Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 2: Kontrak Sang Iblis

Share

Bab 2: Kontrak Sang Iblis

Author: Murufu
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-23 14:57:52

Ruang tamu kontrakan Alya yang sempit terasa semakin mencekik. Oksigen seolah tersedot habis, digantikan oleh aroma maskulin yang kuat—perpaduan sandalwood, tembakau mahal, dan bahaya yang pekat.

Luciano tidak perlu berteriak untuk menguasai ruangan itu. Dia hanya perlu berdiri di sana, menjulang tinggi dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya, menatap Alya seperti seekor singa menatap kelinci yang terpojok.

"Duduk, Alya," perintahnya. Suaranya tenang, tapi nadanya tidak menyisakan ruang untuk bantahan.

Alya menggeleng, kakinya mundur selangkah hingga punggungnya menabrak lemari pajangan tua. "Di mana ibuku? Apa yang kalian lakukan padanya?"

Luciano menghela napas panjang, seolah kesabaran adalah barang mewah yang enggan ia berikan. Perlahan, dia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga jarak di antara mereka nyaris nol.

Alya menahan napas. Dia bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu.

Luciano menunduk, hidungnya menyusuri perpotongan leher Alya—tepat di tempat dia mencengkeram gadis itu semalam. Alya membeku, merinding hebat saat merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit sensitifnya.

"Kau bau hujan, bau darahku, dan bau ketakutan..." bisik Luciano serak, matanya terpejam sejenak menikmati aroma itu. "Perpaduan yang memabukkan, Suster. Jauh lebih baik dari parfum murahanmu."

Sebelum Alya sempat mendorongnya, tangan Luciano bergerak cepat. Bukan untuk memukul, tapi menyusup ke bagian depan seragam perawat Alya yang sedikit longgar.

Alya terkesiap, tangannya refleks menahan dada bidang pria itu. "Apa yang kau—"

Luciano menarik tangannya kembali, meninggalkan sebuah map hitam tipis yang kini terselip separuh di balik kerah baju Alya. Gerakan itu begitu invasif, merendahkan, sekaligus... intim.

"Baca," perintah Luciano, mundur selangkah untuk memberi Alya ruang bernapas—sedikit. "Setiap kata di sana adalah hukum bagimu mulai detik ini."

Dengan tangan gemetar hebat, Alya menarik map itu dari bajunya. Dia membukanya. Matanya membelalak melihat judul dokumen itu: PERJANJIAN PELUNASAN UTANG & JAMINAN HIDUP.

Matanya menyusuri poin demi poin dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang, seolah mau meledak.

Poin 1: Pihak Kedua menyerahkan hak atas kebebasan pribadinya... Tidak ada privasi. Pintu kamar tidak boleh dikunci.

Poin 2: Dilarang melakukan kontak fisik atau kontak mata lebih dari 3 detik dengan laki-laki lain tanpa izin tertulis...

"Kau gila," desis Alya, matanya berkaca-kaca menatap Luciano. "Aku bukan barang! Kau tidak bisa melarangku melihat orang lain!"

"Lanjut baca," potong Luciano dingin. "Terutama Poin 4."

Alya kembali menunduk.

Poin 4: Ibu Pihak Kedua, Ny. Dewi, kini berada di VVIP Suite RS Prawira. Jika Pihak Kedua melarikan diri atau melanggar satu poin saja, ventilator dan obat jantung Ny. Dewi akan dihentikan seketika.

Kertas itu jatuh dari tangan Alya. Kakinya lemas. "Ibu..." isaknya tertahan. "Jangan sentuh ibuku! Dia tidak salah apa-apa! Brengsek kau!"

Alya menerjang maju, memukul dada Luciano dengan kepalan tangannya yang kecil. Pukulan itu sia-sia, seperti memukul tembok beton. Luciano menangkap kedua pergelangan tangan Alya dengan satu tangan, menghentikan serangannya dengan mudah.

"Aku menyelamatkan nyawa ibumu, Alya," ucap Luciano datar, menatap mata Alya yang basah. "Di rumah sakit umum itu, dia tidak akan bertahan seminggu lagi. Di tempatku, dia dapat perawatan terbaik. Harganya? Kepatuhanmu."

Dia melepaskan tangan Alya, lalu menunjuk kertas yang jatuh di lantai dengan dagunya. "Ambil. Baca poin terakhir. Poin 35."

Alya memungut kertas itu dengan sisa tenaganya yang terkuras. Air matanya menetes membasahi kertas saat ia membaca poin keramat itu.

Poin 35: Pihak Kedua wajib memenuhi segala kebutuhan Pihak Pertama—baik medis, domestik, maupun kebutuhan biologis mendesak—kapan pun diminta, tanpa penolakan.

