Se connecterKeheningan setelah jeritan itu terasa lebih pekat daripada malam badai sebelumnya.Perawat itu telah diseret keluar melalui pintu belakang oleh dua orang anak buah Rian, menyisakan noda air mata di lantai marmer yang dingin.Alya berdiri di depan wastafel kamar mandi, menyalakan keran dengan aliran penuh.Ia menggosok telapak tangan menggunakan sabun antiseptik berulang-ulang, begitu keras hingga kulitnya memerah.Suara patahan tulang itu masih terngiang di kepalanya, berputar-putar seperti kaset rusak.“Kau tidak bisa membasuh dosanya semudah itu, Alya.”Suara bariton Luciano terdengar dari arah ranjang, serak namun tajam menembus pintu kamar mandi yang terbuka paruh.Alya memutar keran hingga mati.Ia menyeka tangannya dengan handuk kertas hingga kering, lalu melangkah keluar dengan dagu terangkat.Di atas ranjang, Luciano sedang menatap lurus ke langit-langit, tangan kanannya mencengkeram erat seprai, menyembunyikan rasa frustrasi yang luar biasa karena tubuh bagian bawahnya yang m
Pagi itu merayap masuk melalui celah tirai VVIP tanpa membawa kehangatan. Sisa badai semalam masih meninggalkan embun beku di kaca jendela.Alya terbangun oleh hawa dingin yang janggal.Ia beringsut dari pelukan Luciano yang mengendur. Wajah pria itu sepucat pualam, peluh dingin membasahi pelipisnya, dan tarikan napasnya terdengar dangkal.Namun, bukan kondisi Luciano yang membuat insting medis Alya seketika berteriak.Mata Alya tertuju pada tiang infus di samping ranjang.Cairan NaCl yang seharusnya bening kristal kini tampak keruh. Ada endapan putih halus yang melayang di dalamnya, perlahan turun menetes melalui selang menuju pembuluh darah suaminya.Potassium Chloride dosis tinggi.Otak Alya langsung mengenali racikan pembunuh senyap itu. Senyawa yang akan memicu henti jantung mendadak tanpa meninggalkan jejak racun konvensional.Dengan gerakan secepat kilat, Alya memutar katup pengatur tetesan hingga tertutup rapat, memutus aliran maut itu tepat sebelum endapan pekatnya mencapai j
Hujan badai kembali mengguyur Jakarta malam itu, mengubah jendela kaca kamar VVIP di lantai 12 Rumah Sakit Prawira menjadi kanvas abstrak yang kelabu. Suara guntur yang menggelegar di kejauhan seolah menjadi soundtrack bagi kepindahan sang Raja dari ruang ICU ke benteng barunya.Ruangan itu luas, lebih mirip penthouse hotel bintang lima daripada kamar rawat. Lantai marmer, sofa kulit hitam, dan sebuah ranjang pasien custom berukuran Queen Size yang diminta khusus oleh Rian demi keamanan."Pengamanan perimeter sudah siap, Tuan," lapor Rian, berdiri kaku di ujung ranjang. Matanya tidak berani menatap Luciano yang sedang berusaha duduk tegak dengan wajah pucat pasi. "Dua penembak jitu di gedung seberang. Empat pengawal di koridor. Dan sesuai protokol Darurat Level 1... Nyonya harus tetap berada dalam radius dua meter dari Tuan setiap saat."Luciano mendengus kasar. Suara napasnya terdengar berat dan basah di dadanya yang masih dibalut perban tebal."Maksudmu... aku butuh babysitter?" des
Lantai koridor VVIP rumah sakit itu seharusnya sunyi, namun kini dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Alya melangkah keluar dari ICU, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas. Di hadapannya, Bramantyo tidak pergi. Dia justru kembali dengan artileri yang lebih berat: Salim, pengacara senior klan Prawira yang terkenal licin seperti belut oli. "Nyonya Alya," sapa Salim dengan senyum palsu yang tidak mencapai matanya. Di tangannya, sebuah map kulit hitam terbuka. "Kami turut prihatin atas kondisi Tuan Luciano. Namun, bisnis tidak mengenal koma. Berdasarkan Anggaran Dasar Klan, kami membutuhkan tanda tangan Tuan untuk pencairan dana operasional minggu ini. Atau... penyerahan kuasa sementara kepada Tuan Bramantyo." Bramantyo berdiri di belakang Salim, menyeringai menang. Dia tahu Luciano tidak mungkin menandatangani apa pun dalam kondisi kritis. "Suamiku sedang istirahat, Pak Salim," jawab Alya tenang, meski jantungnya bergemuruh. "Dia tidak menerima tamu." "Ini bukan
