Share

Bab 2. Jejak yang tak terlihat

last update Last Updated: 2026-03-10 12:26:37

Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.

Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.

“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.

“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.

Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.

Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.

Tiga hari lalu ia hampir mati.

Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.

*** 

Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. 

“Hari ini pulang saja ke rumah, jangan ke kontrakan dulu kalau kamu di sana nanti gak ada yang ngurus,” Kata pak Jarwo–ayah Alvaro memecah keheningan. 

“Iya yah,” Kata Alvaro mengangguk pelan.

“Lagian kamu itu kalau nyetir motor yang pelan-pelan gitu lho, sudah tahu hujan sukanya kebut-kebutan,” Saut Aris sambil tetap fokus menyetir. Alvaro hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. 

“Ya… namanya juga anak muda mas, ngebut juga wajar,” Sanggah Alvaro lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil lagi. 

“Anak muda alasan aja kamu itu, mas dulu gak kayak kamu kok kalau nyetir ya pelan-pelan,” Kata Aris, Alvaro hanya menghela napas. 

“Sudah-sudah, biarkan adikmu istirahat. Varo… tidur saja dulu, kalau sudah sampai rumah nanti ayah bangunkan,” Ucap pak Jarwo. 

“Baik yah,” Kata Alvaro lalu sedikit merendahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. 

Selama tidur Alvaro bermimpi sedang berada di sebuah padang savana, di depannya berdiri seorang laki-laki berbadan tegap, sedikit lebih tinggi sepuluh centi darinya, wajahnya tampan dan putih bersih ciri khas anak orang kaya. Alvaro menyipitkan matanya menatap laki-laki di depannya itu. 

“Siapa lo?” Tanya Alvaro, laki-laki itu tersenyum ke arahnya. 

“Aku Darian Maheswara, salam kenal Alvaro,” Ucap Darian sambil mengulurkan tangannya. Alvaro masih menatap uluran tangan Darian. Dia menatap tangan Darian ragu-ragu, napasnya agak tercekat.

“Lo… lo mati, kan?” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Darian mengangguk, senyum tipis tetap tersungging di wajahnya.

“Ya… tapi aku masih ada di sini. Di kepalamu,” jawab Darian.

Alvaro mengernyit. “Maksud lo… gimana bisa gitu?”

“Aku juga tidak mengerti sepenuhnya. Yang jelas… kita harus kerja sama,” kata Darian.

Alvaro menelan ludah, mencoba mencerna semuanya. “Kerja sama? Dengan siapa? Gue cuma… gue cuma orang biasa.”

“Justru itu yang bikin kamu berharga. Kita bisa mulai dari hal kecil… lihat situasi dulu,” kata Darian tenang.

Alvaro menatap hamparan padang savana di sekelilingnya, angin lembut menerpa wajahnya. Sekarang hidupnya bukan lagi miliknya, Alvaro menghela napas panjang. “Gue masih nggak kebayang harus berbagi kepala sama orang lain.”

Darian tertawa pelan. “Tenang saja. Aku tidak berniat mengambil alih hidupmu.”

“Bagus kalau begitu. Soalnya gue juga nggak mau tiba-tiba berubah jadi orang kaya dalam semalam,” sahut Alvaro setengah bercanda.

Darian menatapnya serius. “Aku hanya butuh mata, telinga, dan keberanianmu.”

“Keberanian gue pas-pasan, tahu.”

“Cukup untuk memulai.”

Alvaro menunduk sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah… kita lihat dulu apa yang bisa gue lakukan.” 

Angin savana kembali berhembus pelan, membawa perasaan asing yang sulit ia jelaskan.

“Oke sekarang apa rencana lo?” Tanya Alvaro. Darian berjalan ke depan, angin savana kembali berhembus menerpa wajahnya. Darian berdiri membelakangi Alvaro, lalu berbalik menghadapnya kemudian tersenyum. 

“Aku ingin kau mendekati Aurel–tunanganku,” Jawab Darian. 

“Apa… gila lo ya… gimana bisa gue deketin bu Aurel, tunggu… jadi gosip yang beredar di kantor kalau bu Aurel itu tunangan lo… itu beneran?” tanya Alvaro yang terkejut. Darian tersenyum tenang lalu berjalan menghampiri Alvaro. 

“Iya kami memang bertunangan, karena itu aku memintamu untuk mendekatinya tapi kau jangan sampai salah paham karena flashdisk yang aku sembunyikan itu berisi memiliki akses ke akun Aurel, aku menyembunyikannya…” 

“Tunggu, maksud lo gimana sih… lha flashdisk ngapain akses ke akun orang lain?” Tanya Alvaro memotong kata-kata Darian. 

Darian menghela napas pelan, lalu menatap Alvaro dengan serius.

“Karena di dalam akun itu ada sesuatu yang sangat penting. Bukti tentang siapa yang sebenarnya berada di balik kematianku,” ujarnya lirih.

Alvaro mengerutkan kening. “Jadi lo nyimpen aksesnya di flashdisk biar aman?”

Darian mengangguk. “Aku tidak percaya siapapun waktu itu. Bahkan orang-orang terdekatku.”

“Termasuk Aurel?” tanya Alvaro ragu.

