Beranda / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

Share

Bab 6: Bayang-Bayang Masa Lalu

Penulis: Murufu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 15:11:20

Suara interkom itu mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada suara tembakan tadi.

Luciano melepaskan cengkeramannya di lengan Alya. Bukan dengan lembut, tapi dengan sentakan kasar seolah Alya tiba-tiba berubah menjadi benda panas yang membakar kulitnya. Dia mundur selangkah, menciptakan jurang pemisah di antara mereka.

Aroma sandalwood yang hangat dan memabukkan karena uap air tadi, kini menguap seketika, digantikan oleh hawa dingin AC penthouse yang menusuk tulang.

"Tuan..." Alya mencoba meraih lengan pria itu lagi, matanya basah oleh air shower dan air mata. "Isabella... siapa dia? Dan Rian... dia ada di mana sekarang?"

Luciano tidak menjawab. Dia bahkan tidak menatap Alya. Wajahnya yang tadi menunjukkan sedikit gairah dan kerentanan, kini tertutup topeng besi. Datar. Kosong. Mematikan.

Tanpa sepatah kata pun, Luciano berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Alya yang menggigil kedinginan dengan seragam basah kuyup yang mencetak tubuhnya.

Alya berlari kecil mengikutinya ke ruang ganti (walk-in closet). Dia melihat Luciano bergerak cepat namun presisi. Pria itu mengabaikan rasa sakit di bahu kanannya, menarik kemeja putih baru, mengenakan rompi anti-peluru, dan menyarungkan dua pistol sekaligus di balik jas abu-abu mahalnya.

Dia sedang mengenakan zirah perangnya.

"Saya ikut," kata Alya nekat. "Adik saya ada di sana. Saya harus—"

"Kau tetap di sini," potong Luciano dingin. Dia akhirnya menoleh, menatap Alya dari pantulan cermin lemari. Tatapan itu bukan tatapan pada seorang kekasih atau penyelamat. Itu tatapan pada sebuah aset. "Isabella bukan lawanmu. Dia akan memakanmu hidup-hidup sebelum kau sempat membuka mulut."

Luciano membenarkan letak mansetnya, lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Tapi Tuan!" Alya menghadang langkahnya. "Bagaimana jika Rian—"

Luciano berhenti tepat di depan wajah Alya. Dia menunduk, menatap penampilan Alya yang kacau balau: rambut lepek, seragam transparan karena basah, dan bibir yang gemetar kedinginan.

"Dengar baik-baik, Alya," bisiknya. Nadanya tenang, tapi setiap katanya menghujam dada Alya seperti belati es. "Tunggu di kamarku. Dan jangan ganti bajumu yang basah itu sampai aku kembali."

Alya ternganga. "A-apa?"

"Tetaplah basah, dingin, dan menyedihkan seperti ini," Luciano menyentuh pipi Alya sekilas dengan punggung tangannya yang dingin. "Aku ingin saat aku pulang nanti, aku melihatmu dan langsung ingat apa tujuanku membelimu. Kau hanya pelunas utang. Kau hanya kebutuhan biologis. Jangan pernah berpikir kau lebih dari itu hanya karena aku membiarkanmu menyentuh lukaku tadi."

Setelah mengucapkan kalimat kejam itu, Luciano melangkah pergi. Pintu penthouse tertutup dengan debam keras, mengunci Alya kembali dalam kesunyian sangkar emas.

Alya merosot ke lantai. Kakinya tidak kuat menopang tubuhnya lagi. Hatinya terasa nyeri, lebih sakit daripada saat dia ditodong pistol. Baru lima menit lalu pria itu menatapnya dengan hasrat, dan sekarang dia dibuang seperti sampah hanya karena satu nama: Isabella.

Alya memeluk lututnya, menahan dingin yang merayap ke seluruh tubuh. Dia tidak berani ganti baju. Ancaman Luciano terlalu nyata.

Dia berjalan gontai kembali ke kamar mandi. Uap panas sudah menghilang. Di cermin besar yang kini mulai mengering, tulisan angka 35 itu masih ada, namun mulai memudar dan menetes menjadi butiran air mata.

Alya menatap pantulan dirinya yang menyedihkan di samping angka itu.

"Siapa sebenarnya Isabella?" bisiknya pada cermin kosong. "Dan kenapa rasanya sakit sekali mengetahui dia bisa membuatmu berubah secepat ini, Luciano?"

Sementara itu, di layar monitor keamanan yang menyala di dinding kamar, Alya melihat rekaman CCTV lobi apartemen.

Luciano berjalan keluar dengan gagah. Dan di sana, berdiri di samping mobil sport merah menyala, seorang wanita menunggu.

Alya menahan napas. Wanita itu... sempurna. Gaun merah darah yang membalut tubuh rampingnya, rambut hitam legam yang tergerai indah, dan senyum miring yang penuh percaya diri saat melihat Luciano datang. Wanita itu tidak terlihat takut. Dia terlihat seperti ratu yang menyambut rajanya kembali.

Alya melihat tangan wanita itu—Isabella—menyentuh dada Luciano, tepat di atas jantungnya. Dan Luciano... dia tidak menepisnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 26: Balapan dengan Fajar

    "Uhuk!"Suara batuk basah itu memecah keheningan kamar pengantin. Alya membekap mulutnya, namun cairan hangat merembes dari sela jari-jarinya. Ketika ia menarik tangannya, gaun pengantin putih gading itu kini ternoda oleh percikan merah yang mengerikan.Darah. Bukan darah dari luka luar, tapi darah dari dalam parunya yang mulai tergerus oleh Reflective Poison."Alya?"Luciano terbangun seketika. Efek euforia masih menyelimuti otaknya, membuatnya merasa ringan dan bahagia, namun insting predatornya langsung menyala saat mencium bau amis darah yang keluar dari mulut istrinya.Ia bangkit, sedikit terhuyung, dan meraih bahu Alya. "Kau kenapa? Kau sakit?"Alya menatap Luciano dengan pandangan kabur. Wajah pria itu masih terlihat damai, senyum tipis masih terukir di bibirnya—efek racun yang Alya berikan. Rasa bersalah menghantam Alya lebih keras daripada rasa sakit di dadanya."Aku... aku meracunimu, Luci," isak Alya, akhirnya pengakuan itu tumpah bersama darah di bibirnya. Tubuhnya merosot

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 25: Malam yang Menyesatkan

    Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 24: Altar Kematian

    Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda Darah

    Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 22: Hutang Nyawa dan Darah

    Lantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 21: Di Ambang Batas

    Keheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status