Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 5: Pengabdian di Bawah Luka

Share

Bab 5: Pengabdian di Bawah Luka

Author: Murufu
last update publish date: 2025-12-23 15:10:27

Uap panas memenuhi kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam itu, menciptakan kabut tebal yang menyamarkan pandangan. Suara gemericik air dari rain shower terdengar seperti genderang perang di telinga Alya.

Luciano berdiri di bawah guyuran air, masih mengenakan celana kain hitamnya yang kini basah kuyup dan melekat di kulit. Kemeja hitamnya sudah tergeletak di lantai, robek dan bersimbah darah. Bahu kanannya yang baru saja terserempet peluru mengeluarkan aliran merah pekat yang langsung luruh bersama air, mewarnai lantai marmer dengan warna merah muda yang mengerikan.

"S-saya tidak bisa membersihkan luka Anda jika Anda terus berdiri seperti itu," suara Alya bergetar, hampir hilang ditelan suara air.

Luciano perlahan berbalik. Wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah, namun matanya—mata elang yang kelam itu—masih memiliki kekuatan untuk menelanjangi jiwa Alya.

"Maju, Alya," perintahnya rendah. "Bantu aku melepas ini. Tanganku... tidak bisa digerakkan."

Alya melangkah masuk ke dalam area shower. Seketika, seragam perawatnya yang sudah kotor kembali basah kuyup. Aroma sandalwood yang menguat karena uap panas menyerang indra penciumannya, membuatnya sedikit pening. Dengan tangan yang luar biasa gemetar, Alya menyentuh ikat pinggang Luciano, lalu beralih ke bahu pria itu untuk membantu menyangga tubuhnya.

"Kenapa tanganmu lembut sekali untuk seseorang yang seharusnya membenciku?" Luciano berbisik, suaranya serak di tengah deru air. "Apakah ini bentuk pengabdian medis... atau kau mulai menikmati posisimu sebagai milikku?"

Alya tidak berani menjawab. Dia fokus pada luka di perut kiri Luciano yang perbannya sudah hancur, lalu beralih ke luka baru di bahu kanan. Dia mulai membasuh darah itu dengan spons lembut, gerakannya sangat hati-hati, seolah pria di depannya ini adalah kaca yang mudah pecah—meskipun dia tahu Luciano adalah baja yang mematikan.

Alya menatap luka itu tanpa sadar lebih dari tiga detik. Dia terpaku pada betapa banyaknya luka di tubuh pria ini. Bukan hanya luka baru, tapi bekas luka lama yang menceritakan sejarah kekejaman.

"Kau melanggar aturan mata lagi, Suster," Luciano mengingatkan, tangannya yang tidak terluka tiba-tiba mencengkeram pinggang Alya, menariknya hingga dada mereka bersentuhan di bawah siraman air hangat.

"Saya... saya sedang memeriksa luka Anda," dalih Alya, napasnya tersengal.

Luciano melepaskan Alya sebentar, lalu berjalan menuju cermin besar di samping wastafel yang sudah tertutup uap tebal. Dengan jari telunjuknya yang masih menyisakan bekas darah, dia menuliskan dua angka besar di permukaan uap cermin:

35.

"Ingat angka ini setiap kali kau ingin membantahku," Luciano berbalik, menatap Alya melalui pantulan cermin yang buram. "Rian aman selama kau 'berguna' bagiku. Dan malam ini, aku butuh lebih dari sekadar perawat. Aku butuh teman tidur karena lukaku terlalu sakit untuk diabaikan."

Alya membeku. "Anda ingin saya... tidur di samping Anda?"

"Di sampingku, menjagaku, memastikan aku tidak mati karena kehabisan darah... atau karena musuh yang menginginkan 'The Black Ledger' itu," Luciano melangkah mendekat, mengurung Alya di antara wastafel dan tubuh besarnya.

"Buku itu... daftar pejabat itu... apa hubungannya dengan Rian?" tanya Alya berani.

Luciano menyeringai gelap. "Adikmu mencuri kunci rahasia untuk membuka daftar neraka itu, Alya. Jika dia tertangkap Black Cobra, bukan hanya dia yang mati. Seluruh kota ini akan terbakar. Dan kau..." Luciano membelai pipi Alya yang basah, "...adalah satu-satunya air yang bisa meredakan apiku."

Tiba-tiba, ponsel Luciano yang ada di meja luar bergetar hebat. Sebuah pesan suara otomatis terdengar melalui speaker ruangan:

"Tuan, kami menemukan Rian di gudang pelabuhan. Tapi... dia tidak sendiri. Dia bersama seseorang yang Anda kenal."

