Home / Romansa / Jeratan cinta Tuan Lucian / BAB 19: Hadiah Sang Suami

Share

BAB 19: Hadiah Sang Suami

Author: Pita_eom
last update publish date: 2026-09-19 18:59:34

"Konsorsium Hitam Eropa?"

Surat ancaman berstempel lambang kerajaan kuno itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang membekukan di ruang makan utama mansion Vance.

Elena menatap surat tersebut dengan mata jernih tanpa rasa takut. Meskipun bayangan musuh baru dari Eropa mulai mengintai, kebersamaan dan rasa percaya yang baru saja ia bangun bersama Lucian menjadikan benteng batinnya tak tergoyahkan.

Lucian mengambil surat tersebut, merema
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 18: Elena Bertindak Cerdik

    "Pembekuan lisensi operasional proyek dua triliun rupiah? Nona Arin, Anda terlalu cepat merayakan kemenangan."Suara Elena yang jernih dan sarat akan dominasi memotong pengumuman Arin di pelataran helipad kawasan Vance Grand Resort. Di bawah tatapan kaget jajaran direksi dan Kepala Dewan Etika Internasional, Elena melangkah maju dengan kepala tegak, sama sekali tidak memperlihatkan kerapuhan atau rasa panik.Arin menyunggingkan senyum sinis, mengacungkan dokumen berstempel merah itu tinggi-tinggi. "Surat pembekuan ini sah secara hukum internasional, Elena! Lucian terlibat sengketa hak asuh anak dan pelanggaran etika kepemimpinan. Proyek ini tidak bisa berjalan di bawah kepemimpinan kalian!"Lucian menyipitkan matanya tajam, hendak pasang badan melumpuhkan utusan tersebut. Namun, Elena menyentuh lembut lengan Lucian, memberi isyarat bahwa kali ini adalah panggung pembuktiannya sebagai Permaisuri Vance Group.Elena membalikkan ba

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 19: Hadiah Sang Suami

    "Konsorsium Hitam Eropa?"Surat ancaman berstempel lambang kerajaan kuno itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang membekukan di ruang makan utama mansion Vance.Elena menatap surat tersebut dengan mata jernih tanpa rasa takut. Meskipun bayangan musuh baru dari Eropa mulai mengintai, kebersamaan dan rasa percaya yang baru saja ia bangun bersama Lucian menjadikan benteng batinnya tak tergoyahkan.Lucian mengambil surat tersebut, meremasnya dalam genggaman tangannya hingga hancur, lalu melemparkannya ke dalam perapian yang menyala. Wajah sang CEO tampak dingin bagaikan es, memancarkan aura dominasi mutlak yang membekukan darah siapa pun yang melihatnya."Roy," perintah Lucian dengan suara rendah dan bergetar oleh ancaman yang nyata. "Tingkatkan pengawasan intelijen di seluruh pelabuhan dan bandara. Siapa pun utusan dari Konsorsium Hitam yang mencoba menginjakkan kaki di kota ini... tahan mereka sebelum menyentuh batas

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 20: Kembali dari Masa Lalu

    "Elena Restu tidak berhak memegang saham itu, Lucian! Wanita itu adalah anak dari pria yang pernah berusaha menjual rahasia Vance Group!"Suara lantang Arin menggema di pelataran utama Gedung Bursa Efek Nasional, memotong kemeriahan konferensi pers perseroan.Arin melangkah masuk menembus kerumunan wartawan dengan gaun merah darah yang anggun namun memancarkan aura kejam. Di sampingnya, berdiri seorang pria asing berjas kelabu dari Prancis yang membawa koper dokumen, serta bocah laki-laki berusia lima tahun—Elzar—yang terus menggenggam jemari Arin.Kilatan lampu kamera media seketika meledak liar, mengarahkan perhatian pada Arin yang membawa ancaman baru di tengah puncak kejayaan Elena.Elena berdiri di atas podium, jemari lentiknya masih menggenggam erat surat pengalihan saham. Wajah indahnya tidak memperlihatkan sedikit pun rasa panik. Sebagai wanita yang tangguh, Elena melangkah maju satu tingkat ke depan podium, memancarkan

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 16: Tugas Pertama Permaisuri

    "Putra kandung?"Kata-kata wanita asing itu menggantung membeku di pelataran mansion Vance. Suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi keheningan yang mencekam.Elena berdiri mematung. Matanya menatap bocah laki-laki berumur lima tahun di hadapannya yang memang memiliki struktur rahang dan mata sehitam malam yang sangat mirip dengan Lucian. Dada Elena berdenyut nyeri, namun sebagai wanita yang tangguh, ia menolak memperlihatkan kerapuhannya di depan musuh yang baru datang.Lucian tidak menggerakkan kakinya sedikit pun. Wajah tampan sang CEO mendadak berubah menjadi dingin bagaikan es. Aura membunuh yang mematikan terpancar kuat dari tubuhnya saat ia menatap wanita bergaun Prancis itu."Arin," panggil Lucian dengan suara rendah dan bergetar oleh ancaman yang nyata. "Berani sekali kamu menginjakkan kaki di mansionku setelah lima tahun menghilang, lalu membawa anak asing dan menyebut nama keluargaku?"Arin—cinta

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 15: Malam Pertama yang Sesungguhnya

    Keheningan malam melingkupi kamar utama mansion Vance, mengunci dua insan di dalam pusaran kehangatan yang tak lagi terhalang oleh sekat perjanjian dingin.Ciuman Lucian berlanjut dengan intensitas yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi ancaman dominasi, kecemburuan buta, atau paksaan rasa bersalah. Yang tersisa di antara mereka hanyalah kejujuran emosional dan gairah murni dari dua jiwa yang saling membutuhkan di tengah badai intrik bisnis yang mereka lewati bersama.Elena merasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya saat jemari panjang Lucian menyusuri punggungnya, melepas ikatan gaun tidur sutra hitamnya secara perlahan. Kain halus itu meluncur jatuh ke lantai marmer, meninggalkan Elena dalam perlindungan dekapan dada bidang Lucian yang kokoh."Lucian..." bisik Elena serak, suaranya bergetar di antara embusan napas hangat pria itu di lehernya.Lucian menghentikan pergerakannya sejenak, mendongak untuk

  • Jeratan cinta Tuan Lucian    BAB 17: Sabotase di Lapangan

    Asap hitam pekat memenuhi ruangan lantai dua area konstruksi Vance Grand Resort.Elena terbatuk-batuk hebat, menutupi hidung dan mulutnya dengan lengan baju blazer marunnya. Kobaran api di ambang pintu utama makin membesar, melahap tumpukan bahan kimia pelapis kayu yang sengaja ditaruh di sana. Suhu ruangan meningkat drastis, membakar oksigen di sekitarnya hingga membuat pandangan Elena mulai kabur.Elena menatap pintu kaca jendela yang terkunci dari luar secara otomatis. Siska—ibu tiri Lucian—yang berdiri di pelataran bawah bersiap menikmati kehancurannya."Kamu salah menilai musuhmu, Siska," desis Elena tajam di tengah kepulan asap.Elena tidak panik. Sebagai wanita yang terlatih berpikir cepat, Elena tidak menyia-nyiakan waktu mencoba memukul kaca tebal itu dengan tangan kosong. Matanya menyapu sekeliling ruangan dan tertuju pada sebuah tabung pemadam api berat (APAR) yang terpasang di pilar beton.Dengan sisa tenag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status