Share

Bab 3. Ancaman yang nyata

last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-10 12:28:37

Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.

“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.

Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.

Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.

“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.

Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.

Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. 

TING! 

Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak Rama Wijaya. “Dan itu di belakangnya Surya Gunawan–Direktur Keuangan,” Alvaro melihat sendiri bagaimana interaksi kedua orang itu sangat tidak wajar. 

Beberapa karyawan melihat mereka dengan reaksi bermacam-macam. 

“Sejak pak CEO kita meninggal, pak Rama jadi beda,” Ucap salah satu rekan kerja Alvaro. 

“Jadi beda gimana?” Tanya Alvaro melirik kearah mereka. 

“Lu gak tau Var, pak Rama jadi suka memerintah seenak sendiri sok banget jadi kayak CEO padahal dia cuman wakil CEO,” Jawab Dimas. 

“Kau sudah dengar sendiri bukan, aku yakin kalau Rama menginginkan posisiku makanya dia merencanakan pembunuhan itu,” bisik Darian di kepala Alvaro. 

“Gue keatas dulu ya bro,” Ucap Alvaro pada teman-temannya. Dimas mengangguk. “Oke, Var. Jangan terlalu dipaksain kalau masih pusing.”

Alvaro hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju lift karyawan. Saat pintu lift terbuka, ia masuk bersama beberapa pegawai lain. Pintu kembali tertutup.

“Surya Gunawan itu orang yang sangat berhati-hati,” suara Darian kembali terdengar di kepalanya.

“Maksud lo dia juga terlibat?” gumam Alvaro pelan.

“Aku belum yakin. Tapi dia selalu berada di sisi Rama akhir-akhir ini.”

Lift berhenti di lantai divisi IT. Alvaro melangkah keluar.

Lorong kantor terlihat seperti biasa. Namun perasaan Alvaro tidak.

“Mulai dari mana?” tanyanya dalam hati.

“Ruang server,” jawab Darian singkat. Alvaro memasang Airpod miliknya sambil berjalan ke ruang server. Suasana masih sepi hanya ada satu atau dua orang yang sudah datang tapi tidak terlalu peduli dengan keadaannya. 

Alvaro membuka pintu ruang server dengan kartu aksesnya. Suara dengung mesin langsung menyambut. Ruangan itu selalu dingin, dipenuhi rak server yang berdiri rapat.

“Di sini semua data perusahaan lewat,” kata Darian pelan.

Alvaro melangkah masuk sambil menyalakan komputer di meja teknisi. “Jadi lo mau gue cari apa?”

“Log sistem keamanan mobilku malam itu. Semua kendaraan perusahaan terhubung dengan server ini.”

Alvaro mengerutkan kening. “Kalau benar ada sabotase, pasti ada yang menghapus jejaknya.”

“Justru itu,” jawab Darian.

Layar komputer akhirnya menyala. Alvaro mulai mengetik cepat.

Beberapa detik kemudian ia berhenti.

“Darian… ada yang aneh di sini.”

“Apa… apa yang aneh?” suara kekhawatiran Darian bergema di kepala Alvaro. 

“Log server keamanan mobil lo ada yang memutusnya,” Jawab Alvaro

“Hhh… Sudah aku duga, lalu siapa yang melakukannya?” Tanya Darian. Alvaro menelan ludahnya, menjawab dengan tangan gemetar. 

“Ini… ini dari ruang direktur,” Jawab Alvaro. 

“Apa… jadi maksudmu Surya Gunawan yang mencelakaiku?” Tanya Darian dengan suara meninggi, membuat kepala Alvaro seketika menjadi pusing. 

“Gak… maksud gue…” Alvaro melirik jam di komputer, sebentar lagi Aurel datang. Biasanya pada jam seperti ini, Aurel akan mengecek sistem keamanan jaringan, jika dia tahu ada seseorang di ruang server maka Alvaro akan mendapat SP1 dari kantornya. 

“Aduh… gawat,” Ucap Alvaro sambil tergesa-gesa. Alvaro cepat-cepat menyalin file log itu ke flashdisk kecil di saku jaketnya. Jarinya masih gemetar ketika menutup beberapa jendela program di layar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Darian.

“Mengamankan bukti,” gumam Alvaro pelan. “Kalau ada yang sadar log ini hilang dari server, setidaknya gue masih punya salinannya.”

“Berarti kita memang hampir menemukan sesuatu,” kata Darian.

Alvaro tidak menjawab. Ia justru menutup akses admin yang tadi ia buka, lalu memulihkan tampilan sistem seperti semula.

Langkah kaki terdengar di lorong.

