Share

Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati
Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati
Penulis: Major_Canis

Bab 1

Penulis: Major_Canis
"Aku mau nikah lagi," kata Dimas. "Aku nggak akan mengulangi kataku, apalagi minta persetujuan darimu."

Dia meletakkan cangkir kopinya dengan tiba-tiba dan mengakhiri sarapan yang bahkan tidak disentuhnya sama sekali.

Anisa berdiri terpaku di samping meja makan panjang dari marmer putih, tangannya yang masih memegang spatula mulai gemetar. Dari luar, dia berusaha membuat wajahnya tetap terlihat tenang. Namun, saat menundukkan kepalanya sedikit, dia membiarkan kata-kata Dimas barusan meresap ke dalam dirinya seperti racun yang diam-diam membunuh dari dalam.

"Dengan Vera?" Suaranya nyaris seperti bisikan.

Dimas tidak melihat ke arahnya, hanya menghela napas pendek sebelum menjawab dengan dingin, "Ya. Sama siapa lagi?"

Suaminya, Dimas Cokro, tidak pernah mencintainya. Di hatinya, cuma ada satu wanita, Vera Baskara. Pada kenyataannya, pernikahan mereka hanya dipandang sebagai hambatan dalam kisah cinta Dimas. Namun, kalau yang merancang pernikahan mereka adalah orang yang paling baik padanya, Anisa bisa apa?

Evelin Cokro, neneknya Dimas.

Anisa pun tidak menginginkan pernikahan ini. Yang dia inginkan hanyalah agar almarhumah ibunya bisa mendapatkan penguburan yang layak. Semua yang terjadi setelahnya? Dia menerimanya sebagai takdir. Dia hanya bisa pasrah, meski kesedihan karena kehilangan ibunya masih menghantuinya.

Namun, Evelin menolak untuk membiarkan semuanya selesai sampai di situ saja. Maka dari itu, dia meminta cucu tersayangnya, Dimas, orang yang bertanggung jawab atas kematian ibunya Anisa, untuk menikahi Anisa sebagai bentuk penebusan dosa. Di mata Evelin, Anisa hanyalah seorang gadis kesepian yang tidak memiliki siapa pun di dunia ini.

Dimas pun terpaksa setuju dengan keinginan neneknya itu. Dia tidak punya pilihan selain menurut. Sekarang, setelah neneknya meninggal karena sakit dua minggu yang lalu, Dimas akhirnya menemukan kesempatan untuk meninggalkan pernikahan yang tidak pernah diinginkannya ini.

Sudah tak ada lagi alasan untuk bertahan. Sama sekali tak ada.

Senyum yang amat samar muncul di wajah Anisa, bukan karena dia merasa bahagia, melainkan karena dia sudah benar-benar pasrah. Dia mematikan kompor dan menaruh spatula di tangannya dengan pelan. Dia menutup rapat matanya sekali lagi dan mencoba menenangkan badai yang bergemuruh di dadanya.

Pada akhirnya, dia berkata, "Baiklah. Kalau begitu, aku nggak akan menahanmu." Suaranya begitu lembut, saking lembutnya sampai nyaris tak terdengar jelas. "Kita berdua tahu kalau aku nggak pernah punya tempat di hatimu."

Dimas tetap diam. Dia tidak membantah, juga tidak mengoreksinya. Saat Anisa perlahan menghampirinya, dari mata Dimas terlihat secuil kegundahan. Untuk sesaat, dia mengira Anisa akan menangis, memohon, atau menunjukkan kesedihan yang cukup membuatnya merasa bersalah.

Namun, dia salah.

Anisa berdiri tegap dalam balutan gaun sederhananya, tangannya terkepal kuat di sisinya.

Rambut hitam panjangnya terkulai bebas di punggungnya, menimbulkan kontras yang hampir tak disadari terhadap sikap tubuhnya yang penuh keteguhan tanpa riak. Mata cokelatnya yang terang dan hangat kini menatapnya, pria yang baginya terasa seperti orang asing di bawah atap yang sama, dengan mata kosong, ekspresinya tak terbaca.

Anisa itu cantik dengan caranya sendiri. Namun, kecantikannya itu tidak pernah memicu apa pun yang ada di dalam diri Dimas. Baginya, Anisa cuma gangguan, orang luar yang dipaksa masuk ke kehidupannya. Sekarang, kesempatannya untuk menyingkirkan orang luar ini telah tiba, dan Dimas tidak akan menyia-nyiakannya.

