Home / Mafia / Jerat Obsesi Tuan Mafia / Bab 7: Ratu Ular

Share

Bab 7: Ratu Ular

Author: Murufu
last update Last Updated: 2025-12-23 15:14:20

Jam dinding digital di nakas menunjukkan pukul tiga pagi, namun bagi Alya, waktu seolah telah mati sejak Luciano melangkah keluar dari pintu itu.

Dingin.

Hanya satu kata itu yang kini mendefinisikan eksistensinya. Alya masih duduk meringkuk di sudut karpet bulu tebal di samping tempat tidur raksasa Luciano. Sesuai perintah sang Tuan Mafia, dia tidak berani mengganti seragam perawatnya. Kain tipis berwarna putih itu kini telah berubah menjadi kulit kedua yang menyiksa—basah, lengket, dan perlahan mengering dengan kaku akibat hembusan AC sentral penthouse yang disetel di suhu terendah.

Setiap kali Alya mencoba bergerak, kain basah itu menggesek kulitnya yang mulai membiru, mengingatkannya pada posisinya yang hina.

"Tetaplah basah, dingin, dan menyedihkan..."

Kalimat itu berulang di kepalanya seperti mantra kutukan. Alya memeluk lututnya lebih erat, berusaha menahan getaran tubuhnya yang tak terkendali. Matanya menatap kosong ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Di sana, di cermin yang uapnya telah menghilang sepenuhnya, angka 35 yang ditulis Luciano dengan jarinya kini hanya menyisakan jejak samar air yang mengering. Seperti janji pria itu: ada, namun tak bisa dipegang.

"Bodoh," rutuk Alya pada dirinya sendiri, suaranya pecah di keheningan ruangan. "Kau bodoh, Alya. Kau sempat berpikir dia peduli padamu saat di kamar mandi tadi. Kau lupa siapa dia. Dia monster yang membeli nyawamu seharga sepuluh miliar."

Di tangannya, Alya masih meremas sapu tangan sutra berinisial 'L'. Kain itu satu-satunya benda kering yang ia sentuh, satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak gila memikirkan nasib Rian yang entah dibawa ke mana.

Beep. Beep. Beep. Cklek.

Suara digit kode keamanan yang ditekan dari luar pintu utama penthouse membuat Alya tersentak. Jantungnya melompat ke tenggorokan.

Luciano? Apakah dia sudah kembali?

Alya buru-buru mencoba berdiri, kakinya yang kram dan kaku membuatnya terhuyung. Dia merapikan rambutnya yang lepek dengan jari gemetar, berharap tidak terlihat terlalu menyedihkan di depan pria itu. Dia harus menagih janji soal Rian. Dia harus tahu adiknya selamat.

Namun, suara langkah kaki yang mendekat bukanlah suara langkah berat sepatu pantofel Luciano yang biasa mendominasi ruangan.

Tak. Tak. Tak.

Itu suara hak tinggi stiletto yang menghantam lantai marmer dengan irama yang teratur, tajam, dan penuh percaya diri.

Aroma itu datang lebih dulu sebelum sosoknya terlihat. Bukan sandalwood maskulin yang menenangkan, melainkan aroma bunga yang berat, manis, namun mencekik. Black Orchid. Aroma mahal yang meneriakkan kekuasaan dan intimidasi.

Pintu kamar tidur ganda itu didorong terbuka perlahan.

Dan di sanalah dia berdiri.

Isabella von Prawira.

Jika Alya saat ini adalah tikus got yang basah kuyup, maka wanita di ambang pintu itu adalah kobra kerajaan yang sedang berjemur di bawah matahari. Dia mengenakan trench coat merah darah yang disampirkan di bahu dengan anggun, menutupi gaun sutra hitam yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut hitam legamnya jatuh bergelombang di punggung, berkilau sehat di bawah lampu kristal. Wajahnya—Tuhan, wajah itu—begitu cantik dengan garis rahang tegas dan tatapan mata cokelat terang yang seolah bisa menilai harga diri seseorang dalam sekali lihat.

