LOGINRumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.
Bel pintu berbunyi pelan.
“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.
Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.
“Om…” sapanya lembut.
Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.
“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”
Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”
Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…”
“Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara.
Pak Maheswara pun langsung melepaskan tangan Aurel, lalu sedikit menundukkan pandangannya. Aurel menyadari perubahan itu. Herlina menghampiri mereka berdua lalu berdiri di belakang kursi roda pak Maheswara.
“Kamu itu kok selalu repot-repot kesini sih Aurel, padahal tante yakin kalau kamu mesti sibuk di kantor,” Ucap Herlina basa-basi.
“Gak apa-apa kok tante, Aurel keinget sama om biasanya kan suka sama ayam labu. Ini… Aurel bawain sup ayam kesukaan om Maheswara,” Ucap Aurel sambil menunjukkan wadah sup hangat dari dalam tasnya.
Herlina tersenyum tipis. “Ah, kamu perhatian sekali.”
Aurel membuka tutup wadah itu perlahan. “Om biasanya bilang kalau makan sup ini badannya langsung terasa lebih ringan.”
Pak Maheswara menatap sup itu sebentar, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih, Aurel.”
Namun Aurel menangkap sesuatu di matanya—seperti pesan yang belum sempat disampaikan.
Herlina menepuk pundak Maheswara pelan. “Sudah, ayo kita ke meja makan saja. Supnya pasti lebih enak dimakan hangat.”
Aurel berdiri sambil membawa wadah itu. Dalam hatinya, ia semakin yakin—Pak Maheswara tadi ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
***
Malam ini di meja kerja apartemen Rama, dipenuhi dengan berkas profil tentang Alvaro Pratama, staf IT–divisi keamanan jaringan. Rama membuka satu per satu lembar berkas itu, matanya bergerak cepat membaca setiap detail.
“Staf IT biasa…” gumamnya pelan.
Ponselnya masih tersambung dengan anak buahnya di seberang sana.
“Bos, riwayat kerjanya bersih. Tidak ada catatan aneh.”
Rama tersenyum tipis. “Justru itu yang aneh.”
Ia mengetuk foto Alvaro di meja.
“Orang yang berani mengacaukan rencanaku tidak mungkin cuma staf biasa.”
“Perlu kami dalami lagi, Bos?”
“Tentu,” jawab Rama dingin. “Cari semua yang bisa kalian temukan tentang dia.”
“Baik bos,”
TUT!
Sambungan terputus, Rama masih menatap profil Alvaro. Senyum tipis terukir di bibirnya.
“Aurel, aku yakin dia yang memulainya,” Tangannya meremas kertas profil itu perlahan hingga kusut. Rama lalu menatap tajam ke arah jendela.
“Wanita itu, sudah terlalu jauh untuk ikut campur,”
Tiba-tiba ponselnya berdering, nama ibunya tertera di layar ponsel. Rama menghela napas pelan lalu mengangkat telpon itu.
“Ya ma… ada apa?” Tanya Rama sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.
“Rama, cepetan ke rumah ada Aurel disini,” jawab Herlina diseberang telpon.
“Apa… ngapain Aurel kesana?” tanya Rama sambil menghela napas kasar.
“Mama juga gak tahu, sudah cepetan pulang,” Jawab Herlina lalu mematikan telponnya.
Rama memukul meja sedikit keras lalu beranjak dari duduknya dan mengambil jasnya kemudian berjalan cepat menuju pintu apartemennya. “Aurel lagi,” gumamnya dingin. “Wanita itu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti.”
****
Suasana meja makan di rumah Maheswara terasa canggung. Lampu gantung di atas meja menyala hangat, tapi tidak mampu mencairkan ketegangan yang menggantung di udara. Aurel duduk di seberang Pak Maheswara, sementara Herlina sibuk menuangkan minuman seolah semuanya baik-baik saja.
“Supnya enak, Om?” tanya Aurel lembut.
Maheswara mengangguk pelan. “Terima kasih… sudah datang.”
Herlina tersenyum tipis. “Aurel memang perhatian. Darian dulu juga sering bilang begitu.”
Aurel hanya membalas dengan senyum kecil.
Tiba-tiba suara pintu depan terbuka. Langkah kaki terdengar mendekat dari lorong.
Beberapa detik kemudian, Rama muncul di ambang ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada Aurel.
“Waaaah… Aurel, tumben kesini ada apa?” Tanya Rama lalu duduk disamping ibunya. Aurel menatap Rama dengan tersenyum simpul. “Gak ada apa-apa kok, kebetulan tadi aku masak sop ayam banyak terus keinget sama om Maheswara sekalian nengokin om kesini, ya kan om?”
Maheswara mengangguk pelan. “Iya… Aurel cuma mampir.”
Rama tersenyum tipis, tapi matanya tetap menatap Aurel lekat. “Perhatian sekali.”
Herlina menyela cepat. “Aurel memang seperti keluarga sendiri di sini.”
Aurel mengangkat sendoknya pelan. “Saya hanya tidak ingin Om makan sendirian.”
Rama menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kebetulan sekali. Besok kita juga ada rapat penting di kantor.”