Wajah Alya memerah padam. Dia menatap Luciano dengan tatapan tidak percaya. "Kebutuhan... biologis? Kau ingin menjadikanku pelacur?"

Luciano tersenyum miring. Senyum yang penuh rahasia dan bahaya. Dia tidak menjawab ya atau tidak. Dia hanya merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pena hitam dengan aksen emas yang terlihat berat dan mahal.

Dia menyodorkan pena itu pada Alya.

"Tanda tangan. Atau aku telepon rumah sakit sekarang untuk mencabut selang oksigen ibumu."

Alya menatap pena itu. Saat jemarinya menyentuh batang pena yang dingin, dia merasakan beratnya. Pena itu terasa seberat dosa Rian, seberat nyawa ibunya, dan seberat nasibnya yang kini hancur lebur.

Dengan tangan gemetar yang tak terkendali, Alya menggoreskan tanda tangannya di atas garis bermeterai itu.

Sret.

Bunyi goresan pena itu terdengar menyakitkan di telinga Alya. Itu adalah bunyi kebebasannya yang mati.

"Bagus," Luciano mengambil kembali kertas dan pena itu, menyimpannya rapi di balik jas. "Anak pintar."

Dia berbalik menuju pintu keluar. "Ayo. Kita pulang."

"Tunggu," Alya menyeka air matanya kasar. "Aku harus ganti baju. Seragam ini kotor, penuh darahmu dari semalam, dan bau—"

"Jangan ganti," potong Luciano tanpa menoleh. Dia berhenti di ambang pintu, siluet tubuhnya menghalangi cahaya matahari pagi. "Tetap pakai seragam itu."

"Tapi—"

"Aku ingin kau ingat, Alya," Luciano menoleh sedikit, matanya berkilat tajam. "Darah di bajumu itu adalah tanda bahwa nyawaku ada di tanganmu semalam. Dan sekarang... giliran hidupmu yang ada di tanganku."

Pria itu merogoh saku celananya, lalu melemparkan sesuatu ke arah Alya. Refleks, Alya menangkapnya.

Itu sapu tangan sutra berinisial 'L'. Sapu tangan yang Alya gunakan untuk mengelap tangannya semalam. Masih ada bercak darah kering di sana.

"Cuci itu sampai bersih di Penthouse nanti," perintah Luciano. "Aku ingin bau darahku hilang dari sana. Tapi namaku... harus tetap ada di ingatanmu selamanya."

Tanpa menunggu jawaban, Luciano berjalan keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu.

Alya berdiri mematung di tengah ruang tamu kosong. Dia meremas sapu tangan itu di dadanya. Bau sandalwood Luciano masih tertinggal di udara, menjeratnya, mengikatnya.

Dia bukan lagi Alya si perawat. Dia sekarang adalah milik Tuan Mafia.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 46: Bersujud di Kaki Ratu

    Tongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 45: Sang Raja yang Bangkit

    Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 44: Pengorbanan Berdarah

    Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 43: Pertukaran Takdir

    Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 42: Harga Sebuah Penawar

    Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 41: Kontaminasi Hitam

    Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 7: Ratu Ular

    Jam dinding digital di nakas menunjukkan pukul tiga pagi, namun bagi Alya, waktu seolah telah mati sejak Luciano melangkah keluar dari pintu itu.Dingin.Hanya satu kata itu yang kini mendefinisikan eksistensinya. Alya masih duduk meringkuk di sudut karpet bulu tebal di samping tempat tidur raksasa

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

    Suara interkom itu mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada suara tembakan tadi.Luciano melepaskan cengkeramannya di lengan Alya. Bukan dengan lembut, tapi dengan sentakan kasar seolah Alya tiba-tiba berubah menjadi benda panas yang membakar kulitnya. Dia mundur selangkah, m

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 5: Pengabdian di Bawah Luka

    Uap panas memenuhi kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam itu, menciptakan kabut tebal yang menyamarkan pandangan. Suara gemericik air dari rain shower terdengar seperti genderang perang di telinga Alya.Luciano berdiri di bawah guyuran air, masih mengenakan celana kain hitamnya yang kini basa

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 4: Pengkhianatan di Balik Pintu

    Kegelapan di lantai 50 itu terasa begitu pekat, seolah-olah malam baru saja menelan seluruh kemewahan penthouse ini. Hanya lampu darurat kemerahan yang berkedip lemah, memberi kesan horor pada suasana yang tadi sempat memanas."Rian?!" suara Alya melengking, penuh dengan keputusasaan.Di ambang pin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status