Compartilhar

Bab 68. Alu Merindukanmu

Autor: Zara Kisaka
last update Data de publicação: 2026-06-20 23:54:59

Laut malam itu bergulung hitam di bawah langit yang gelap tanpa bintang. Di atas dek kapal perang berkecepatan tinggi yang membelah ombak dengan liar, Kael berdiri tegak di barisan paling depan. Seragam hitamnya melekat pas di tubuh, lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang yang tergantung di dadanya. Di kerah bajunya, sebuah emblem naga emas berkilat samar tertimpa cahaya lampu, sebuah simbol kekuasaan mafia yang kini resmi dia genggam.

Di belakang Kael, puluhan pria bersenja
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 69. Tak Ingin Kehilangan Lagi

    Kapal milik Kael tidak membawa mereka kembali ke hiruk-pikuk Jakarta. Atas perintah Kael langsung, kemudi diputar menuju sebuah pulau privat kecil lainnya sebuah vila peristirahatan tersembunyi milik klan naga hitam yang jauh dari jangkauan siapa pun.Sebelum kapal merapat, Kael sempat menghubungi sang kakek melalui jalur telepon satelit yang aman. Di bawah langit subuh yang remang, Kael mengabaikan sisa harga dirinya demi memohon satu hal terakhir.“Beri aku waktu, Kek.” Suara Kael terdengar sangat berat, penuh dengan keputusasaan yang melelahkan. “Kondisinya kritis. Izinkan aku merawatnya di vila sampai dia benar-benar pulih dan siap berdiri di atas kakinya sendiri. Setelah itu... aku akan datang ke Bogor, memakai cincin pertunangan itu, dan pergi dari kehidupannya untuk selamanya.”Di seberang telepon, sang kakek sempat terdiam, sebelum akhirnya terkekeh rendah. Pria tua itu tahu cucunya tidak akan ingkar janji setelah takhta mafia dilepaskan untuknya. “Baik. Aku akan menunggumu.

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 68. Alu Merindukanmu

    Laut malam itu bergulung hitam di bawah langit yang gelap tanpa bintang. Di atas dek kapal perang berkecepatan tinggi yang membelah ombak dengan liar, Kael berdiri tegak di barisan paling depan. Seragam hitamnya melekat pas di tubuh, lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang yang tergantung di dadanya. Di kerah bajunya, sebuah emblem naga emas berkilat samar tertimpa cahaya lampu, sebuah simbol kekuasaan mafia yang kini resmi dia genggam.Di belakang Kael, puluhan pria bersenjata lengkap dari klan naga hitam berdiri kokoh dalam kesunyian yang mencekam. Mereka semua tunduk pada satu perintah mutlak dari sang pewaris baru.Namun, di balik penampilannya yang tampak dingin dan mematikan seperti malaikat pencabut nyawa, dada Kael bergemuruh hebat. Pikirannya tidak berada di medan pertempuran ini, pikirannya telah melesat jauh ke dalam sebuah kamar di Pulau Caraka.‘Bagaimana keadaanmu sekarang, Vio?’ batin Kael meraung frustrasi.Setiap detik yang berlalu terasa seperti si

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 67. Ingin Malam Pertama

    Rintik hujan di luar jendela kaca besar vila Pulau Caraka seolah menjadi latar musik bagi penderitaan Vio yang tiada akhir. Di sudut lantai dingin itu, kondisi fisik Vio sudah berada di ambang batas pertahanan manusia. Bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan darah kering, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang pekat, dan tubuhnya terus menggigil akibat mogok makan dan minum sejak menginjakkan kaki di pulau terkutuk ini. Namun, rasa sakit di perutnya yang melilit tidak sebanding dengan siksaan mental yang menghantam jiwanya. Penyesalan karena telah salah paham pada Kael terus merongrong dadanya. ‘Kael... maafkan aku... aku tahu kamu tidak bersalah,’ batin Vio menjerit pilu dalam sunyi, meratapi ketololannya yang langsung berlari pergi malam itu hingga berakhir di tangan monster berwajah malaikat ini. Klek. Suara pintu terbuka seketika memicu alarm bahaya di otak Vio. Tubuhnya yang lemas refleks menegang, mempererat pelukan pada lututnya seolah ingin menghilang ke dalam dindi