Mata Luciano berkilat liar. Dia menarik Alya keluar dari shower tanpa memedulikan lukanya yang masih terbuka.

"Siapa?" desis Luciano ke arah interkom.

"Mantan tunangan Anda, Nona Isabella."

Alya merasakan cengkeraman Luciano di lengannya mengencang hingga terasa sakit. Nama itu... Isabella... seolah membawa badai yang lebih besar daripada klan Black Cobra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 46: Bersujud di Kaki Ratu

    Tongkat naga emas itu terlepas dari genggaman Bramantyo. Suara logam yang menghantam lantai marmer memecah kesunyian yang mencekik ruang VVIP tersebut, bergema seperti dentang lonceng kematian. Bramantyo mundur selangkah, napasnya tercekat. Mulutnya terbuka setengah, namun tidak ada satu pun suara yang keluar dari tenggorokannya. Di sebelahnya, Salim sang pengacara mulai gemetar hebat hingga kacamata tebalnya nyaris jatuh. Mereka datang untuk melihat mayat seorang raja, namun yang menyambut mereka adalah iblis yang sedang berada di puncak kekuatannya. Selamat siang, Paman, sapa Luciano. Suaranya terdengar sangat tenang, tidak ada nada teriakan, namun cukup membuat udara di ruangan itu terasa membeku. Kau datang sedikit terlambat. Jam besuk untuk orang mati sudah ditiadakan. Luciano melangkah maju. Gerakannya begitu mulus, cepat, dan penuh tenaga. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kelumpuhan atau sisa luka di tubuhnya. T-Tuan Luciano... Anda... Anda sudah pulih... gagap Salim, me

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 45: Sang Raja yang Bangkit

    Api berkobar melahap laboratorium bawah tanah itu, mengubah sarang pualam Victor menjadi neraka yang menyala merah. Suara tembakan dan jeritan tertahan menggema di kejauhan, pertanda bahwa perintah sang Don sedang dieksekusi tanpa ampun oleh pasukan garis depan. Namun bagi Luciano, dunia luar sudah tidak ada artinya. Di dalam bangku belakang mobil SUV lapis baja yang melaju membelah badai Jakarta, seluruh fokusnya hanya tertuju pada wanita yang terbaring lemah di pangkuannya. Napas Alya terdengar putus-putus. Wajahnya sepucat mayat, dan kemeja putihnya telah berubah warna menjadi merah pekat oleh darahnya sendiri. Berikan vial itu, Rian! bentak Luciano dari kursi belakang. Rian, yang duduk di kursi penumpang depan, memutar tubuhnya dan menyerahkan tabung kecil berisi cairan biru keemasan itu. Tangan Luciano yang gemetar menerima vial tersebut. Ia menatap cairan itu, cairan yang dibayar dengan kelumpuhan istrinya. Tanpa ragu, Luciano menggigit tutup vial hingga pecah, persis sepe

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 44: Pengorbanan Berdarah

    Mesin ekstraksi itu akhirnya berhenti berdengung. Bagi Alya, suara itu terasa seperti datang dari alam bawah air. Pandangannya mengabur, telinganya berdenging hebat, dan napasnya tersengal-sengal di sela sabuk kulit yang masih digigitnya kuat-kuat. Keringat dingin membasahi seluruh meja operasi baja. Victor memutar katup terakhir dengan gerakan santai. Ia mencabut jarum panjang itu dari tulang belakang Alya dalam satu tarikan mulus. Darah segar seketika merembes dari lubang kecil di punggung Alya, menodai kulit putihnya dengan warna merah yang kontras. Selesai, ucap Victor, melepaskan sarung tangannya yang berdarah dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kau bertahan lebih baik dari dugaanku, Nyonya Prawira. Sebagian besar pria militer akan pingsan di menit kedua. Alya memuntahkan sabuk kulit dari mulutnya. Bibirnya robek dan berdarah karena gigitannya sendiri. Ia mencoba mendorong tubuhnya untuk bangun, namun kenyataan mengerikan itu langsung menghantamnya. Dari pinggang

