LOGINRuang tamu kontrakan Alya yang sempit terasa semakin mencekik. Oksigen seolah tersedot habis, digantikan oleh aroma maskulin yang kuat—perpaduan sandalwood, tembakau mahal, dan bahaya yang pekat.
Luciano tidak perlu berteriak untuk menguasai ruangan itu. Dia hanya perlu berdiri di sana, menjulang tinggi dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya, menatap Alya seperti seekor singa menatap kelinci yang terpojok. "Duduk, Alya," perintahnya. Suaranya tenang, tapi nadanya tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Alya menggeleng, kakinya mundur selangkah hingga punggungnya menabrak lemari pajangan tua. "Di mana ibuku? Apa yang kalian lakukan padanya?" Luciano menghela napas panjang, seolah kesabaran adalah barang mewah yang enggan ia berikan. Perlahan, dia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak di antara mereka nyaris nol. Alya menahan napas. Dia bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu. Luciano menunduk, hidungnya menyusuri perpotongan leher Alya—tepat di tempat dia mencengkeram gadis itu semalam. Alya membeku, merinding hebat saat merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit sensitifnya. "Kau bau hujan, bau darahku, dan bau ketakutan..." bisik Luciano serak, matanya terpejam sejenak menikmati aroma itu. "Perpaduan yang memabukkan, Suster. Jauh lebih baik dari parfum murahanmu." Sebelum Alya sempat mendorongnya, tangan Luciano bergerak cepat. Bukan untuk memukul, tapi menyusup ke bagian depan seragam perawat Alya yang sedikit longgar. Alya terkesiap, tangannya refleks menahan dada bidang pria itu. "Apa yang kau—" Luciano menarik tangannya kembali, meninggalkan sebuah map hitam tipis yang kini terselip separuh di balik kerah baju Alya. Gerakan itu begitu invasif, merendahkan, sekaligus... intim. "Baca," perintah Luciano, mundur selangkah untuk memberi Alya ruang bernapas—sedikit. "Setiap kata di sana adalah hukum bagimu mulai detik ini." Dengan tangan gemetar hebat, Alya menarik map itu dari bajunya. Dia membukanya. Matanya membelalak melihat judul dokumen itu: PERJANJIAN PELUNASAN UTANG & JAMINAN HIDUP. Matanya menyusuri poin demi poin dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang, seolah mau meledak. Poin 1: Pihak Kedua menyerahkan hak atas kebebasan pribadinya... Tidak ada privasi. Pintu kamar tidak boleh dikunci. Poin 2: Dilarang melakukan kontak fisik atau kontak mata lebih dari 3 detik dengan laki-laki lain tanpa izin tertulis... "Kau gila," desis Alya, matanya berkaca-kaca menatap Luciano. "Aku bukan barang! Kau tidak bisa melarangku melihat orang lain!" "Lanjut baca," potong Luciano dingin. "Terutama Poin 4." Alya kembali menunduk. Poin 4: Ibu Pihak Kedua, Ny. Dewi, kini berada di VVIP Suite RS Prawira. Jika Pihak Kedua melarikan diri atau melanggar satu poin saja, ventilator dan obat jantung Ny. Dewi akan dihentikan seketika. Kertas itu jatuh dari tangan Alya. Kakinya lemas. "Ibu..." isaknya tertahan. "Jangan sentuh ibuku! Dia tidak salah apa-apa! Brengsek kau!" Alya menerjang maju, memukul dada Luciano dengan kepalan tangannya yang kecil. Pukulan itu sia-sia, seperti memukul tembok beton. Luciano menangkap kedua pergelangan tangan Alya dengan satu tangan, menghentikan serangannya dengan mudah. "Aku menyelamatkan nyawa ibumu, Alya," ucap Luciano datar, menatap mata Alya yang basah. "Di rumah sakit umum itu, dia tidak akan bertahan seminggu lagi. Di tempatku, dia dapat perawatan terbaik. Harganya? Kepatuhanmu." Dia melepaskan tangan Alya, lalu menunjuk kertas yang jatuh di lantai dengan dagunya. "Ambil. Baca poin terakhir. Poin 35." Alya memungut kertas itu dengan sisa tenaganya yang terkuras. Air matanya menetes membasahi kertas saat ia membaca poin keramat itu. Poin 35: Pihak Kedua wajib memenuhi segala kebutuhan Pihak Pertama—baik medis, domestik, maupun kebutuhan biologis mendesak—kapan pun diminta, tanpa penolakan. Wajah Alya memerah padam. Dia menatap Luciano dengan tatapan tidak percaya. "Kebutuhan... biologis? Kau ingin menjadikanku pelacur?" Luciano tersenyum miring. Senyum yang penuh rahasia dan bahaya. Dia tidak menjawab ya atau tidak. Dia hanya merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pena hitam dengan aksen emas yang terlihat berat dan mahal. Dia menyodorkan pena itu pada Alya. "Tanda tangan. Atau aku telepon rumah sakit sekarang untuk mencabut selang oksigen ibumu." Alya menatap pena itu. Saat jemarinya menyentuh batang pena yang dingin, dia merasakan beratnya. Pena itu terasa seberat dosa Rian, seberat nyawa ibunya, dan seberat nasibnya yang kini hancur lebur. Dengan tangan gemetar yang tak terkendali, Alya menggoreskan tanda tangannya di atas garis bermeterai itu. Sret. Bunyi goresan pena itu terdengar menyakitkan di telinga Alya. Itu adalah bunyi kebebasannya yang mati. "Bagus," Luciano mengambil kembali kertas dan pena itu, menyimpannya rapi di balik jas. "Anak pintar." Dia berbalik menuju pintu keluar. "Ayo. Kita pulang." "Tunggu," Alya menyeka air matanya kasar. "Aku harus ganti baju. Seragam ini kotor, penuh darahmu dari semalam, dan bau—" "Jangan ganti," potong Luciano tanpa menoleh. Dia berhenti di ambang pintu, siluet tubuhnya menghalangi cahaya matahari pagi. "Tetap pakai seragam itu." "Tapi—" "Aku ingin kau ingat, Alya," Luciano menoleh sedikit, matanya berkilat tajam. "Darah di bajumu itu adalah tanda bahwa nyawaku ada di tanganmu semalam. Dan sekarang... giliran hidupmu yang ada di tanganku." Pria itu merogoh saku celananya, lalu melemparkan sesuatu ke arah Alya. Refleks, Alya menangkapnya. Itu sapu tangan sutra berinisial 'L'. Sapu tangan yang Alya gunakan untuk mengelap tangannya semalam. Masih ada bercak darah kering di sana. "Cuci itu sampai bersih di Penthouse nanti," perintah Luciano. "Aku ingin bau darahku hilang dari sana. Tapi namaku... harus tetap ada di ingatanmu selamanya." Tanpa menunggu jawaban, Luciano berjalan keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu. Alya berdiri mematung di tengah ruang tamu kosong. Dia meremas sapu tangan itu di dadanya. Bau sandalwood Luciano masih tertinggal di udara, menjeratnya, mengikatnya. Dia bukan lagi Alya si perawat. Dia sekarang adalah milik Tuan Mafia."Uhuk!"Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan.Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison."Alya?"Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya.Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?"Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya."Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya merosot
Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..
Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for
Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu
Lantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M
Keheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian