LOGINAlvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.
Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.
“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.
Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.
“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”
Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.
“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya.
“Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan.
“Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.
Alvaro menurunkan gelas kopinya. “Manipulasi bagaimana?”
“Angka-angka pengeluaran berubah. Ada dana besar yang keluar, tapi laporan resminya terlihat bersih.”
Alvaro kembali menatap ke arah halaman belakang. Rama dan Surya masih berbicara, Surya tampak gelisah sementara Rama terlihat jauh lebih tenang.
“Kalau itu benar, berarti ada sesuatu yang mereka sembunyikan,” gumam Alvaro.
Darian tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, “Aku sempat menanyainya.”
“Apa jawabannya?”
“Dia bilang itu hanya kesalahan sistem.”
Alvaro tersenyum tipis.
“Lucu,” katanya pelan. “Kesalahan sistem jarang terjadi dua kali… apalagi kalau sengaja dibuat.”
“Jadi memang benar itu disengaja, kau ingat bukan flashdisk yang aku sembunyikan di ruang kerjaku, flashdisk itulah kuncinya dan kau harus mengambilnya,” Kata Darian.
Alvaro menghela napas lalu menutup matanya sebentar. Seorang staf IT biasa masuk ke ruang CEO, itu adalah hal yang mustahil. “Ini bukan short drama yang sering orang-orang tonton, ini kenyataan Darian… kalau lo pengen gue masuk ke ruang CEO sama aja lo nyaranin gue mati,”
Diam. Tak ada jawaban dari Darian, karena apa yang dikatakan Alvaro memang benar.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Alvaro membuka matanya kembali, masih menatap halaman belakang.
“Tapi kalau bukan gue yang ambil, siapa lagi?” gumamnya pelan.
Darian akhirnya menjawab, suaranya lebih tenang. “Flashdisk itu ada di laci kanan mejaku. Kode kuncinya ulang tahunku.”
Alvaro mendengus kecil. “Masalahnya bukan kode. Masalahnya gue harus masuk ke ruang CEO tanpa dicurigai.”
Di bawah sana, Rama dan Surya mulai berjalan kembali ke arah gedung.
Alvaro menyipitkan mata.
“Kayaknya kita nggak punya banyak waktu,” bisiknya.
Darian hanya berkata pelan, “Kalau flashdisk itu sampai ditemukan Rama… semua bukti akan hilang.”
TING!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Alvaro, pesan grup kantor.
“Pengumuman besok lusa akan ada acara sambutan untuk investor perusahaan dari luar negeri, jangan sampai gak datang semuanya… ingat besok malam”
“Acara penyambutan investor?” Gumam Alvaro.
“Aaah… aku ingat sesuatu, dua bulan lalu aku pernah ke negara arab. Disana, mereka tertarik dengan perusahaan ini dan kemungkinan besar investor itulah yang mereka maksud,” Jawab Darian di kepala Alvaro.
“Gue ada ide,” Kata Alvaro.
“Apa…?” Tanya Darian dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Tenang, percaya aja sama gue,” Jawab Alvaro lalu berjalan kembali ke ruang kerjanya.
***
Sore itu langit mulai meredup ketika Aurel keluar dari gedung Maheswara Group. Ia berjalan menuju mobilnya dengan langkah cepat, pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Rama pagi tadi.
Ancaman itu belum juga hilang dari kepalanya.
Mesin mobil menyala pelan saat ia memasuki jalan utama kota. Lalu lintas masih ramai, tapi perlahan semakin sepi ketika ia mengambil jalur alternatif menuju rumah.
Aurel menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Namun beberapa menit kemudian, lampu mobil di depannya tiba-tiba berhenti melintang di tengah jalan.
Aurel mengerutkan kening.
Dari dalam mobil itu, dua pria turun perlahan dan berjalan mendekati mobilnya.
“Apa… Siapa… siapa mereka…?” Gumam Aurel dengan tangan gemetar memegang stang kemudi mobilnya. Kedua pria itu berjalan menghampiri mobilnya dan tiba-tiba.
DUG! DUG! DUG!
“Buka… buka… cepat buka pintunya dan keluar,” Ucap salah satu dari mereka.
Aurel menggeleng cepat. “Pergi dari mobilku!”
Salah satu pria itu tersenyum sinis lalu memukul kaca jendela sekali lagi. “Jangan bikin susah, Nona. Kami cuma mau ngobrol.”
Jantung Aurel berdetak semakin cepat. Jalan itu sudah sepi. Tidak ada kendaraan lain lewat.
Ia menoleh cepat ke spion belakang, berharap ada mobil yang melintas.
Namun yang terlihat hanya jalan gelap dan lampu jalan yang redup.
Pria kedua mulai menarik gagang pintu.
“Keluar sekarang juga!”
Aurel menggenggam setir lebih erat.
“Kalau tidak?”
Pria itu menyeringai dingin.
“Kalau tidak… kami yang akan mengeluarkanmu.”
Air mata Aurel sudah menetes tangannya gemetar, saat pria itu akan membuka pintu mobilnya, Aurel cepat-cepat menekan tombol kunci otomatis.