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 43: Pertukaran Takdir

    Keheningan di laboratorium bawah tanah itu terasa lebih mencekik daripada ruang kedap udara. Alya menatap wajah Victor yang menyunggingkan senyum malaikat pencabut nyawa. Tawaran itu bergema di kepalanya berulang kali. Setengah liter cairan sumsum tulang belakang. Tanpa anestesi. Risiko kelumpuhan delapan puluh persen. Jika dia setuju, dia akan menukar sepasang kakinya yang sehat dengan kaki Luciano yang kini mati rasa. Dia akan menjadi tawanan di atas kursi roda, tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sang Don Mafia seumur hidupnya. Tetapi jika dia menolak, dalam tujuh hari, pria yang memeluknya erat di tengah halusinasi paranoid tadi pagi itu akan hancur menjadi debu. Alya memejamkan mata. Bayangan Luciano yang rela menenggak racun dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri di dermaga berkelebat di benaknya. Iblis itu membuang nyawanya demi satu tarikan napas Alya. Kini, alam semesta menagih utang yang setimpal. Lakukan, ucap Alya, membuka matanya. Suaranya terdengar sanga

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 42: Harga Sebuah Penawar

    Malam turun menyelimuti ibu kota seperti kain kafan hitam. Hujan gerimis mulai membasahi jendela kaca ruang VVIP, menghapus sisa-sisa keangkuhan hari ini. Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat rambut hitamnya menjadi ekor kuda yang ketat. Ia mengganti jas dokternya dengan jaket kulit hitam dan celana kargo gelap. Ia harus bergerak cepat, tidak terlihat, dan mematikan. Saat Alya keluar dari kamar mandi, pandangannya langsung bersirobok dengan tatapan tajam Luciano. Pria itu masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam kegelapan ruangan yang sengaja tidak dinyalakan lampu utamanya. Kau benar-benar akan pergi sendirian, Alya? suara Luciano terdengar berat, memecah keheningan. Kau pikir aku akan membiarkan milikku berkeliaran di malam hari saat Bramantyo sedang mengerahkan anjing-anjing pelacaknya? Alya berjalan mendekati ranjang, mengancingkan jaketnya hingga ke leher. Jika aku membawa pasukan Rian, Bramantyo akan tahu aku pergi. Tempat yang ak

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 41: Kontaminasi Hitam

    Rian langsung melompat maju, mengunci kembali pintu ganda kamar VVIP dengan selot mekanis tambahan. Detik berikutnya, dia berbalik dengan wajah pucat melihat bosnya yang sedang mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat menderita. Nyonya! Apa yang terjadi pada Tuan Besar?! teriak Rian panik, tangannya gemetar di atas tombol darurat di dinding. Jangan tekan tombol itu, Rian! bentak Alya, suaranya melengking tinggi di antara bunyi alarm monitor EKG yang memekakkan telinga. Jika dokter rumah sakit ini masuk dan melihat darah hitam itu, rahasia kita selesai! Bantu aku membaringkannya! Rian dengan sigap menahan tubuh besar Luciano yang mulai kejang ringan. Darah hitam pekat yang keluar dari hidung Luciano kini mulai mengalir dari sudut bibirnya, mengotori seprai putih bersih dengan noda gelap yang berbau sulfur dan besi menyengat. Alya bergerak dengan kecepatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menyambar tabung oksigen darurat, memasangkan masker pernapasan k

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 2: Kontrak Sang Iblis

    Ruang tamu kontrakan Alya yang sempit terasa semakin mencekik. Oksigen seolah tersedot habis, digantikan oleh aroma maskulin yang kuat—perpaduan sandalwood, tembakau mahal, dan bahaya yang pekat.Luciano tidak perlu berteriak untuk menguasai ruangan itu. Dia hanya perlu berdiri di sana, menjulang t

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 1: Malam Jahanam

    Hujan malam itu turun seperti ribuan jarum es yang menghujam bumi, menenggelamkan Jakarta dalam genangan air kotor dan bau amis selokan.Alya Kirana mempererat jaket tipisnya yang sudah basah kuyup. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua pagi. Shift malam di UGD RS Medika kali in

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 28: Detak yang Hilang

    "TARIK MEREKA! CEPAT!" Suara teriakan Rian terdengar seperti guntur di telinga Alya yang berdengung. Tangan-tangan kekar menarik tubuhnya dari air laut yang dingin, melemparnya ke geladak speedboat yang keras. Alya terbatuk hebat, memuntahkan air asin yang membakar tenggorokannya. Namun, matanya

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 27: Jatuh ke Dalam Biru

    Waktu seolah membeku. Mata Alya terpaku pada tabung kaca kecil yang melayang di udara. Cahaya matahari fajar yang baru menyingsing memantul pada cairan biru neon di dalamnya, membuatnya berkilau seperti pecahan bintang yang jatuh dari langit. Tabung itu berputar lambat—sangat lambat—di atas permuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status