"Beri aku waktu satu bulan," kata Anisa dengan tenang. "Satu bulan saja .... Biarkan aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi istrimu ...."

Dimas menyipitkan mata. "Maksudmu?"

"Aku akan pergi. Seperti yang kamu minta. Setelah kamu mengucapkan janji pernikahanmu kepada wanita yang kamu cintai ...." Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa menusuk, seperti sayatan yang menggores lubuk hatinya.

"Setelah itu, kamu boleh menceraikanku. Aku berjanji aku akan menghilang dari hidupmu sepenuhnya. Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk merasakan seperti apa rasanya menjadi seorang istri, bukan orang asing di atap yang sama."

Ruangan seketika hening.

Dimas tertawa sinis, cukup lama sampai dia harus menyeka sudut matanya, merasa geli dengan permintaan konyol Anisa. Sebenarnya apa yang ada di otak perempuan ini?

Satu bulan? Sungguh permintaan yang konyol.

Dimas bergerak maju, memperkecil jarak di antara mereka. Dia menatap wajah Anisa lekat-lekat, mencoba membaca maksud terselubungnya. Mungkin ibunya selama ini benar. Anisa menikah dengannya hanya demi harta.

Siapa yang tidak mengenal Dimas Cokro, Presdir Grup Cokro sekaligus salah satu pebisnis berpengaruh di Kota Mega? Semua orang berebutan ingin dekat dengannya, terutama para wanita yang mati-matian mendambakan perhatiannya. Namun, di hati Dimas hanya ada satu nama, dan itu bukan istrinya.

Yang dicintainya adalah Vera Baskara, seorang model papan atas yang namanya memenuhi dunia fesyen.

"Kamu serius?" tanyanya dengan tak percaya, suaranya dingin. "Ini bukan hal yang bisa kamu mainkan sesuka hati, Anisa."

Anisa mengangguk pelan. "Aku nggak minta cinta darimu. Lagian, aku siapa, sampai berani memintanya darimu?" katanya, lalu tertawa getir. "Kamu cukup perlakukan aku dengan baik, sebagai seorang istri, itu saja. Makan malam bersama. Mengobrol sedikit denganku setiap hari. Memberikan sedikit kasih sayang walaupun itu cuma ... palsu."

Dia menelan ludah, kedua tangannya mengepal kuat untuk menjaga dirinya agar tetap tegar. "Setelahnya, aku akan pergi dengan tenang dan kamu bisa bebas menikahi siapa pun yang kamu mau."

Dimas menyipitkan mata, tak tahu harus tertawa lebih kencang atau merasa kesal. Namun, di balik itu ketidakpercayaannya, ada sesuatu dari perkataan yang mengena di hatinya. Sebuah permintaan sederhana .... Saking sederhananya sampai memicu rasa penasaran Dimas.

Apa tujuan Anisa yang sebenarnya?

"Kenapa nggak minta yang lebih masuk akal saja?"

Anisa terdiam. Mata hitam Dimas yang pekat bagai malam itu menatapnya tajam, membuatnya tak sanggup berpaling. Dia tahu, Dimas tidak akan membiarkannya memutuskan kontak mata sebelum semua kata yang ingin dia ucapkan terdengar.

"Kalau yang kamu mau adalah uang, bilang saja, aku akan kasih."

"Aku nggak mau itu," balas Anisa dengan tegas dan tanpa ragu. Tekadnya sudah bulat. Tak ada jalan untuk mundur sekarang.

"Kamu benar-benar nggak tahu caranya menyerah ya?" cibir Dimas.

"Aku sudah menyerah, Dimas," sahut Anisa lembut. "Aku cuma mau satu kenangan untuk kusimpan seumur hidup. Sebelum aku benar-benar meninggalkanmu."

Setelah itu, keduanya terdiam.

Kali ini, tatapan Dimas tidak setajam sebelumnya. Dia menatap wanita di depannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Apakah dia bingung? Kesal? Atau ... penasaran?

"Aku nggak janji bisa bersikap baik padamu," katanya, memecahkan keheningan.

"Aku nggak pernah mengharapkanmu untuk berubah," jawab Anisa, ketenangannya terasa lebih mengguncang daripada air mata.