“Sialan! Buka pintunya br*ngsek…” pria itu mencoba membuka paksa pintu mobil Aurel hingga akhirnya.
PRANG!
Salah satu dari pria itu berhasil memecahkan kaca mobilnya, lalu membuka tombol kunci otomatis. Aurel diseret keluar dari mobil, tentu saja wanita berusaha melawan dengan sekuat tenaga tapi sayangnya tenaganya kalah jauh dari kedua pria berbadan kekar itu.
Tiba-tiba dari arah belakang sebuah motor melaju sangat cepat lalu “BRUK!” Pria yang menyeret Aurel jatuh tertabrak motor lalu mengerang di aspal. Aurel terlepas dari cengkeraman mereka dan mundur beberapa langkah dengan napas tersengal.
Pengendara motor itu turun perlahan. Helm hitamnya menutup wajahnya rapat. Ia tidak berkata apa-apa.
Pria satunya menatap kesal. “Hei! Siapa kau, mau cari mati ya?!”
Pengendara itu hanya berdiri tegak, lalu mengangkat satu tangan perlahan. Telapak tangannya bergerak sedikit—gestur menantang.
Pria yang tadi bangkit meludah ke samping. “Sok jago, ya?”
Keduanya maju bersamaan.
Pengendara berhelm itu tidak mundur sedikit pun. Ia justru melangkah maju lebih dulu. Salah satu pria itu memukul kepalanya tapi justru pengendara itu melakukan gestur tertawa karena mengenai helm yang dia pakai. Pria itu meringis saat tangannya menghantam helm keras itu.
“Apa-apaan—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pengendara berhelm itu bergerak cepat. Siku kirinya menghantam perut pria itu hingga tubuhnya terlipat kesakitan.
Pria kedua mencoba menyerang dari samping, namun pengendara itu menepis tangannya lalu menendang lututnya keras.
“Argh!”
Aurel menatap dengan napas tertahan. Gerakan pria misterius itu cepat dan tepat, seolah sudah terbiasa bertarung.
Pria yang pertama bangkit lagi sambil memaki. “Kurang ajar!”
Ia mengambil batang besi dari mobilnya.
Pengendara berhelm itu hanya memiringkan kepala sedikit… seakan menunggu mereka mendekat lalu tanpa basa-basi pria pertama itu menyerang pengendara dengan cepat. Pengendara itu dengan sigap merebut tongkat besi kemudian berbalik menyerang kedua pria itu hingga pingsan, lalu membuang tongkat besi itu dan menghampiri Aurel.
“Ja-jangan mendekat…” Aurel berjalan mundur hingga punggungnya menabrak pintu mobilnya sendiri.
Aurel menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar. Ia menunggu sesuatu terjadi—serangan lain, atau pria itu menariknya lagi.
Namun yang terdengar hanya bunyi klik.
Aurel membuka mata perlahan.
Pengendara berhelm itu hanya membuka pintu mobilnya. Ia memberi ruang, seolah menyuruhnya masuk.
Tidak ada sepatah kata pun.
Beberapa detik kemudian pria itu berbalik, menaiki motornya, lalu menyalakan mesin.
Motor itu melaju pergi begitu saja.
Aurel masih terdiam sesaat sebelum akhirnya cepat-cepat masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu dengan jantung berdebar keras.
***
Ponsel Rama berdering saat ia memasuki lobi Maheswara Group.
“Bos… maaf. Semalam kami gagal.”
Rama berhenti. “Gagal?!”
“Ada yang ikut campur. Motornya terparkir di kantor. Kami cek platnya. Datanya sudah kami kirim.”
Rama membuka pesan itu. Foto seorang staf IT muncul di layar.
“Alvaro Pratama…” gumamnya pelan.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Berani sekali.”
Rama tahu siapa lawannya, dan permainan antara pion dan Raja akan segera memanas.
Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.“Om…” sapanya lembut.Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…” “Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara. Pak Maheswara pun langsung melepask
Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya. “Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan. “Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.Alvaro menurunk
Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. TING! Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak
Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.Tiga hari lalu ia hampir mati.Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.*** Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. “Hari ini pulang saja ke
“Ada denyut! Cepat, angkat dia!”Suara orang-orang terdengar samar di telinganya. Alvaro ingin membuka mata, tapi tubuhnya seperti tidak lagi miliknya. Dadanya terasa berat, napasnya pendek.‘Kenapa… gue belum mati?’Pikiran itu muncul begitu saja, bersamaan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meledak di kepalanya.Alvaro tersentak bangun.Lampu putih menyilaukan menyambutnya. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis.Rumah sakit.“Dia sadar!” seseorang berteriak.Alvaro mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya.“Tenang. Jangan panik.”Alvaro membeku.Suara itu bukan suaranya.“Siapa…?” bisiknya pelan.Hening sejenak.Lalu suara itu menjawab dengan tenang.“Namaku Darian.”Alvaro terdiam, tubuhnya masih merespon apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali berdenyut, bayangan kehidupan asing terus ber