“Tentu,” jawab Aurel tenang. “Saya tidak pernah melewatkan rapat.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Maheswara menunduk pada mangkuk supnya, sementara Herlina memperhatikan Aurel dengan senyum yang sulit ditebak.
Rama menata tajam Aurel, tangannya mengepal erat. Tapi satu detik kemudian dia tersenyum walau tatapannya masih mengunci Aurel.
“Aurel, kamu masih baik sekali walau kak Darian sudah pergi,” Ucap Rama pelan. Aurel meletakkan sendoknya pelan lalu tersenyum menatap Rama.
“Ada yang harus tetap diingat,” lanjut Aurel tenang. “Beberapa orang mungkin pergi… tapi kebenaran biasanya tidak ikut terkubur.”
Sendok di tangan Pak Maheswara berhenti. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia tetap menunduk.
Rama menyipitkan mata. “Maksudmu apa?”
Aurel berdiri perlahan. “Tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya berharap Om selalu sehat.”
Herlina tampak gelagapan. “Ah… sudah malam, ya.”
Aurel mendekat sebentar ke kursi roda Maheswara, merapikan serbet di pangkuannya. Di balik lipatan itu, ia menyelipkan secarik kertas kecil.
“Om, saya pamit dulu.”
Maheswara tidak mendongak, tapi jari-jarinya perlahan menekan lipatan serbet itu. Herlina mencondongkan tubuhnya ke arah kursi Rama.
“Sepertinya wanita itu terlalu jauh untuk ikut campur,” Bisik Herlina sambil menatap Aurel hingga menghilang di balik tembok lorong ruang tamu.
“Aku tahu ma, sebaiknya wanita itu tidak bisa dibiarkan hidup terlalu lama,” Ucap Rama pelan.
***
Antrian malam itu cukup ramai, ketika Alvaro sudah sampai di warung nasi campur langganannya. “Bang! Nasi campur satu,” Ucap Alvaro lalu duduk di kursi sambil bermain ponsel. Tanpa disadari di seberang jalan, seseorang diam-diam tengah memperhatikannya. Tak lama kemudian teman-teman kost Alvaro sampai mereka bercanda tawa membicarakan hal-hal random. Hingga akhirnya pesanan Alvaro pun selesai.
“Gue pulang dulu ya bro,” Ucap Alvaro lalu menuju motornya.
“Gak nongkrong dulu nih Var?” Tanya Rifky basa basi.
“Gak… besok ada rapat penting,” Jawab Alvaro lalu menghidupkan motornya. “Duuh… karyawan teladan, ya sudah sono lu pulang,” Canda Arif.
Alvaro pun langsung melajukan motornya ke arah kostnya, tapi dia merasa aneh karena ada sebuah mobil mewah yang mengikutinya. Karena merasa curiga, Alvaro pun melajukan motornya ke arah gang yang lebih jauh dari kosannya. Lalu berhenti disebuah rumah khas tentara angkatan darat. Dia langsung mengetuk pintu setelah menunggu cukup lama akhirnya pintu itu terbuka.
“Lhoo… Var, tumben lo kesini?” Tanya Bima teman kuliah Alvaro dulu. “Gue numpang dulu ya Bim,” jawab Alvaro. Tak lama kemudian ayah Bima keluar, anggota TNI aktif itu menatap ke arah belakang Alvaro. “Masuk nak, ayo,” ucapnya tenang.
Alvaro melangkah masuk, sementara Bima buru-buru menutup pintu. Beberapa detik kemudian suara mobil berhenti terdengar di depan rumah.
Bima menoleh ke arah Alvaro. “Var… itu yang dari tadi ngikutin lo?”
Alvaro hanya mengangguk pelan.
Ayah Bima membuka sedikit tirai jendela. Matanya menajam menatap mobil yang terparkir di depan pagar.
“Hm… cara mereka menunggu bukan seperti orang yang tersesat,” gumamnya.
Ia menoleh pada Alvaro.
“Nak… kamu habis mengusik urusan siapa sebenarnya?”
Alvaro terdiam.
Di luar, pintu mobil itu perlahan terbuka.
Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.“Om…” sapanya lembut.Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…” “Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara. Pak Maheswara pun langsung melepask
Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya. “Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan. “Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.Alvaro menurunk
Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. TING! Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak
Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.Tiga hari lalu ia hampir mati.Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.*** Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. “Hari ini pulang saja ke
“Ada denyut! Cepat, angkat dia!”Suara orang-orang terdengar samar di telinganya. Alvaro ingin membuka mata, tapi tubuhnya seperti tidak lagi miliknya. Dadanya terasa berat, napasnya pendek.‘Kenapa… gue belum mati?’Pikiran itu muncul begitu saja, bersamaan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meledak di kepalanya.Alvaro tersentak bangun.Lampu putih menyilaukan menyambutnya. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis.Rumah sakit.“Dia sadar!” seseorang berteriak.Alvaro mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya.“Tenang. Jangan panik.”Alvaro membeku.Suara itu bukan suaranya.“Siapa…?” bisiknya pelan.Hening sejenak.Lalu suara itu menjawab dengan tenang.“Namaku Darian.”Alvaro terdiam, tubuhnya masih merespon apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali berdenyut, bayangan kehidupan asing terus ber