Alya mundur selangkah, instingnya menjerit bahaya. Wanita ini memiliki akses masuk ke penthouse pribadi Luciano. Itu artinya, dia bukan orang sembarangan.

Isabella tidak langsung bicara. Matanya yang tajam menyapu seisi kamar tidur yang berantakan: sprei hitam yang kusut, noda darah Luciano di lantai dekat kamar mandi, dan terakhir... sosok Alya yang menggigil di sudut ruangan.

Sudut bibir Isabella yang memerah sempurna oleh lipstik matte terangkat sedikit. Bukan senyum ramah, melainkan seringai geli.

"Jadi..." suara Isabella terdengar halus, sopan, namun memiliki nada merendahkan yang sangat kental. Dia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup di belakangnya. "Ini alasan Luciano membatalkan pertemuan penting dengan klan di Milan? Seekor... kucing basah?"

Alya mengeratkan cengkeramannya pada sapu tangan di tangannya. "S-siapa Anda?"

Isabella tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti denting gelas kristal yang pecah. Dia berjalan santai mengelilingi Alya, menginspeksi gadis itu dari ujung rambut yang lepek hingga sepatu perawat yang kotor.

"Pertanyaan yang salah, Sayang. Seharusnya aku yang bertanya: benda apa kau ini?" Isabella berhenti tepat di depan Alya. Dia tidak menyentuh Alya, seolah takut tertular kuman, namun tatapannya membuat Alya merasa ditelanjangi.

"Seragam murah, bau antiseptik murahan, dan..." Isabella mengendus udara sedikit, hidungnya berkerut jijik. "Bau keringat ketakutan. Kau pasti 'mainan' baru yang dipungut Luciano dari selokan, bukan? Aku dengar dia sedang punya hobi baru mengoleksi barang rongsokan."

Dada Alya sesak menahan amarah dan malu. "Saya perawat pribadinya. Saya di sini karena kontrak kerja."

"Perawat?" Isabella mengulangi kata itu seolah itu adalah lelucon paling lucu di dunia. Dia berjalan menuju meja rias, tempat Alya meletakkan tas medisnya tadi.

Dengan gerakan jari yang elegan, Isabella menyentuh tas medis Alya, lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.

BRAK!

Isi tas itu berhamburan. Perban, scalpel, botol betadine, dan obat-obatan berserakan di atas marmer dingin.

"Ups," kata Isabella tanpa rasa bersalah. Dia menatap Alya lewat pantulan cermin. "Maaf, tanganku licin. Tapi sejujurnya, Luciano tidak butuh sampah-sampah ini."

Isabella berbalik, bersandar pada meja rias dengan tangan terlipat di dada. Matanya kini menatap Alya dengan kilat kebencian yang nyata.

"Kau pikir kau bisa menyembuhkannya dengan plester dan obat merah, Perawat Kecil?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma Black Orchid-nya kini begitu kuat hingga membuat kepala Alya pening.

"Luka Luciano bukan di kulitnya. Lukanya ada di jiwanya, Sayang. Di tempat yang tidak akan pernah bisa kau sentuh," bisik Isabella kejam. "Aku ada di sana saat dia pertama kali membunuh orang di usia lima belas tahun. Aku yang memegang tangannya saat dia gemetar ketakutan melihat darah pertamanya. Aku yang melihat monster di dalam dirinya tumbuh besar, sementara kau... kau hanya melihat cangkangnya yang tampan."

Alya terdiam. Fakta itu menghantamnya telak. Wanita ini tahu segalanya tentang Luciano. Masa lalunya, traumanya, monsternya. Sementara Alya? Alya hanya tahu bahwa Luciano suka teh tanpa gula dan punya luka tembak di perut. Perbedaan itu terasa begitu curam.

Mata Isabella tiba-tiba terpaku pada tangan kanan Alya.

"Apa itu?" nadanya berubah tajam.

Alya refleks menyembunyikan sapu tangan sutra itu ke belakang punggungnya. "Bukan apa-apa."

"Berikan padaku," perintah Isabella. Suaranya tidak lagi halus. Itu suara perintah mutlak.

