Início / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 1: Malam Jahanam

Compartilhar

Jerat Obsesi Tuan Mafia
Jerat Obsesi Tuan Mafia
Autor: Murufu

Bab 1: Malam Jahanam

Autor: Murufu
last update Data de publicação: 2025-12-23 14:53:09

Hujan malam itu turun seperti ribuan jarum es yang menghujam bumi, menenggelamkan Jakarta dalam genangan air kotor dan bau amis selokan.

Alya Kirana mempererat jaket tipisnya yang sudah basah kuyup. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua pagi. Shift malam di UGD RS Medika kali ini benar-benar neraka; tiga korban tawuran, satu serangan jantung, dan puluhan pasien demam tinggi. Tulang-tulang Alya rasanya mau rontok.

Yang ia inginkan hanyalah kasur busa di kontrakannya dan tidur sampai mati rasa.

Namun, saat kakinya melangkah melewati gang sempit di belakang rumah sakit—jalan pintas yang biasa ia lewati—langkahnya terhenti mendadak.

Di antara tumpukan kardus basah dan tempat sampah yang meluap, sesosok tubuh pria tergeletak.

Darah.

Bahkan di bawah penerangan lampu jalan yang remang-remang dan guyuran hujan, Alya bisa melihat cairan merah pekat itu mengalir deras, bercampur dengan air hujan yang mengalir ke selokan.

Insting perawat Alya menjerit. Rasa lelahnya lenyap seketika, digantikan oleh adrenalin.

"Tuan?" panggilnya, suaranya bergetar kalah oleh suara guntur.

Tidak ada jawaban. Pria itu diam mematung. Kemeja putih mahalnya sudah berubah warna menjadi merah di bagian perut kiri.

Alya berlutut di sampingnya, mengabaikan celana kerjanya yang kotor terkena lumpur. Ia baru saja akan memeriksa denyut nadi di leher pria itu ketika—

Cengkeraman itu datang secepat kilat.

Sebuah tangan besar, dingin, dan basah mencengkeram leher Alya dengan kekuatan mematikan. Alya terkesiap, matanya terbelalak ngeri.

Pria itu membuka mata.

Dan demi Tuhan, Alya belum pernah melihat mata semengerikan itu seumur hidupnya. Mata itu sekelam malam tanpa bintang, tajam seperti mata elang yang sedang mencabik mangsa. Tidak ada rasa sakit di sana, hanya ada kekejaman murni dan kewaspadaan seekor binatang buas.

"Satu suara keluar dari mulutmu..." suara pria itu terdengar rendah, serak, dan berbahaya, "...aku patahkan lehermu."

Alya mengangguk kaku, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Cengkeraman di lehernya melonggar sedikit, tapi pria itu tidak melepaskannya. Tangan satunya bergerak ke balik jas, dan detik berikutnya, laras dingin sebuah pistol Beretta menempel tepat di pelipis Alya.

"Kau... perawat?" Pria itu melirik name tag Alya dengan pandangan kabur namun tetap mengintimidasi.

"Y-ya..." cicit Alya. "Tuan, Anda kehilangan banyak darah. Luka tembak itu... harus segera ditangani atau Anda akan syok."

Pria itu menyeringai. Seringai tipis yang bukannya membuat lega, malah membuat bulu kuduk Alya meremang. "Rumah sakit tidak aman. Musuhku ada di mana-mana."

Pria itu menekan laras pistolnya lebih keras ke kepala Alya. "Kau yang kerjakan. Di sini. Sekarang."

"Apa?! Itu gila! Ini tempat kotor, banyak bakteri, saya tidak punya alat—"

"Di tasmu," potong pria itu dingin. Matanya menunjuk tas selempang Alya dengan dagunya. "Aku tahu perawat sepertimu sering membawa pulang peralatan sisa. Scalpel, pinset... gunakan apa saja."

"Tapi tanpa bius—"

"Lakukan!" bentaknya tertahan. "Atau peluru ini yang akan masuk ke otakmu."

Alya tidak punya pilihan. Di bawah ancaman kematian dan guyuran hujan badai, ia melakukan operasi paling mengerikan dalam hidupnya.

Dengan tangan gemetar hebat, Alya mengeluarkan peralatan medis seadanya dari tasnya. Ia menyobek kemeja pria itu, mengekspos dada bidang yang penuh otot dan luka menganga yang mengerikan.

Alya bekerja seperti robot. Mengorek daging, mencari proyektil peluru, sementara darah pria itu menodai seragam putihnya.

Pria itu—sang iblis—sama sekali tidak berteriak. Dia hanya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan mencengkeram lengan Alya begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap ke kulit. Dia menatap wajah Alya lekat-lekat sepanjang proses itu, seolah sedang merekam setiap inci wajah wanita yang berani menyentuh tubuhnya. Tatapan itu bukan tatapan terima kasih. Itu tatapan obsesi.

Cling.

Suara logam peluru jatuh ke aspal basah menjadi suara terindah yang pernah Alya dengar.