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 66. Identitas Sesungguhnya

    Kapal cepat itu kembali bersandar di dermaga sunyi Jakarta Utara dengan kondisi mengenaskan. Lambung kapal dipenuhi baretan akibat hantaman ombak, dan rintik hujan yang kian menderu seolah ikut meratapi kegagalan Kael.​Kael melangkah turun dengan tubuh yang basah kuyup. Langkahnya tak lagi limbung oleh alkohol, melainkan berat oleh rasa frustrasi yang teramat dalam. Bahu kirinya yang terserempet peluru telah dibalut perban seadanya oleh Bagas di dalam kabin tadi, tetapi rembesan darah segar masih tampak samar mengotori kain kemejanya yang basah.“Pak Kael, kita harus ke rumah sakit sekarang. Luka di bahu dan tangan Anda bisa infeksi,” protes Bagas dengan raut wajah penuh kecemasan saat mereka berjalan menuju mobil.“Tidak ada rumah sakit, Bagas,” sahut Kael, suaranya terdengar serak, dingin, dan seakan tak menghiraukan segala rasa sakit fisik dari tubuhnya. “Siapkan mobil. Kita ke Bogor, sekarang.”​Bagas tersentak. Mendengar kata 'Bogor', dia langsung tahu tempat mana yang dimaksud

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 65. Di Sebuah Pulau

    Kembali ke dalam mobil sport hitamnya, Kael mencengkeram kemudi dengan napas yang memburu. Bagas yang duduk di kursi penumpang depan bergerak secepat kilat dengan laptopnya, meretas sistem pemantauan radar maritim swasta yang sempat melintasi wilayah pesisir subuh tadi.Suasana di dalam kabin mobil begitu tegang, hanya diiringi suara ketikan jari Bagas yang berpacu dengan waktu.“Dapat, Pak!” seru Bagas tiba-tiba, memutar layar laptopnya ke arah Kael. “Ada satu sinyal kapal cepat hitam yang tidak menyalakan radar, tapi tertangkap oleh radar satelit cuaca karena kecepatannya yang tidak wajar. Mereka bergerak lurus menuju ke arah gugusan pulau terluar di perbatasan laut internasional.”Kael melirik layar tersebut. Sebuah titik merah berkedip, menunjukkan arah pelarian yang dituju oleh Rio dan Vio. “Ke pulau mana mereka mendarat?”Bagas menelan ludah, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat pucat saat membaca data koordinat geografis yang muncul di layarnya. Tangannya yang memegang lap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 64. Pernah Melihat Wanita Ini?

    Kembali ke Jakarta, suasana di ruang kerja apartemen Kael terasa begitu mencekam. Setelah menyadari bahwa hilangnya Vio, Gisella, dan Rio secara bersamaan bukanlah pelarian biasa melainkan sebuah skenario penculikan yang rapi, Kael tidak lagi membuang waktu dengan botol-botol alkohol.Predator di dalam dirinya telah terbangun. Siapa pun yang telah berani menyentuh miliknya, harus bersiap menghadapi murka yang paling mengerikan. “Bagas,” panggil Kael tanpa menoleh. Kedua matanya yang memerah dan lelah menatap tajam ke arah papan tulis kaca di ruang kerjanya yang kini dipenuhi coretan garis kronologi semalam.Bagas yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan segera melangkah maju. “Ya, Pak Kael?”“Lupakan pelacakan rekening bank Vio atau Rio. Seseorang yang bisa melenyapkan dua orang saksi dalam waktu satu jam di titik buta CCTV Jakarta pasti sudah menyiapkan jalur pelarian yang bersih.” Suara Kael berat, tenang, tetapi menyimpan ancaman yang amat dingin. “Siapa pun dalang di balik

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status