Alya menggeleng. "Ini... ini milik Tuan Luciano. Dia memberikannya pada saya."

"Dia memberikannya padamu?" Wajah Isabella mengeras. Topeng ketenangannya retak sedikit. Dia melangkah cepat dan merampas sapu tangan itu dari tangan Alya yang lemah.

Isabella menatap inisial 'L' yang terbordir emas di kain itu. Alya bisa melihat rahang wanita cantik itu mengeras. Ada emosi yang tak terbaca di sana—cemburu, marah, dan... sakit hati?

"Kau tahu sejarah benda ini?" tanya Isabella dingin, jarinya meremas kain sutra itu. "Aku yang menyulam inisial ini untuk ulang tahunnya yang ke-20. Ini satu-satunya barang yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi, bahkan saat dia tidur. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya."

Isabella menatap Alya dengan tatapan membunuh. "Dan sekarang... kain ini ada di tangan kotor seorang pelayan sepertimu? Penuh darah dan noda?"

Isabella melempar sapu tangan itu ke wajah Alya.

"Dia tidak memberikannya padamu karena kau spesial, Bodoh," desis Isabella. "Dia memberikannya padamu untuk dibersihkan. Karena baginya, kau tidak lebih dari mesin cuci bernyawa."

Alya memungut sapu tangan itu yang jatuh ke lantai. Hatinya nyeri mendengar ucapan itu. Masuk akal. Sangat masuk akal. Luciano memang menyuruhnya mencucinya.

"Luciano punya selera humor yang kotor," lanjut Isabella, mengambil handuk tebal dari lemari dan melemparkannya ke kepala Alya, menutupi wajah gadis itu. "Keringkan dirimu. Kau membuat lantai mahalku basah. Melihatmu seperti ini... basah, menggigil, menyedihkan... benar-benar merusak pemandangan."

Alya menarik handuk itu dari wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca. "Jika Anda sudah selesai menghina saya, silakan keluar. Tuan Luciano menyuruh saya menunggu di sini."

"Oh, aku akan keluar. Aku tidak betah berlama-lama satu ruangan dengan bau kemiskinan," Isabella merapikan trench coat-nya. Dia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak.

"Satu hal lagi, Alya—jika itu namamu," Isabella menoleh, tatapannya setajam silet. "Rian... adikmu yang pencuri itu? Dia aman. Untuk saat ini. Tapi tahukah kau siapa yang menebusnya dari Black Cobra malam ini?"

Alya menahan napas. "Tuan Luciano?"

Isabella tersenyum miring. Senyum kemenangan.

"Bukan. Aku. Aku yang membayar tebusannya. Luciano sedang sibuk mengurus bisnis lain. Jadi secara teknis... nyawa adikmu sekarang ada di tanganku, bukan di tangan Luciano."

Dunia Alya runtuh untuk kedua kalinya malam itu.

"Jadi, saranku padamu, Perawat Kecil," Isabella membuka pintu kamar. "Jangan mencoba menggoda Luciano dengan tubuh basahmu itu. Karena jika kau membuatku kesal sedikit saja... aku akan mengirimkan jari adikmu dalam kotak kado ke kamar ini."

BLAM!

Pintu tertutup keras, meninggalkan Alya dalam keheningan yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

Alya jatuh terduduk di antara peralatan medisnya yang berserakan. Dia menangis tanpa suara, memeluk sapu tangan yang ternyata adalah hadiah dari wanita itu. Dia merasa kecil, tidak berdaya, dan kalah telak. Isabella memiliki segalanya: kecantikan, kekuasaan, masa lalu Luciano, dan sekarang... nyawa Rian.

Alya menatap cermin. Bayangannya terlihat menyedihkan.

"Apa yang harus kulakukan?" isaknya.

Belum sempat dia berpikir, pintu penthouse kembali terbuka. Kali ini, langkah kaki berat dan cepat terdengar mendekat.

Pintu kamar didobrak kasar.

