Langit Kaliandra baru saja kehilangan warna terakhirnya. Sisa cahaya jingga tenggelam di antara gedung-gedung tinggi. Di dalam butik Valestra Bridal yang kini mulai sepi, Alana sedang menyelesaikan catatan untuk tim penjahit ketika ponselnya bergetar.
Pesan masuk. Dari Brian.
“Aku sudah di depan Valestra Bridal.”
Alana mengetik cepat tanpa banyak pikir. “Aku lagi tanggung. Tunggu dulu di lobi.”
Ia menyimpan ponselnya lalu berdiri, mengambil jeda sejenak sebelum meninggalkan ruang kerjanya. Langkahnya menuju ruang tamu lantai bawah pelan tapi mantap, seolah tengah bersiap menuju panggung yang enggan ia pijak.
Brian berdiri di depan jendela besar, siluet tubuh atletisnya terbingkai oleh cahaya lampu jalan dari luar. Tangannya diselipkan ke dalam saku celana, santai. Alana berhenti di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya sejenak di kusen kayu putih.
"Aku tidak mau pergi," katanya pelan, tapi tidak ragu. Suaranya bening dan dingin.
Brian menoleh. Sorot matanya tak menunjukkan keterkejutan.
"Ini bukan pilihan, Alana." Suaranya datar, hampir seperti robot. "Bukan hanya kau yang tak mau, tapi ini kewajiban pertama kita sebagai pasangan di mata keluarga. Ayahku yang memintanya langsung. Kau tidak ingin memberi kesan buruk di hari pertama, bukan?"
Alana mengepal jemarinya, lalu perlahan menghela napas
“Ya sudah, tunggu.”
Kalimat itu singkat, dingin.
Alana melangkah kembali ke atas. Di dalam kamar, ia berdiri di depan lemari terbuka. Matanya menyapu barisan gaun malam yang tersusun rapi. Lalu, alih-alih mengambi gaun malam yang anggun, dengan satu gerakan tegas, ia mengambil setelan pantsuit putih gading. Setelan dengan potongan tajam, garis leher bersih, siluet bersudut sempurna.
Ia mengenakannya dengan tenang. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada riasan berlebih. Hanya bibir merah gelap yang menjadi aksen di wajahnya. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia melihat bukan seorang istri, bukan menantu. Melainkan seorang pebisnis yang setara.
Turun kembali ke bawah, Alana berjalan menghampiri Brian yang masih berdiri di tempat. Ia ingin pria itu marah karena penampilannya karena tak sesuai harapan. Mungkin akan menyindir pakaiannya, atau memberi komentar bernada kontrol. Lebih baik lagi jika membatalkan acara malam ini.
Tapi yang ia terima hanyalah tatapan singkat dari kepala hingga kaki.
"Warna putih selalu cocok untukmu, Alana."
“Selalu?” Alana mengerutkan dahi. Bingung. Kalimat itu terasa terlalu ... personal. Terlalu hangat. Tidak terdengar seperti Brian yang seharusnya dingin.
“Cih, sok tahu.”
Ia langsung melangkah menuju pintu, lalu membuka sendiri gagangnya.
"Ayo." Suaranya datar.
Brian menyusul tanpa kata. Tak ada yang berkata lagi di antara mereka saat mobil hitam itu melaju menembus malam menuju rumah keluarga Ravenshade.
Mobil melaju mulus di jalan utama Kaliandra, menyusuri lampu kota yang berpendar. Interior kendaraan mewah itu sunyi. Sunyi yang menekan.
Alana bersandar, menatap keluar jendela dengan dagu sedikit terangkat. Jalanan malam tak memberinya pelarian, tapi tetap lebih baik daripada menatap pria di sampingnya. Hatinya tetap waspada. Kepalanya menyusun strategi.
“Aku akan Tersenyum secukupnya, bicara seperlunya, Lihat saja ….”Ia menutup matanya sejenak, membayangkan wajah Isabella yang selalu terlihat terlalu sempurna, terlalu tajam. Dan Leo, dengan senyum miring dan mata yang seperti tahu sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui.
“Aku tak akan jadi gadis manis malam ini,” gumam Alana dalam hati, “Biar mereka tahu aku tidak takut. Aku tidak akan jadi properti mereka.”