Begitulah, sebuah kesepakatan tak terucap pun terbentuk.

Satu bulan. Tiga puluh hari bagi Anisa untuk hidup sebagai istri dari Dimas Cokro, sebuah kenyataan yang seharusnya ada sejak hari pernikahan mereka setahun lalu. Namun, sepanjang waktu itu, dia tak pernah berarti apa-apa di mata Dimas, hanya seorang penyusup yang masuk ke dalam hidupnya.

Sekarang, sebelum segalanya benar-benar berakhir, Anisa masih bisa sedikit bersyukur. Dimas tidak menolak permintaannya.

"Satu bulan saja, Anisa," kata Dimas mengingatkannya. "Setelah itu, enyah dari pandanganku."

"Kamu nggak perlu khawatir, Dimas. Aku tahu betul apa yang aku minta."

Dimas mendengus, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh penghinaan. "Kalau kamu berharap lebih dari apa yang bisa kukasih, aku nggak akan ragu untuk menyingkirkanmu."

Anisa mengangguk dengan patuh.

"Jangan coba-coba ingkari janjimu, Anisa." Tatapan Dimas kembali menajam, menusuk. "Kalau kamu sampai berani mengingkarinya, aku nggak akan segan-segan untuk mengancurkan hidupmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 50

    "Kadang aku lupa betapa menenangkannya keheningan seperti ini," kata Kelvin pelan.Anisa menimpali sambil mengangguk, "Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekacauan dan kebisingan, inilah jenis ketenangan yang paling aku syukuri."Kelvin menoleh ke arahnya. Tatapannya mantap ketika berujar, "Aku harap semua kekacauan itu nggak pernah membuatmu merasa dirimu nggak berharga."Anisa menundukkan pandangan untuk menyeruput kopinya. Kemudian, dia berucap, "Itulah alasan aku sangat menghargai hidup yang aku jalani sekarang. Terutama dengan Jevan di sisiku. Aku benar-benar bersyukur.""Apakah rasa syukur itu juga berlaku untukku?" tanya Kelvin lembut,. Sepasang matanya terkunci pada mata Anisa.Anisa menanggapi, "Tentu saja aku juga bersyukur karena ada kamu, Pak Kel ....""Kamu sudah berjanji nggak memanggilku begitu di luar sekolah, apalagi saat kita nggak lagi bareng Jevan," potong Kelvin sambil memasang ekspresi seolah kesal, tetapi jelas bercanda.Anisa terkekeh-kekeh. Dia berujar, "Kamu s

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 49

    "Enak banget, Bu!" seru Jevan sambil menyuapkan satu garpu besar makaroni panggang ke mulutnya. Wajah kecilnya langsung bersinar kegirangan, lalu dia mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah Anisa sebagai tanda puas."Aku setuju, Jagoan Kecil," tambah Kelvin sambil mengangguk. Nada suaranya penuh apresiasi ketika melanjutkan, "Bu Anisa, sejujurnya aku jadi penasaran apa kamu pernah ikut kelas memasak? Soalnya masakanmu itu bikin ketagihan. Bisa-bisa aku mulai mengidamkannya setiap hari lho."Anisa tersenyum ke arah Kelvin. Dia berusaha menyembunyikan rasa hangat yang naik ke pipinya. Wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri dengan menuangkan air ke gelas Jevan.Anisa membalas, "Kalian makan yang banyak saja. Terutama kamu, Jev. Jangan bicara sambil mengunyah, nanti tersedak lho.""Ya, Bu," jawab Jevan ceria. Dia masih tersenyum lebar.Meski sesekali diingatkan, Jevan tetap sulit menahan antusiasmenya. Kebahagiaan di wajahnya terlihat begitu jelas. Makan malam

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 48

    "Bu, boleh nggak Paman Kelvin datang makan malam di rumah?" tanya Jevan dengan mata berbinar penuh harap sambil menarik lengan baju Anisa saat mereka keluar dari kafe.Anisa menunduk untuk menatapnya. Dia membalas, "Um, Ibu bahkan belum bertanya apakah dia mau ikut makan malam bersama kita."Kelvin dan Lydia sudah lebih dulu keluar dan menunggu di dekat mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk kafe. Pria itu menyahut sambil tersenyum santai, "Aku mau kok.""Hore!" seru Jevan kegirangan. Dia langsung mengangkat kedua tangannya untuk minta tos dan segera dibalas Kelvin dengan penuh semangat. Melihat itu, Anisa hanya bisa menghela napas pasrah."Jagoan, jadi nanti malam kita makan apa?" tanya Kelvin sambil menggenggam tangan Jevan."Ibu bilang makaroni panggang. Keju ekstra buat aku!" balas Jevan.Kelvin mengangkat alisnya ketika berucap, "Makaroni panggang buatan Bu Anisa? Sulit untuk menolaknya."Mereka berjalan menyusuri trotoar. Cahaya senja keemasan melunakkan sisa-sisa hari.