Luciano berdiri di sana. Penampilannya berantakan. Jas abunya hilang, kemeja putihnya ternoda darah baru di bagian lengan, dan napasnya memburu. Matanya liar menyapu ruangan, melewati peralatan medis yang berserakan, dan berhenti tepat pada sosok Alya yang meringkuk di lantai.

"Alya?" Luciano melangkah masuk, suaranya terdengar panik. "Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"

Alya mendongak, matanya merah dan bengkak. Dia menatap Luciano dengan tatapan terluka.

"Isabella ada di sini tadi," bisik Alya.

Rahang Luciano mengeras seketika. Hawa membunuh menguar dari tubuhnya, lebih pekat dari sebelumnya.

"Apa yang dia katakan padamu?" Luciano berlutut di depan Alya, tangannya hendak menyentuh bahu gadis itu, tapi Alya menepisnya.

"Jangan sentuh aku!" Alya berteriak, suaranya parau. "Dia bilang dia yang menebus Rian! Dia bilang nyawa Rian ada di tangannya! Apa itu benar, Tuan?! Jawab aku!"

Luciano terdiam. Dia tidak menyangkalnya. Dan kebisuan itu adalah jawaban paling menyakitkan bagi Alya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Murufu
selamat membaca ...🫶🏻
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 25: Malam yang Menyesatkan

    Malam di menara Mansion Jati terasa begitu sunyi, seolah-olah dunia di luar sana telah binasa dan hanya menyisakan ruangan megah ini sebagai satu-satunya tempat berlindung. Cahaya bulan yang dingin menembus jendela kaca raksasa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara, memberikan kesan magis yang menipu pada kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa. Alya berdiri di dekat jendela, masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya yang kini terasa seberat rantai besi. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang, bertarung dengan aroma bunga bakung yang baunya mulai memuakkan. Di belakangnya, Luciano duduk di tepi ranjang king size bersprei sutra hitam, jas tuxedo-nya sudah terlempar ke lantai dengan sembarangan. Pria itu tidak lagi berdiri seperti raksasa yang mengintimidasi. Bahunya merosot, kepalanya tertunduk, dan napasnya terdengar berat namun teratur—sebuah efek dari Euphoric Paralysis yang mulai menjalar ke pusat emosinya. "Alya..

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 24: Altar Kematian

    Lonceng kapel tua di sudut Mansion Jati berdentang lambat, suaranya menggema di antara batang-batang pohon jati yang bisu, terdengar lebih seperti lonceng perkabungan daripada lonceng pernikahan. Di dalam kapel, udara terasa begitu dingin hingga uap napas tipis keluar dari sela bibir Alya. Bau bunga bakung putih yang menghiasi setiap sudut ruangan terasa sangat mencekik, aroma kematian yang menyamar sebagai kesucian. Alya berdiri di ambang pintu besar kayu ek, gaun pengantin putih gadingnya yang menyapu lantai terasa seberat beban dosa klan Prawira yang kini harus ia pikul. Di ujung altar, Luciano berdiri tegak. Setelan jas hitamnya tampak kontras dengan latar belakang kapel yang pucat. Matanya yang tajam mengunci sosok Alya dengan pemujaan yang hampir gila—sebuah kemenangan absolut yang baru saja ia raih. Baginya, ini adalah penyatuan; bagi Alya, ini adalah eksekusi. Alya melangkah maju dengan kepala tegak. Di bawah sapuan lipstick merah yang sempurna, ia menyembunyikan lapisan for

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 23: Gaun Putih di Atas Noda Darah

    Fajar di Mansion Jati tidak pernah terasa seindah ini, sekaligus semengerikan ini. Cahaya matahari yang pucat menyinari sisa-sisa kekacauan semalam—pecahan kaca yang sudah dibersihkan, namun noda darah yang seolah telah meresap permanen ke dalam pori-pori lantai marmer.Alya berdiri mematung di tengah kamar utama yang kini terasa seperti altar pengorbanan. Di sekelilingnya, empat orang wanita berpakaian hitam dengan wajah kaku bergerak seperti robot. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah perias dan penjahit pribadi klan Prawira yang dikirim langsung oleh Luciano."Nona, tolong angkat dagu Anda sedikit," ucap salah satu wanita dengan suara tanpa nada.Alya mematuhinya. Bukan karena dia takut, tapi karena dia terlalu lelah untuk berdebat soal fisik. Di cermin besar di depannya, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Gaun pengantin berwarna putih gading yang terbuat dari sutra terbaik membalut tubuhnya yang masih pucat. Gaun itu sangat indah, dengan sulaman perak yang membentu