Bunyi monitor EKG yang tadinya stabil kini berdetak sedikit lebih cepat, seirama dengan ketegangan yang mencekik di ruang ICU VVIP itu. Tangan Luciano yang lemah namun berat masih mencengkeram pergelangan tangan Alya. Mata merahnya menatap tajam, seolah ingin meremukkan Alya hanya dengan tatapan, meski tubuhnya sendiri hancur lebur. "Singkirkan... kuku kotor-mu... dari... leherku..." Suara itu terdengar seperti parutan kasar—efek dari intubasi paksa dan dehidrasi parah. Alya tidak langsung menarik tangannya. Ia menatap mata suaminya dengan ekspresi datar yang baru. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepatuhan. Ia perlahan melepaskan jari-jarinya dari leher Luciano, tapi tidak mundur selangkah pun. Ia tetap berdiri di sana, menjulang di atas ranjang pasien, menciptakan bayangan yang menutupi wajah Luciano. "Kau sadar," ucap Alya dingin. "Sayang sekali. Padahal aku baru saja mulai menikmati ketenangan tanpa suaramu." Luciano mencoba mendengus, tapi gerakan kecil itu memicu rasa sakit l
Pintu ruang tunggu VVIP ICU terbanting terbuka. Bukan oleh musuh, tapi oleh "keluarga".Lima orang pria paruh baya berjas mahal masuk dengan langkah lebar. Aura mereka bukan aura pembunuh jalanan seperti pengawal, tapi aura predator birokrat. Di tengah mereka, berdiri Bramantyo Prawira, paman Luciano—orang yang memegang kendali keuangan klan saat Luciano "bermain perang".Alya baru saja duduk semenit setelah menutup telepon Isabella. Napasnya masih memburu. Gaun pengantinnya yang kotor dan robek membuatnya terlihat seperti gelandangan di tengah para raja minyak ini."Minggir, Nona," suara Bramantyo berat dan merendahkan. Ia bahkan tidak menatap mata Alya. "Kami mau melihat keponakanku. Dan setelah itu, kami akan membereskan kekacauan yang kau buat."Alya berdiri, menghalangi pintu kaca ICU. "Tidak ada yang boleh masuk. Itu perintah medis. Dan itu perintahku."Bramantyo berhenti. Ia akhirnya menatap Alya, lalu tertawa pendek. Sebuah tawa yang diikuti oleh seringai meremehkan dari keemp
Kilat kembali membelah langit malam di luar Mansion Jati, menerangi kamar itu selama satu detik, cukup bagi Alya untuk melihat siluet itu. Bukan Adrian. Sosok itu terlalu besar, terlalu membungkuk, dan bergerak dengan keheningan yang terlatih. Itu bukan langkah seorang dokter yang ragu-ragu; itu l
Hujan di luar sana turun semakin deras, menghantam kaca jendela bulletproof Mansion Jati dengan irama yang terdengar seperti ribuan jarum dijatuhkan dari langit. Namun, suara alam yang mengamuk itu tidak mampu menembus keheningan mencekam di dalam Kamar Utama—wilayah pribadi Luciano Prawira yang sel
Ruang kontrol keamanan Mansion Jati itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya kebiruan dari puluhan layar monitor yang menyala. Di sana, Luciano duduk seperti gargoyle yang mengawasi kerajaannya, matanya terpaku pada satu layar utama: Kamera 04—Kamar Tamu.Di layar itu, ia melihat Adrian sedang merapi
Cahaya matahari yang menembus jendela kamar itu tidak membawa kehangatan. Di Mansion Jati yang tersembunyi di jantung hutan, cahaya itu terasa dingin, terhalang oleh pepohonan raksasa yang seolah menjadi jeruji alam bagi penghuninya.Alya mengerjap, matanya terasa berat dan panas. Demam. Tubuhnya m







