Share

Kehilangan Adam

Penulis: Takehiro
last update Tanggal publikasi: 2026-03-20 04:27:06

"Adam, jangan!" Raisa sontak berteriak, melihat Adam lepas dari dekapannya.

Adam Berlari mengejar mobil Darma, Raisa berlari sekencang-kencangnya, berusaha mengejar Adam.

"Ayah..." Adam berteriak, masih berlari mengejar mobil ayahnya.

"Adam, jangan!" Raisa masih berusaha mengejar, namun Adam berlari sangat kencang.

Sampai akhirnya, Adam berlari ke tengah jalan.

"ADAM!" teriak Raisa histeris, melihat putranya dalam bahaya.

BRAK...

GEDEBUK...

Naas menimpa Adam, sebuah mobil dari arah berlawanan menabrak Adam sampai terpental dan kepala Adam membentur trotoar.

"Tidak!" Teriak Raisa seraya menghampiri Adam yang tergeletak di pinggir jalan.

BRAK ...

BRUK ...

Mobil yang menabrak Adam pun tertabrak truk. Mobil Truk itu tak bisa menghindar ketika mobil itu berhenti mendadak.

Orang-orang berkerumun melihat kejadian itu, suasana menjadi riuh dan panik.

Sedang Raisa masih memeluk tubuh Adam, tanpa perduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Air mata terus membasahi pipinya, hatinya hancur berkeping-keping.

Tak berselang lama, Darma menghampiri Raisa dengan wajah pucat pasi.

"Adam," Darma langsung bergegas memangku tubuh Adam, air mata mulai membasahi pipinya.

Tanpa banyak berfikir, Raisa langsung mengikuti Darma dari belakang.

Darma dan Raisa kemudian membawa Adam ke RS terdekat. Mereka berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan Adam.

Dan tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di Rumah sakit terdekat, Darma langsung membawa Adam ke UGD.

"Tolong anak saya!" Darma tampak panik, para pekerja medis langsung menghampiri Darma, kemudian mengambil alih memangku Adam dan membaringkan Adam di emergensi Bad.

"Selamatkan anak saya, dokter!" pinta Darma dengan nada memohon, air mata terus mengalir di pipinya.

Tak lama, dokter jaga langsung memeriksa Adam dengan seksama.

"Bagaimana dokter?" tanya Darma dengan cemas, menunggu jawaban dari dokter.

Dokter jaga itu tampak terdiam sejenak, kemudian menatap ke arah Raisa dan Darma dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dokter...." kata Darma lagi, mendesak dokter untuk memberikan jawaban.

Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya, tak berkata apapun. Saat itu, Adam sudah tak bernyawa lagi, sepertinya Adam sudah meninggal sebelum sampai UGD.

"Maaf Bapak Ibu, putra anda sudah pergi," ucap dokter itu seraya pergi untuk memeriksa pasien UGD lainnya.

Raisa yang mendengar itu, sontak meraung-raung memeluk tubuh Adam. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tidak!" teriak Raisa histeris, air mata terus membasahi pipinya.

"Adam, jangan tinggalin mamah," Raisa tampak histeris, memohon kepada Adam untuk kembali.

"Bangun sayang, ini mamah nak," kata Raisa lagi, berharap Adam akan membuka matanya.

Darma hanya menangis menyaksikan putranya terkujur kaku di emergency bad. Dia merasa bersalah, dia merasa bertanggung jawab atas kematian Adam.

"Maafin Ayah..." ucap Darma lirih, air mata terus mengalir di pipinya.

Darma berusaha menenangkan Raisa, dia memegang bahu Raisa, mencoba memberikan kekuatan. Saat ini, Darma merasa sangat bersalah dengan kepergian Adam.

"Cha, udah Cha, Adam sudah pergi," ucap Darma dengan nada pelan, mencoba menenangkan Raisa.

"Jangan sentuh Adam, bajingan kamu!" ucap Raisa berteriak, membuat Darma sedikit mundur.

Pada hari yang sama, Jasad adam langsung di semayamkan, suasana duka menyelimuti rumah Raisa.

Raisa Menangis sambil memeluk Mbok Inah, air mata terus membasahi pipinya.

Menyaksikan tubuh Adam di masukan kedalam liang lahat, hatinya hancur berkeping-keping.

"Adam anak Mamah" ucap Raisa masih menangis sesegukan, tak bisa menerima kenyataan pahit ini.

Kemudian tanah mengubur tubuhnya,jasad Adam pun tak terlihat lagi. Rasia tak bisa berkata-kata, di sepanjang prosesi pemakaman dia hanya menangisi kepergian putranya.

"Yang sabar yah bu," Mbok Inah tampak ikut menangis, dia merasa sangat sedih melihat Raisa begitu terpukul.

"Yang sabar yah mamah Adam," ucap salah satu tentangga memeluk Raisa, mencoba memberikan kekuatan.

"Adam adalah ahli surga mamah Adam yang kuat ya," ungkap yang lain, memberikan semangat kepada Raisa.

Antara sadar tak sadar Raisa berada di sana ekpresi wajahnya kosong, dia tak bisa merasakan apapun selain kesedihan yang mendalam.

"Terimakasih," ucap Raisa lirih, tak berdaya.

Mbok Inah berusaha memapah Raisa pergi dari tempat itu, kemudian mereka masuk ke dalam mobil salah satu tetangganya, Pak Bambang dan Istrinya.

Mereka berbaik hati memberikan tumpangan kepada Raisa, mengantarkannya pulang ke rumah.