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 22: Hutang Nyawa dan Darah

    Lantai kamar itu terasa sedingin es, namun tubuh Luciano yang bersandar di pelukan Alya justru terasa seperti bara api yang siap meledak. Napas pria itu pendek, tersengal, dan setiap ototnya berkedut liar akibat serangan stimulan yang menghancurkan sistem sarafnya. Alya menatap wajah Luciano. Pria ini—putra dari orang yang merenggut segalanya darinya—kini berada di titik paling rapuh. Alya bisa saja membiarkannya. Ia bisa saja berdiri, melangkah pergi, dan membiarkan jantung Luciano berhenti berdetak di depan makam ibunya sendiri. Namun, bayangan foto polaroid tua dan tulisan tangan ibunya kembali terlintas. "Ibu akan menciptakan dunia di mana kau tidak perlu membunuh untuk hidup." "Kau berhutang nyawa padaku lagi, Luci," bisik Alya dengan suara yang dingin, hampir mati rasa. Alya tidak bisa menggunakan jarum. Setiap gesekan logam akan memicu kejang hebat pada saraf Luciano yang sedang hyper-sensitive. Ia menarik napas panjang, lalu mulai melakukan satu-satunya cara yang ia tahu: M

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 21: Di Ambang Batas

    Keheningan yang menyusul setelah pintu kamar dibanting dan dikunci otomatis terasa lebih menyesakkan daripada suara tembakan tadi. Bau mesiu dan darah masih menggantung tipis di udara, bercampur dengan aroma pembersih kimia yang baru saja disemprotkan oleh anak buah Luciano untuk melenyapkan jejak kematian di lantai marmer. Hanya ada mereka berdua. Di dalam sangkar emas yang kini terkunci rapat dari dunia luar. "Tuan... biarkan aku memeriksa lukamu," bisik Alya. Suaranya gemetar, namun insting perawatnya tetap mencoba berdiri tegak di tengah reruntuhan emosinya. Luciano tidak menjawab. Pria itu berdiri membelakangi Alya, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias hingga kayu jati itu berderit protes. Punggungnya yang luas dan telanjang tampak berkeringat, otot-ototnya menegang seperti kawat baja yang ditarik hingga titik putus. "Tuan?" Alya mendekat selangkah. Tiba-tiba, Luciano berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga Alya tidak sempat berkedip. Dalam sekejap, Lucian

  • Jerat Obsesi Tuan Mafia   Bab 20: Predator di Balik Pintu

    Kilat kembali membelah langit malam di luar Mansion Jati, menerangi kamar itu selama satu detik, cukup bagi Alya untuk melihat siluet itu. Bukan Adrian. Sosok itu terlalu besar, terlalu membungkuk, dan bergerak dengan keheningan yang terlatih. Itu bukan langkah seorang dokter yang ragu-ragu; itu langkah seorang predator yang menemukan mangsanya sedang tidur. Alya merasakan darahnya membeku. Ia masih dalam posisi memunggungi Luciano, tubuhnya kaku di bawah selimut. Di balik genggaman tangannya yang berkeringat di bawah bantal, jari-jarinya mencengkeram erat botol Diazepam curian dan scalpel tajam yang ia ambil dari kotak P3K tadi. Siapa dia? batin Alya menjerit panik. Anak buah Luciano? Atau... Isabella? Sosok itu mendekat ke sisi ranjang tempat Alya berbaring. Bau hujan dan lumpur basah menguar, menutupi aroma sandalwood yang menenangkan dari tubuh Luciano yang tertidur pulas di belakang punggung Alya. Alya memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya agar terdengar teratur, be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status