mulai terlihat jelas. Aku berada di ruang perawatan rumah sakit?“Lyra.” Suara itu memanggil lagi.Aku menoleh ke samping. Di sana Kak Shiena tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.“Akhirnya kamu bangun,” ucap Kak Shiena penuh rasa syukur sambil menggenggam jemariku.Aku hanya membalas ucapan Kak Shiena dengan senyuman samar. Tubu
DinginHanya itu yang saat ini aku rasakan di setiap jengkal tubuhku. suara gemuruh air laut perlahan mulai meredup lalu kemudian lenyap.Kini semuanya gelap, sunyi. Tubuhku seperti melayang-layang di dalam dunia yang seolah hanya dihuni oleh diriku sendiri. Ya… sendirian.Apa aku sudah mati?Namun tiba-tiba sebuah pendar cahaya muncul menembus kegelapan. Cahaya itu semakin mendekat, lebih dekat lalu menarikku ke dalamnya.Aku seperti terlempar ke sebuah tempat. Aku melihat sekeliling. Aku berada di klub malam?Aku duduk di atas sofa. Ada Kak Shiena juga di sampingku yang sedang tertawa. Namun saat aku memiringkan kepalaku, ada sosok pria di meja kami.Aku memfokuskan mataku ke arah pria itu. Namun bayangan wajah pria itu mendadak menjadi kabur. Parasnya tersamarkan oleh pendar cahaya pucat. Namun aku merasakan pria itu sedang memperhatikanku.Lalu Cahaya yang sama kembali muncul dan menarikku lagi. Kali ini cahaya itu melemparku ke sebuah acara pesta.Sosok pria yang sama dengan para
Sebuah bayangan tinggi tegap melangkah perlahan menghampiri kami dari kegelapan lorong. Pria itu berdiri sendirian, tanpa ragu sedikit pun. Saat pendar pucat cahaya bulan menembus kaca jendela dan menyoroti parasnya, barulah mataku sanggup mempercayai apa yang kulihat.Itu… Arka.Balutan perban tebal masih melilit tangan kirinya, sementara plester medis menempel di sudut kening dan pelipisnya. Jejak-jejak pertempuran berdarah di mansion kemarin terlukis jelas pada fisiknya.Pria itu tampak begitu pucat. Arka masih tetap memilih berdiri kokoh, tatapannya membakar, menegaskan akan satu hal.Arka kembali untuk menyelamatkanku.Cengkeraman Hector di leherku makin kuat. “Tidakku sangka kamu masih hidup,” ucap Hector dengan nada terdesak yang gemetar, berusaha menyembunyikan kepanikan gila yang menggerogoti akal sehatnya.“Targetmu itu aku, bukan dia,” jawab Arka rendah dan stabil.Aku memperhatikannya. Ekspresinya sangat tenang dan stabil. Dia pasti sudah mempersiapkan semuanya dengan mata
Keheningan kembali menyergap seluruh ruangan ini. Aku masih berdiri menatap keluar jendela. Memandangi hamparan lautan di bawah gedung ini. Jari-jariku kembali bergerak spontan mengusap cincin pemberian Arka itu.Apa dia baik-baik saja? Apa dia akan menyelamatkanku?Pertanyaan itu langsung muncul begitu saja dalam pikiranku saat aku melihat cincin yang bertengger di jari manisku.Ceklek!Suara pintu terbuka.Vivian kembali dengan membawa kotak obat. “Aku lihat pergelanganmu sedikit memar. Kemarilah, aku akan bantu obati.”“Kenapa kamu bersikap baik padaku?” Vivian tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan sebuah salep lalu berjalan dan berhenti tepat di hadapanku. Wanita itu menunduk dan meraih tanganku. “Aku memperhatikanmu sejak pertama kamu berada di mansion. Di sana aku melihat, kamu punya hubungan yang cukup rumit dengan Tuan Arka.”Vivian membungkukkan badannya yang lebih tinggi dariku. Dia mengoleskan salep pada pergelangan tanganku dengan perlahan dan hati-hati.Selama itu d
Aku melihat Hector yang masih kesal, lalu beralih pada wanita itu. Wajahnya sangat tenang, saking tenangnya sampai aku tidak bisa membaca kemungkinan apa yang sedang dia pikirkan.Aku mulai mengamati wanita ini dengan cermat. Caranya berdiri, tutur katanya, dan sikapnya yang tenang.Ada aura dingin, anggun, dan ketahanan yang sangat terlatih dari dirinya. Dia bukan seperti orang suruhan biasa, dia seorang profesional. Dan entah mengapa, intuisiku berbisik bahwa wanita ini sama sekali tidak memiliki niatan untuk menyakitiku secara fisik.Hector kembali menoleh ke arahku. Sambil mendengus pelan dia berkata “Kali ini kamu selamat, Lyra. Kamu harus berterima kasih untuk hal ini, Vivian mengingatkanku untuk tidak menyakitimu.”Sontak aku langsung menatap pria itu. Apa salahku padanya? Dia tidak bisa menyentuh Arka lalu dengan leluasa menyalurkan dendamnya padaku?Pria ini benar-benar tidak waras. Pantas saja Kakek Vanguard sebelum dia meninggal lebih percaya pada Arka untuk memegang wilaya
Sakit, pusing itu yang masih aku rasakan saat ini. Aku mulai membuka mataku perlahan. Dengan kesadaran yang masih belum pulih sepenuhnya, aku mulai mengamati sekitar.Ruangan ini begitu kosong. Tidak ada orang, tidak ada benda lain, hanya ada kursi yang kududuki saat ini. Di mana aku?Aku menegakkan kepalaku. Menilai diriku saat ini. Tangan, kaki terikat, dan mulutku terikat.Aku kembali mengingat apa yang sudah terjadi padaku terakhir kali. Aku… diculik?Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan. Aku menyipitkan kedua mataku, menatap lurus kea rah lorong remang yang masih kosong.Bayangan tubuh yang aku kenal. Itu… Hector?Pria itu berjalan mendekat ke arahku. Di dibuntuti oleh pelayan wanita yang berkhianat pada Arka.“Kita bertemu lagi, Nona Vance?” ucap Hector berdiri dihadapanku.Pria itu menurunkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.“Sudah aku bilang padamu sebelumnya. Jauhi keponakanku, tapi kamu tetap saja di dekatnya,” tutur Hector dengan







