LOGINHari mulai gelap, Arka masih belum menampakkan tanda-tanda kepulangannya.“Nyonya,”“Panggil saja aku Lyra,” potongku cepat pada Tessa. “Aku masih belum resmi menjadi nyonya Vanguard.”Tessa menarik napas pendek dan membuangnya. “Nona Lyra,” panggilnya kembali.Aku menoleh. Ada keraguan yang masih jelas terpancar dalam matanya.“Bagaimana jika nanti tuan Arka tahu?” Tessa mulai memberanikan diri.Aku paham perasaannya. Hatinya dilema. Antara keinginannya, dan tekanan terhadap konsekuensi yang akan dia tanggung setelahnya. Terlebih... dia tahu latar belakang keluargaku.“Kita sudah merencanakannya. Aku ingin lepas darinya, dan kamu ingin bersamanya. Jika aku berhasil ke selatan, dan kamu berubah pikiran. Maka... pergilah kesana. Aku yang akan menjadi pelindungmu,” ucapku meyakinkannya.“Bagaimana jika Tuan Arka menyadari dan tidak membiarkan aku pergi?”“Aku sudah mengirim pesan ke Kakakku. Seharusnya dia sudah bergerak, dan memindahkan keluargamu. Aku akan mengutus orang untuk membawa
Suasana sunyi seketika menyilimuti antara kami berdua.“V-VANCE?!”Ucap Tony dengan suara keras dan mata yang membulat sempurna saat mendengar kata itu dari mulur Arka.Tony melihatku dengan mulut menganga. Sepertinya Arka memang tidak memberitahunya soal identitasku yang sebenarnya.Saat kami pertama bertemu, aku adalah asisten pribadi Arka. Lalu kami bertemu kembali saat aku dan Arka sudah bertunangan. Jadi pantas Tony terkejut mendengar nama itu.Sementara Tessa... matanya semakin dalam. Ucapan Arka seolah menegaskan kalau aku memang putri dari selatan. Seakan mengatakan kalau kesempatannya semakin kecil untuk tidak diabaikan oleh Arka jika harus bersaing denganku.“Apa harus berteriak seperti itu, Tony?” tanya Arka berbalik ke arahnya datar dan dingin.“Ma-maaf, Pak,” jawab Tony menunduk. “Pantas saja dari awal bertemu auranya berbeda. Sanggup memerintah Pak Arka dengan bebas, dan membuat keluarga Vale gulung tikar. Ternyata...” bisik Tony yang terdengar oleh kami semua sambil men
“V-Vance?” tanya Tessa dengan gugup.Aku harap dengan membuka identitasku, dia tidak lagi menganggapku sebagai wanita penggoda. Dan aku lebih berharap dia mau membantuku keluar dari mansion ini.Aku berdiri, memakai kemeja Arka yang kebesaran untuk menutupi tubuhku. Aku berjalan mendekat.“Tessa, aku adalah putri dari keluarga Vance. Aku rasa kamu tahu soal keluarga Vance bukan?” tanyaku memastikan.Tessa masih terdiam, bingung. Seolah dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.“Arka membawaku kesini secara paksa, Tessa. Ini namanya penculikan. Sekarang kamu tahu siapa aku.” Aku menggenggam kedua tangannya. “Kamu tahu aku punya apa yang Arka punya. Aku hanya ingin keluar dari sini. Bantu aku, maka aku akan memberikan posisiku padamu untuk berada di sisi Arka.”Aku menatapnya penuh harap. Tessa menatapku dalam-dalam seakan dia sedang menilai dan menimbangkan ucapanku.Tessa melepaskan genggamanku dan mundur selangkah. “Bagaimana aku tahu kalau kamu itu putri dari keluarga Vance?”Dia...
Aku menatap wajah Arka. Meremas selimut yang menutupi tubuh kami berdua.Bimbang, gelisah, kecewa pada diri sendiri semua melebur jadi satu. Aku mulai menegakkan posisiku menjadi duduk. Aku mengambil bantal di belakang tubuhku, meremasnya dengan kuat. Aku kembali menoleh ke arah Arka. Otakku memerintahkan untuk menutupi mukanya dengan bantal saat ini, membuatnya kehabisan napas dan pergi ke dunia lain. Namun lagi-lagi, tubuh dan hatiku tidak sejalan dengan apa yang aku pikirkan.“Kenapa?” Suara rendah dan serak mulai terdengar. Arka membuka matanya perlahan dan menoleh ke arahku.“Kenapa tidak jadi menutupiku dengan bantal?” tanya Arka kembali.Kami saling berpandangan. Kami tidak berbicara selama beberapa detik. Arka bangun, duduk, lalu menoleh ke arahku. “Hatimu tidak tega?”Aku memalingkan wajah ke arah lain tanpa menjawabnya.“Aku bersyukur,” ucap Arka mengelus rambutku lembut dari belakang. “Hatimu masih memiliki perasaan padaku.”“Huh.” Aku mendengus pelan. “Lebih tepatnya..
“Sejak kapan kalian menjadi sangat dekat?”Suara berat yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah belakang kami.Aku dan Tessa menoleh kompak. Arka kembali. Cepat sekali datangnya.“Aku tanya sekali lagi.” Arka mulai mendekat. “Kapan...”“Kami tidak dekat,” potongku kembali menghadap meja makan. “Aku hanya menanyakan beberapa hal padanya.”Tessa segera berdiri dan menjauh beberapa langkah dari meja makan. Arka duduk di sampingku. Satu sikunya mendarat di atas meja.“Kenapa tidak bertanya padaku?” tanya Arka kembali dengan tatapan menggodanya.Aku menoleh dengan senyum yang dipaksakan. “Bisa aku kembali percaya padamu?”Sorot matanya turun. Arka menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan sebelum kembali menatapku. “Kamu sendiri? Apa kamu sudah mengambil pelajaran dari permainan ini?”Aku terdiam, menelaah maksud dari pertanyaannya.Sebuah senyum tipis kembali terukir di bibir Arka. “Sepertinya belum. Kalau begitu... kita lanjutkan permainannya.”Senyum Arka semakin mele
Tessa tertegun. Bibirnya terkatup rapat. Reaksinya yang membeku justru memperjelas dugaanku.“A-apa... apa maksud Nyonya?” tanya Tessa gugup, berusaha mempertahankan raut wajah netralnya.Aku menyingkap selimut lalu turun dari tempat tidur. Langkahku perlahan mendekatinya, hingga aku berdiri tepat di hadapannya.“Kamu menyukai Arka, kan?” tanyaku langsung.Tessa tersenyum kaku. Saat memperhatikannya dari dekat... aku menyadari tinggi dan postur tubuhnya mirip denganku. Dalam sekejap, sebuah ide liar tebersit di otakku.“Nyonya,” panggil Tessa ragu. “Ini pertanyaan yang terlalu pribadi. Saya berhak untuk tidak menjawabnya—ini privasi saya.”“Dan ini ruangan pribadi saya bersama Arka,” balasku tenang namun tajam. Aku menatap matanya lurus-lurus. “Kamu masuk ke mari tanpa mengetuk pintu atau meminta izin sedikit pun.”Senyum di wajah Tessa makin goyah. Topeng kesopanan yang dipaksakannya perlahan retak di hadapanku.“A-aku... aku tidak sanggup, Nyonya,” ucap Tessa gugup.Aku berjalan ke