Mobil melambat tajam, mengerem mendadak. Tubuh Alana terdorong ke depan, hanya sebentar. Dalam sepersekian detik, tangan Brian terulur, refleks, seolah hendak menahan bahunya.
Alana membeku, matanya melebar.
Tangan itu tidak menyentuhnya. Tapi kehadirannya cukup untuk membuat tubuh Alana menegang, bukan karena takut, tapi karena bingung.
Brian menarik kembali tangannya. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya berdeham pelan, lalu menatap ke depan dengan dagu kaku. Gerakannya cepat, seolah malu pada tindakannya sendiri.
Alana melirik, hanya dari sudut mata. Wajahnya tetap menghadap jendela, tapi pikirannya terbelah. Itu bukan sesuatu yang ia harapkan dari seorang Ravenshade. Terlalu manusiawi.
“Refleks?” pikirnya, “atau... kau pura-pura?”
Ia membuang napas perlahan, mengatur nadanya sebelum berkata.
“Tadi itu …” katanya pelan, nyaris sinis, tidak memandang ke arahnya.
Brian tak butuh detik untuk memotong. “Kalau kau jatuh... aku akan menangkapmu,” jawabnya tenang, datar, nyaris terdengar jujur.
Alana mengernyit kecil. Ia tidak membalas. Hanya menunduk, menggenggam tas di pangkuannya lebih erat. Jantungnya mulai tidak setenang tadi.
Ruang rapat Maxwell Capital tenggelam dalam ketegangan yang hampir bisa disentuh. Semua mata tertuju pada Clarissa. Beberapa menunggu ledakan emosi, beberapa lain berharap ia akan menyerah. Namun wajah Clarissa justru berubah. Raut tegang yang tadi menguasai garis-garis wajahnya lenyap, digantikan ketenangan yang nyaris mengintimidasi.“Anda semua benar,” katanya, suaranya mantap dan jernih. Kalimat itu bergema di ruangan yang baru saja penuh desakan. Tidak ada nada defensif, tidak ada tanda panik. “Reputasi Maxwell Capital adalah yang utama. Tak ada apapun yang sepadan dengan itu. Kita tidak boleh membiarkan gosip tak berdasar ini merusak kepercayaan.”Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang, terkejut mendengar pengakuan yang bukan pembelaan melainkan pengendalian. Mereka bersiap mendengar penyerahan diri, tetapi yang muncul adal
Jantung Clarissa mencelos saat membaca artikel itu. Kata-kata yang tertulis seakan dirangkai dengan racun yang disamarkan sebagai analisis. Artikel itu tidak menyerangnya secara frontal, melainkan dengan gaya elegan penuh insinuasi. Fakta-fakta tentang pertemuan bisnisnya dipelintir, dipotong dari konteks, lalu digabungkan dengan gosip personal yang tak pernah ia bayangkan bisa keluar dari ruang privatnya. Di layar, dirinya tergambar sebagai wanita yang terobsesi, tidak profesional, CEO yang mempertaruhkan masa depan Maxwell Capital demi mengejar mantan kekasih.Tangannya yang berusaha menahan tablet itu bergetar. Clarissa menarik napas panjang, namun dadanya justru semakin sesak. Ia tahu cara kerja opini publik. Sekali narasi ini menempel, hampir mustahil untuk dilucuti.“Ini bukan sekadar gosip murahan,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini eksekusi reputasi.”Asistennya masih berdiri di ambang pintu, ragu ingin bicara, namun takut menambah beban. “Nyonya Maxwell, tele