"Mamah Adam, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Pak Bambang pelan, mencoba membuka percakapan.

"Iya pak," Sahut Raisa dengan nada suara yang lemah, tak bersemangat.

"Orang yang menabrak Adam Sekarang koma," celetuk pak Bambang dengan nada yang sangat sedih, menyampaikan kabar buruk itu dengan hati-hati.

"Heuh," Raisa menatap Pak bambang dan Istrinya secara bergantian, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.

"Saya turut prihatin," kata Raisa lagi, merasa iba dengan orang yang menabrak Adam.

"Keluarganya ingin menemui mamah Adam, untuk meminta maaf secara langsung," ungkap Pak Bambang lagi, menyampaikan keinginan keluarga penabrak Adam. Raisa terdiam sejenak, mempertimbangkan tawaran itu.

"Mamah Adam bersedia?" tanya Pak Bambang, menunggu jawaban dari Raisa. Raisa hanya mengangguk pelan, menyetujui tawaran itu.

"Orang itu nggak salah, ini semua kelalaian saya," ucap Raisa pelan, menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tragis ini.

"Bagaimana keadaannya sekarang," tanya Raisa kemudian, ingin tahu kondisi orang yang menabrak Adam.

Pak Bambang hanya menggeleng tak berkata apapun, tak ingin membuat Raisa semakin sedih.

"Kita doakan saja dia segera pulih," sahut pak Bambang, mencoba memberikan semangat kepada Raisa.

Kemudian mobil yang di tumpangi mereka pun melaju meninggalkan tempat itu, membawa Raisa kembali ke rumahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Yang Kembali The And...

    Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Di Tukar Dengan Jiwa

    Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Rahasia Digta Yang Terungkap

    Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kejutan Yang Gagal

    Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Dosa Yang Tak Termaafkan

    Mengetahui latar belakang keluarga Digta justru tidak membuat Darma mundur.Sebaliknya itu membakar sesuatu di dalam dirinya.Ayah Digta seorang diplomat pensiunan. Nama keluarga yang bersih jejaring yang luas kehormatan yang tidak bisa dibeli.Darma menatap berkas-berkas di mejanya dengan mata gelap.“Kalau itu standar yang dia punya,” gumamnya, “maka aku harus jauh di atas itu.”Dan sejak saat itu, batasan moral tidak lagi berarti apa-apa bagi Darma, dia mulai bermain kotor.Angka-angka keuangan dimanipulasi dana dialihkan. Proyek fiktif dibuat rapi seolah nyata semua dilakukan dengan tenang, sistematis menggerogoti perusahaan milik ayah Pratiwi dari dalam, sedikit demi sedikit. Sampai suatu pagi, kekacauan itu pecah.“Pak… dana investasi hilang,” suara direktur keuangan gemetar di ujung telepon.“Hilang bagaimana?” bentak ayah Pratiwi.“Jumlahnya… besar, Pak.”Telepon itu jatuh dari tangan lelaki tua itu beberapa jam kemudian, dia terbaring di rumah sakit dia terkena serangan jantu

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Obsesi Yang Nggak Sehat

    Hubungan Darma dan Pratiwi berjalan pincang.Pratiwi berjuang sendirian menata rencana pernikahan, menjaga citra, merawat masa depan yang seharusnya mereka bangun bersama. Sementara Darma, tubuhnya hadir di sisinya, tetapi pikirannya tersesat jauh. Setiap senyum Pratiwi terasa tak lagi ia lihat setiap kata yang Pratiwi ucapkan menguap sebelum benar-benar didengar.Karena di ruang terdalam kepalanya, nama lain terus bergaung Raisa.Obsesi itu tumbuh diam-diam, tanpa sepengetahuan Pratiwi bukan sekadar rasa penasaran, melainkan kebutuhan untuk memahami lalu menguasai.Dan ketika penolakan demi penolakan tak mematahkan niatnya, Darma melangkah lebih jauh.dia mulai memata-matai bukan Raisa lagi, melainkan Digta.Data demi data dikumpulkan seperti potongan puzzle alamat lama, riwayat Digta, hingga silsilah keluarga. Darma membaca semuanya dengan teliti, seolah mencari celah atau pembenaran.Ayah Digta, seorang diplomat yang telah pensiun.terhormat Berpengaruh.Digta, anak kedua dari dua

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Penghianatan

    14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian. "Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma. "Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan. "Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapa

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Gramedia Part 2

    Sekarang, dia bisa mencari komik tanpa takut berpapasan dengan Digta dan Diana. Raisa melenggang menuju tempat buku-buku komik berada, tiba di sana dengan perasaan senang."Hmm, Naruto," Langsung saja Raisa melihat dan memilih beberapa buku komik."Kayaknya nggak, bukan Naruto,""Eugh, Eljiro Saito

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kesempatan Kedua

    Kembalikan anakku!" ungkap Raisa sedikit histeris, suaranya memecah kesunyian malam. Air mata Raisa mengalir deras, hatinya begitu hancur, masa-masa bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.Sekarang, Adam sudah tak ada lagi. Dia meninggalkan Raisa untuk selama-lamanya, menyisakan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Luka Yang Tak Bisa Sembuh

    Raisa Termenung melamun duduk di tepi tempat tidurnya,Raisa masih terkurung dalam kamarnya, sebuah penjara sunyi yang dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Dia hanya bisa termenung, larut dalam lautan kesedihan yang tak bertepi."Auuuu....""Auuuu...."Lolongan anjing itu memecah keheningan menambah ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status