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 47

    "Berapa lama lagi kamu akan terus menolaknya?" Pertanyaan itu datang dari Lydia yang duduk di seberang Anisa sambil menyeruput espreso. Dia menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam. Anisa menghela napas pelan, lalu meletakkan garpunya di samping sepotong kue red velvet yang nyaris tidak tersentuh."Lydia, aku bukan menolaknya. Aku cuma ... butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya," balas Anisa.Mereka duduk di salah satu sofa empuk yang menghadap area bermain. Keduanya menyeruput teh hangat sambil sesekali melirik pemandangan yang berada tidak jauh dari mereka.Kafe itu cukup ramai, tetapi tidak bising. Sinar matahari sore berwarna keemasan masuk melalui jendela-jendela besar, lalu menyelimuti lantai kayu dengan cahaya hangat. Interiornya dirancang ramah keluarga dengan nuansa pastel lembut. Ada sudut bermain yang nyaman dengan karpet tebal, serta rak-rak berisi mainan edukatif, puzzle, dan buku bergambar.Di sana, tepat di tengah semuanya, ada Jevan. Pipi bocah tujuh tahun itu mem

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 46

    "Selamat pagi, semuanya," sapa Anisa dengan ramah saat dia memasuki ruang guru."Pagi, Anisa," jawab beberapa orang bersamaan. Beberapa yang lain memberinya senyum sopan."Kamu bawa sarapan lagi? Pas banget, kopiku baru saja selesai diseduh," tanya Timo si guru olahraga yang selalu penuh energi sambil bangkit dari duduknya."Apa kamu nggak bisa mampir ke toko roti saja dalam perjalanan ke sini?" gumam Metta yang merupakan guru matematika di sekolah itu. Dia jelas tidak terlalu terkesan dengan antusiasme Timo.Timo tertawa kecil sebelum membalas, "Apa salahnya mengharapkan keajaiban?""Aku memang bawa sedikit. Jevan suka, jadi aku buat agak lebih banyak," jawab Anisa sambil tersenyum lembut. Anisa mengeluarkan sebuah kantong kertas berisi roti kismis panggang berwarna keemasan. Aroma manis dan mentega langsung memenuhi ruangan. Itu menarik perhatian beberapa guru yang terlihat lapar."Silakan ambil," ucap Anisa hangat sambil menawarkannya pada semua orang."Wah, kamu memang jago urusan

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 45

    Tujuh tahun kemudian."Jev, jangan singkirkan brokolinya," ucap seorang wanita sambil tetap sibuk memasak di depan kompor. Tanpa perlu menoleh, dia tahu bahwa anak laki-lakinya pasti sedang menghindari sayuran di piringnya."Bu, aku nggak suka," gumam bocah bermata biru itu perlahan. Bibir kecilnya mengerucut kesal ketika melanjutkan, "Apa aku boleh makan yang lain saja tanpa brokoli?"Anisa menghela napas sabar. Dia melepaskan celemeknya dan mematikan kompor, lalu berjalan ke meja makan, tempat putranya duduk membungkuk di depan sarapan yang baru setengah habis."Jevan Kumala," ucap Anisa tegas. Suaranya tenang, tetapi sama sekali tidak bisa diabaikan."Ya, Bu," jawab Jevan sambil perlahan mengangkat kepala.Anisa bertanya, "Kamu tahu nggak betapa bagusnya brokoli untuk tubuhmu?" Mendengar itu, Jevan cemberut. Tentu saja dia tahu, tetapi tetap saja dia tidak suka."Makan sedikit saja. Jangan sisakan terlalu banyak di piring. Bukannya Bu Aulia bilang, terlalu pilih-pilih makanan itu co

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status