Darian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak tahu. Itu sebabnya aku butuh kamu mendekatinya.”

Alvaro mendengus pelan. “Gila… hidup gue tiba-tiba jadi drama konspirasi.”

“Bukan drama,” jawab Darian tenang. “Ini kenyataan… dan kita harus menemukan kebenarannya.”

“Terus langkah selanjutnya apa?” Tanya Alvaro. 

“Kalau kau bisa masuk ke ruangan kantorku di rak buku ada sebuah buku yang cukup asing, kamu ambil buku itu disitulah aku menyimpan flashdisk itu,” Jawab Darian. 

“Masuk… ke ruangan lo… gila… lo lupa siapa gue?” Tanya Alvaro sambil menunjuk dirinya sendiri. 

“Aku tahu tapi aku yakin kamu bisa melakukannya,” Jawab Darian santai. “Jadi mungkin besok…” 

“Gak… gak… kata dokter gue disuruh istirahat tiga hari, jadi mungkin… hari senin gue baru masuk kerja,” Potong Alvaro tiba-tiba. 

“Oke, tidak apa-apa… bersikap biasa saja tapi pastikan semua tidak ada yang mencurigai perubahan sikapmu,” lanjut Darian tenang.

Alvaro menghela napas panjang. “Perubahan sikap? Bro, gue ini orang biasa. Tiba-tiba harus pura-pura jadi lo, masuk kantor CEO, terus nyari flashdisk rahasia. Ini gila.”

Darian tersenyum tipis. “Aku tahu ini berat. Tapi hanya kamu yang bisa melakukannya sekarang.”

“Kenapa harus gue sih?” gerutu Alvaro.

“Karena tubuh itu milikku… tapi hidupnya sekarang ada di tanganmu,” jawab Darian pelan. Alvaro terdiam, menatap hamparan savana itu dengan perasaan campur aduk.

**** 

Setelah perjalanan tiga puluh menit, Alvaro akhirnya sampai di rumah. Beberapa tetangga sudah berkumpul di halaman menanyakan keadaannya. Bu Dwi—ibu Alvaro—segera menghampiri lalu memeluknya erat hingga membuat Alvaro geli.

“Ih… Bu… geli tahu,” keluh Alvaro.

Bu Dwi memukul lengannya pelan. “Kamu itu bikin ibu khawatir. Ibu takut kalau kamu…” Kalimatnya menggantung, tapi Alvaro sudah paham maksud ibunya.

“Sudah, biarkan Alvaro istirahat dulu,” kata Pak Jarwo. “Ayo le, masuk ke kamar.”

Alvaro duduk di tepi ranjang, menatap lantai sambil mencoba mencerna semua yang terjadi.

“Masih bingung?” suara Darian terdengar di kepalanya.

“Kalau lo di posisi gue juga pasti bingung,” jawab Alvaro pelan.

Darian terdiam sejenak. “Ada sesuatu yang harus kamu tahu. Ada satu flashdisk yang bisa mengungkap semuanya.”

“Flashdisk apa lagi?”

“Di dalamnya ada rekaman rapat internal Rama, transaksi mencurigakan, dan data cadangan perusahaan,” jelas Darian.

Alvaro terdiam. Kalau semua itu benar, berarti ia sudah terseret ke masalah yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

“Gue cuma staf IT biasa,” gumamnya. “Gue bahkan gak punya akses ke ruang direksi.”

“Tapi kamu tahu struktur jaringan perusahaan,” jawab Darian. “Itu jauh lebih penting.”

Alvaro mengingat sesuatu. “Gue pernah ikut audit sistem.”

“Audit apa?”

“Waktu itu jaringan direksi tiba-tiba terkunci. Bahkan tim IT gak bisa membukanya.”

Darian terdiam. “Kapan itu?”

Alvaro mengernyit.

“Sekitar… sebulan sebelum lo meninggal.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 5. Bayangan yang tersisa

    Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.“Om…” sapanya lembut.Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…” “Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara. Pak Maheswara pun langsung melepask

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 4. Ketika pion melawan raja

    Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya. “Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan. “Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.Alvaro menurunk

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 3. Ancaman yang nyata

    Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. TING! Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 2. Jejak yang tak terlihat

    Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.Tiga hari lalu ia hampir mati.Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.*** Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. “Hari ini pulang saja ke

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 1. Dua Nama Dalam Satu Napas

    “Ada denyut! Cepat, angkat dia!”Suara orang-orang terdengar samar di telinganya. Alvaro ingin membuka mata, tapi tubuhnya seperti tidak lagi miliknya. Dadanya terasa berat, napasnya pendek.‘Kenapa… gue belum mati?’Pikiran itu muncul begitu saja, bersamaan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meledak di kepalanya.Alvaro tersentak bangun.Lampu putih menyilaukan menyambutnya. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis.Rumah sakit.“Dia sadar!” seseorang berteriak.Alvaro mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya.“Tenang. Jangan panik.”Alvaro membeku.Suara itu bukan suaranya.“Siapa…?” bisiknya pelan.Hening sejenak.Lalu suara itu menjawab dengan tenang.“Namaku Darian.”Alvaro terdiam, tubuhnya masih merespon apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali berdenyut, bayangan kehidupan asing terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status