Alvaro langsung menegakkan badan.

“Ada orang datang,” bisiknya.

Pintu ruang server belum terbuka, tapi suara sepatu pantofel terdengar semakin jelas.

“Pak Yoga,” gumam Alvaro.

“Dia berbahaya?” tanya Darian.

“Bukan… tapi dia terlalu teliti.”

Alvaro cepat-cepat mencabut flashdisknya lalu memasukkan ke saku celana. Ia menekan tombol logout dan layar kembali ke tampilan normal sistem keamanan perusahaan.

Detik berikutnya, pintu ruang server terbuka. Alvaro bersembunyi di balik mesin server, terlihat Yoga Setiawan–staf server sudah duduk di kursi, pelan-pelan Alvaro berjalan keluar ruang server dan kembali ke ruang divisi tanpa dicurigai siapapun. Tepat pukul 8:30, Alvaro melihat Aurel datang. Dia melihat Aurel masuk ke ruangannya–kepala divisi keamanan jaringan. 

Aurel baru saja meletakkan tasnya di meja ketika pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk.

Rama Wijaya masuk dengan langkah santai lalu menutup pintu dengan pelan. 

Aurel mengerutkan kening. “Rama? Ada…apa yang kau lakukan disini?”

Rama tidak langsung menjawab. Ia berjalan mengelilingi meja Aurel, menatap layar komputernya yang masih menyala.

“Kau rajin sekali memeriksa log keamanan,” katanya pelan.

Aurel menatapnya lurus menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. “Apa maksudmu, itu memang tugasku,” 

“Kau terlalu berani sekali Aurel, untuk jabatan sekelas kepala divisi,” Ucap Rama. Aurel menyilangkan tangannya didepan dadanya. 

“Aku berani? Memangnya apa yang aku takutkan darimu Rama Wijaya, justru seharusnya kau yang harus takut… takut jika rencana rahasiamu tentang kecelakaan Darian--tunanganku terbongkar ke publik, waaah… aku tidak bisa membayangkan kalau kau dan ibumu harus membusuk di penjara,” Kata Aurel dengan santai. 

Rama memukul meja Aurel mencondongkan tubuhnya lalu menatap Aurel dengan tajam. 

“Tutup mulutmu Aurel, aku tidak segan-segan untuk membuatmu seperti Darian,” 

Aurel tersenyum tipis, meski jantungnya berdetak keras. “Ancamanmu basi, Rama. Darian pun tidak takut padamu.”

Rama tersenyum tipis, lalu mendekat sedikit.

“Kalau kau memang yakin aku dalang di balik kematian Darian… silahkan buktikan.”

Aurel terdiam.

“Cari bukti sebanyak yang kau mau,” lanjut Rama pelan. “Aku justru penasaran… seberapa jauh kau bisa bertahan.”

Ia menepuk meja itu sekali.

“Tapi ingat satu hal, Aurel.”

Rama mencondongkan wajahnya, suaranya berubah dingin.

“Orang yang terlalu dekat dengan kebenaran biasanya tidak akan hidup lama.”

Rama lalu berbalik dan keluar dari ruangan.

Aurel tetap diam di kursinya.

Untuk pertama kalinya, ancaman itu terasa benar-benar nyata.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 5. Bayangan yang tersisa

    Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.“Om…” sapanya lembut.Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…” “Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara. Pak Maheswara pun langsung melepask

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 4. Ketika pion melawan raja

    Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya. “Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan. “Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.Alvaro menurunk

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 3. Ancaman yang nyata

    Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. TING! Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 2. Jejak yang tak terlihat

    Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.Tiga hari lalu ia hampir mati.Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.*** Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. “Hari ini pulang saja ke

  • Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas    Bab 1. Dua Nama Dalam Satu Napas

    “Ada denyut! Cepat, angkat dia!”Suara orang-orang terdengar samar di telinganya. Alvaro ingin membuka mata, tapi tubuhnya seperti tidak lagi miliknya. Dadanya terasa berat, napasnya pendek.‘Kenapa… gue belum mati?’Pikiran itu muncul begitu saja, bersamaan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meledak di kepalanya.Alvaro tersentak bangun.Lampu putih menyilaukan menyambutnya. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis.Rumah sakit.“Dia sadar!” seseorang berteriak.Alvaro mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya.“Tenang. Jangan panik.”Alvaro membeku.Suara itu bukan suaranya.“Siapa…?” bisiknya pelan.Hening sejenak.Lalu suara itu menjawab dengan tenang.“Namaku Darian.”Alvaro terdiam, tubuhnya masih merespon apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali berdenyut, bayangan kehidupan asing terus ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status