"Sudah..." Alya terduduk lemas, napasnya memburu. "Sudah keluar."

Pria itu mengatur napasnya yang berat. Perlahan, dia menurunkan pistolnya. Tapi matanya tidak lepas dari wajah Alya.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Alya," jawabnya lirih, tidak berani menatap mata kelam itu.

Tiba-tiba, sorot lampu mobil menembus kegelapan gang. Sebuah sedan hitam mewah berhenti mendadak. Pria-pria berjas hitam dengan payung besar berhamburan keluar, wajah mereka panik. "Tuan Luciano! Kami menemukan Anda!"

Pria bernama Luciano itu dibantu berdiri oleh anak buahnya. Sebelum masuk ke mobil yang hangat dan aman, dia menoleh sekali lagi ke arah Alya yang masih terduduk di aspal dingin seperti sampah yang dibuang.

"Alya," gumamnya, seolah mengecap nama itu di lidahnya. "Kau punya tangan yang stabil dan nyali yang besar. Sayang sekali kita bertemu dalam keadaan seperti ini."

Mobil itu melesat pergi, meninggalkan Alya sendirian yang menggigil hebat.

Alya memeluk dirinya sendiri. Aku selamat, batinnya histeris. Aku masih hidup.

Dia berlari pulang sekuat tenaga, ingin segera mencuci darah pria asing itu dari tangannya dan melupakan malam jahanam ini selamanya.

Tapi takdir berkata lain.

Sesampainya di rumah kontrakan kecilnya, pintu depan sudah terbuka lebar.

Jantung Alya mencelos. "Rian?" panggilnya panik, mengira adiknya pulang mabuk lagi.

Namun saat ia melangkah masuk ke ruang tamu, dunianya runtuh.

Ruangan itu penuh sesak oleh pria-pria berjas hitam—orang-orang yang sama dengan yang ia lihat di gang tadi. Dan di sana, duduk di kursi kayu butut milik almarhum ayahnya, adalah pria itu.

Luciano.

Dia sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam bersih, lukanya sudah diperban rapi. Dia duduk dengan kaki menyilang, menyesap teh hangat milik Alya dengan santai, seolah dia adalah pemilik rumah.

Dia menatap Alya yang mematung di ambang pintu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mematikan.

"Selamat pagi, Suster Alya," sapanya lembut. Suaranya halus seperti beludru, tapi matanya tajam seperti pisau.

Dia meletakkan cangkir teh itu perlahan, lalu berdiri menjulang mendekati Alya. Alya mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Luciano mengurungnya dengan kedua tangan, menunduk hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Adikmu, Rian, baru saja kabur membawa uangku senilai sepuluh miliar rupiah," bisiknya, napas hangatnya menyapu wajah Alya yang pucat. "Dia menghilang. Dan kau tahu aturannya, kan?"

Jari Luciano menyusuri rahang Alya, turun ke leher, tepat di bekas cengkeramannya tadi.

"Keluarga adalah penjamin utang. Mulai detik ini, hidupmu, tubuhmu, dan napasmu... adalah milikku."

Mata Alya memanas. "Kau... kau gila."

"Tidak, Sayang," Luciano tersenyum gelap. "Aku hanya pebisnis yang sedang menagih hakku. Selamat datang di neraka pribadiku."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 46: Bersujud di Kaki Ratu

    Tongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 45: Sang Raja yang Bangkit

    Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 44: Pengorbanan Berdarah

    Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 43: Pertukaran Takdir

    Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 42: Harga Sebuah Penawar

    Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 41: Kontaminasi Hitam

    Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

    Suara interkom itu mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada suara tembakan tadi.Luciano melepaskan cengkeramannya di lengan Alya. Bukan dengan lembut, tapi dengan sentakan kasar seolah Alya tiba-tiba berubah menjadi benda panas yang membakar kulitnya. Dia mundur selangkah, m

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 5: Pengabdian di Bawah Luka

    Uap panas memenuhi kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam itu, menciptakan kabut tebal yang menyamarkan pandangan. Suara gemericik air dari rain shower terdengar seperti genderang perang di telinga Alya.Luciano berdiri di bawah guyuran air, masih mengenakan celana kain hitamnya yang kini basa

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 4: Pengkhianatan di Balik Pintu

    Kegelapan di lantai 50 itu terasa begitu pekat, seolah-olah malam baru saja menelan seluruh kemewahan penthouse ini. Hanya lampu darurat kemerahan yang berkedip lemah, memberi kesan horor pada suasana yang tadi sempat memanas."Rian?!" suara Alya melengking, penuh dengan keputusasaan.Di ambang pin

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 3: Sangkar Emas di Lantai 50

    Lift pribadi itu meluncur ke atas dengan kecepatan yang membuat perut Alya mual. Saat pintu berdenting terbuka di lantai paling atas, pemandangan yang menyambutnya seolah datang dari planet lain. Marmer putih yang berkilau, dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta dari ketinggia

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status