Hati nurani Clarissa akhirnya bicara dengan suara yang terlalu nyaring untuk diabaikan. Selama bertahun-tahun ia telah melatih dirinya untuk kebal, untuk tidak membiarkan rasa bersalah atau simpati menjadi beban. Namun kali ini berbeda. Ada sesuatu yang menusuknya terlalu dalam, sesuatu yang menuntut balasan.Ia berdiri di depan jendela suite yang menghadap Danau Jenewa. Air tenang membentang luas, seakan menertawakan kegaduhan di dalam hatinya. Clarissa menarik napas panjang. Ia tahu, jika ia memilih diam, ia akan selamat. Nama baiknya tetap terjaga, bisnisnya di Eropa tetap aman. Tetapi di balik semua itu, ada luka lain yang akan terus berdarah, luka pada harga dirinya sendiri.“Tidak,” gumamnya pelan, nyaris seperti doa. “Aku nggak akan dipermainkan siapa pun lagi.”Ia berbalik, langkahnya mantap menuju meja kerja. Tablet masih menampilkan dua berita dari Kaliandra, dua potongan cerita yang kini ia pahami sebagai kepingan dari permainan yang jauh lebih besar. Jemarinya berhenti di
Suite hotel itu sunyi. Dari balik jendela lebar yang terbuka ke arah danau Jenewa, air berkilau memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut. Clarissa Maxwell berdiri mematung, lengannya terlipat di depan dada. Permukaan danau tampak tenang, kontras dengan pikirannya yang kalut.Di meja marmer dekat tempat tidurnya, sebuah tablet menyala, menampilkan dua berita utama dari Kaliandra. Keduanya tampak tak berhubungan, namun Clarissa tahu ada benang merah yang menjahit erat keduanya.Berita pertama adalah laporan tentang kecelakaan mobil yang menimpa Alana Ravenshade. Judul besar berbunyi tegas,“Pengorbanan Seorang Suami: Brian Selamatkan Istrinya dari Maut.” Foto-foto dramatis menghiasi halaman. Salah satunya menampilkan mobil yang ringsek di tepi jalan, dengan api masih menjilat kap mesin. Dalam foto lain, tubuh Brian tampak ditopang oleh paramedis, wajahnya dipenuhi darah, tetapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Alana.Clarissa menarik napas panjang, menelusuri ulang berita it
“Bukan hanya itu,” kata Brian, suaranya datar tapi tegas, matanya tak beranjak dari grafik yang terus merosot. “Dia mempertaruhkan reputasinya. Dan sekarang… dia kehilangan semuanya. Apalagi dia melakukannya dengan dana perusahaan. Itu tidak akan pernah dimaafkan.”Alana menatapnya, ada rasa lega sekaligus ketegangan baru. Mereka tahu pukulan ini bukan sekadar soal uang. Reputasi Leo di mata keluarganya, di mata ayah mereka, telah hancur berantakan.Di kantor Leo, telepon meja berdering lagi. Nada yang menusuk, berulang-ulang, seakan menjadi pukulan tambahan ke dadanya yang sudah penuh sesak. Dia melirik ID penelepon.Darahnya langsung terasa membeku. EDGAR RAVENSHADE.Jari-jarinya gemetar saat ia mengangkat gagang telepon. Ia bahkan tak sempat membuka mulut ketika suara itu datang, datar, berat, dingin.“Ke ruanganku. Sepuluh menit lagi.”Klik. Sambungan terputus. Tak ada teriakan. Tak ada amarah yang meledak-ledak. Tapi bagi Leo, itu jauh lebih buruk.Ia berdiri terpaku di ruangann
Keesokan paginya, langit masih kelabu di atas kota, seolah enggan memberi cahaya.Di penthouse, Alana dan “Brian” sudah terjaga sejak lama. Tidak ada tidur yang bisa meredakan adrenalin malam sebelumnya. Mereka duduk di ruang tengah yang remang-remang, lampu gantung sengaja tidak dinyalakan.Satu-satunya cahaya berasal dari layar laptop di meja, menampilkan angka hitung mundur, 00:14:32, kurang dari lima belas menit waktu tersisa sebelum pasar Tokyo dibuka.Alana menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, matanya terpaku pada angka-angka yang terus berkurang. “Aku deg-degan banget, kayak lagi ada di pinggir jurang,” gumamnya pelan.“Brian” hanya mengangguk, rahangnya tegang. “Ya, Sekarang tinggal lihat siapa yang jatuh lebih dulu.”Suara ping terdengar. Layar menyala, menampilkan wajah Rayhan yang bergabung lewat panggilan video. Berbeda dengan keduanya, ekspresinya tetap tenang, seolah ini hanya rutinitas pagi biasa.“Siaran pers sudah dikirim ke semua media finansial utama di Asia